
Mereka berjalan berkeliling hingga berhenti di depan sebuah toko. Sebuah toko perhiasan dari emas.
"Untuk apa kita ke sini?"
Pertanyaan Shasa mengagetkan pria itu. "Kok tanya untuk apa kita ke sini? Aku serius Sha."
"Aku juga serius tapi gak harus cepat-cepat nikah kan?"
"Kenapa, kamu apa yang kamu takutkan? Pengalamanmu yang gagal nikah itu? Bukannya agama menyuruh kita cepat menikah daripada zina?"
"Kita kan tidak melakukan apa-apa."
"Aku laki-laki normal Sha. Kalau lihat orang pacaran, peluk-pelukan, aku juga ingin. Nah, ini yang aku takutkan. Kalau cinta kita semakin dalam dan kebablasan bagaimana? Kita padahal udah menjaganya."
Shasa melepas pegangan tangannya pada Abra dan cemberut.
"Apa lagi ini? Kamu udah gak suka lagi sama aku? Mau lihat yang lain?"
"Bukan." Rengek gadis itu masih cemberut.
"Lalu?"
"Nikah terpaksa itu aku gak mau. Aku masih trauma dengan kejadian sebelumnya."
"Memangnya kamu gak mau nikah sama aku?"
"Bukan gitu ...." Gadis itu masih merengek kesal, Abra belum juga mengerti.
Abra menghela napas. Ia tahu, Shasa punya kesulitan sendiri yang ia tidak bisa rasakan. Mungkin itu yang menyebabkan mereka berbeda pendapat dan ia berusaha untuk menghargai itu walaupun ia begitu ingin segera menikah. "Gini aja deh! Bagaimana kalau kita merencanakan menikah, tidak tahu kapan. Mungkin besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan tapi ... mulai sekarang kita nyicil. Sekarang kita menemukan cincin kawin. Bagaimana kalau kita beli saja? Yang lain-lain menyusul kalau kita menemukannya lagi. Bagaimana menurutmu?"
Gadis itu terdiam. Kemudian ia mengangguk. Abra akhirnya bisa membawa gadis itu ke dalam toko itu, walaupun ia masuk dengan malasnya.
"Ada yang bisa di bantu Mas?" tanya pramuniaga toko itu.
"Eh ... hanya lihat-lihat saja." Abra tentu saja tidak ingin Shasa tertekan saat mencarinya.
"Ok." Pramuniaga itu pun pindah ke tempat lain.
"Sha, kamu lihat-lihat saja yang kamu suka. Kalau gak ketemu juga gak papa," tutur Abra pelan. Ia ingin Shasa menikmati belanjanya di toko itu.
"Mmh?" Netra gadis itu mulai melihat ke arah etalase. Mulai ringan melirik ke sana kemari. Bahkan ia membungkuk dan berjongkok melihat satu-satu perhiasan yang ada.
"Kamu mau kalung? Aku belikan."
Gadis itu melirik sekilas dengan senyum yang mengembang. "Aku ingin beli sendiri," gumamnya.
Abra membiarkan. Ia ingin gadis itu nyaman melihat-lihat. Ia dengan sabar mengikuti gadis itu melihat koleksi yang ada.
"Yang ini bagus gak?" Shasa menunjuk ke sebuah kalung dengan liontin berlian kecil berwarna putih yang sederhana.
"Bagus. Bagaimana dengan antingnya?"
"Anting?"
"Ini ada antingnya kok Mbak. Karena berliannya putih. Macam-macam modelnya," ucap pramuniaga itu yang kembali datang mendekat. Ia memperlihatkan model-model anting di tempat lain.
"Bagaimana?" tanya pria itu.
Shasa melirik Abra dan kemudian pramuniaga itu.
"Boleh lihat kalungnya dulu gak?"
"Oh, boleh." Pramuniaga itu mengambilkan kalung itu untuk gadis itu.
Shasa melihatnya dengan mata bercahaya. Ia meletakkannya di telapak tangan. "Bagus ya?"
"Antingnya bagaimana?" tawar Abra.
"Mmh?"
__ADS_1
Pria itu melihat lagi pilihan anting berberlian putih dan mencoba memilihkan satu. "Yang itu."
Pramuniaga itu mengambilkan anting dengan model yang sama, satu berlian mengantung dengan cantik di anting kait itu.
"Bagus kan?"
"Iya." Gadis itu tersenyum lebar.
"Bagaimana dengan gelang?"
"Gelang?"
"Iya."
"Aku gak punya cukup uang untuk beli semua itu." Shasa menggulung bibir bawahnya.
"Ya udah pinjem uangku aja."
"Aku baru inget, belum bayar utangku sama kamu yang sisanya. Masa tambah lagi?"
"Ya udah sekalian pakai gelang ya? Kalau aku yang beliin harus kelihatan dong dipakainya. Kalau kalung dan anting aja, cuma kamu yang bisa lihat." Abra mencari lagi gelang yang sesuai dibantu pramuniaga itu. Saat kembali Abra membawa sebuah kotak cincin. "Yang, katanya ada cincinnya juga."
"Masa?"
"Ini lihat." Abra membukakan kotak cincin itu dan terlihatlah sepasang cincin kawin bertahtakan berlian putih. "Bagus kan?"
Shasa terlihat ragu-ragu. Ia ingat sudah 2 kali mencoba cincin dan selalu tidak pas. Yang pertama kebesaran dan yang kedua kekecilan. Ia ragu apakah cincin itu cocok untuknya atau tidak. Lagipula Abra sudah menawarkan begitu banyak perhiasan dan ia takut tak bisa membayarnya kembali karena hutangnya sudah terlampau banyak. "Yang, hutangku sudah banyak," bisik Shasa saat mendekat.
"Ya udah gak usah dipikirin. Coba aja dulu, barangkali pas di jarimu. Kamu tidak akan tahu kalau belum mencobanya."
Shasa melirik wajah pria itu yang menggangguk membujuknya. Mau tak mau gadis itu mengulurkan tangannya. Abra meletakkan kotak itu di atas etalase dan mengambil cincin untuk yang wanita dan menyematkannya di jari manis Shasa. Pas. Gadis itu membulatkan matanya karena takjub.
"Pas ya?"
Gadis itu mengangguk tak percaya.
Shasa mengangguk setuju dengan mata berbinar ceria. Abra membayar semuanya dan gadis itu dengan senangnya membawa tas belanja itu di tangannya. Ia memeluk lengan Abra saat keluar dari toko itu.
Betapa mudahnya membujuk wanita itu, asalkan sabar ... dan juga sayang.
---------+++---------
"Aku mungkin lumpuh dan juga ... impoten."
Bapak dan ibu Bima saling berpandangan.
Ibu langsung menyentuh lengan Bima. "Jangan begitu Nak. Jangan berandai-andai dengan yang buruk. Biar bagaimanapun, ucapan adalah doa. Maka ucapkanlah yang baik-baik," sahut ibu bijak.
"Karena itu ...." Bima menoleh ke arah Rika yang duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya. "Restui cinta kami, Bu ... Pak karena aku sangat mencintainya. Aku sudah lama mengejarnya dan kini kami ingin dipersatukan karena kami telah menerima kekurangan masing-masing. Karena itu tolong, bantu kami agar bisa bersama."
Kedua ibu dan bapak Bima terlihat prihatin melihat keduanya. Mereka kembali saling berpandangan.
"Bukan kenapa-kenapa tapi keadaan kalian berdua yang membingungkan Ibu. Kamu sedang dirawat. Rasanya tak mungkin menikahkan kalian cepat tapi kalau melihat pada Rika, dalam kondisinya, ia harus menikah secepatnya agar tidak jadi omongan orang."
"Kalau begitu, nikah cepat juga tidak apa-apa Bu. Aku sih setuju saja."
"Tapi kok Kakak gak nikah sama yang waktu itu dikirim fotonya?" tanya seorang wanita muda yang ternyata adik Bima.
"Eh, kamu kok usil sih ...." Ibu menyentuh dengan lembut bahu anak perempuannya.
"Mmh ... panjang ceritanya tapi aku lega akhirnya aku memilih Rika." Bima melirik gadis di sampingnya yang tersenyum malu-malu padanya.
Tiba-tiba pintu dibuka. "Lho, Bima? Orang tuamu sudah datang?" ucap pria paruh baya itu datang ditemani istrinya. "Rika, kamu masih di sini?"
Gadis itu segera berdiri dan menghampiri. "Papa!"
Bima menganggukkan kepalanya. "Maaf Om, Tante. Ini orang tuaku."
Kedua orang tua Bima menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Bisa kita bicara Om?"
"Mmh? Mengenai apa?" Adam mengernyit dahi.
------------+++---------
"Yang, kamu gak mau beli baju?" tawar Abra sambil menyeruput kola dari gelas plastiknya.
"Enggak ah, banyak banget belanjanya. Nanti kamu lagi yang bayar. Nggak mau ah!" Shasa menggigit kentang gorengnya.
"Ah itu sih gampang Yang. Kalau kamu udah gak sanggup bayar, kawinin aku aja Yang. Bayar dengan tubuhmu!" Abra tertawa terbahak-bahak.
"Iih, kamu jahat ...." Shasa menepuk bahu Abra pelan.
"Ngak jahat kok Yang. Di jamin nagih!" Abra kembali tertawa.
Shasa mencubit lengan pria itu, kesal.
"Aduuh, Yang. Jangan sebentar-sebentar cubit, kenapa sih?" Abra mengusap-usap lengannya. "Bilang aja mau biar aku cepet kawinin." Ia kembali tertawa.
Kini gadis itu menendang kaki Abra.
"Aduhh Yang ...." Kini Abra mengusap-usap kakinya tapi tetap ia tak marah. Ia senang menggoda gadis itu yang wajahnya kini kemerahan.
Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon dari tas Shasa. Gadis itu mengambilnya. Ia melihat nama yang tertera adalah nama Omnya. Ia segera mengangkatnya. "Halo Om? ... Apa? ...." Ia menoleh ke arah Abra. "Ada Om ...."
Abra menunjuk dirinya dihadapan Shasa. Gadis itu mengangguk. Ia menyerahkan HP-nya pada Abra.
"Halo?" Abra seperti mendengarkan sesuatu dan melirik gadis itu. "Eh, aku mau ngomong dulu sama orangnya Om. Bagaimana kalau nanti aku hubungi kembali?" Tak lama ia memutuskan hubungan teleponnya.
"Ada apa?" Shasa terlihat bingung. "Kenapa Om bicara padamu?"
"Emm, itu. Rika. Dia akan menikah dengan Bima."
"Oh, dikirain apa. Aku gak marah kok, malah aku senang. Aku udah ngerasa bahwa mereka tuh punya hubungan yang belum selesai waktu Bima pacaran sama aku jadi aku tuh selalu waswas dan ngerasa jadi penghalang, tapi sekarang aku lega. Berarti Bima sudah baikan lagi sama Rika dan sudah menentukan sikapnya. Aku akan mendoakan yang terbaik buat Bima dan Rika."
"Dan jalani hidupmu dengan bahagia."
"Pastinya." Gadis itu tersenyum.
"Dengan menikah denganku."
"Kok ngomongnya ke situ lagi sih?" Shasa mengerut kening.
"Aku serius Yang, sama kamu."
"Aku juga serius."
"Tapi terhalang belum dihalalin itu Yang," gerutu Abra.
"Ih! Cowok emang pikirannya cuma itu ya?" tanya Shasa kesal.
"Bukan gitu Yang." Abra berdiri dan kemudian mengambil kursi yang berada di antara mereka. Ia mendekatkan kursi itu di samping gadis itu. Kini ia meraih tangan Shasa. "Sha, aku serius sama kamu. Dari pertama kita bertemu di pesta topeng itu aku udah suka sama kamu, tapi penghalangnya ada saja yang membuatku gak bisa dekat denganmu.
Kali ini, aku mendapatkanmu tapi entah esok. Kamu juga sering menghilang kalau lagi ada masalah padahal aku ingin selalu berada di dekatmu dalam suka maupun duka. Aku juga ingin menolongmu, tapi kalau kita tidak menikah semua itu sulit aku lakukan. Menyentuhmu, memelukmu, menenangkanmu. Semua menjadi sesuatu yang haram aku lakukan. Tolong Sha, biarkan aku masuk dalam duniamu sehingga saat kamu kesulitan setidaknya ada aku yang bisa memberi pelukan hangat agar kamu tahu aku ada untukmu."
Gadis itu mendengarkannya dengan haru. Matanya berkaca-kaca sambil menatap lembut pria itu. Ia akhirnya menyandarkan kepalanya itu pada bahu kokoh milik pria pujaan hatinya.
"Shanum Andina Prawira. Maukah kau menikah denganku?"
"Mmh." Gadis itu menganggukkan kepala di bahu Abra.
"Bagaimana kalau besok?"
"Apa?" Shasa menegakkan kepalanya. "Kamu bercanda kan?"
"Aku gak bercanda, Yang. Ommu baru saja mengajakku menikah bareng Rika. Rika menikah besok."
"Apa?" shasa membulatkan matanya dengan sempurna.
__ADS_1