Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Mal


__ADS_3

Shasa membuka pintu kamarnya. Baru saja dibuka, tiba-tiba Raven datang merebut kotak cincin itu dan menerobos masuk ke dalam kamar. "Raven!"


"Abang!"


"Ck, iya Abang." Shasa melangkah masuk. "Kembaliin gak?" Ia menyodorkan tangannya.


Raven membuka kotak cincin itu. "Mmh, udah beli cincin aja. Serius banget. Emang kawinnya kapan?"


"3 bulan lagi. Raven! Ayo siniin ...." Shasa kembali menyodorkan tangannya.


"Abang!" Tubuh pria itu menjauh agar gadis itu tidak bisa menggapai cincin itu.


Shasa menatap pemuda itu sesaat dengan merengut. "Abang, pleaseee." Kembali Shasa menyodorkan tangannya sambil merajuk.


Raven menyorot kedua mata gadis itu yang nampak bersungguh-sungguh. Ia menarik gadis itu ke arah tempat tidur dan duduk di tepian. "Sini coba pake, Abang mau lihat."


Shasa terpaksa duduk. "Belum bisa, cincinnya longgar."


"Apa? Masa cincin longgar dibeli?" Raven tak percaya.


"Iya, bener." Gadis itu mengambil cincin untuk yang wanita dari kotak itu dan memakainya. "Lihat! Kebesaran kan?"


Pemuda itu terheran-heran. "Aneh. Masa cincin kebesaran dibeli? Untuk apa? Kan gak bisa dipake."


"Karena aku suka yang ini. Katanya nanti dikecilin pas dekat-dekat waktunya." Gadis itu memperhatikan cincin itu di jari manisnya sambil tersenyum.


"Bukannya gak boleh ya, nyimpen cincin nikah kebesaran? Harus cepet dikecilin tuh!"


Shasa langsung mengarahkan pandangannya pada Raven sambil mengerut kening. "Ih, kamu kok ngatur-ngatur sih! Ini kan cincinku. Terserah aku kapan ngecilinnya." Ia merampas kembali kotak cincin itu. "Udah ah, kamu keluar sana! Ganggu aja." Gadis itu mendorong Raven keluar dari kamarnya.


Kali ini pemuda itu tak banyak bicara dan menurut saja ketika Shasa mendorongnya keluar dari kamar. Gadis itu mengunci pintu. Dilihatnya pemuda itu kemudian pergi.


Shasa menghela napas. Dilihatnya kembali cincin itu. Ia menyentuh cincin itu sambil memutar-mutarnya di jari manis dengan rasa ragu, kemudian mengeluarkan cincin itu dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.


Shasa menghempaskan diri di atas tempat tidur. Ia berbalik tengkurap dan kembali membuka kotak cincin itu di sana.


Cincin ini sangat indah. Sayang bukan Pak Abra yang kasih. Air matanya menganak sungai. Bodoh! Pernyataan cinta Pak Abra waktu itu kan cuma untuk iklan. Kenapa aku selalu merasa itu sungguh-sungguh? Pak Abra, bagaimana kalau aku jatuh cinta padamu?


Shasa, kau akan menikah. Kenapa kau baru menyesalinya sekarang? Bukankah kamu telah dengan lantang mengatakan pada Pak Abra kamu menikah karena Allah?


Prakteknya ternyata susah!


Diri dan hati nuraninya mulai berseberangan. Ya Allah aku harus bagaimana? Dibohongi iklan saja aku percaya, padahal aku tidak tahu perasaan Pak Abra. Bagaimana kalau itu benar-benar hanya pura-pura? Memang pura-pura tapi akunya yang berharap tidak.


Shasa menutup kotak cincin itu dan membalikkan tubuhnya. Ia mengusap air matanya pelan. Ini kan hari bahagiaku, kenapa aku tidak bahagia?


Karena kamu akhirnya tahu isi hatimu, ucap hati nuraninya.


Bima pria yang baik. Aku tak boleh menukarnya dengan apapun. Shasa menghela napas pelan.


----------+++----------


Pagi itu seperti biasa Shasa pergi ke apartemen Abra dengan membawa sarapan. Ia masuk dan mendapati apartemen itu sepi.


Ke mana Pak Abra? Shasa membuka pintu kamar Abra dan mendapati pria itu masih tertidur di atas tempat tidurnya. Segera ia mendatangi pria itu dan membangunkannya. "Pak, maaf kenapa belum bangun?" Ia menepuk-nepuk lengan pria itu.


Abra membuka matanya sedikit lalu kemudian terpejam. Ia membalikkan tubuhnya. "Aku masih ngantuk."


"Bapak begadang ya? Bapak belum sholat Subuh?"


"Sudah," jawabnya tanpa menoleh.


Lagipula hari ini hari Minggu. Shasa menyerah dengan membiarkan pria itu tidur kembali. Ia kembali keluar kamar dan menutup pintu.

__ADS_1


Abra membuka matanya. Maafkan aku yang dulu sering bertengkar denganmu. Menganggap kamu cerewet, tapi sungguh, cerewetmu itulah yang kurindukan kemarin. Kamu kemarin gampang menyerah. Membiarkan saja aku pergi sendirian ke kantor hanya karena kau akan menikah.


Abra menghela napas. Menyebut kalimat itu menyesakkannya. Walaupun harus merelakan Shasa suatu hari nanti menikah dengan Bima tapi setidaknya hari ini gadis itu miliknya. Aku akan menahanmu sebisa mungkin Shasa. Bersamaku hari ini. Ia kembali memejamkan matanya.


Gadis itu menghabiskan paginya dengan membersihkan apartemen. Ia merapikan sofa dan membersihkan dapur. Karena Abra belum juga bangun, ia menonton TV.


Abra bangun agak siang. Ia menguap saat keluar dari kamar. "Hoaam." Ia meregangkan satu tangannya. Dilihatnya gadis itu sedang melihat HP sekilas sebelum menatapnya. "Kamu ada janji?"


"Belum."


Abra mendatanginya di sofa dan duduk di sampingnya. "Sha. Tanganku agak kram kemarin. Bisa gak kamu pijit sebentar tapi perbannya dibuka dulu."


Shasa menurut. Abra bersandar sambil menonton TV dan Shasa memijit tangannya di samping. Sesekali Abra memperhatikan gadis itu yang mengurut dengan telaten. Ia tersenyum senang.


"Sudah?"


"Lho, belum! Sini bersandar di sebelahku kalau capek. Kamu ngurut sambil nonton TV berdua aku. Kalau duduk begitu pasti capek." Abra menawarkan bersandar di sandaran sofa di sampingnya.


Shasa tertegun sesaat.


Memanfaatkan keluguan gadis itu, Abra membujuknya. "Kita kan teman, kenapa bingung?"


"Eh, ya." Gadis itu pun bersandar sambil mulai memijit tangan pria itu. Sedikit bingung bersanding dengan tubuh atas pria itu tanpa busana tapi ia berusaha membiasakannya. Jantungnya mulai menggemuruh. Antara senang dan gelisah membuatnya semakin bingung, tapi entah kenapa ia ingin bertahan. Aku tergoda lagi. Aku tergoda lagi. Hah ....


Abra sangat senang. Ia telah membingkai keinginannya pagi itu.


Namun Shasa tak tahan. Ia tak mampu mencerna apa yang di tontonnya di TV karena dadanya serasa ingin meledak. Ia berusaha menawarkan opsi lain. "Udah ya? Bapak gak mandi?"


"Kok manggil 'Bapak' sih? Kan kita teman? Lagian juga aku gak di kantor."


"Iya. Ya udah, aku panggil 'Kakak' deh! Mandi ya?"


"Enggak ah, aku mau makan." Abra mematikan TV dan beranjak ke meja makan. Ia sengaja ingin memamerkan bentuk tubuhnya yang bagus pada Shasa sambil makan. "Kamu sudah sarapan?"


Shasa mengekor. Ia membantu membuka bungkus makanan yang dibawanya. "Udah Kak."


"Hah?"


"Ya sudah." Abra menjawabnya sendiri. Ia tak bisa memaksakan kehendak karena itu ia mulai makan. Shasa yang menunggui Abra makan, kembali ke sofa menonton TV.


Abra yang ingin menggoda Shasa jadi sedikit kecewa, padahal Shasa sudah melihatnya dan tak ingin tergoda. Karena itu ia nonton TV.


"Kamu gak ke mana-mana kan hari ini?"


"Belum tau." Gadis itu melirik sekilas.


"Temenin aku ya, ke Mal. Aku ingin beli kemeja baru. Kemejaku masih sedikit pilihannya. Lagipula sudah banyak yang mulai lusuh."


"Tapi ...." Shasa melihat ke HP-nya.


"Kamu kan gak ada janji sama orang dan gak ke mana-mana. Kenapa ngak mau sih temenin aku?"


"Kan tempat rame Kak."


"Justru itu aku bawa kamu. Daripada kamu khawatir, mending kamu yang jagain."


Kalimat yang benar-benar mengunci gadis itu dan tidak bisa bilang selain, "ya udah."


Abra tersenyum dan semangat menghabiskan sarapannya. Setelah mandi dan berpakaian, pria itu pergi bersama gadis itu dengan taksi.


Abra sangat senang. Setelah beberapa hari ini ia sibuk dengan pekerjaannya, ia memikirkan Shasa saat ingin melepas lelah. Gadis itu, bertemu dengannya saja sudah sebuah pelarian terbaiknya dari kesibukan sehari-harinya.


Gadis itu mampu menghilangkan penatnya hanya dengan menatap wajahnya, berangan-angan tentangnya dan mendengar celotehnya walaupun apa yang dikatakannya tidaklah sangat menarik, tapi itulah daya tarik gadis itu. Dengan gadis itu menjadi dirinya sendiri, Abra mampu bahagia.

__ADS_1


Oh, apakah ini yang dikatakan cinta buta? Pria itu sudah tidak mau tahu akhirnya akan bagaimana, karena sekarang bahagianya hanya ada pada gadis itu. Ia tidak berniat melakukan apapun. Hanya, ia akan mencarinya saat ia rindu.


"Kita lihat-lihat dulu ya, nanti setelah itu kita belanja."


"Lho kenapa Kak?"


"Aku mau nonton dulu."


Shasa menatap Abra tanpa bicara.


"Kenapa?"


"Nanti lama."


"Kenapa, kamu mau buru-buru pulang?"


"Aku ...."


Abra segera memotong ucapan Shasa. "Kita berteman dekat Shasa. Aku dan kamu. Aku kerja dan kamu juga. Apa kamu tidak suntuk dengan pekerjaanmu sehari-hari yang membebani kepalamu? Aku suntuk Sha, butuh refreshing. Karena itu saat punya kesempatan aku ingin istirahat dengan mencari kesenangan di sini agar saat aku kembali bekerja otakku sudah fresh dan siap memberikan yang terbaik dalam bekerja. Aku pikir kamu juga harus begitu. Lepaskan yang membelenggumu 6 hari kemarin agar kamu siap menerima beban pekerjaan di seminggu ke depannya. Bagaimana?" ucapan diplomatis Abra sangat meyakinkan. Shasa akhirnya menurut.


Mereka akhirnya jalan-jalan dan melihat toko-toko yang berada di dalam Mal itu dan menandai tempat-tempat yang akan mereka masuki nanti saat berbelanja. Jam makan siang pun mereka habiskan dengan makan burger bersama di sebuah restoran cepat saji setelah sebelumnya sholat Zuhur di lantai atas. Mereka kemudian mengantri membeli tiket nonton bioskop di dalam Mal.


Shasa terlihat sangat menikmatinya, terutama Abra. Ia sedang dalam kebahagiaan penuh.


"Kamu mau popcorn rasa apa?" tanya Abra pada Shasa yang menemaninya mengantri tiket.


"Eh, aku masih hutang sama kamu ya? Aku aja yang bayar popcorn-nya Kak. Aku yang karamel. Kakak mau apa?" ucapan Shasa yang manja sedikit menghanyutkan Abra.


"Aku yang keju saja." Sambil tak berkedip mata pria itu menatap gadis itu, gemas.


"Ok."


Terdengar suara dering handphone, dan Shasa sadar itu suara HP-nya. Ia melihat nama yang tertera di sana. Kak Bima? Ia menatap Abra panik, sedang Abra ... tersenyum dalam hati.


Kau harus memenangkanku Sha, kau harus memenangkanku.


"Halo?"


"Iya Sha, kamu lagi ngapain? Ntar malam nonton yuk?" Bima sudah memegang tiket bioskop yang akan ditontonnya bersama Shasa.


"Eh ...." Shasa membulatkan matanya panik, dan menatap Abra bingung.


Pria itu memberikan senyum terbaiknya.


Aduh, bikin meleleh. 'Aku harus jawab apa?' tanya gadis itu tanpa suara pada Abra sambil menunjuk-nunjuk handphone-nya.


'Teman.' ucap Abra juga tanpa suara sambil menunjuk dirinya.


'Apa?'


'Teman.' Kembali Abra menunjuk dirinya.


Shasa sepertinya mengerti karena kemudian ia menjawabnya. "Eh Kak maaf. Aku sedang pergi dengan teman dan gak tau kapan pulangnya."


Abra begitu gembira, Shasa memenangkannya. Ia memalingkan wajah sambil tersenyum diam-diam.


"Raven?"


"Bukan."


"Oh, ya udah. Kapan-kapan saja," jawab pria itu kecewa.


"Maaf ya Kak." Shasa merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa."


Shasa menutup teleponnya dengan menunduk. Ia sebenarnya sudah menantikan telepon dari Bima untuk pergi jalan-jalan berdua tapi pria itu tidak kunjung meneleponnya, karena itu ia menerima ajakan Abra.


__ADS_2