Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Yang Datang Dan Yang Pergi


__ADS_3

"Maumu apa sih?" Shasa terpaksa menghadapi Raven. Kalau tidak begitu pria itu tidak akan melepaskannya.


"Kamu pacarnya ya?" Gadis itu menanyai Shasa.


"Bukan, aku ...."


"Dia adikku. Jangan ikut campur deh lo! Kita udah end(selesai) ya, udah masa lalu. Sekarang lo pergi dari hadapan gue!" Raven mendorong gadis itu kasar sambil tetap memegangi lengan Shasa.


"Raven, jangan kasar sama perempuan. Bisa gak sih?" Shasa malah memarahi Raven dengan sedikit mendorongnya. Ia malah membela gadis itu.


Raven memutar bola matanya. "Ok, gue gak akan kasar asal elo jangan nolak gue. Bisa gak?" Raven memberi pilihan.


"Dia itu adik beneran gak sih?" Gadis itu bertanya ragu-ragu sambil melirik keduanya.


"Enggak."


"Iya."


Shasa dan Raven menjawab berbarengan walaupun hasilnya berseberangan.


"Hah?"


"Lo ngerti gak ya? Gue udah gak mau balikan lagi ama elo, paham?" terang Raven.


"Enggak," jawab gadis berambut panjang sebahu itu. Walau tubuhnya sedikit gempal tapi wajahnya sangat cantik.


Raven menghela napas.


"Em, maaf," sela Shasa. Raven dan gadis itu menoleh. "Pacaran itu harus kedua belah pihak setuju. Kalau tidak ya tidak bisa. Hati tidak bisa dipaksa."


"Nah, itu!" Raven menunjuk Shasa. Ia senang gadis itu membelanya.


"Tapi aku ingin balikan sama dia," jawab gadis berambut pendek itu sambil memohon.


"Tapi tadi aku udah bilang kalo pacaran gak bisa dipaksa karena ini masalah hati. Kedua-duanya harus saling mencintai kalau tidak, salah satu pasti ada yang tersakiti. Tidak bahagia. Dia udah gak bahagia lagi jalan sama kamu, kamu harus sadar itu," Shasa menasehati.


Gadis itu menunduk. Tak lama air matanya mengalir. Ia mengangkat wajahnya. "Jadi aku harus bagaimana? Aku tak bisa hidup tanpa dirinya," ucapnya sambil terisak. Ia menggenggam pinggiran bajunya erat-erat.


"Ikhlaskan. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik lagi."


Sambil terisak gadis itu meraih lengan Shasa, membuat Raven melepas genggamannya pada Shasa.


"Allah tidak tidur. Sudah, jangan mengemis cinta. Pasti, akan ada seseorang yang menghargai cintamu tanpa harus mengemisnya."


Beberapa detik gadis itu terdiam sambil menatap Shasa dan mencoba memahaminya. Ia kemudian menggangguk. "Makasih ya?" Gadis itu lalu pergi perlahan meninggalkan mereka berdua.


Setelah gadis itu pergi jauh, Raven malah bertepuk tangan. "Makasih adikku Sayang." Ia menarik tubuh Shasa dan mencium keningnya.


"Ih!" Shasa kesal karena Raven mencium keningnya tanpa permisi hingga ia menendang kaki pemuda itu.


"Aduhh!" Raven mengusap-usap tulang keringnya yang ditendang gadis itu. "Kenapa sih lo kok jahat banget ma gue?"


"Gue udah nolongin lo jadi jangan ganggu gue lagi. Bisa gak?" Shasa mendorong pemuda itu agar keluar dari kamarnya tapi pemuda itu kembali meraih lengan gadis itu dengan cepat hingga tubuh Shasa bergerak maju dan mendarat di dada bidang pemuda itu.

__ADS_1


"Eh, urusan kita belum selesai ya?"


"Apa sih!" Shasa berusaha melepaskan diri dari Raven tapi pemuda itu malah menyeret gadis itu agar mengikutinya. "Raven!"


"Abang! Aku rindu padamu. Aku ingin makan, temenin aku ya?" beri tahu Raven.


Mengetahui protesnya tidak berguna, terpaksa Shasa menurut dengan mulut merengut mengikuti Raven yang membawanya ke dalam mobil. Tak lama mobil itu keluar dari halaman kos-kosan. Raven membawa Shasa ke sebuah cafe anak muda dan kemudian memesan roti bakar dan jus mangga. Ia memesankan juga untuk Shasa. Setelah itu ia mulai mengajak ngobrol gadis itu.


Dari sejak berangkat, Shasa tak bicara bahkan hingga sampai ke cafe itu.


Raven melipat tangan di atas meja dan menyandarkan tubuhnya ke depan menatap Shasa. "Ayo dong bicara, Abang kangen kamu. Kangen suaramu."


Kata-kata Raven malah membuat gadis itu makin merengut.


"Raline, Raline, Raline."


"Aku bukan Raline. Namaku Shasa!"


Kepolosan Shasa sering digunakan Raven untuk menggodanya membuat pemuda itu tersenyum lebar. "Jangan ngambek ah! Akui saja keberadaanku, apa susahnya? Udah punya Abang yang ketemu gede gini."


"Kau orang asing!" Shasa masih menyangkalnya.


"Kenapa sih, kamu takut aku memanfaatkanmu?"


"Bisa saja kan, kau buat cerita yang mengada-ada. Lagipula kita bukan mahramnya dan yang pasti, aku bukan siapa-siapamu!" berkata sengit Shasa.


Raven menautkan alisnya. "Kau mau bukti kalau aku tidak berbohong?"


"Aku bisa buktikan padamu, kau benar-benar mirip adikku." Raven mengeluarkan HP-nya. "Aku akan telepon Ayah dan aku akan menyorot padamu. Lihat apa kata Ayah tentangmu. Aku rasa ia akan punya pendapat yang sama denganku."


Sambil menunggu Raven menelepon, pikiran shasa terpecah. Bagaimana bilang Raven berkata benar? Apa ... bila Ayah Raven melihatnya ia punya pendapat yang sama dengan Raven, lalu setelahnya, akan ada satu orang lagi yang menganggap ia adalah orang lain? Duh, tambah kacau saja duniaku. Tidak bisakah mereka membiarkan aku hidup sesuai dengan kemauanku? Aku Shasa, aku yatim piatu tapi aku bangga jadi diri sendiri dibanding hidup dalam bayang orang lain karena aku adalah Shasa bukan Raline.


"Halo Ayah."


"Iya, Ven. Ada apa?"


Raven memindahkan mode HP-nya hingga bisa saling melihat kemudian ia melambai pada wajah pria paruh baya yang ada di layar. Ia lalu memutar tubuhnya agar ia bisa memasukkan wajah Shasa yang berada di belakangnya. "Lihat Yah, ini siapa?"


Pria itu mengerutkan wajahnya, memperhatikan wajah Shasa. "Raline? Kau menemukannya?"


Raven tertawa, tapi Shasa terlihat tegang. "Bukan Yah, dia hanya mirip Raline, sepertinya. Aku tak tahu karena kita tak pernah punya foto pasti Raline sejak 5 tahun yang lalu. Iya kan? Aku sudah pastikan karena ia tak punya luka di bahunya seperti Raline."


"Apa?" Pria paruh baya itu tampak pucat. Dia ... jadi dia ... Diperhatikan lagi wajah Shasa dengan teliti. Mungkinkah dia ... "A-ayah akan ke Jakarta. Tunggu Ayah di sana." Pria itu segera mematikan HP-nya. Dia terdiam sesaat. Seketika pikirannya kusut. Ia memijit dahinya. Dosa ini sudah terlalu lama aku pendam sendiri. Aku harus bagaimana? Mengakuinya di hadapan kedua orang tua gadis itu? Hah ... Ia menghela napas panjang.


-----------+++----------


Shasa selesai memasangkan kancing baju Abra dan hari sudah malam. Pria itu tersenyum saat Shasa tersenyum padanya, tapi bukan itu saja yang dilakukan Shasa. Gadis itu menyerahkan kartu akses lift dan kunci apartemen pria itu.


"Lho, ini ...."


"Sudah 2 minggu Kak."


Abra syok. Ia baru menyadarinya bahwa telah 2 minggu berlalu. Sekarang sudah tidak ada alasan baginya untuk menahan gadis itu. Tidak satu pun!

__ADS_1


"Kak Abra aku lihat sudah bisa menggeser perban sendiri." Shasa menahan matanya untuk tidak berkaca-kaca.


"Tapi tidak ada yang membantuku mengikatnya," kilah Abra.


"Itu bisa dilakukan di kantor kan? Tidur tanpa perban saja sudah bisa, iya kan?" Ia sedikit mengedipkan matanya agar air matanya yang masih sedikit itu masuk lagi ke dalam matanya.


Abra menelan salivanya. Ia masih memandangi gadis itu yang sebentar lagi akan menghilang. Aku harus bagaimana agar ia terus datang padaku, ya Allah. Apa aku harus mengemis belas kasihnya agar ia terus kasihan padaku, ini tidak mungkin. Tidak mungkin. "Apa ...." Kembali Abra menelan salivanya. "Kita bisa bertemu lagi untuk sekedar ngobrol-ngobrol."


"Iya, tentu saja. Kan ulang tahun TV Indo sebentar lagi." Shasa menunduk. Sangat sulit baginya memandangi wajah pria tampan itu. Apalagi harapannya sangat tinggi pada pria itu. Harapan yang sebenarnya bukan inginnya tapi hati yang bicara.


"Oh, iya ... lima hari lagi."


Entah kenapa, keduanya sangat canggung satu sama lain. Mereka seperti ... asing. Keduanya tertunduk. Hening sejenak.


"Eh, semoga sukses ya?" ucap Shasa memecah kesunyian.


"Kamu juga. Semoga kursusmu bermanfaat."


Shasa segera berdiri, walau berat. Berat sekali. Ia melangkah ke arah pintu.


Langkah Shasa menakutkan Abra. Seakan dirinya ditinggal .... "Sha!"


Gadis itu menoleh.


"Tidak bisakah aku menyukaimu?"


Apa maksudnya ini? Apa maksudnya ini? "Kak jangan permainkan hatiku!" Gadis itu datang meradang. Ia memukul dada pria itu dengan kesal.


Abra hanya diam dan merasakan pukulan gadis itu yang tengah marah.


"APA KATAMU? BISA? KAMU PIKIR CINTA BISA DENGAN COBA-COBA. AKU INGIN MENIKAH! JANGAN GANGGU AKU LAGI!" teriak Shasa di telinga pria itu dan kembali memukul dadanya. Sakit, tapi ia menahannya dengan menutup mata. Ia tidak tahu kenapa gadis itu marah, tapi ia ikhlas menerima semua pukulan yang bertubi-tubi mendarat di dadanya yang kian lama kian melemah. Apa selama ini ia telah mempermainkan Shasa? Benarkah?


Gadis itu berhenti memukuli Abra dan menangis. Kemudian gadis itu berlari keluar dari apartemen pria itu. Abra menatap nanar pintu yang terbuka. Kembali tanya meninggalkan luka.


Apa selama ini diam-diam aku telah melukainya? Dengan apa? Kenapa tidak aku saja yang terluka kenapa dia juga? Kenapa? Apa karena aku sering menggodanya agar ia membatalkan rencana pernikahannya? Aku hanya ... Abra menghela napas dan menunduk. Maaf. Aku memang tidak bisa dimaafkan.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Shasa. "Ah, ka ...."


"Maaf aku tidak punya akses keluar." Dengan menunduk malu, gadis itu kembali datang pada Abra.


"Oh, iya." Abra bangkit.


Keduanya menunggu lift dalam diam. Ketika lift terbuka, Shasa masuk dan menempelkan kartu pada sensor lalu menekan nomor dan menyerahkan kartu itu pada Abra diluar. Mereka masih saling pandang hingga pintu lift tertutup.


Saat pintu lift terbuka Shasa bergerak cepat. Dengan langkah lebar ia pulang. Udara sedikit berangin kala itu membuat gadis itu merasa beruntung. Ia berharap angin yang ia hadang bisa menahan lajunya air mata yang sudah ditahannya sejak tadi, tapi mana mungkin. Yang jatuh tetap jatuh dan yang pergi tetap pergi. Kita tak bisa menahan lajunya air bila bicara tentang muaranya. Kita tak bisa menahan yang makin menjauh bila bicara tentang asalnya. Semua atas izin Allah, dan kita manusia hanya bisa mengikhlaskannya.


Shasa segera membuka pintu kamarnya dan menutup cepat.


Raven yang melihat itu terkejut sedang pria paruh baya yang sedang diajaknya bicara menoleh ke arah pintu tadi. Ia sempat melihat gadis itu walau sekilas.


"Itu Yah, yang Raven ceritakan. Makanya Raven gak mau pindah walaupun apartemennya udah selesai direnovasi. Raven betah di sini karena ada Shasa."


Dia sangat mirip dengan Tiara. Tingkah laku dan gerak geriknya. Beda dengan kembarannya yang pendiam, karena itu Raven sering menjahilinya. Hah ... aku harus bagaimana? Hanya bertemu dengannya aku tahu jawabannya. Eh, tunggu. Kenapa dia tinggal di kos-kosan murah seperti ini? Bukannya dia anak orang kaya?

__ADS_1


__ADS_2