Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Untukmu


__ADS_3

"Tidur aja Sayang, a-aku akan tidur di bawah." Abra menunjuk ke arah luar. Ia bergerak perlahan meninggalkan istrinya walaupun sangat enggan. Dengan sedih ia melihat istrinya harus tidur sendirian di atas tempat tidur sambil merapikan selimutnya sendiri, padahal ia ingin sekali merapikan selimut istrinya dan mendekapnya saat itu juga, tapi mau bagaimana, jangankan memeluk, mendekatinya saja membuat istrinya muntah.


---------+++---------


Si kembar memperhatikan kedua orang tuanya dengan heran.


"Papi, kenapa duduk jauhan sama Mami? Papi marahan ya?" Si kecil Lina dengan cepat menanyakan seraya memandang ke kanan dan ke kiri ke arah kedua orang tuanya, berdua dengan Lione.


Di meja makan itu si kembar duduk mengelilingi Shasa sedang Abra duduk di seberangnya.


"Ini gara-gara kamu Lina, Papi gak bisa dekat-dekat Mami karena Mami gak suka bau rambut Papi. Setiap dekat pasti muntah."


Si kembar kembali melihat ke arah kedua orang tuanya ke kanan dan ke kiri memastikan, dan Lina yang lebih dulu tertawa.


"Ahahahaha."


Lione melihat kembarannya dengan aneh.


"Masa bisa muntah Pi ...." Lina tak percaya.


"Bener! Papi juga jadi takut dekat-dekat Mami." Abra menyuap nasi gorengnya.


Lina turun dari kursi dan mendekati ayahnya. Ia mencoba menaiki tubuh Abra sehingga pria itu mengangkat tubuh anak perempuannya dan mendudukkan di pangkuan. Gadis kecil itu mencoba mencium rambut ayahnya. "Ada bau sedikit tapi wangi Pi. Papi bohong ya?" Ia menunjuk wajah Abra.


"Enggak, beneran kok. Mau, Mami muntah lagi kalau Papi deketin? Papi sayang banget kok sama Mami, sampai-sampai Papi tuh cari bau Mami kalau mau tidur. Kayak Papi kalau lagi dekat Lina, Papi cari-cari bau Lina kalau Papi pangku anak Papi." Abra mencium tengkuk gadis kecil itu membuat gadis itu menjerit geli dan tertawa.


Shasa hanya tersenyum dan meneruskan makannya sedang Lione hanya memperhatikan Lina dan Abra sambil menyuap makanannya sendiri.


"Nanti kamu ke dokter jam berapa Sha? Maaf aku gak bisa antar ya? Sama supir kan?"


"Aku mau ke kantor dulu. Ada meeting. Mungkin sore."


"Shasa, jangan ditunda dong ke dokternya ... Kita harus pastikan dulu kamu sehat."


"Mami sakit apa Pi?" Lina terlihat bingung.


"Enggak. Papi cuma pikir Mamimu lagi hamil."


"Hamil? Berarti punya Dedek, Pi?"


"Papi maunya begitu."


Lione yang keheranan menatap Shasa dan tubuh ibunya. Segera ia turun dari kursi dan menyentuh perut wanita itu. "Ada Dedek di sini Mi?"


Shasa mengusap pucuk kepala Lione dengan penuh kasih sayang. Ia tersenyum. Lione memeluk ibunya.


"Tapi Mami harus diperiksa dulu bener enggaknya, mudah-mudahan tebakan Papi benar," lanjut Abra.


"Jadi Dedek bayi gak suka bau sampo atau rambut Papi yang dikeriting?" tanya Lina lagi.


Abra dan Shasa tertawa.


---------+++-------


Abra keluar bersama si kembar berbarengan, bertemu dengan istrinya yang sudah rapi berpakaian di depan pintu. Ia menggandeng kedua anaknya sambil menuruni tangga bersama istrinya. "Sha, kamu prioritasin periksa ke dokter dulu, baru kerjain yang lain dong," protes pria itu.


Wanita itu tersenyum. "Pokoknya hari ini aku periksa kok, jangan khawatir Mas."


"Ck!" Pria itu cemberut.


Sebelum mencapai lantai satu, seorang tamu tak terduga datang.


"Ven, astaga ... makin ganteng aja kamu," ledek Abra melihat siapa yang datang.


Pria itu tersenyum lebar mendengar ucapan Abra.


"Makin putih Bang," sahut Shasa, pangling.


Abra dan Raven berpelukan. Setelah melepas kangen, Raven menatap si kembar yang berada di kiri kanan Abra. "Ini pasti Lina dan ini Lione." Ia menunjuknya satu-satu.


Kedua anak kembar itu menatapnya tak berkedip.


"Kamu sih, gak pulang-pulang. Mana ingat, mereka." Abra menepuk bahu Raven.

__ADS_1


"Aku cuma 3 tahun ini aja gak pulang. Apa mereka sudah lupa? Aku juga kaget melihat mereka sudah sebesar ini, padahal dulunya sering kugendong-gendong." Raven ingin menyentuh Lione tapi bocah itu takut hingga memeluk pinggang Abra. "Mau ke mana?"


"Mau mengantar sekolah. Eh, untung kamu datang." Abra melirik Shasa. "Kamu bisa kan bantu aku?"


"Waduh. Aku baru datang kemarin, sekarang udah di kasih tugas aja. Masih capek nih badan, pegel-pegel," keluh Raven kesal.


"Ini cuma minta tolong anterin Shasa aja. Pastiin dia pergi ke sana."


"Ke mana?"


"Dokter kandungan."


Mata Raven membulat sempurna. "Hamil lagi?"


"Baru dugaan, tapi dianya sibuk kerja di kantornya. Katanya mau sore tapi malamnya kan Lione manggung pertama kalinya, takut gak sempat."


"Oh, ya. Gak papa. Sini aku anterin." Raven mendatangi Shasa dan memeluknya. "Sudah makin dewasa kamu sekarang ya?"


Wanita itu tersenyum.


"Dia siapa Pi?" tanya Lina pada Abra.


"Masa lupa. Itu kan Om Raven, Kakak Mami."


Lina kembali menatap Raven, memorinya timbul tenggelam.


"Ada acara apa Lione manggung? Di sekolah?" tanya Raven lagi.


"Oh, kamu gak tau ya? Lione sudah mengeluarkan album lagu anak-anak."


"Oya?" Kembali Raven terkejut.


"Iya, dan banyak yang suka. Stasiun TV-ku tertarik untuk menampilkan Lione secara live, nyanyi di panggung yang rencananya akan diadakan nanti malam."


Raven melirik Lione yang kembali takut dan memeluk erat pinggang ayahnya. "Hebat Lione sekarang ya, walaupun masih pendiam seperti dulu tapi malah dapat tawaran manggung. Itu kenapa rambut kalian berdua? Dikeriting ya?" tebaknya heran, melihat rambut Abra dan Lione yang tidak biasa. Ia dari awal sudah ingin menanyakannya.


Abra tertawa. "Iya. Ini ulah Lina."


"Mmh ...." Raven tersenyum. "Boleh aku ikut datang melihat langsung?"


Raven menatap Shasa. "Tuh, udah dipesenin. Jangan bandel!"


Wanita itu kembali tersenyum.


--------+++---------


Karena bersikeras ke kantor, terpaksa Raven menemani sampai urusan Shasa beres. Setelah itu, mereka ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan.


"Ny. Abra!"


Panggilan untuk Shasa membuat wanita itu berdiri. Raven mengikutinya.


"Eh, gak usah Bang, kadang ada pemeriksaan dalam ...," cegah wanita itu.


"Oh ...." Raven kembali duduk.


Shasa masuk sendirian.


Di tempat lain di sebuah sekolah taman kanak-kanak, Abra menyendiri duduk di sudut bagian luar gedung sambil membaca buku. Ia menunggui si kembar pulang sekolah tapi ia segan bergabung dengan ibu-ibu atau para pembantu sebab kebanyakan dari mereka senang membicarakan gosip yang tak jelas. Lebih baik ia menghabiskan waktu dengan membaca buku.


Namun begitu, ia bukan tidak kenal oleh ibu-ibu itu bahkan mereka menghargai Abra yang senang menghabiskan waktu dengan membaca buku di tempat itu.


Para pria memang tak suka bergabung dengan para ibu-ibu yang menunggui anaknya hingga mereka mempunyai kegiatan berbeda. Contohnya pria di samping Abra itu yang sejak tadi lebih suka berselancar di HP-nya tanpa jeda. Tangannya tak berhenti bergerak dan matanya terus menyoroti layar handphone-nya.


Abra bukan tidak tahu, tapi ia membiarkan pria itu mengisi sepinya dengan menyoroti layar HP. Ada waktunya nanti pria itu berhenti sendiri dan mengajak ngobrol Abra.


"Liburan sekolah kapan lagi ya?" tanyanya.


"Entah. Mungkin masih lama," jawab Abra.


Mungkin pria itu ingin bicara padanya tapi karena kebiasaan Abra yang datang, duduk lalu membaca buku hingga ia yang berharap punya teman bicara akhirnya hanya bisa berusaha untuk punya kesibukan sendiri saat Abra sibuk membaca.


Puncaknya saat pria itu bosan dan mengajak Abra bicara, tak perduli ia mau mendengar atau terpaksa mendengarkan. Abra dengan sopan menjawab obrolan pria itu.

__ADS_1


"Kapan-kapan main ke rumahku yuk!"


Abra mengerut kening. "Bapak tidak bekerja?"


"Lho, kamu?" Pria ini seumuran Kakaknya mengingatkan Abra pada Kevin.


Kevin, hingga kini ia masih koma.


"Aku baru menyelesaikan kuliahku."


"Baru cari kerja?" tanya pria itu enteng. Ia mengeluarkan kotak rokok dari saku bajunya dan hendak merokok tapi dicegah Abra.


"Di sini tempat ibu-ibu yang care(peduli) sama anaknya. Sebaiknya Bapak jangan merokok di sini kecuali mau bermasalah dengan ibu-ibu yang menunggui anaknya di sini."


Dengan kesal ia memasukkan kembali rokoknya ke dalam kotak dan menjatuhkannya dalam saku.


Ia menyilangkan kakinya demi untuk duduk lebih santai. Perawakan pria yang kurus, tinggi dengan wajahnya yang biasa saja itu membuat Abra bertanya-tanya, kenapa pria itu tidak bekerja padahal punya anak kecil? Apa ia kehilangan istrinya atau istrinyalah yang bekerja sama seperti dirinya sekarang ini?


"Istrinya kerja Pak?"


"Oh, tidak. Dia ibu rumah tangga."


Alis Abra bertaut dan pria itu melihatnya. Ia tertawa. "Istri pertama saya yang bekerja. Dia punya perusahaan tapi aku tak punya anak dengannya. Jadi aku menikah lagi. Ini anak dari istri kedua saya. Kehidupan kami di support(dibiayai) olehnya."


"Bapak tidak punya pekerjaan?"


"Tidak. Aku ingin bercerai darinya tapi ia tak izinkan. Dialah yang menjodohkan aku dengan istriku yang sekarang."


"Mulia sekali istri Bapak."


"Aku tak tahu bagaimana memandang diriku sendiri sekarang." Pria itu seperti bingung.


"Bagaimana kalau bekerja Pak? Harga diri pria adalah saat ia bekerja. Bapak belum pernah bekerja?"


"Pernah, bekerja di perusahaan istri pertamaku tapi berhenti."


"Kenapa Pak?"


"Entahlah."


"Tak punya motivasi?"


"Mungkin."


"Bagaimana kalau Bapak bekerja saja Pak?"


"Motivasinya?"


"Biar gak bosen di sini Pak."


Keduanya tertawa.


"Nah, kalau kamu sendiri bagaimana?"


"Aku?" tanya Abra. "Aku juga punya istri yang bekerja dan punya perusahaan tapi aku termotivasi karena anak. Bagaimana anakku akan memandangku. Aku tidak mengejar istriku dulu karena ia punya harta kekayaan, tidak. Malah sebaliknya.


Dulu aku yang bekerja dan aku ingin membahagiakan dia. Karena berpegang pada itulah aku sekolah dan selepas ini akan bekerja di perusahaannya.


Inginnya aku bisa sebagai peringan bebannya karena pada dasarnya perkawinan adalah dua orang yang sedang berusaha untuk saling membantu satu sama lain, bukan sendirian melakukannya untuk orang lain karena dengan begitu Bapak telah berusaha membuat ia lelah dan pergi pelan-pelan Pak.


Apa Bapak bisa hidup tanpanya Pak, membiayai istri kedua Bapak? Hargai dia yang berjuang untuk Bapak walaupun tidak sebagus apa yang diberikan dia kepada Bapak, tapi setidaknya ia tidak sia-sia mencintai Bapak."


Pria itu manggut-manggut mendengarkan ucapan Abra.


Bel berbunyi. Terdengar derap langkah kaki anak kecil dan terlihat seorang guru wanita yang mengatur anak didiknya berbaris, disusul oleh yang guru lainnya.


___________________________________________


Penasaran soal komanya Kevin kan? Ayo jangan lupa vitamin author, agar author semangat terus menulis tentang novel ini hingga akhir. Ini visual Lina yang cerewet kesayangan Mami Shasa dan Papi Abra. Salam, ingflora💋



Author punya novel baru berbau horor. Ayo dukung dengan memberi like, komen dan vote.

__ADS_1



__ADS_2