Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Ayah


__ADS_3

Mereka tertawa.


"Ok. Ya sudah, kami ke atas dulu ya, berganti pakaian," terang Abra.


"Oh, iya, iya."


Ayah Raven dan Raven menunggu di lantai satu sedang Abra dan Lione naik ke lantai atas untuk bertukar pakaian. Shasa keluar dari dapur bersama Lina.


"Aku sudah masak buat makan siang Ayah, tadi dibantu sama Dedek Lina ini." Shasa mengusap kepala anaknya. "Mas Abra ke mana Yah?"


"Baru naik."


Shasa bergabung dengan mereka di kursi sofa. "Nanti setelah makan siang baru aku ke kantor. Temani Lina ini kasihan, kan Lione selalu ikut Jum'atan sama Papinya sekarang."


Lina duduk di samping Shasa.


"Tapi apa tidak sebaiknya kamu libur saja? Kan waktunya tanggung untuk ke kantor lagi. Kamu sudah sibuk di dapur tadi, kalau ke kantor lagi, nanti kamu kelelahan. Kamu kan sedang hamil, Shasa, untuk hari ini kamu bersantai sajalah di rumah."


"Tapi sabtu minggu kan juga libur."


"Yah, menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah tangga, kan juga sibuk. Lagi pula, kamu temani ayah di sini. Ayah cuma hari ini saja di sini, besok Ayah pulang."


"Lho Ayah kok cepat?"


"Ada pekerjaan yang belum selesai. Nanti Ayah akan ke sini lagi lebih lama. Apalagi kalau kamu sudah lahiran."


"Bener lho Yah, aku tunggu."


"Iya ...," janji Ayah Raven.


Abra turun bersama Lione. "Ayo kita berangkat."


Ayah, Raven, Abra dan Lione menuju mobil Raven.


"Ven, kamu belum dapat kerja juga?" tanya Ayahnya.


"Belum Yah."


"Lah, kebetulan. Nisa juga lagi butuh karyawan. Kamu kerja sama Nisa aja Ven," sela Abra.


"Nisa siapa?" tanya Ayah Raven.


"Temenku Yah. Raven juga kenal kok."


"Oh, kalau begitu, kamu lamar kerja saja di tempat siapa itu, Nisa ya?"


"Iya Yah."


Raven melirik Abra kesal.


"Kamu mau gak Ven? Kalau gak mau juga gak papa. Dia lagi butuh pegawai buat negosiasi. Kalau gak mau, aku tawarin ke temanku yang lain," terang Abra.


"Rasanya kamu bisa kan Ven?" tanya Ayah pada Raven.


Sejenak ia terdiam. "Ya udah, nanti aku tanya sama Mbak Nisa deh!" Raven akhirnya menyerah.


"Nah, gitu dong. Semangat kerja."


Abra tersenyum. "Iya. Kebetulan Nisa itu mengelola perusahaan ayahnya semenjak ayahnya sakit, tapi dia gak begitu faham berbisnis karena itu dia kelimpungan. Sudah berapa tahun dia mengerjakan itu tapi kalau bukan bidangnya ya susah."


"Memangnya sebelumnya dia kerja apa?" tanya Ayah Raven penasaran.


"Oh, Dia itu tadinya model. Model Internasional. Kerjanya hanya keliling Paris, New York, Jepang hanya untuk pemotretan merek-merek ternama."


"Wah, cantik pasti ya?" komentar Ayah.


Raven membuka kunci pintu mobil hingga mereka berempat bisa masuk. Ayah duduk di samping Raven di depan sedang Abra dan Lione di belakang.


"Ya sudah, kalau sudah cocok, kamu kerja saja sama Nisa. Barangkali jodoh. Jodoh kerja, jodoh juga jadi pendampingmu."

__ADS_1


"Ayaaah ...." Raven mulai kesal.


Abra hanya tertawa.


---------+++----------


"Sudah Bu, aku tidak ingin minum," tolak Kevin.


"Eh ... ini kan sudah ada dalam menu makanmu. Ini hanya susu kok. Dari tadi siang kamu menundanya terus," bujuk ibu.


"Ibu kan tahu, aku gak suka susu. Bilang saja sama mereka, menunya ganti. Aku susah menelannya, Bu." Kevin merengut.


Tiba-tiba pintu terbuka. Erik masuk dengan membawa koper. Ia baru datang dari Jepang dan langsung mendatangi rumah sakit. Pria itu benar-benar terkejut melihat Kevin yang benar, telah bangun dari komanya.


"Ayah ...." Kevin menatap ayahnya yang datang mendekat.


Pria paruh baya itu tidak tahu harus berkata apa, hanya terharu karena anaknya kembali sadar dari koma yang berlangsung hingga 5 tahun lamanya hingga ia sendiri tak yakin anaknya bisa kembali terbangun.


Ia langsung memeluk Kevin tanpa sepatah kata pun. Ia bersyukur, Allah memberinya peluang untuk berbicara lagi dengan anaknya itu. Sebuah keajaiban, kesempatan yang langka.


"Ayah ...." Kevin tertegun. Pelan-pelan ia menikmatinya dengan memeluk balik ayahnya dengan erat.


"Ayah rindu kamu Nak," terdengar isak dari mulut Erik.


Kevin menikmati hangatnya pelukan itu, sesuatu yang sebenarnya ia perlukan. Kehangatan dari pelukan keluarga yang menyayanginya hingga tanpa terasa air matanya pun ikut jatuh. "Ayah ...."


"Kamu baik-baik saja kan?" Erik melepas pelukan. Ia mengusap air matanya sendiri lalu mengusap air mata Kevin.


"Aku baik-baik saja Ayah."


Karen pun ikut meneteskan air mata.


"Kamu sudah makan?"


"Kalau makan malam, belum Yah. Kan masih sore."


"Oh, iya."


"Ayah malah belum makan, lupa."


Keduanya tertawa lalu kemudian terdiam.


"Ya sudah, Ayah makan dulu saja," pinta Kevin.


Erik masih memandangi Kevin tak percaya.


"Kenapa Yah?"


"Menurut Ayah ini keajaiban. Sudah sebegitu lamanya kamu koma tapi akhirnya kamu bangun juga."


"Mmh." Kevin bingung dipandangi ayahnya sedemikian rupa sekaligus senang karena selama ini ia selalu beranggapan bahwa ayahnya lebih mengistimewakan Abra di banding dirinya tapi ternyata itu tidak benar. Ayahnya juga mengkhawatirkan dirinya seperti ayahnya mengkhawatirkan Abra.


Kevin tidak tahu, Erik terpaksa melakukan itu karena tekanan Karen pada Abra sehingga ia terlihat melindungi Abra secara berlebihan padahal Erik berusaha adil pada anak-anaknya dengan tidak membeda-bedakannya.


Erik kembali memeluk Kevin, hanya kali ini keduanya melepas kerinduan yang sangat. Kevin menyukainya karena akhirnya ia tahu, ayahnya juga menyayanginya.


-----------+++---------


Lift terbuka. Kevin keluar sambil melirik kanan kiri memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Ia pun melangkah ke pintu depan. Di sana ia bertemu dengan asistennya. Ia menyodorkan tangan sehingga asistennya itu memberikan bawaannya, sebuah kotak di dalam tas plastik.


"Pak apa tidak berbahaya ini Pak. Bapak kan sedang dalam perawatan."


"Tidak. Malah ini mungkin bisa membantu kepalaku yang kadang pening tiba-tiba."


"Pening tiba-tiba? Apa tidak sebaiknya Bapak tanya dokter saja?"


"Aku hanya ingin hidup normal. Aku tak mau jadi alat uji obat ini dan itu. Kalau aku melaporkan sakitku, pasti mereka akan memberiku macam-macam obat dan macam-macam tes. Aku bukan kelinci percobaan ya, aku hanya ingin hidup tenang."


"Tapi Pak, alangkah baiknya itu dilakukan karena dengan begitu penyakit Bapak segera diketahui dan disembuhkan."

__ADS_1


"Sakit apa, aku tidak punya penyakit! Kepalaku retak dan tidak ada obat yang dapat merekatkan kepala yang retak, ok? Jadi berhentilah usil soal hidupku, dan lakukan yang aku minta. Mungkin sebentar lagi aku juga akan bekerja jadi tutup saja mulutmu itu kalau kau masih ingin bekerja padaku. Mengerti?" bentak pria itu kesal.


"Baik Pak." Pria itu menurut.


Asisten Kevin kemudian pergi dan Kevin kembali ke dalam rumah sakit seraya membawa bungkusan plastik itu.


Tanpa sengaja saat ia lewat pos penjaga, ia melihat suster yang kemarin malam bertugas jaga di daerah kamarnya, sedang berbicara dengan suster kepala. Tampaknya wanita itu tengah dimarahi oleh atasannya.


Kevin tidak ingin menguping tapi tempat itu dekat dengan lift hingga ia mau tak mau mendengarkan.


"Kamu ini bagaimana sih? Sudah sering teledor, bekerja belum sebulan sudah berani pinjam uang. Kami bukan tidak mau memberi tapi jumlahnya itu lho, terlalu fantastis."


"Tapi itu untuk pengobatan Ibu saya Bu, untuk operasi jantung. Kalau Ibu tidak percaya, Ibu bisa cek ke rumah Bu, karena ibu saya ada di rumah."


"Kalau pun benar, rumah sakit ini bukan dinas sosial ya? Pasien saja tidak bayar, ditolak, apalagi yang mau pinjam uang. Mau saya taruh di mana wajah saya ini kalau saya ajukan soal pinjaman uang ini ke kepala rumah sakit?" kata kepala suster itu marah-marah sambil menunjuk ke wajahnya sendiri.


"Sudah, terserah kamu saja. Mau kerja, syukur, kalau tidak, ya ada banyak suster-suster lain kok, yang lebih muda dan cekatan dari kamu yang ingin kerja di sini, jadi jangan takut-takuti saya dengan mogok kerja ya, mengerti?"


Wanita itu tertunduk diam.


Huh, wanita tolol! Kevin hanya tersenyum dan segera masuk ke dalam lift ketika pintu lift terbuka di hadapannya.


----------+++----------


Kevin ternyata tengah mabuk. Ya tentu saja, karena yang dibawa asistennya itu adalah minuman keras. Ia meminumnya di kamar sendirian.


Tiba-tiba pintu terbuka.


"Eh, Pak, Bapak minum apa?" Suster itu masuk dan terkejut.


Kevin tersenyum. "Menurutmu?"


Suster itu melihat botol yang dipegang Kevin. "Ya Allah, Bapak gak boleh minum ini, Bapak kan sedang pengobatan."


"Kata siapa?" tanya Kevin kembali tersenyum. Pipinya sudah memerah.


Suster itu menghampiri dan merebut botol itu dari tangan pria itu.


"Eh, itu minumanku," rengek Kevin.


"Iya, gak diambil kok. Disimpan ya?" bujuk wanita itu yang segera membuka laci nakas dan meletakkannya di sana. "Tuh, lihat. Aku gak ambil kan? Disimpan di situ saja ya, nanti kalau sudah sembuh nanti boleh minum lagi."


Kevin mengangguk seperti anak kecil.


"Nah sekarang tidur ya?"


Kembali pria itu mengangguk. Ia masuk ke dalam selimut dan suster itu membantu menyelimutinya.


"Nah, tidur ya? Sudah malam."


"Makasih," kata pria itu kembali tersenyum.


"Pejamkan mata."


Pria itu menurut. "Mmh."


Aneh. Orang ini kalau mabuk malah jadi anak manis berbeda dengan dia kemarin itu. Sangat galak, batin suster itu seraya tersenyum. Perlahan suster itu keluar dari ruang itu.


-----------+++-----------


Kevin terbangun. Ia ingin buang air kecil hingga turun dari tempat tidur. Dengan sedikit sempoyongan ia bergerak ke arah kamar mandi. Setelah selesai, ia kembali keluar. Ia tidak ingin kembali tidur karena tidak mengantuk, hingga akhirnya ia berniat jalan-jalan sebentar ke luar.


Diluar sepi karena diliriknya jam menunjukkan pukul 12.25 tengah malam. Di pos jaga, ia tidak melihat suster tadi tapi suster lain yang menjaga. Apakah suster tadi sudah pulang ya?


Ia kemudian berjalan-jalan di lantai itu di area lain. Walaupun ia masih sempoyongan, ia berusaha berjalan perlahan sehingga tidak ada yang tahu ia masih mabuk. Padahal sudah tidak orang di luar kecuali di pos jaga.


Ketika ia melewati sebuah pintu ia mendengar suara tangisan. Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri dan juga ke belakang tapi ia tidak menemukan seorang pun di sana. Pastinya suara itu berasal dari balik pintu.


Perlahan ia mendekati pintu dan membukanya. Ruangan itu ternyata ruang penyimpanan stok barang. Di situ di salah satu sudut ruangan, duduk suster yang tadi dimarahi oleh suster kepala dan sedang menangis sendirian di situ.

__ADS_1


Wanita itu terkejut melihat kepala Kevin muncul dan melihat ke dalam. Buru-buru ia menghapus air matanya. "Eh, bapak butuh apa?" Ia beranjak berdiri.


"Mmh, tidak."


__ADS_2