Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Kecewa


__ADS_3

"Eh, aku ... kan cuma gonta-ganti pacar aja gak lebih." Namun Raven tiba-tiba teringat Rika. Segera dihapusnya pikiran itu.


"Mmh ...." Shasa melipat tangan di dada dan memindai tubuh pemuda itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Raven mengerut kening. "Kenapa?"


"Berarti sekarang udah berubah?"


Raven hanya berdehem dan beralih menonton TV membuat Shasa gemas dan mencubit pipi pemuda itu.


"Ahhh ... Shasa!" Pemuda itu menyentuh pipinya yang telah dicubit Shasa.


Gadis itu tertawa. Dua puluh menit kemudian pesan masuk di HP gadis itu. Dari Damar, ia memberi tahu ia telah berada di bawah. Shasa kemudian mengambil map yang berada di kamar dan turun menemui Damar.


"Sha, aku mau numpang ke toilet dong?" pinta Damar saat baru bertemu.


Gadis itu melihatnya sangsi.


"Masa aku mau ke toilet aja gak boleh?"


"Di sini ada kok." Shasa segera mendatangi toilet di lantai itu tapi ternyata tengah terisi.


"Bagaimana?" tanya pria itu tersenyum nakal.


"Ya udah," ucap gadis itu merengut.


Mereka berdua kemudian naik lift dan masuk ke dalam apartemen. Pria itu mengedarkan pandangan melihat apartemen itu yang ditata rapi dan minimalis.


"Sebelah sini kamar mandinya." Shasa memberi tahu.


Pria itu segera masuk. Shasa sedikit bingung karena tak menemukan Raven di dalam apartemen. Apa ia kembali ke apartemennya tanpa bicara, karena biasanya pemuda itu sering begitu. Tiba-tiba ia teringat tugas kampus atau menerima telepon dan mendadak mesti keluar dan karena tidak menemukan Shasa untuk pamit, ia langsung pulang ke apartemennya tanpa meninggalkan pesan.


Tak lama Damar keluar. Shasa memberikan map yang diminta suaminya pada Damar.


"Aku lapar Sha."


Gadis itu kembali mengerut kening.


"Ayolah Sha, aku ini kan saudaramu. Masa saudara gak boleh main di sini sih?"


Gadis itu cemberut.


"Aku kan tamu yang menjengukmu, masa gak disuguhi apa ... gitu."


Kini gadis itu malah menyipitkan matanya. Orang tua Damar dan mertuanya saja datang mengiriminya makanan tanpa memikirkan dilayani, tapi saat Damar datang, pria itu malah minta dilayani. Aneh, benar-benar aneh! Bukankah pria itu datang menjenguk dirinya tapi kenapa justru dirinya yang harus melayani pria itu, bukankah ini terbalik? "Ngak salah? Kemaren Tante dan Om ke sini bawain aku keranjang buah ...." ujar gadis itu membandingkan.


Pria itu tertawa hambar. Ia salah tingkah. "Ya sudah. Aku minta minum saja. Di mana aku harus mengambilnya?"


"Ya sudah, aku ambilin!" seru gadis itu berusaha menekan kekesalannya dengan mengecilkan suaranya.


Sementara gadis itu mengambil minuman, Damar mendatangi kamar yang diduga kamar Shasa. Gadis itu sedang dalam kekesalan yang sangat tapi juga khawatir dan menyesali kepergian Raven tanpa pamit. Saat ia hendak menyerahkan segelas air putih pada Damar, ia tak menemukan pria itu di sofa ruang tengah. Dilihatnya pintu kamarnya terbuka. Ia bisa memastikan pria itu memasuki kamarnya, tapi buat apa?

__ADS_1


Gadis itu memasuki kamarnya sendiri dan mendapati sepupunya itu tengah mencoba tidur di atas tempat tidurnya. "Ngapain kamu di situ?" tanyanya mengerut dahi. Ia semakin kesal saja.


Pria itu, yang tengah terbaring terlentang di atas tempat tidurnya itu kini tersenyum. "Ingin tahu rasanya tidur di atas tempat tidur pengantin baru, apa rasanya." Ia merentangkan tangannya. "Mmh, beginikah rasanya."


"Turun! Itu tempat tidurku!" bentak Shasa yang mulai geram.


Pria itu mulai duduk. "Jangan marah dong, aku cuma mencoba saja."


Shasa dengan serta merta menyodorkan gelas air yang diambilnya. "Nih!"


Pria itu menggeser ke tepian. Ia mengambil gelas yang disodorkan Shasa padanya tapi ia malah meletakkannya di atas meja nakas. Ia tiba-tiba menarik dan menjatuhkan gadis itu di atas tempat tidur.


"Ah!" Tentu saja gadis itu kaget. Apalagi pria itu mendatangi tubuhnya yang jatuh terlentang.


"Jadi, bagaimana pria itu mencumbumu, mmh?"


"Apa?"


Pria itu semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Wajah manis yang selalu mengisi mimpinya tiap malam, bahkan makin hari ia makin tak bisa melupakan gadis itu.


Apalagi Abra selalu menceritakan tentang kegiatan sehari-harinya pada pria itu, kekhawatirannya, juga harapannya pada gadis itu yang membuat Damar hari-harinya semakin mabuk saja memikirkan gadis itu seakan hidupnya tak lengkap tanpa gadis itu membuatnya semakin terobsesi memiliki Shasa dalam hidupnya walaupun ia tahu gadis itu telah menikah.


Ia telah berusaha melupakannya tapi ia tak bisa, dan kini ia membaliknya. Ia kini berusaha mendapatkannya. Terdengar gila tapi itulah keputusannya. "Sha ...." Ia menyentuh kening gadis itu.


"Kamu mau apa?!!" teriak gadis itu panik. Ia menepis tangan Damar yang menyentuh keningnya tapi tangan itu malah ditangkap pria itu dan menahannya di samping. "Damar!"


"Tahukah kamu, bibir cerewetmu itu sangat menggoda. Biarkan bibirku ini merasakannya."


Sebelum Damar sempat melakukan sesuatu, seseorang menarik kerah pria itu ke belakang dan langsung menghajarnya. Memukul pria itu di wajah, di perut dan menendang kakinya berulang kali hingga pria itu tersungkur.


Shasa mencoba duduk dalam keadaan syok! Ia bersyukur ada Raven menolongnya, tapi perutnya terasa sakit. Ia masih melihat Raven yang gemas pada sepupunya itu dan masih memukulinya. "Raven ... Raven ... perutku ...." Ia memegangi perutnya yang mulai kram. "Raven!" teriaknya.


Raven mulai berhenti dan menoleh. "Shasa ...." Ia mendekati gadis itu yang terlihat kesakitan. "Kita ke rumah sakit, sekarang." Ia membantu gadis itu turun sambil menoleh pada Damar. "Ingat! Lo boleh selamat sekarang, tapi tidak lain kali. Camkan itu!!!" teriaknya saking marahnya hingga urat-urat di lehernya menegang. "Sekarang, ayo keluar! Gue gak mau melihat wajah lo berkeliaran di dalam apartemen ini lagi, ngerti lo! Nah, ayo cepat keluar!!!" teriaknya geram.


Sementara ia memapah Shasa ke luar kamar, Damar berusaha berdiri sendiri dengan terhuyung. Damar mengekor hingga masuk ke dalam lift.


Di dalam lift mereka berdiri di sudut terpisah. Kelihatan wajah Damar yang mulai membiru di beberapa sisi wajahnya. Mereka saling melihat ke arah berbeda. Setelah lift terbuka Raven membawa Shasa ke kursi sofa sedang Damar segera ke parkiran.


Damar kesal ulahnya kembali dipergoki tetangga Shasa. Entah bagaimana pria itu selalu muncul ketika ia hampir bisa melaksanakannya. Pria itu seperti bodyguard gadis itu yang selalu muncul di saat memang diperlukan hingga ia kini gemas memikirkan rencana berikutnya. Kalau sudah begini, kepalang tanggung, ia lebih baik mengundurkan diri dari kantor dan memikirkan langkah apa lagi yang harus dilakukan berikutnya.


Raven menelepon ambulan, juga Abra. Abra syok mendengar cerita Raven karena Shasa tak pernah cerita tentang Damar. Padahal di kantor, pria itu hampir jadi tangan kanannya. Betapa hancur hatinya mendengar kenyataan ini. Segera ia menyusul ke rumah sakit.


Di dalam ambulan, Shasa terus berpegangan tangan dengan Raven, menatap pemuda itu dengan cemberut walau masih kesakitan. "Kamu ke mana sih tadi aku cariin ...."


"Maaf Sha, tadi aku mules dan aku pakai kamar mandi di kamarmu karena takut kamar mandi di luar dipakai tamu. Pas aku selesai, aku dengar kamu teriak-teriak jadi buru-buru aku keluar. Maaf Sha, apa kamu disakiti olehnya?"


Shasa menggeleng lemah. "Aku cuma takut, tapi kamu gak ada ...," rengeknya lemah.


Raven mengeratkan genggaman tangannya. "Maaf Sha, maaf."


Ketika ambulan sampai, brankar yang membawa gadis itu segera diturunkan. Raven terus mendampingi gadis itu hingga ke UGD. Tak lama Abra datang dan Shasa sudah di ruang perawatan.

__ADS_1


"Sha ...." Abra masuk ke dalam ruangan sehingga Raven memberi jalan. Pria itu langsung duduk di tepian tempat tidur istrinya dan menggenggam tangannya. "Kenapa gak bilang Damar itu orang seperti apa? Kenapa kamu gak kasih tau aku? Aku ... aku hampir saja mengambilnya jadi orang kepercayaan Sha. Kenapa kamu gak bilang," sesalnya.


"Ini usaha yang kedua kalinya lho Kak," terang Raven geram. "Aku bingung sama dia. Dulu itu, udah aku hajar dia habis-habisan, masih aja berani mengganggu Shasa. Bebal apa otaknya?!!" gerutu pemuda itu.


Abra pun bingung harus bagaimana. Di satu sisi ia geram pada Damar dan merasa dikhianati, tapi di sisi yang lain Damar adalah anak Om Shasa. Om Adam banyak berjasa menjaga perusahaan orang tua Shasa hingga berusaha mengembalikan lagi perusahaan itu pada Shasa. Pria itu sangat baik tapi kenapa anaknya sama sekali bertolak belakang sifatnya dengan orang tuanya? "Aku kasihan pada Ommu Sha. Ia begitu baik tapi kenapa punya anak seperti Rika dan Damar ya?"


"Omku gak punya anak. Semuanya anak dari istri dan mantan istrinya."


"Apa? Maksudmu Ommu mandul? Eh ... maaf." Abra tak bermaksud menjelek-jelekkan Om istrinya.


Raven pun terkejut mendengarnya. Jadi Rika bukan anak kandungnya juga?


"Pantas saja ...." Namun kemudian Abra melirik istrinya. "Eh, maksudku bukan untuk menjelek-jelekkan Ommu lho Sha."


"Tidak apa-apa ...."


"Aku bisa saja melaporkannya hingga masuk penjara tapi ...." Abra menopang dagunya dengan tangan kanan.


"Jangan, tidak perlu." Gadis itu berusaha duduk.


Abra membantunya untuk duduk. "Kenapa? Sekali, masih bisa diampuni tapi ini sudah yang kedua kalinya Sha," terangnya.


"Dia sebenarnya belum melakukan apapun padaku. Akunya panik," kilah Shasa.


"Sha!" ucap Raven geram. "Kenapa kamu membelanya?!"


"Aku bicara apa adanya kok. Aku panik. Lagipula Omku sayang pada anak-anaknya, aku tidak ingin dia bersedih gara-gara kasus ini. Omku orang baik bukan orang jahat."


Abra memperhatikan istrinya dengan serius. "Lalu kenapa kamu harus dibawa ke rumah sakit, kalau begitu?" Ia melipat tangannya di dada.


Raven menahan tawa. "Stres. Apalagi dia teriak minta tolong. Kata dokter, ibu hamil gak boleh stres nanti perutnya kram. Dia tadi aku bawa ke sini karena kesakitan perutnya kram. Bisa-bisa lahiran dini kalau diterusin."


Abra menatap istrinya tajam, butuh penjelasan tapi gadis itu malah melotot ke arah Raven. "Jangan nambah-nambahin. Dokternya ngak bilang lahiran dini kok!"


"Lalu, kenapa kamu di sini? Ini berarti dirawat kan?" cecar Abra.


Raven masih tersenyum melihat Abra yang marah pada Shasa karena membela sepupunya.


"Tapi kan ada Raven yang nolongin ...," ucap gadis itu pelan. Butuh pengampunan. Ia memainkan pinggiran bajunya.


Raven pura-pura tak melihat gadis itu menekuk kepalanya karena dimarahi sang suami. Sebenarnya saat itu ia ingin tertawa tapi coba ditahannya. Ia menguping pembicaraan keduanya.


"Kalau tidak ada Raven bagaimana?" Dahi Abra yang berkerut menampakkan kesalnya. Ia memiringkan kepala menatap istrinya.


Shasa yang masih menunduk, hanya diam membisu.


"Aku akan memecatnya."


____________________________________________


Cekidot novel ini yuk!

__ADS_1



__ADS_2