
"Kamu kenapa?"
Shasa mengangkat wajahnya. "Aku gak enak Kak, sama Kak Bima. Dia ngajakin nonton juga."
"Ya sudah, biarkan saja. Toh, salahnya kenapa telat memberi tahu."
"Tapi tetep aku gak enak aja. Nanti dia malah mikir aku yang aneh-aneh."
Abra menyentuh punggung Shasa. "Aneh-aneh gimana? Ya enggaklah, kan selama ini dia juga gak peduli sama pacarnya," ucapnya asal, tapi kemudian disesalinya.
Shasa menatap wajah pria itu. "Oh, enggak Kak. Kan kemarin dia udah beliin aku cincin kawin."
"Apa? Cincin kawin? Memangnya kapan kalian akan menikah?"
"3 bulan lagi."
Abra menelan salivanya. "3 bulan lagi ya?" Seakan saat itu juga ia kehilangan tempat berpijak. Secepat itu? Hah ....
Shasa memperhatikan wajah Abra yang pucat. "Kak, Kakak sakit?" Ia menyentuh kening pria itu.
"Oh, enggak. Hanya kaget saja. Cepat sekali kalian memutuskan untuk menikah. Aku pikir masih 6 bulan lagi. Rasanya ... aku akan kehilangan teman terbaikku." Abra menunduk. Susah sekali bicara dengan gadis itu saat itu. Ia tak berani menatapnya karena ia takut menangis saat itu juga karena takut kehilangan gadis itu tapi tak ayal sebutir air matanya lolos.
Tiba-tiba Shasa mengangkat wajah pria itu lewat sentuhan di dagu. Ia melihat butiran air mata itu yang telah membasahi pipi pria itu. Segera ia menyeka dengan jemarinya. "Eh, aku kan akan tetap jadi teman terbaikmu." Ia mendekap Abra memberi semangat.
Pria itu terkejut sekaligus haru. Ia mengusap kepala Shasa yang bersarang di dadanya. "Makasih Sha." Seandainya ini bisa selamanya. Oh, Tuhan ....
Namun kemudian Shasa sadar, ia telah memeluk pria itu. Ia segera melepaskannya. "Eh, maaf." Ia jadi salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Maksudku, eh ...."
Abra tertawa kecil. "Iya tau," ucapannya menuntaskan kesalahan pahaman yang terlihat.
Orang-orang yang berada di antrian melihat tingkah laku mereka dengan hanya menyorot datar karena sebagian besar yang mengantri tiket bioskop adalah anak-anak muda yang datang dengan pasangannya seperti mereka berdua dan antrian tidaklah panjang.
Segera Abra membeli tiket dibantu Shasa dan kemudian gadis itu membeli popcorn dan kola. Tak lama, mereka masuk ruang studio.
Mereka kembali menikmati kebersamaan mereka. Abra sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi kemudian. Yang penting saat ini, ia bersama gadis yang ia suka. Mungkin suatu saat nanti, ini akan menjadi momen yang tidak akan pernah ia lupakan karena saat inilah ia bisa bersama dengan gadis itu.
Sesekali Abra memperhatikan Shasa yang duduk di sampingnya dalam gelap. Gadis itu gampang sekali terbawa suasana. Kadang menangis dan tertawa. Saat gadis itu menangis, Abra mengusap air matanya.
"Maaf aku lupa gak bawa tisu," ucap pria itu sambil menatap mata gadis itu yang berkaca-kaca. Saat itu, ia ingin sekali mencium gadis itu tapi ditahannya. Padahal kesempatan itu ada, dalam gelap dan gadis itu sedang terhanyut film yang ditontonnya, tapi ia tidak mau melakukannya. Ia tidak serendah itu dan pasti Tuhan melihatnya. Sesuatu yang bukan miliknya, takkan pernah jadi miliknya dan ia tak ingin menyesal setelahnya.
"Ngak papa Kak. Makasih."
"Nih, minum dulu." Abra menyodorkan minuman gadis itu.
Shasa mengambil dan menyeruputnya lewat sedotan.
"Ayo makan lagi popcorn-nya." Abra mengambil beberapa buah popcorn dari pangkuan gadis itu dan menyuapkan pada Shasa.
"Mmh ...." Gadis itu tersenyum. "Makasih," ucapnya dengan suara tak jelas karena mengunyah.
Abra ikut tersenyum.
Setelah film usai, mereka mengantri untuk keluar. Cukup ramai juga penonton sore itu hingga mereka harus bersabar untuk menunggu giliran keluar. Walaupun begitu, mereka tetap masuk dalam kerumunan sehingga Shasa berusaha bertindak sebagai pelindung pria itu. Ia berdiri antara samping depan tapi ada saja yang tidak sabar sehingga saat kerumunan bergerak, ada yang tidak sengaja mendorong gadis itu sehingga terjatuh ke belakang mengenai lengan Abra yang kiri.
"Ah!"
"Eh Kak." Shasa segera berdiri tegak dan berbalik.
Seorang wanita berjilbab yang tak sengaja mendorong, meminta maaf. "Eh, maaf ya?"
"Eh, Ngrid. Ayo maju. Di depan udah kosong tuh!" ucap pria muda yang bersamanya.
Wanita itu melihat ke depan. "O iya. Maaf ya Dek." Ia meninggalkan mereka bersama antrian di belakangnya.
Shasa dan Abra menepi.
"Gak papa Kak?" Gadis itu menyentuh lengan Abra.
"Ngak papa."
Mereka kemudian keluar di akhir antrian.
"Kak, kita langsung belanja saja ya? Sudah sore."
__ADS_1
"Yuk!" ajak Abra.
Mereka kemudian mendatangi toko-toko yang tadi mereka tandai dan mulai belanja. Ternyata Abra sangat mudah saat berbelanja. Ia tidak suka melihat-lihat. Saat ia lihat ia suka, ia akan mencoba atau langsung membelinya.
"Kak, ini bagus." Shasa menawarkan sebuah kemeja santai bermotif abstrak.
"Mmh, iya ya." Abra melihat baju itu dengan seksama. "Gimana kalau aku coba?"
"Eh, kemeja kan pasti muat Kak. Beda dengan baju perempuan."
"Tapi aku ingin mencobanya."
Walaupun sedikit bingung, mereka pergi ke ruang ganti. Sebenarnya Shasa malas mengikutinya karena Abra harus dibantu mengganti pakaian dan ruang gantinya sempit tapi mau bagaimana?
Shasa membiarkan pintu ruang ganti itu sedikit terbuka dan membantu pria itu membuka pakaian. Tentu saja ini kesempatan Abra melihat gadis itu lebih dekat. Ruang yang sempit itu mengharuskan mereka saling berhadapan.
Wajah Shasa memerah dan Abra bisa melihatnya dengan jelas. Ia tidak bisa menghindari pandangan pria itu langsung padanya karena mereka di kelilingi dinding cermin. Setiap ia ingin membuang pandangannya ke samping pasti ia akan melihat pantulan wajahnya yang memerah dan pandangan pria itu yang langsung pada wajah merah padamnya itu. Ia menyesal telah menawarkan pakaian itu pada Abra.
Sedang Abra, ia memang sengaja melakukan itu. Melihat gadis itu malu-malu dan gugup padanya, melihat pandangan matanya yang beberapa kali gadis itu jatuhkan, atau gerakan ragu-ragu tangannya hendak membukakan kancing baju Abra. Semua dinikmatinya dengan senyum lebar.
Shasa sedikit enggan membuka baju pria itu karena diruang sempit itu ia bisa merasakan deru napas pria itu menyentuh dahinya. Terasa hangat.
"Ayo dong Sha. Kok bengong?" sahut Abra.
"Eh, i-iya."
Kamu itu lucu, kelinciku. Selalu saja merah padam wajahmu setiap kali membuka bajuku. Padahal sudah berulang kali. Andai saja aku tidak waras, aku ingin sekali menculikmu untuk diriku sendiri. Abra tak bisa berhenti mengkhayalkannya.
Tiba-tiba seseorang menutup rapat pintu ruang ganti itu. "Mbak, kelihatan dari luar Mbak. Tolong dikunci ya?" Terdengar suara seorang wanita yang sepertinya pegawai toko itu.
"Eh, ta ...."
"Sha, ayo cepetan. Dari tadi belum diganti juga bajuku," potong Abra. Ia berusaha agar gadis itu fokus padanya.
"Tapi Kak ...." Wajah Shasa terlihat panik.
"Memang kita melakukan apa?"
"Bukan mahramnya. Ada yang tau? Mau diumumin?"
Gadis itu menggeleng.
"Ya udah, kenapa bingung."
Shasa merengut. "Iya, iya." Ia kemudian menggantikan baju Abra dengan yang baru. Sedikit sulit karena tempatnya sempit sehingga mereka sering kali harus mendekatkan wajah dan tubuh mereka membuat wajah Shasa tak henti-hentinya memerah. Ditambah lagi detak jantung yang mulai berirama sedikit keras. Beberapa kali gadis itu terlihat panik tapi akhirnya ia bisa menguasai diri tapi lagi-lagi Abra senang menggodanya.
Menatap gadis itu lembut, atau menggeser tubuhnya mendekat agar gadis itu mengancingi kemejanya.
"Sudah Kak."
"Gitu dong." Abra melihat penampilannya di cermin. "Bagus juga. Ya udah aku ambil ini. Tolong ganti lagi bajuku."
Shasa menghela napas tapi Abra kembali dengan senyum nakalnya.
Beberapa menit kemudian mereka keluar.
"Aku masih butuh beberapa lagi untuk baju ganti. Kamu bisa tolong carikan?"
"Nanti harus nyoba lagi, ke ruang ganti. Aku gak mau ah!" keluh Shasa kesal.
Tawa Abra berderai.
"Pilih aja sendiri!" Gadis itu merengut.
"Kamu gak mau beli? Aku lihat bajumu kurang bagus untuk pergi ke kantor," tawar Abra.
"Aku sudah yang paling bagus Kak, di kantor," elakkan Shasa.
"Tapi itu kurang mewakili. Kamu bukannya harus ketemu klien. Di sana ada baju kantor untuk perempuan coba dilihat dulu." Abra menunjuk ke bagian samping.
Mereka kemudian pindah ke daerah pakaian wanita. Shasa melihat-lihat kemeja dan celana bahan dan Abra memilihkan beberapa untuk gadis itu.
"Ini coba deh! Kelihatannya bagus."
__ADS_1
Shasa melihat harganya. "Aku belum gajian Kak, baru dapat dari iklan aja kemarin," keluhnya melihat harganya yang mahal.
"Ya udah, nanti aku bayarin."
"Tapi Kak,"
"Udah, coba aja sana. Terhitung utang juga gak papa," bujuk Abra.
Shasa akhirnya mencoba. Setengah jam kemudian mereka keluar dengan beberapa tenteng tas belanja di tangan. Abra dan Shasa belanja cukup banyak.
"Kita pulang?" tanya Shasa saat Abra terlihat masih mengedarkan pandangan pada sekeliling.
"Kita makan dulu di sini."
"Sudah lewat jam sholat Kak, sholat dulu," saran Shasa.
"Ya udah."
Setelah sholat mereka ke lantai atas kembali mencari tempat makan.
"Kakak mau makan apa?" tanya Shasa lagi.
"Mmh .... apa ya?"
"Abra, kau di sini?"
Abra menoleh. "Ayah?"
Berdiri di hadapan mereka ayah dan ibu Abra juga adiknya Diandra.
"Iya. Kau ... bersamanya." Ayah melirik Shasa.
Gadis itu menganggukkan kepalanya pada kedua orang tua Abra.
"Iya, dia bantuin aku belanja."
"Bantuin? Emangnya gak bisa belanja sendiri?" tiba-tiba Diandra ikut bicara.
"Oh, Kakakmu bahunya retak akibat kecelakaan jadi masih harus dibantu ke mana-mana," terang ayah pada Diandra.
"Oh."
Oh, itu adik Abra? Jadi Abra beneran punya adik? Aku pikir Kak Kevin bohong waktu bilang punya adik perempuan. Shasa melongo.
"Sekarang kalian mau ke mana? Ayah baru datang mau makan malam."
"Mau makan juga sih Yah ...." Abra melirik sekilas ibu tirinya dan pastinya ia tak berharap bisa makan bersama.
"Ya sudah, kita makan bersama-sama saja." Entah ada angin apa, tiba-tiba ibu tirinya menawarkan makan bersama.
Abra hampir tak percaya.
Juga Diandra, adik Abra. "Yang bener Bu?"
"Eh, kamu ngomong apa? Kita kan keluarga," kilah wanita itu.
Gadis berambut panjang itu melongo.
Ayah terlihat senang istrinya mulai berubah ramah pada Abra. "Tuh, Bra. Gimana? Aja Shanum sekalian."
"Eh, bukannya namanya Shasa ya?" tanya ibu bingung.
Ternyata kedua orang tua Abra mengingat nama Shasa dengan baik. "Shasa nama panggilan Tante," jawab Shasa sopan.
"Kenapa kalian tidak bersama Kevin?"
"Aku hari ini meliburkan diri Bu," jawab Abra.
Ingin rasanya ibu meledek Abra, tapi ditahannya. Ia sedang tertarik pada Shasa. Ada banyak hal yang ingin ia ketahui dari gadis itu.
____________________________________________
Masih terus baca kan kisah Abra dan Shasa, reader? Maaf author iseng ikut nonton bareng Abra eh gak sengaja nyenggol mereka. Maaf juga besok author agak repot mungkin ngak bisa update karena harus pindahan. Mudah-mudahan cepat selesai ya reader. Jangan lupa vitamin author, like, vote, komen dan hadiah. Salam, ingflora💋
__ADS_1