
"Nanti aku jemput."
"... ya udah." Shasa terdengar pasrah. Ia kemudian mematikan HP-nya dan menoleh pada Bima.
"Pergilah." Bima berpikir, Kevin mungkin menawarkan kerja sama karena itu ia membiarkan Shasa pergi. "Tapi kita pergi dulu ke tempat kursus ini."
"Ya udah," ucap Shasa pelan.
Mobil Bima kemudian meluncur ke tempat kursus.
----------+++----------
Jam baru menunjukkan pukul sebelas tiga puluh lima tapi Kevin sudah datang menjemput Shasa ke kantornya.
Semua pegawai di sana melirik ke arah pria itu. Seorang pria dengan tinggi ideal, berkulit putih, kurus dan tampan tapi terlihat sangat angkuh. Rasanya saat itu senyumnya palsu.
"Oh, ini tempat kerjamu? Mmh ...." Kevin mengedarkan pandangan pada sekeliling. Sebuah rumah besar yang ruang tengahnya digunakan untuk kantor. Kecil sekali. Ini sih seukuran rumahku. Bahkan ini rumah. "Ayo kita berangkat," ucapnya tak peduli.
"Tapi masih setengah jam lagi Pak, makan siangnya," ucap Shasa, melihat pria itu yang datang terlalu cepat.
"Kalau membicarakan bisnis, jam berapa saja tidak masalah. Iya kan?" Kevin mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Oh iya." Gadis itu menoleh ke arah Bima.
Pria itu hanya menautkan bibirnya tanda setuju.
"Pergi dulu Pak," pamit Shasa pada Bima. Ia mengambil tasnya dan pergi dengan Kevin keluar kantor.
Di halaman kantor, Kevin membukakan pintu mobilnya untuk Shasa.
"Tidak usah begitu Pak. Saya bisa sendiri."
Shasa masuk ke dalam mobil dan pria itu menutupkan pintu untuknya. Ia tidak tahu, betapa bahagianya Kevin saat ini. Begitu sulitnya pria itu punya kesempatan bicara dengan gadis itu. Gadis yang hanya bisa ditemuinya saat gadis itu bersama Abra. Karena itu ia selalu memakai Abra sebagai jembatan untuk bertemu gadis itu.
Ini untuk kedua kalinya ia bisa 'menculik' gadis itu bersamanya hanya berdua.
Kevin membawa Shasa kembali ke restoran favoritnya untuk makan di sana.
Entah kenapa, kali ini Kevin tak banyak bicara. Ia menikmati kebersamaan bersama gadis itu dengan hanya mencuri-curi pandang sejak di dalam mobil. Kebahagiaan untuk mengisi rindu yang kian meradang. Hanya bersamanya, sepi terasa ramai oleh rasa senang yang tak terkatakan.
"Jadi mau bicara apa Pak?" Akhirnya rasa ingin tahu Shasa, membuat gadis itu memulai pembicaraan. Sedari tadi Kevin hanya diam dan fokus mencari makanan di daftar menu.
"Oh, kita pesan makanan dulu baru bicara," Kevin sengaja mengulur-ulur waktu untuk bicara. "Kamu mau makan apa?"
Shasa dan Kevin kemudian memesan makanan.
Setelah itu, Kevin memulainya dengan basa basi. "Bagaimana dengan pekerjaanmu belakangan ini? Lancar?"
"Alhamdulillah Pak."
Aku tak suka kamu panggil aku 'Pak' sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Ini pekerjaan. Huh .... "Bagaimana dengan acara tunanganmu?"
Wajah gadis itu memerah karena Kevin menyinggung soal masalah pertunangannya seakan semua orang tahu tentang masalah itu. "Oh, belum Pak. Baru ketemu dengan Om dan baru membicarakannya saja."
Kevin bersorak dalam hati. Benarkah? Berarti hanya minta restu. Masih lama ya? "Oh, begitu. Aku kira sudah serius."
"Oh, sudah Pak. Kami sudah merencanakannya. 3 bulan lagi kami tunangan dan langsung menikah."
"Apa? Eh ...." Syok ini membuat Kevin kehilangan suara. Secepat itu?
"Iya." Namun kemudian Shasa melihat perubahan wajah Kevin menjadi muram. "Eh, kenapa Pak?"
"Eh, tidak." Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "3 bulan lagi kau akan menikah?"
Untung saja makanan segera datang sehingga Shasa tidak begitu memperhatikan pandangan nanar pria itu pada Shasa. Kevin buru-buru menguasai dirinya. Melihat Shasa bersiap mengambil sendok, ia segera mengalihkan pandangannya pada piring di hadapannya.
Ia mengambil garpu, tapi pikirannya kusut tak keruan. Seolah ia sudah kehilangan semua kesempatannya. Tidak, belum. Belum bila gadis itu tidak tahu. Kalau gadis itu tahu, mungkin kesempatannya masih ada.
Ditatapnya Shasa dengan bersungguh-sungguh. Mungkin ini kesempatan terakhir tapi biarlah. Katakan atau aku akan benar-benar kehilangannya. Tekadnya sudah bulat. Segera. "Sha, apa kamu menikah karena merasa hanya hanya dia pria yang mencintaimu?"
__ADS_1
Gadis itu membelalakan mata dan berhenti mengunyah untuk beberapa detik lalu kemudian diteruskan. Ia tidak mengerti apa arti ucapan Kevin. "Maksudnya?"
"Bagaimana kalau ada pria lain yang menyukaimu?"
Shasa terkejut. Ia tidak pernah sedikit pun memikirkan hal itu. Ia tak bisa menjawabnya.
"Aku menyukaimu."
Kembali Shasa kehilangan kata-kata. Ia melepas sendoknya di piring dan berusaha memikirkan jawabannya. "Eh, aku ...."
"Jangan dijawab kalau kamu tidak bisa membalasnya."
Shasa kembali dalam kebingungan. Ia ingin menolaknya, tapi bagaimana memberitahunya. Akan ditolak saja pria itu tidak terima. "Eh ...."
"Jangan bilang dia lebih baik dariku karena itu akan menyakitiku."
Akhirnya Shasa hanya bisa menjatuhkan pandangannya karena tidak ada satu pun yang bisa ia utarakan. Semua bisa mengarah pada sakit hati.
Saat itu juga Kevin tahu jawabannya, tapi bukan Kevin namanya kalau ia menyerah. Selama hidupnya, baru kali ini ia dipertemukan oleh seorang wanita yang telah mengambil seluruh perhatiannya. Tentu saja, ia tak ingin mengalah. "Bagaimana kalau kau jadi orang yang egois?"
"Apa?" Shasa mengangkat kepalanya.
"Carilah pria yang bisa memberimu harta dan kekayaan. Aku bisa memberimu segalanya. SE-GA-LA-NYA. Kau tak perlu mencintaiku, tapi aku akan mencintaimu sepenuh hati."
Shasa syok mendengar ucapan Kevin. Kenapa pria itu ... seperti tergila-gila padaku? Apa benar-benar ada pria yang tergila-gila padaku ... tapi Kevin ... "Yang kuinginkan ...." Kak Abra. Eh, kenapa aku tiba-tiba memikirkan dia di saat-saat seperti ini. Aduhh ... fokus kamu Sha, fokus. "Semuanya ada pada Kak Bima, tapi ...."
Kevin segera memotong. "Eh, begini saja. Kita tangguhkan pembicaraan ini."
"Mmh?"
"Kita tidak tahu ke depannya akan bagaimana jadi biarkan saja dahulu. Yang penting kau tahu isi hatiku. Aku mencintaimu Sha, aku sangat mencintaimu."
Ada rasa iba yang tidak bisa gadis itu ungkapkan dengan kata-kata. Disisi lain pria itu juga Kakak Abra dan juga calon kliennya. Posisinya makin tersudut. Gerakannya terkunci.
Kevin di lain pihak sedang senang. "Kata-kataku jangan dimasukkan ke dalam hati ya, sebab aku hanya ingin mengeluarkan isi hatiku yang sejak lama aku pendam. Aku tidak ingin merasakan ini sendirian dan karena ini tentangmu jadi aku bagikan ini juga denganmu. Ah, rasanya tidak ada lagi yang membebaniku saat ini." Pria itu tersenyum dan mulai memintal spagetti dengan garpunya.
Shasa hanya diam, tercekam resah yang kian menghantuinya.
"Iya." Dengan pelan, Shasa mulai menyentuh sendoknya.
"Sha, kamu jangan terbebani begitu dong. Aku memberitahukanmu karena kita teman. Iya kan? Aku tidak menuntut lebih. Hanya itu." Kevin menyentuh tangan gadis itu pelan.
"Tapi ...."
"Sudah lupakan. Kita bicara yang lain saja ya?" Kevin menepuk-nepuk punggung tangan gadis itu.
Shasa menghela napas pelan sambil menunduk. Kevin menatap gadis itu, yang mulai menyuap hidangannya. Paling tidak gadis itu tahu perasaannya, dan saat ia melakukan aksi berikutnya, gadis itu akan melihat padanya. Hanya padanya. Ia sudah bertekad untuk itu. Senyum miringnya membulatkan keinginannya.
------------+++----------
Shasa kembali ke kantor. Bima yang sedang bicara dengan Ardan menoleh. "Bagaimana Sha?"
"Oh, katanya Pak Kevin akan bicara langsung dengan Bapak."
"Lho, katanya mau bicara dengan kamu, kenapa tidak jadi? Tadi kan aku ada, kenapa ia tidak bicarakan langsung?" Bima mengerut kening.
"Tadi sempat diskusi. Dia mau bantu kita mendapatkan iklan dari para klien langganan TV mereka, ya jadi aku minta dia bicara langsung sama Bapak aja. Begitu tadi ceritanya."
"Waw bagus sekali, tapi kenapa kamu gak coba handle sendiri?"
"Saya ngerasa ini bukan ranah saya Pak. Ini bisnis besar, yang harusnya dibicarakan antar bos saja, bukan ke saya."
"Wah keren Shasa, kita bisa dapat iklan dalam jumlah besar nih," sahut Vera dari meja samping.
"Tapi itu kan baru wacana. Prakteknya gimana? Seharusnya kamu ikuti saja kemauan Pak Kevin, Sha," terang Bima.
"Gitu ya?" Shasa mulai memikirkan kembali.
"Tapi nanti follow up-nya(tindak lanjut) gimana, kita lihat saja nanti."
__ADS_1
"Iya Pak." Gadis itu mengangguk.
-----------+++-----------
"Kevin."
Pria itu menoleh. Ia melihat ibunya baru keluar dari kamar.
"Tumben hari ini kamu pulang cepat." Ibu menghampiri.
"Tidak apa-apa Bu," ucapnya sambil tersenyum. Ia menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Kenapa, kau sepertinya sedang senang?" Diperhatikannya wajah Kevin yang tidak biasa. Murah senyum.
"Eh, tidak apa-apa, hanya ingin cepat pulang saja. Beberapa hari ini lagi suntuk." Kevin mengusap belakang kepalanya.
"Dan kamu sudah menemukan kesenanganmu," Ibu sudah hapal dengan wajah Kevin dan hari ini memang tidak biasa. Ia terlihat lebih bahagia. "Apa kamu bertemu Shasa?"
Kevin terkejut. "Ibu tahu dari mana tentang dia?"
Ibu mencubit pipi anaknya dengan lembut. "Mmh, seorang ibu tahu siapa anaknya jadi ia langsung tahu saat melihat anaknya bahagia. Kemarin kami bertemu dengannya di Mal bersama Abra."
"Kami?"
"Oh, ayah dan juga Diandra."
Kevin menyentuh wajahnya. "Apa wajahku sedikit berbeda?"
"Apa kau mencintainya?"
"Ibu, jangan ikut campur urusanku. Sudah. Selamat malam," protes Kevin dan segera menaiki tangga. Menghindar.
"Tapi Ibu merestuimu Nak!" teriak Ibu.
Kevin menoleh sebentar. "Sssttt, Ibu ...," keluhnya dan kembali berlari menaiki anak tangga.
Ibu tersenyum lebar. Tidak apa-apa. Ibu akan menunggu sampai kau mendapatkannya Sayang, batinnya.
--------------+++-----------
Shasa mulai sibuk dengan kursusnya dan karena kursusnya pagi hari dan berlangsung selama sebulan, praktis Shasa sibuk luar biasa. Abra harus membiasakan diri melihat Shasa datang lebih pagi ke apartemennya, kemudian gadis itu pergi kursus. Setelah makan siang, Shasa kembali bekerja dan malam pulang ke rumah. Raven pun jarang melihat Shasa karena ia juga sedang sibuk dengan tugas kampusnya. Hingga suatu malam, Shasa memergoki, Raven kembali bermasalah dengan seorang perempuan di depan kamar kosnya.
"Ven, tolong. Aku ingin balikan."
"Aku bilang enggak ya enggak!"
"Ven!"
Shasa sampai ke depan kamarnya dan hanya menoleh. Beberapa penghuni kos-kosan lainnya ada yang mencoba mengintip. Shasa kembali menatap pintu kamarnya dan mulai membuka pintu.
"Sha!" Raven menghampiri dengan bergegas.
Shasa yang mengetahui kedatangan Raven buru-buru masuk kamar. Ia tidak ingin terlibat dengan masalah Raven seperti sebelumnya tapi pemuda itu telah berhasil menangkap lengannya.
"Sha!"
"Ah, kamu mau apa?" Shasa berusaha melepaskan diri.
"Abang mau bicara."
"Ngak ah!"
"Sha!"
"Kamu sudah punya pacar baru ya?" Gadis itu mengikuti Raven hingga ke depan kamar Shasa.
"Berisik!" ucap Raven pada gadis itu.
"Ck, lepasin gak? Urusin tuh pacar lho!" Shasa memukul-mukul tangan Raven yang masih memegangi lengannya.
__ADS_1
"Nggak!" Raven bersikeras.