Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Segenggam Maaf


__ADS_3

Abra salah tingkah. "Eh ... itu maksudku, eh ... mau bilang terima kasih. Eh ...."


Shasa segera berdiri dengan merengut.


"Eh, Sha, maksudku eh, ...." Abra masih berusaha menjelaskan ketika Shasa tanpa sepatah kata pergi meninggalkan begitu saja. "Sha!"


Gadis itu langsung keluar dari apartemen dengan cepat dengan sedikit membanting pintu.


"Yaaaa ...." Kenapa mulut ini nakal sekali sih! Itu calon istri orang, itu calon istri orang ... Abra menepuk-nepuk bibirnya karena kesal. Ia kemudian merebahkan dirinya di atas kursi sofa dengan wajah bingung.


Sementara Shasa yang berada di depan pintu hanya terdiam. Ia tidak kecewa. Ia hanya kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak marah saat dirinya dicium keningnya oleh Abra. Sekali lagi ia tergoda. Padahal ia telah membentengi dirinya dengan jilbab dan pakaian yang tertutup tapi bukan berarti tanpa godaan. Justru mungkin godaannya berasal dari dalam diri sendiri. Diri ini tidak menolak untuk digoda. Astaghfirullah alazim.


Shasa segera kembali ke kos-kosannya, tapi sebelum ia sempat membuka pintu kamar, ia didatangi Raven.


"Mana HP-mu?"


"Mmh? Ada." Shasa setengah terkejut.


"Mana coba lihat. Aku kok belum pernah lihat kamu punya HP?"


Shasa dengan lugunya mengeluarkan HP dari dalam tasnya. Raven segera merampasnya.


"Eh, itu HP-ku."


Raven segera mengetik sesuatu dan kemudian terdengar bunyi HP dari tempat lain. Dari kantong celana pemuda itu. "Ini nomerku. Kalau pulang kemalaman minta dijemput aku akan jemput." Ia menyerahkan kembali HP Shasa.


Gadis itu mengerut alis. Siapa yang minta dijemput? "Kan bisa naik ojek?"


"Iih ini!!" Raven gemas dan mencubit pipi Shasa lembut sambil mendelik kesal.


"Ih, apaan sih!" Shasa menepis tangan pemuda itu.


"Pokoknya kalo Abang liat udah malem banget belum pulang, Abang cari."


"'Abang' siapa, gue gak kenal elo ya!" Cibir gadis itu yang segera membuka pintunya dan masuk ke dalam kamar.


Raven hampir tertawa melihat tingkah Shasa yang terlihat lucu. Sudah lugu, marahnya membuatnya hampir tertawa. Ia tidak peduli Shasa mengabaikannya karena ia sudah menanamkan pada dirinya akan menjadi kakak yang baik untuk gadis itu. Ia pun kembali ke kamar.


-----------+++----------


Pagi itu kembali Shasa mengintip keluar jendela. Tidak ada orang yang berkeliaran di depan daerah kos-kosannya kecuali pejalan kaki di luar dan mobil Raven terlihat terparkir dengan rapi di tempatnya. Pemuda itu juga tidak ada di dalam mobil. Syukurlah.


Shasa keluar dari kamarnya. Sebelum mengunci pintu, terdengar suara seseorang menyapanya.


"Pagi."


Shasa menoleh. Raven keluar dari kamarnya dengan memegang secangkir kopi di tangan. Jarak kamarnya dengan kamar Raven yang hanya berbeda beberapa pintu membuat ia bisa melihat pemuda itu dengan jelas.


"Lo mau berangkat kerja kan?"


"Iya." Sedikit terkejut, Shasa berusaha waspada. Ia tidak ingin dipaksa masuk ke dalam mobil Raven lagi.


"Beliin nasi kuning yang kemaren dong!" Raven datang menyerahkan uangnya.


"Apa?" Hanya itu?


"Iya, beliin."


Eh, kok tumben gak maksa nganterin? Shasa terlihat bingung.


"Kok bengong? Mau dianterin lagi?"


"Eh, nggak-nggak."


"Ya udah, beliin."


Namun kemudian Shasa sadar. "Eh, aku gak kenal elo!" Ujarnya. Ia tidak jadi mengambil uang Raven. "Beli sendiri aja!"


Raven menghadangnya. Ia bicara keras-keras. "Kata siapa gak kenal? Lo kemaren gue anterin sampai ke kantor lo masak disebut gak kenal? Gue kenalan kemaren sama klien lo, terus sama bos sekaligus pacar lo. Masih juga lo ...."


Shasa langsung membekap mulut Raven yang tak berhenti bicara. "Iya, iya ih!"


Dari bola matanya Raven terlihat senang. Ia menurunkan tangan gadis itu dari mulutnya. Terpaksa Shasa mengambil uang itu dan pergi dengan wajah cemberut.


"Assalamu'alaikum," ucap pemuda itu.


"Waalaikumsalam," jawab gadis itu tanpa menoleh.

__ADS_1


Aku akan buat kamu terbiasa denganku Sha, sampai kau sadar aku bukan orang jahat untukmu.


HP Shasa berbunyi saat mengantri nasi kuning. Ih, apalagi sih nih cowok! Shasa mengambil HP-nya dari dalam tas. Oh, Kak Abra. "Halo Kak."


"Eh ... nanti kamu ke sini kan?" Abra terdengar ragu-ragu.


"Iya Kak."


"Maaf ya Sha, kemarin aku ... khilaf."


Gadis itu hanya diam.


"Anyway(ngomong-ngomong) Kak Kevin mau datang ke sini bawain sarapan jadi kamu gak usah beli, ya?"


"Iya." Segera setelah membeli sarapan Raven, ia buru-buru kembali ke kosannya. "Ini." Ia menyerahkannya pada Raven beserta kembaliannya.


"Kok kamu gak beli?" tanya Raven heran.


"Udah ada di sana. Udah ya?" Gadis itu meninggalkan Raven.


Benar saja, ketika Shasa sampai di apartemen, ia datang bersamaan dengan Kevin. Bersama-sama mereka naik lift dan masuk ke apartemen Abra.


"Oh, barengan?" Abra yang menunggu di sofa sambil menonton TV, menatap mereka berdua.


"Iya. Pas banget, ketemu depan lift." Kevin meletakkan bungkusan plastik yang berisi makanan di atas meja makan.


Shasa mengambil piring dan gelas dan meletakkannya di atas meja. Sementara gadis itu menyiapkan makanan, kedua pria itu sibuk memperhatikan Shasa. Abra masih merasa bersalah soal yang kemarin dan Kevin, ia hanya rindu. Kemarin ia belum sempat melihat gadis itu sama sekali.


"Ayo kita makan," ucap Shasa yang menyadari kedua pria itu berdiri mematung menghadap meja makan.


Keduanya menarik kursi secara bersamaan dan duduk di sana. Mereka mulai mengambil makanan.


"Sha, hari ini lembur gak? Kita jalan-jalan yuk?" bujuk Kevin.


Shasa dan Abra menoleh ke arah pria itu.


"Eh, maksudku, kita bertiga."


Shasa menarik bungkusan makanan untuk Abra dan membukanya. "Maaf Kak, tapi aku ada janji sama Kak Bima."


"Kalau besok?"


Seketika ruangan itu hening. Kedua pria itu tahu apa yang akan terjadi besok. Beberapa detik ke depan hanya suara dentingan sendok dan gelas yang berbunyi dari meja makan. Semuanya tafakur memikirkan nasib mereka masing-masing.


Setelah makan, Shasa mengurus Abra di kamarnya.


"Sha."


"Mmh." Gadis itu baru saja membuka kancing baju pria itu.


"Kamu masih marah?"


Gadis itu mengerutkan alisnya. Kenapa dia mikirin itu sih? Aku saja sudah tidak memikirkannya.


"Maaf ya Sha, aku ...."


"Jangan diulang, aku sudah lupa." Wajah Shasa kembali cemberut dan menunduk.


"Maaf, aku tidak bermaksud ...." Dilihatnya wajah gadis itu yang cemberutnya belum juga surut. Ia menghentikan ucapannya sambil menghela napas panjang.


Setelah Abra berpakaian mereka berangkat.


"Aku antar kamu dulu ya?" ujar Kevin pada Shasa.


"Tapi Kak Abra ...."


"Kan ada aku."


Shasa terlihat tenang.


Kevin juga ingin tahu tempat Shasa bekerja. Ia ingin tahu segalanya tentang gadis itu sekarang walaupun ia tahu, sebentar lagi Shasa akan jadi milik orang. Ia bertekad takkan menyerah.


--------------+++-----------


Malam itu Shasa pulang diantar Bima. Raven melihatnya dari balik kaca jendela kamarnya. Setelah mobil Bima pergi, ia menghampiri Shasa yang sudah membuka pintu kamar. "Kamu udah pulang?"


Shasa menoleh. "Mmh? Iya."

__ADS_1


"Temenin aku dong makan malam. Aku belum makan."


"Aku capek dan aku udah makan."


"Ck, temenin sebentar aja. Aku udah nunggu kamu dari tadi tau!"


Shasa menoleh. "Siapa suruh nungguin aku?" Ia masuk ke dalam kamar.


Pemuda itu ternyata mengikutinya.


"Eh, eh, siapa suruh masuk dalam kamar cewek?"


"Aku."


"Eh, enak aja!" Gadis itu mendorong Raven keluar tapi pemuda itu bertahan dengan meraih lengan gadis itu.


"Lo temenin gue makan di kamar lo atau di luar," Raven memberi pilihan sulit.


"Ih gitu, bisanya ngancem," sindir Shasa, ia menepis tangan Raven, tapi kemudian ia tak tega. "Ya udah, aku temenin di luar deh!"


Akhirnya mereka keluar kos-kosan dengan menaiki mobil. Raven membawa mobilnya ke sebuah restoran steak. Restorannya cukup besar bertingkat dengan gaya Western(Eropa) dan malam itu cukup ramai oleh pengunjung karena banyak yang mengajak keluarga. Apalagi besok hari Sabtu.


"Kamu mau makan lagi gak?" Raven membuka-buka buku menu.


"Ngak ah!"


"Yakin?"


"Aku mau pulang," jawab gadis itu.


"Ya udah, jangan-jangan. Aku pesenin minum aja ya?" Raven berusaha menahan Shasa.


"Aku gak bisa lama-lama karena aku sebenarnya cuma mau ganti baju terus mau ke tempat Pak Abra."


Sekilas, Raven menatap gadis itu dengan serius lalu kembali melihat daftar menu. Aku gak ngerti hubungan mereka apa, tapi apakah karena rasa bersalah itu Shasa setiap hari menolong pria itu, tapi keakraban mereka beda karena Shasa tidak terlihat akrab dengan pacarnya. Aneh kan? Ini feeling-ku tapi mungkin saja aku salah.


Raven kemudian memesan makanan dan mulai mengajak ngobrol gadis itu. "Kamu kenal pacarmu di mana?"


Shasa mengerut kening. Kok ini orang mau tau urusan orang aja? "Untuk apa tanya-tanya?"


"Lho, aku kan ..." terpikirkan Shasa masih menganggapnya orang asing, ia mengganti strateginya. "ketemu pacarmu tapi kok kayaknya kamu lebih akrab dengan Abra dibanding dengan siapa namanya, Bima ya?"


Shasa masih mengerut kening. Ia baru menyadari setelah pemuda itu mengatakannya. "Aku ... menghormatinya. Ya, aku menghormatinya."


"Karena apa? Karena dia bosmu atau karena dia lebih tua?"


Shasa masih bingung menjawabnya. "Ya ... kedua-duanya."


"Definisi kamu, pacar apa sih? Kamu mau punya pacar seperti apa?"


"Mmh?" Kembali gadis itu tak bisa menjawabnya.


Raven mencolek hidung Shasa. "Ih, kamu aneh banget. Kamu yang pacaran kok kamu bingung." Ia tak bisa menahan geli melihat wajah mungil gadis itu saat berpikir. Menggemaskan.


Mereka tidak tahu ada seorang gadis yang sedang memperhatikan gerak- geriknya, bersama teman-temannya yang kebetulan tak sengaja berada di sana. Ia sudah geram dari tadi Raven terlihat mesra dengan Shasa. Dibawanya minuman yang sedang dipegangnya saat itu dan kemudian mendatangi meja Raven. "Oh, jadi ini pacar barumu hah?" ucap gadis berambut panjang itu. Ia menyiram wajah Shasa dengan sekali hentakan dan meletakkan gelasnya di atas meja.


"Ahhhh ...." Shasa terkejut dan wajahnya basah.


"Sonya, apa-apaan kamu ini!" Raven berang dan berdiri.


Sonya tak peduli. "Enak saja ngambil pacar orang sembarangan, dasar maling!" Gadis itu hampir saja menjambak jilbab Shasa kalau saja Raven tidak mencegahnya. Ia menarik gadis itu dan kemudian menamparnya.


Plak!


"Itu adikku!!" teriak Raven sambil menunjuk Shasa.


Sambil memegang pipinya Sonya terkejut, tapi Shasa keburu malu. Ia berdiri dan berlari ke luar.


"Sha!" teriak Raven. Pemuda itu sekali lagi menoleh pada Sonya. "Brengsek lu!" Ia kemudian mengejar gadis itu keluar.


"Shasa!"


Gadis itu sudah berlari ke parkiran dan Raven menyusulnya.


"Sha, sorry. Aku minta maaf banget."


Shasa menghentikan langkahnya. Terdengar suara isak tangisnya. "Udah lu pergi aja dari gue. Lo selalu bikin pusing gue," ucapnya tanpa berbalik.

__ADS_1


Raven segera mendatangi dan memeluknya. Awalnya Shasa menolak dan berusaha melepaskan diri, tapi karena Raven tak mau melepaskan akhirnya ia terpaksa menangis dipelukan pemuda itu.


__ADS_2