
"Ah!"
"Eh, maaf."
"Pelan-pelan."
"Iya, eh ...." Pelan-pelan malah membuat gadis itu bisa melihat tubuh pria itu dengan seksama. Apa Kak Abra tidak merasa wajah dan tubuhnya sangat keren? Eh, apa yang kupikirkan. Tiba-tiba pipi Shasa memerah seketika.
Namun Abra tidak memperhatikannya karena ia sedang terburu-buru. "Tolong bajunya juga bantu pakaikan ya?" Ia menunjuk kemeja tangan pendek yang berada di sampingnya.
Shasa berusaha fokus walau sedikit malu karena ia belum pernah menyentuh tubuh pria dengan tanpa berpakaian lengkap seperti itu. Menyentuh lengan kekarnya yang sedikit berotot dan dada bidangnya yang hangat. Pasti wanita yang dipeluknya serasa terbang ke awan. Ah, Shasa. Kenapa kamu malah tidak bisa mengenyahkan pikiran kotormu itu, Aduuhh ... Pipi merah gadis itu masih bertahan.
Perlahan ia mengambil tali sambungan belakang perban itu lewat bawah ketiak pria itu dan tangan yang satunya melewati bahu ke belakang sehingga wajah mereka saling berhadapan.
Abra kemudian menyadari mereka sedang berhadapan dan menikmatinya. Gadis itu sedang membantu merekatkan tali itu. Shasa, apa pipimu sedang memerah? Ah, kau tampak manis sekali. Senyum pria itu terkembang.
Kenapa udara sangat panas? Bukankah ruangan ini ber AC, atau wajahku memerah? Aaaah ... Karena malu, buru-buru gadis itu menyelesaikan tugasnya. Ia mengambil baju pria itu dan memakaikannya. Ia mengancingi baju Abra dengan menunduk.
Ah, kau tampak lucu saat malu, kembali Abra memperhatikannya.
"Sudah Kak." Shasa merapikan kerah baju Abra.
Kau pasti jadi istri yang menyenangkan saat menikah nanti. "Ayo."
Shasa menyewa taksi online. Mereka sampai ke tempat pemotretan dua puluh menit kemudian. Tempat yang dituju adalah sebuah rumah tapi ternyata ada studio foto di dalamnya. Haris sudah menunggu di sana.
Abra dan Shasa segera dibawa ke kamar berbeda. Di sana mereka berganti pakaian dan didandani sambil membaca skrip yang diberikan. Setelah itu mereka keluar untuk pemotretan.
Saat Abra melihat Shasa dengan penampilan barunya, ia menyukainya. Kau terlihat cantik.
Sedang Shasa, bukan hanya ia yang terpesona tapi banyak wanita yang sedang bekerja di sana juga sangat setuju kalau Abra sangat tampan dan menawan. Hanya diberi sentuhan kecil pada rambutnya saja ia terlihat sangat tampan. Tanpa itupun pria itu sudah tampan dan ketika didandani, ia hanya tampan dengan gaya yang berbeda.
"Sudah baca skripnya ya, jadi sudah tahu harus bagaimana?" ucap seorang pria yang datang menyambangi mereka.
Haris ikut bergabung dengan mereka. "Ini Fotografernya," sahutnya pada Abra dan Shasa.
Keduanya menganggukkan kepala pada pria itu dan memperhatikan pria itu bicara. Ia mengarahkan gaya sambil menunjuk tempat pengambilan foto yang sudah tersedia.
Shasa dan Abra kemudian mendatangi tempat pengambilan foto yang ditata sesuai kebutuhan dengan background(gambar belakang) polos. Shasa harus menaiki sebuah kursi pendek karena tubuhnya yang tidak tinggi bisa mengimbangi tinggi tubuh Abra yang sekitar 170 senti sedang dirinya 152 senti.
Abra diminta mendekat sambil memegang produk pasta gigi yang diiklankannya. Ia juga diminta memeluk pinggang Shasa.
Wajah gadis itu memerah malu, tapi ia tak berani bicara.
"Tapi tangan kiriku tak bisa aku gunakan untuk apapun, maaf, tapi bukankah sudah diberi tahu sebelumnya aku kecelakaan kemarin?" Abra menerangkan.
"O iya aku lupa." Pria itu melepas topinya dan menggaruk-garuk kepalanya.
"Lagipula Shasa memakai jilbab jadi sebaiknya tidak ada foto berpelukan karena akan jadi kontroversi yang akhirnya membuat iklan ini bisa di take down(dilarang tayang)dari TV."
"Gitu ya, uh ... aku tidak kepikiran sampai ke sana. Anda hebat juga." Pria itu kembali menggaruk-garuk kepalanya.
"Tentu saja pengamatannya hebat. Kan dia CEO Indo TV," terang Haris.
__ADS_1
"Oya?" Pria itu terkejut hingga membungkukkan tubuhnya berkali-kali pada Abra. "Maaf Pak, saya tidak tahu."
"Ah, jangan berlebihan." Abra mengangkat tangannya sedikit.
"Tidak Pak, Andalah yang lebih mengerti mana siaran yang bagus dan mana yang tidak bagus. Apalagi iklan." Wajah pria itu sedikit pucat.
"Aku disewa sebagai tenaga profesional tapi malah tidak profesional. Saya bukan artis tapi ditawari perkerjaan yang bukan bidang saya jadi perlakukan saja saya seperti yang lainnya karena bidang ini masih hijau untuk saya."
"Eh ...." Fotografer itu kembali menggaruk-garuk kepalanya.
"Iya, bener kok Mas. Dia bukan model tapi kebetulan klien kami ada yang menawarinya menjadi model iklan produknya tanpa sengaja," sela Haris memberi tahu. " Bantu saja Mas, karena walaupun Pak Abra tahu seluk-beluk iklan tapi tidak untuk menjadi model iklannya Mas."
Pria itu melirik Abra. "Sebelumnya apa sudah pernah ada pengalaman difoto seperti ini?"
"Mmh, pernah tapi waktu kuliah dulu."
"Ok, aku bantu arahkan ya?" Pria itu kemudian mulai menerangkan tujuan foto dan posisi yang diminta kemudian ia mulai mengarahkan mereka sesuai dengan pengambilan foto yang akan diambil.
Abra dan Shasa dalam posisi saling berhadapan dan berdekatan menghadap ke kamera dan tangan kanan pria itu memegang produk pasta gigi itu di depan mereka. Lalu dimulailah pemotretan itu.
Masalah kemudian muncul ketika Shasa tegang. Ia tidak bisa tersenyum alami di kamera sehingga berkali-kali fotonya gagal dan itu membuat gadis itu frustasi.
"Ah ... masih kurang alami Mbak," ucap Fotografer itu melihat hasil fotonya di kamera untuk ke berapa kalinya.
Shasa hampir menangis. Gara-gara dirinya pengambilan foto jadi harus diulang-ulang karena hasilnya tidak bagus. "Kak, bagaimana kalau model wanitanya diganti saja? Aku tidak bakat jadi model seperti dirimu," Mulutnya merengut dan mendung mulai menggelayut di wajahnya.
Abra menoleh pada Fotografer itu. "Eh, aku boleh minta waktu sebentar dengannya." Ia menunjuk Shasa.
"Ya udah. Kita istirahat sejenak." Pria itu dan yang lainnya membubarkan diri.
"Iya, tapi mana mungkin? Semua orang mengharapkan yang terbaik dari foto ini sedangkan bagiku ini kerja pertamaku dan aku belum mengerti apa-apa." Gadis itu masih bersedih telah merusak pemotretan hari itu.
"Itu! Kamu membebani dirimu dengan pikiranmu." Abra berpikir cepat. "Ok, sekarang gini. Coba kamu pegang tanganku."
"Apa?"
"Ikuti saja. Pegang tanganku."
Shasa menurut.
"Lalu pejamkan matamu."
Lagi-lagi gadis itu mengikuti permintaan pria itu.
"Apa impianmu?"
"Mmh?" Gadis itu mengerutkan dahi berpikir dengan mata terpejam.
"Liburan mungkin ke tempat yang kamu suka?"
Shasa membayangkan sebuah pantai.
"Mungkin berada bersama orang-orang yang kamu sayangi, teman, saudara, pacar ...."
__ADS_1
Shasa membayangkan sedang bergandengan tangan dengan seseorang. Seorang pria yang membuatnya tersenyum berada di pantai itu.
"Dan sekarang ini kamu sedang bersamanya ingin membuat foto bahwa kamu sedang berbahagia ada bersama dia, jadi tentunya kamu akan tersenyum sepanjang pengambilan foto itu bukan?"
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
Tiba-tiba sebuah kecupan cepat mendarat di dahi gadis itu. "Good, berarti kamu sudah siap kan difoto lagi?"
Shasa membuka matanya dan terkejut, dan dia sedang menggenggam ... tangan Abra.
"Bisa kan? Pikirkan saja seperti tadi saat kamu difoto. Tidak ada orang lain, hanya kalian berdua di tempat impianmu. Ok?" Abra bicara sambil mengeratkan genggamannya.
"Eh, ok ...." Shasa masih melongo dan tidak tahu ada apa dengan pikirannya saat itu.
"Good. Aku pacar yang baik kan?" canda pria itu.
"Apa?" Tiba-tiba saja, Shasa menganggap serius ucapan Abra.
"Ok, boleh mulai lagi gak?!!" teriak Abra pada Fotografer itu.
"Ok, tolong rapikan lagi dandannya ya?" teriak Fotografer itu pada kru make up sehingga Abra dan Shasa kemudian didudukkan pada kursi berbeda dan dirapikan kembali make up mereka.
Shasa masih bingung, ia tidak tahu harus berpikir apa. Apa ia harus membayangkan pergi ke pantai bersama Abra? Ia bingung karena dalam khayalannya itu ia belum melihat wajah pria yang ia gandeng dan Abra telah merusaknya dengan mengecup keningnya tadi. Jadi siapa pria yang ingin dikhayalkannya pergi ke pantai bersamanya itu, ia tidak tahu. Sebentar lagi akan ada pemotretan dan ia tidak bisa memutuskannya. Siapa? Aduh, siapa?
"Sudah Mbak," jawab wanita yang merapikan wajah dan pakaiannya.
Shasa juga melihat Abra telah berdiri dan telah siap diambil fotonya hingga ia terpaksa juga berdiri, tapi ia masih belum memutuskan siapa yang harus dikhayalkannya. Apa Kak Abra saja? Pada akhir Shasa memutuskan.
Tidak ada pilihan dan aku harus berpikir cepat. Hanya dia yang ada dipikiranku saat ini dan aku tidak ingin mencoba memikirkan orang lain karena berisiko, jadi biarlah untuk kali ini aku berselingkuh denganmu Kak Abra hanya dalam khayalanku. Hari ini, semoga instingku benar.
Shasa kembali naik ke atas kursi pendek dan Abra berdiri di sampingnya. Pria itu mengangkat kotak pasta gigi itu di hadapannya dan tersenyum menghadap kamera. Shasa mengikutinya.
----------+++---------
"Wah, hebat. Bapak pake trik apa sampai Ibu Shasa bisa tersenyum alami seperti itu? Aku jadi bisa ambil banyak foto untuk pilihan tapi fotonya banyak yang bagus kok," ujar Fotografer itu penasaran.
"Aku hanya menyuruhnya berkhayal tapi aku tidak tahu apa yang sedang dikhayalkannya," ucap Abra dengan santai.
Keduanya menoleh ke arah Shasa. Gadis itu hanyanya menggerakan tangan dari kiri ke kanan seperti meresleting mulutnya dan tersenyum penuh arti.
"Oh, ya gak masalah kalau gak mau cerita, yang penting hasilnya bagus. Ok, terima kasih atas kerja samanya."
Mereka saling berjabat tangan. Fotografer itu pergi saat Haris datang.
"Karena besok Sabtu-Minggu, jadi libur ya, Senin baru kita syuting untuk iklan," terang Haris mengenai jadwal syuting iklan. "Tapi itu masih tentatif, karena naskahnya masih digodok. Belum final, karena ada perubahan. Jadi mudah-mudahan Senin sudah bisa syuting."
"Ok Kak, nanti hubungi aja aku bisa enggaknya Senin Kak," jawab Shasa.
Shasa dan Abra kemudian pamit. Haris mengantarnya hingga depan pintu saat taksi online pesanan Shasa tiba. Ia menghela napas.
Untung Pak Bima gak ke sini, kalo enggak dia bener-bener bisa cemburu ngeliat kemesraan Shasa dan Pak Abra. Gue aja ngelihat serasa yakin mereka pacaran, habis lihat Pak Abra cium kening Shasa.
Ya, Haris melihat dari kejauhan saat Abra mencium kening Shasa dan itu membuat ia curiga Abra memang menaruh hati pada gadis itu.
__ADS_1
Gak mungkin itu pura-pura tapi gue gak mau ikutan. Kalau sesuatu terjadi antara Shasa dan Pak Abra itu juga bukan sepenuhnya salah Shasa karena Pak Bima sendiri yang mancing-mancing masalah. Ya udah gue pura-pura buta aja.