
"Eh, Pak. Ada yang aku ingin bicarakan. Kita keluar sebentar." Shasa menarik tangan Bima keluar. Ia tidak ingin keadaan menjadi tambah runyam karena suasana yang tak nyaman. Vera pun mengekor di belakang.
Sesampainya di luar Shasa hanya diam. Ia sedang fokus dengan apa yang mungkin bisa di sampaikan pada Bima selagi mereka bertemu.
Kevin, di lain pihak, sedikit menyesal. Ia telah membuat gadis itu pergi guna mendinginkan suasana rusuh yang telah dibuatnya. Ia tidak bermaksud membuat Shasa canggung hingga ia menyalahkan dirinya sendiri.
"Kak Kevin, kenapa begitu sih? Kasihan Shasa, dia jadi serba salah. Kalau Bima marah dan menghentikan kerja samanya bagaimana? Dia pasti menarik Shasa dan aku harus mencari perusahaan iklan lain untuk menggantikan mereka Kak."
Biasanya kalau Kevin marah tidak pernah akan jadi masalah dan ia juga tidak peduli tapi lain halnya kalau itu berhubungan dengan Shasa. Ia menunduk. "Ya, maaf aku salah." Ia menyatukan kedua tangannya di belakang dan berpikir. Kenapa aku mengacaukan semuanya? Kenapa aku tidak bisa mengerem mulutku? Hah .... Ia mendesah pelan.
Di luar, Bima mengeluarkan sejumlah uang dan di berikan ke tangan Shasa.
"Apa ini Pak?" tanya gadis itu heran.
"Di kantor, karyawan sudah gajian tapi kamu baru beberapa hari bekerja jadi aku memutuskan untuk memberikan kamu pinjaman uang."
"Tapi ...."
Bima mengeratkan genggaman uang itu pada Shasa. "Ini cuma sejuta kok, karena aku mempertimbangkan kamu sudah menggolkan 2 projek sekaligus, projek Pak Abra dan iklan itu. Jadi kamu tinggal 1 projek lagi untuk bisa kursus PR. Nanti kalau iklan TV dan posternya jadi kamu juga dapat lagi sebagai modelnya. Nanti tinggal dikurangi saja dengan uang ini."
Shasa terdiam.
"Kenapa?"
"Aku boleh mundur gak Pak, jadi model iklan itu?"
"Lho kenapa?"
Shasa bingung. Makin hari ia makin dekat dengan Abra dan ia sangat menyadari hal itu. Apalagi saat Abra kecelakaan, ia benar-benar sangat takut kehilangan pria itu. Ini tidak boleh terjadi. Ia pacar Bima dan kalau tinggal lebih lama lagi bersama dengan pria itu, pikirannya bisa terpecah. Ia takut ia tidak bisa setia. "Aku tidak enak saja ...."
"Shasa, di mana-mana pekerjaan tidak ada yang enak, yang sesuai dengan hati nurani kita, tapi itulah pekerjaan. Menuntut kita profesional lagi sabar dengan begitu kita bisa sukses."
Shasa masih menunduk.
"Soal masalah Kevin, kamu gak usah pikirkan itu. Ini dunia usaha. Justru kamulah penyambung usaha ini kalau kamu bisa bertahan bersama Pak Abra. Ingat ia bisa memberimu projek-projek lainnya setelah ini. Yang penting aku tidak kontak langsung dengan mereka rasanya tak masalah. Apa kamu ada masalah juga dengan Kevin?"
Shasa mendongak dan menggeleng. "Tidak."
"Nah itu. Kamu bisa bergaul dengan mereka adalah setengah jalan menuju sukses, setelah itu kamu tinggal 'menyetir' mereka saja. Gimana?" Bima memberi senyum yang menenangkan.
"Sekarang pintu sukses ada di tanganmu. Saat ini, lewat aku tidak bisa tapi lewat dirimu semuanya mungkin. Ini mungkin yang pertama bagimu tapi dari sini kamu akan bertemu dengan banyak orang lain yang lebih susah diurus dibanding mereka dan kamu bisa belajar dari mengurus mereka berdua dulu, mmh? Untuk jadi besar kamu harus mulai dari kecil ini dulu dan yang penting kliennya suka berurusan denganmu. Itu sudah satu langkah menuju sukses bukan?" Bima mengusap pucuk kepala gadis itu.
Gadis itu masih terdiam, tapi paling tidak ia tidak bicara soal mundur dari iklan itu lagi dan Bima bisa bernapas lega.
"Ok, aku balik ke kantor ya? Nanti kalau kamu ada masalah kamu bisa telepon kantor atau langsung denganku."
Shasa mengangguk. Bima dan Vera kemudian pamit dan langsung meninggalkan Shasa di depan pintu ruang perawatan Abra.
Setelah sedikit jauh, Vera mulai bicara. "Pak ngasihnya dikit banget, sejuta."
__ADS_1
"Lho itu kan atas pertimbangan prestasi dan juga supaya adil. Aku tidak mau dipandang sebagai pemimpin yang pilih kasih di kantor," Bima menerangkan.
"Tapi sebagai pacarnya, apa?"
"Maksudmu apa?" Bima mengerut kening.
"Lah Pak, itu pandangan kantor tapi pandangan sebagai pacarnya apa, masa pacarnya di kasih uang sejuta. Kasihlah lebih, dari kantong sendiri."
"Maunya sih begitu tapi ...." Bima kemudian sadar dengan apa yang dikatakan Vera. "Iya, ya. Kenapa gak aku kasih uang lebih?" Ia menoleh balik tapi mereka sudah berbelok jauh. Mereka sudah tidak melihat Shasa dan ruang perawatan itu lagi. "Nanti saja aku kirimi ia pesan," lanjut Bima dan kemudian meneruskan langkahnya bersama Vera.
Di tempat lain, Shasa baru saja memasukkan uangnya ke dompet ketika kepala Kevin muncul dari balik pintu.
"Oh, bosmu sudah pulang?" tanya pria itu.
Seketika wajah Shasa tegang. "Eh, maaf Kak, bosku pulang duluan gak pamit, tapi dia titip salam maaf gak bisa pamit langsung." Demi kenyamanan bersama, Shasa terpaksa berbohong. Ia tahu, hanya bertemu untuk pamit hanya akan memperkeruh suasana, karena itu Bima memilih pergi.
"Eh, ya. Maaf ya, aku tidak bermaksud membuat kau dan bosmu merasa tak nyaman. Aku hah, terbawa masa lalu. Aku salah, maaf." Ini untuk pertama kalinya ia minta maaf pada orang lain. Pria dengan ego tinggi ini tak pernah mau kalah dengan orang lain dan tidak pernah mau mengakuinya kesalahannya dan hanya pada Shasalah orang pertama dan wanita pertama yang ia mintakan maaf selain keluarganya.
Shasa benar-benar terkejut. Pria ini minta maaf padanya? Padahal tadi ia dengan lantang mengibarkan bendera perang pada bosnya itu hingga ia harus menyingkirkan Bima dari hadapan Kevin agar tidak ada lagi perang mulut di sana. Benarkah pria itu minta maaf pada Bima, pacarnya? Ini sungguh di luar dugaan. "Eh, a-a-aku ...."
"Maaf ya Shasa." Kevin memasang wajah memelas. "Padahal itu hanyalah kekonyolan jaman sekolah dulu dan kita pasti sekarang telah menjadi orang yang berbeda. Iya kah?" Kevin memasang senyum terbaiknya agar gadis itu tak lagi khawatir.
"Eh, iya." Shasa masih belum mencerna apa yang terjadi. Kenapa ia berubah secepat ini? Apa yang baru saja terjadi di dalam tadi hingga ia berubah secepat ini? Apa Kak Abra telah merubahnya?
"Oh ya, kamu mau pulang atau mau tetap di sini?"
"Pulang?" Sekarang Shasa bingung karena rencananya hari ini ia akan mencari kos-kosan bersama Abra, berarti ia belum punya tempat untuk tinggal. "Aku baru mau mencari tempat tinggal jadi barang-barangku masih di tempat Kak Abra."
Shasa tak punya pilihan, ia menunggu Abra mengantarnya mencari kos-kosan tapi pria itu kecelakaan. Iapun tidak tega meninggalkan Abra dalam keadaan seperti itu sekarang ini.
Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya Abra berusaha turun sendiri dari tempat tidur.
"Kamu mau ke mana Bra?" tanya Kevin, mendatanginya.
"Aku mau ke kamar mandi."
Kevin membantunya turun setelah itu Abra berjalan sendiri ke kamar mandi. "Kau bisa sendiri?"
"Sepertinya begitu." Abra masuk ke kamar mandi tapi tak lama terdengar teriakannya. "Aghh!"
"Abra, kamu tidak apa-apa?" Kevin mendekati kamar mandi.
Shasa pun terlihat cemas.
"I-iya, tidak apa-apa," sahut Abra dari dalam kamar mandi. Tak lama ia keluar. "Aku tidak bisa menggerakkan tangan kiriku tapi aku kadang lupa." Pria itu kembali ke tempat tidur.
Shasa membantunya.
"Mungkin sebaiknya Shasa menemanimu ya?"
__ADS_1
Mendengar komentar kevin, keduanya tak bisa bicara.
"Ok, sekarang aku kembali ke kantor. Nanti malam aku kembali kemari. Jadi kalau Shasa ingin pulang ke apartemenmu, aku antar."
"Terima kasih Kak," jawab Abra yang mulai mengantuk.
"Sudah, kau tidur saja." Kevin menepuk-nepuk tangan adiknya dan keluar ruangan.
Shasa yang duduk di kursi samping tempat tidur Abra mulai merapikan selimut pria itu.
"Kamu juga bukannya belum tidur ya dari semalam? Kamu kan bisa tidur di sofa sana." Abra kasihan pada Shasa yang juga sama-sama belum tidur seperti dirinya tapi gadis itu malah menjaganya di rumah sakit. Dari kemarin ia terus merepotkan gadis itu membuat Abra merasa bersalah. "Tidurlah."
"Aku nunggu Kak Abra tidur, baru aku tidur."
Abra makin terenyuh. Kau membuatku makin tak bisa kehilanganmu, kelinciku. I love you. Ia tak bisa berkata apa-apa selain mencoba tidur.
-----------+++-----------
Rika dibawa masuk ke ruangan salah satu GM oleh salah seorang HRD dan ia tahu itu ruangan siapa. "Ini Pak." Pria itu berucap pada pria yang duduk di kursi ruang kerjanya.
Pria itu menyilang kakinya di balik meja sambil menopang dagunya dengan bersandar pada lengan kursi. "Mmh."
Rika hanya memandang penuh tanya. Pegawai itu membawakan sebuah map dan diserahkan pada asisten pria itu yang berdiri di sampingnya. Asisten itu memberikan map itu pada pria itu untuk dibaca tapi pria itu tidak melakukannya. Ia hanya memandang wajah Rika dari kursinya.
"Sebenarnya ada apa Pak Kevin cari saya?" Rika memberanikan diri bertanya.
Pria itu terkejut dan tertawa. "Ternyata kamu tahu namaku ya?"
"Karena semua orang tahu di kantor ini, masa aku tidak tahu, " terang gadis cantik itu lagi.
"Ok." Kevin menghela napas dengan merapikan jasnya. "Kamu tahu kenapa aku panggil kamu ke sini?"
"Enggak."
"Karena kami menemukan bukti bahwa kamu yang melepas ikatan lampu gantung yang menyebabkan adikku Abra kecelakaan."
"Apa? Tidak mungkin! Aku tidak berada di sana saat kejadian. Sumpah!"
"Ada orang yang melihat bahwa kamu telah melepas ikatan lampu gantung itu pada saat kejadian. Bagaimana kau membantahnya?"
"Itu tidak benar! Ini fitnah! Aku tidak melakukan itu sama sekali. Demi Tuhan!"
"Apa kau masih bisa bicara demi Tuhan bila aku laporkan ini ke polisi, mmh? Aku pastikan kau akan mendekam di penjara."
Rika terlihat ketakutan. "Tapi benar, demi Tuhan aku tidak melakukannya. Sumpah, demi Allah." Gadis itu hampir menangis.
"Oh, oh, oh. Begitu ya? Ok, kali ini aku ampuni, tapi bentuk pertanggungjawabannya adalah, kamu aku berhentikan dari pekerjaanmu yang sekarang dan oya, aku minta kau tidak boleh lagi mengontak dan menemui Shasa, mengerti?"
"Apa? Oh, jadi ini ada hubungannya dengan Shasa? Apa jangan-jangan Shasa sendiri yang melakukan ini agar kau percaya cerita bohongnya? Ia yang berbuat tapi ia malah menuduh orang lain, dasar ular!"
__ADS_1
"Apa??!" Kevin berdiri dari duduknya. "Jangan berani menuduhnya atau kau pulang takkan SELAMAT!!!" Dengan keras ia bicara sambil menunjuk pada Rika karena marahnya.
Nyali Rika langsung ciut. Gadis itu diam dengan wajah gusar.