Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Kelahiran


__ADS_3

Abra mendorong kursi roda itu ke kantin. Mereka belanja makanan untuk dimakan nanti di taman. Setelah itu mereka kembali ke luar.


"Tadi Raven ujian jadi cuma sebentar aja nungguin aku," keluh Shasa. Praktis, seharian ia banyak sendirian tak ada yang menemani.


"Sayang, Rika juga sedang hamil besar jadi tidak bisa juga menemani kamu, Yang," ujar suaminya masih mendorong kursi roda itu.


Gadis itu menunduk mengusap perutnya. "Hanya si kecil ini saja sekali waktu menendang perutku."


Mereka telah memasuki taman belakang rumah sakit yang tidak besar. Abra menghentikan kursi roda di bawah sebuah pohon besar. Di sebelahnya ada sebuah kursi dari kayu tempat Abra meletakkan bungkusan makanannya.


Saat itu langit malam cerah. Rembulan tampak indah walau tanpa bintang yang bercahaya. Abra pindah ke depan istrinya dan berjongkok. Ia kembali mengusap perut istrinya. "Tapi aku heran. Kenapa setiap aku usap, tak ada satupun dari mereka yang bergerak?"


Shasa tergelak. "Mungkin usapanmu membuat mereka tertidur."


"Masa?"


Shasa tertawa. "Entahlah. Atau mereka tahu siapa dirimu."


Abra mengerut kening. "Memangnya siapa?"


"Orang sibuk yang tidak mau menemani Maminya."


"Shasa ...." Pria itu berdiri. "Aku kan menemanimu tiap malam."


"Aku kan tidak tahu alasan kenapa mereka tidak mau menemuimu. Nanti kamu tanya saja setelah mereka keluar," jawab gadis itu sambil menyentuh lengan suaminya.


Wajah pria itu terlihat masam. "Ini memang keturunan kamu banget kayaknya."


"Maksudnya?" Gadis itu mendongak.


Pria itu mencubit pipi istrinya. "Pinter banget bikin aku rindu."


Gadis itu menepis tangannya manja. Bibirnya tersenyum lebar. "Apaan sih ...."


Abra kemudian duduk di kursi panjang di samping dan mulai membuka bungkus makanannya, demikian pula dengan Shasa.


Karena gadis itu telah makan malam, ia menemani suaminya dengan makan potongan buah. "Memangnya Mas sudah punya cukup uang untuk membeli rumah?"


"Mmh, itulah. Uangku cukup untuk membeli rumah yang kecil Sayang. Apa kita beli tanah saja lalu membangun rumah sendiri? Soalnya kalau dihitung-hitung lebih murah bikin rumah sendiri dibanding yang sudah jadi, jadi kita bisa mempunyai rumah yang agak besar dengan dana segitu. Nggak langsung bisa digunakan sih, kira-kira setahun kemudian baru bisa ditempati."


"Mmh, boleh juga sih. Terserah kamu saja Mas," ucap Shasa tanpa pikir panjang.


Malamnya, Abra menaiki tempat tidur yang sama dengan istrinya.


"Kena—"


Abra segera mendekap tubuh istrinya dan meletakkan telunjuk di depan bibir. Ia segera berbisik di telinga sang istri. "Aku ingin menangkap basah Dedek tukang ngumpet ini."


Shasa tersenyum menahan tawa. Abra mengkodenya untuk segera tidur. Mereka berdua kemudian tidur di atas tempat tidur itu berdua. Tak lama, keduanya tertidur.


Tanpa sengaja tangan Abra menyentuh perut Shasa. pria itu bisa merasakan pergerakan sesuatu hingga ia terbangun. Ia berusaha memastikan bahwa ia merasakan pergerakan itu di perut istrinya. Iya, benar. Ada pergerakan. Ia mengusapnya perlahan. Awalnya, pergerakan itu terhenti.


Shasa yang juga tiba-tiba terbangun juga merasakannya dan melihat suaminya kembali meletakkan telunjuk di depan mulut.


Pria itu tetap mengusap lembut perut itu dan mulai mendekatkan wajahnya ke sana. "Dedek, ini Papi Sayang," ucapnya lembut seraya mengusap kembali perut itu.


Shasa merasakan sebuah pergerakan kecil yang ragu-ragu. Ia tersenyum.


Pria itu ternyata juga merasakannya. "Dedek ... ini Papi ya Sayang, Papi sayang kamu."


Kembali sebuah pergerakan kecil dirasakan keduanya.


Pria itu sampai terharu. Matanya berkaca-kaca. "Pasti salah satu atau kedua-duanya perempuan." Ia mengecup kening istrinya. "Terima kasih ya Sayang, kau beri keajaiban kecil ini untukku."


Gadis itu malah mengecup bibir pria itu. "Mereka juga sebagian adalah dirimu Mas, pasti salah satunya ada yang mirip denganmu."

__ADS_1


"Mmh." Kecupan istrinya malah menggodanya hingga ia benar-benar melanjutkannya dengan cium hangat yang sudah lama mereka tidak lakukan. "Oh, tunggu dulu!" Ia melepas pelukan. "Si buyung malah ingin yang lain ...," keluhnya.


Shasa tergelak.


-----------+++---------


Damar terkejut. Ternyata yang mengunjunginya adalah Rika dan suaminya. Borgol dilepas. Pria itu mendatangi meja dan duduk di kursi di seberangnya. Mereka berada di ruang terbuka sehingga siapa saja bisa melihatnya.


"Kau sehat-sehat saja kan?" sapa Bima ramah.


Damar hanya melihat sekilas Rika dan Bima dan kembali menunduk.


"Kamu kenapa sampai begini Kak?" Rika tak bisa menahan air matanya.


"Rika ...." Bima mengusap punggung istrinya.


Damar terlihat bingung. Ia melihat Bima dan sepertinya pria itu tahu sehingga ia segera pamit.


"Aku tunggu di luar ya?" sahut Bima yang langsung berdiri.


Rika menunduk dan menangis.


Damar tak tega melihat Rika menangis di hadapannya. "Ka, sebaiknya kamu pulang saja. Tidak ada gunanya kamu di sini, cuma bikin stres kamu aja."


Rika mendongakkan kepala. Air matanya masih mengalir perlahan. "Kak, kenapa kamu harus mengemis cinta sih Kak, kenapa harus mengemis cinta? Cinta itu tidak bisa diminta. Cinta tetap akan tiada walau bagaimanapun kamu membujuknya. Apalagi saat cinta itu sudah berpunya. Peluangmu tidak ada," ujarnya berderai air mata. "Aku sudah merasakannya karena itu aku tahu saat berhenti."


Damar menghela napas panjang. Sesak mendengar nasehat adiknya dan sesak saat menyadari kata-kata gadis itu benar. "Karena itu kau tak datang pada ayah bayimu kan?"


Rika yang menunduk hanya mengangguk. "Kebahagiaanmu bukan bersamanya. Sekarang mungkin Kakak tidak percaya tapi nanti, Kakak akan mengerti bahwa aku tidak sedang berjanji." Ia mengangkat kepalanya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja.


Damar meletakkan tangannya di atas kedua tangan adiknya, dengan pandangan nanar ke arah gadis itu. Namun ia yakin, bilang adiknya bisa, ia juga pasti bisa melewati rintangan ini dengan baik.


Ia melembutkan pandangan dan mengangguk. Ia mengusap lembut kepala adiknya.


"Dua bulan lagi Kak," jawab gadis itu mengusap perutnya yang sudah besar. Ia segera menghapus air matanya.


Pria itu tersenyum.


-----------+++-----------


Rika akhirnya melahirkan di rumah sakit. Didampingi suaminya ia melahirkan secara normal.


Abra kemudian datang menengok dan mengabadikan foto bayi itu agar bisa diperlihatkan pada Shasa. "Kak Bim, anaknya cowok ya? Udah dapet nama belum?" Ia kini sudah mulai akrab dengan Bima hingga memanggilnya 'Kak Bim'.


"Udah. Erlangga."


Mereka berdua kini menatap ke arah ruangan berkaca berisi bayi-bayi yang baru dilahirkan. Seorang suster membawakan bayi Bima ke dekat kaca agar keduanya bisa melihat dengan jelas. Beberapa kali Abra mengambil foto bayi mungil itu dan tak lama bayi itu menangis.


"O ho ho, dia minta menyusu lagi," terang Bima dengan semringah. Bima kemudian menyusul bayinya ke ruang perawatan sedang Abra pamit.


"Salam aja buat Rika ya?"


"Oya, makasih."


Abra kemudian mendatangi rumah sakit tempat Shasa dirawat dan masuk ke ruang perawatannya. "Sha, aku udah dapet foto bayinya. Cowok ternyata." Ia datang memperlihatkan foto-foto yang diambilnya pada istrinya yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur.


Raven yang melihat kedatangan Abra segera menutup buku yang dibacanya dan ia masukkan ke dalam tas. "Aku pulang dulu ya? Mau belajar buat ujian." Ia menyandang tasnya.


Shasa terkejut melihat foto bayi itu. Ini seperti foto .... "Bang!"


"Iya?"


"Boleh pinjam HP-mu?"


"Mmh?" Raven segera mengeluarkan hp-nya tanpa curiga dan memberikannya pada Shasa. Hanya Abra yang nampak bingung.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya pria itu ingin tahu.


Gadis itu membuka tempat penyimpanan foto di HP Raven dan kemudian ia mencari ... dapat. Ia terperangah. Kenapa wajahnya begitu mirip. "Kenapa wajah bayi Rika mirip dengan wajah Raven waktu masih bayi sih? Aneh kan?"


Abra pun memperhatikan. "Eh, iya ya?"


Raven tak kalah terkejut. Ia pun ikut melihat. "Eh, iya. Kok bisa mirip ya? Padahal kan itu bayi mereka. Iya kan?"


Shasa dan Abra menatap ke arah Raven.


"Apa maksudnya?" tanya Abra pada pemuda itu.


"Maksudnya ...." Raven sendiri syok saat ingin meneruskan karena tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Ini bukan ... bayiku kan? Wajah pria itu pucat pasi. Ia kembali mencoba melihat wajah bayi itu. Wajah bayi itu sama sekali tidak mirip orang tuanya. Tidak Rika dan juga Bima. Berarti ini ... Ia membulatkan matanya.


"Ah, bayi kan wajahnya berubah-rubah terus," sahut Shasa.


"Oh, iya ya, tapi kok bisa mirip orang lain ya?" sambung Abra.


Keduanya tertawa. Shasa mengembalikan HP Raven. Pemuda itu kemudian pergi dalam keadaan syok.


--------+++----------


Beberapa bulan berlalu. Tibalah waktunya persalinan Shasa. Gadis itu terpaksa harus melahirkan cesar karena banyak sebab. Kesehatan kandungan yang riskan dengan mengandung bayi kembar dan pinggul yang kecil menyebabkan gadis itu harus melaksanakan operasi. Waktu yang ditentukan akhirnya datang.


Karena operasi dilakukan dalam keadaan sadar, Shasa sedikit takut.


Suaminya berusaha terus menyemangatinya. "Aku tak boleh mendampingimu tapi aku yakin kamu kuat. Ingat, aku ada diluar menunggumu. Anak kita pasti sehat, juga kamu. Sebentar lagi kita akan pulang ke apartemen kita."


Gadis itu mengangguk. Tempat tidur gadis itu didorong ke dalam ruang operasi bersama para dokter dan suster yang bertugas. Pintu kemudian ditutup. Abra menunggu dengan gelisah.


Tak lama terdengar suara bayi. Awalnya hanya satu tapi kemudian menyusul satu lagi. Abra menghela napas lega.


Beberapa saat, pintu ruang operasi pun dibuka. Terdengar suara sepatu yang berderap kencang dari arah yang berbeda. Raven datang ingin mengetahui hasil operasinya. "Bagaimana?" Napasnya tersengal-sengal.


Keduanya menatap ke arah seorang suster yang keluar menghadap mereka.


"Mau lihat anak kembarnya Pak?"


Abra mengangguk. Pria itu mengikuti suster itu masuk ke dalam ruang operasi. Di sana terlihat istrinya sedang diurus seorang suster dalam keadaan sadar. Pria itu diberi baju steril oleh suster yang lain sedang ia memperhatikan kedua bayinya sedang dibersihkan. Abra begitu antusias ingin memeluk ketiganya tapi tentu saja itu tak mungkin.


Ia diberi salah satu bayi yang sudah dibalut kain dan yang satu lagi diberikan pada istrinya. Kedua bayi itu sama-sama menangis ketika didekatkan. Abra dan Shasa saling memandang bahagia.


"Sepertinya doaku terkabul. Satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Iya kan sus?" tanya pria itu pada suster yang berada didekatnya.


"Yang Bapak gendong itu bayi perempuan," terang suster itu.


"Berarti ini Gwelina."


"Dan ini Gwelione Natawijaya," sambung Shasa.


Pria itu membisikkan takbir ke telinga anak perempuan lalu menyusul anak laki-lakinya. Kedua anak kembar itu berhenti menangis dan menatap kedua orang tuanya.


Abra begitu senang hingga mengecup dahi istrinya yang penuh peluh. "Aku bangga padamu Sayang."


Abra membawa keluar Gwelina atas izin suster untuk diperlihatkan pada Raven. Sambil duduk ia sesekali mengecup kening bayinya.


____________________________________________


Halo reader, masih membaca bab-bab selanjutnya kan? Ini visual Abra dengan Gwelina Natawijaya. Salam, ingflora. 💋



Coba intip novel yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2