Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Jebakan Panggung


__ADS_3

Shasa terkejut. Tak pernah terpikirkan ia akan naik ke atas panggung dan memperkenalkan diri. Jika dirinya yang dulu, ia akan bersembunyi di belakang punggung Rika dan menggeleng malu, tapi sejak ia mengikrarkan diri untuk hidup mandiri, ternyata ia mampu untuk menghadapi banyak hal sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Tingkat kepercayaan dirinya mulai naik seiring ia mulai mengandalkan dirinya sendiri.


Sejak kursus PR, ia makin percaya diri dan bisa memfokuskan bicaranya dengan tujuan yang jelas. Kini, ia tinggal mempraktekkan apa yang dipelajarinya di tempat kursus.


Ia dan juga Abra mendatangi panggung dari arah berbeda. Pria itu membantunya menaiki tangga. Dengan saling berpegangan tangan mereka naik panggung dengan senyum ceria. Tentu saja mereka harus tunjukkan kedekatan mereka dengan raut bahagia untuk mendukung image produk yang diiklankannya.


Dari jauh Erik mendekatkan kepalanya pada Kevin dan berbisik, "eh, itu yang duduk di samping Shasa tadi itu siapa? Pacarnya ya?"


"Yang pakai baju batik biru?" Kevin memperhatikan.


"Iya."


"Iya, itu pacarnya. Dia mantan teman SMA-ku Yah."


"Oh, benarkah?"


"Berarti seumuran kamu ya? Kamu kenal?"


"Tentu saja. Dia dulu terkenal karena berbicara dengan logat Jawa. Sekarang logatnya sudah hilang, dan sudah mirip orang kota, tapi bagiku, orang kampung tetaplah orang kampung," ucap Kevin sambil mendengus kesal.


Erik, melirik anaknya Kevin, yang menyorot tajam pada Bima seakan ia punya dendam pribadi pada pria itu. "Kau kenal dia secara pribadi?"


"Bima? Tidak." Kevin mengarahkan pandangannya ke arah panggung. Melihat Bima hanya membuatnya naik darah.


Menurut berita di internet, Abra dan Shasa adalah pasangan model yang paling dicari beritanya di internet. Karena itu di atas panggung, setelah Shasa dan Abra memperkenalkan diri, pembawa acara membuat acara unik di atas panggung. Abra diminta untuk menyatakan cintanya pada Shasa dengan cara berbeda sesuai skenario yang keduanya tidak ketahui. Tentu saja keduanya terkejut.


Presenter itu mendapat bocoran dari pegawai Abra bahwa pria itu bisa bermain gitar karena itu ia mendapat tantangan untuk menyatakan cintanya sambil memetik gitar. Tentu saja, baik Abra maupun Shasa kebingungan. Pria itu bahkan menggaruk-garuk dahinya karena ia tidak tahu bagaimana melakukannya.


Presenter itu mengawalinya dengan memberikan seikat bunga mawar pada Abra yang terpaksa pria itu berikan pada Shasa.


"Love you." Abra memberikannya pada Shasa sambil memberikan kecupan pada kening gadis itu.


Keruan saja wajah gadis itu memerah. Ia menerima bunga itu dengan wajah kebingungan walau di sisi lain ia bahagia, tapi ia benar-benar malu dijahili presenter itu, padahal penonton bersorak.


Berikutnya Abra mendapat gitar. Ia tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya dicoba di petiknya beberapa lagu romantis sambil berpikir bagaimana membuat rayuan pada Shasa sedang mereka sekarang berada di atas panggung. Yang terpikirkan bagaimana menyelamatkan wajahnya sekarang!


Namun sia-sia. Abra tak bisa berpikir sedang Shasa menunggunya sambil memegang mike. Ditatapnya gadis itu dalam-dalam. Ia mencoba mengungkapkannya dari lubuk hatinya yang terdalam dan keluar sebuah puisi yang mudah dicerna sambil memetik gitar dengan nada-nada yang mengalun tenang.


"Kaulah mawar yang paling indah


Yang kutemukan tanpa rencana


Kutahu artinya cinta


Saat harummu bicara."


Tanpa diduga Shasa menjawabnya.


"Aku hanya mawar yang tak sempurna


Dengan mekar sekuat tenaga


Apa kau tahu letakku di mana?


Sebuah taman yang bertuan. "

__ADS_1


Abra menatap lekat Shasa. Hingga dalam puisinya, gadis itu masih menolaknya. Namun ia mengetahui hal lain. Shasa membongkar kebohongannya sendiri bahwa ia sebenarnya bisa menulis puisi. Seperti dugaannya, gadis itulah penulis buku note yang ia temukan waktu itu.


Shasa menyadari kemudian kesalahannya, tapi itu sudah tak penting lagi. Abra dan dirinya kini melewati jalan yang berbeda. Walaupun begitu, gadis itu menghindari tatapan pria itu yang seperti minta penjelasan soal kebohongannya.


Penonton bersorak. Mereka terhibur dengan puisi yang mereka buat pada acara itu. Abra meletakkan gitar dan mendatangi Shasa guna bergandeng tangan menghadap penonton yang bersorak untuk mereka. Senyum mereka kembangkan walau tiada yang tahu bagaimana hati mereka saat itu sedang berkecamuk.


Shasa kemudian turun dari panggung dan Abra di minta untuk mengumumkan slogan baru TV Indo. Setelah berpidato sebentar bagaimana perjalanan TV itu hingga kini menjadi TV dengan jumlah pemirsa yang makin meningkat tiap tahunnya, ia mengumumkan slogan 'selalu di hati' diganti menjadi 'kau segalanya', melihat dari keberagaman siaran yang kini dimiliki oleh stasiun TV itu. Setelah itu ia turun dan acara beralih ke acara hiburan lagi.


Di bawah panggung sedikit gelap. Abra sempat melirik Shasa yang sedang disanjung Bima karena bisa berpuisi spontan di atas panggung sedang Shasa juga diam-diam sempat melirik Abra yang terlihat muram dan bergerak cepat menghindarinya.


Shasa tak bisa berbuat apa-apa kecuali rasa bersalah karena membohongi pria itu sedemikian lamanya. Ia harus ikhlas, bila setelah ini Abra membenci dirinya. Bukankah itu lebih baik? Sehingga pria itu tak lagi menggodanya. Entah kenapa hati kecilnya malah kecewa.


-----------+++----------


Waktu berlalu, tapi takdir terus menuju titiknya. Hanya saja tidak ada yang tahu ke arah mana takdir itu pergi kecuali Sang Pencipta. Bahkan bila sebuah hasrat coba menghancurkan semuanya.


"Makasih Bang," ucap Shasa yang sedikit membungkuk menengok ke jendela kaca mobil yang terbuka milik Raven.


"Beneran gak mau ditungguin?" ucap Raven yang menyandarkan lengannya pada jendela mobil di sampingnya.


"Takutnya Om ngajak ngobrol, terus lama."


"Ngak papa, aku tungguin. Aku kebetulan gak ada tugas kampus. Paling nongkrong sebentar di minimarket depan." Raven menunjuk minimarket dekat rumah Shasa.


"Jangan Bang, takut lama. Udah pulang aja. Cari pacar kek!" ledek Shasa.


"Enggaklah! Entar aja kalo udah kerja."


"Mmh." Shasa merengut manja. Gadis itu lambat laun mulai dekat dengan Raven karena pemuda itu banyak bercerita tentang kembarannya Raline dan kehidupannya yang ia tidak pernah tahu.


"Udah sana!" usir Raven dengan tangannya.


Di tempat lain, Rika sedang mematut diri di depan kaca. Ia kesal. Beberapa dari bajunya mulai sempit terutama yang ukurannya pas dengan tubuhnya. Celana jeans dan roknya juga banyak yang ia tidak bisa pakai lagi karena belakangan tubuhnya sedikit berisi. Ini karena nafsu makannya belakangan mulai susah dikendalikan.


Padahal dulu bila ada celana panjangnya yang sempit, ia bisa dengan mudah berdiet dan menurunkan berat badan tapi kini, ia selalu tergoda dengan makanan yang berbahan dasar coklat. Sepertinya bila mendengar kata 'coklat', gadis itu langsung merasa lapar.


Terdengar suara bel pintu rumahnya tapi ia tak peduli. Ia sedang pusing memilih baju untuk kuliahnya Senin esok. Sepertinya ia harus beli baju baru lagi, padahal ia baru saja membeli baju baru minggu lalu karena masalah yang sama.


Ia menghela napas. Sepertinya baju baru berikutnya harus sedikit longgar menghindari tubuhnya kembali gemuk. Padahal ia benci mengenakan baju longgar dan ia juga benci gemuk, tapi perutnya sedikit buncit belakangan ini dan sesak saat menggunakan celana atau rok yang pinggangnya sempit.


Terdengar ketukan di pintu. "Mbak, ada Mbak Shasa di bawah."


Dia lagi. Mau apa ke sini? Papa dan Mama kan lagi keluar? Oh, mungkin mencari mereka. Rika kemudian keluar dari kamarnya. Sedikit canggung Rika menyambut Shasa saat menuruni tangga. "Eh, Papa dan Mama lagi keluar," ucapnya dengan enggan. Matanya, malas rasanya saling menatap.


Shasa pun sama. "Oh." Ia melihat Rika yang sedikit gemuk dari biasanya. "Mmh, katanya kuliah ya?"


"Begitulah."


"Sepertinya senang. Punya pacar baru ya?" tanya Shasa sekenanya.


Rika mengangkat satu alisnya. Mau tau aja urusan orang.


"Aku bawa kue bolu untuk Om dan Tante. Mereka ke mana ya?"


Rika masih mempertahankan satu alisnya terangkat. "Gak janjian?"

__ADS_1


"Oh, kebetulan enggak."


Damar mendengar suara ramai di luar dan menemukan Shasa ada di lantai bawah. Betapa ia merindukan saat-saat ini. Kamu ... aku kangen. Ia berlari menuruni anak tangga. "Shasa!" Ia mengatur napasnya setelah sampai.


"Oh, Kak Damar." Shasa terkejut.


"Mau apa?" tanya pria itu tersenyum lebar. Netranya seperti menemukan barang hilang yang sudah lama dicarinya. Menyegarkan dan menggembirakan.


"Cari Papa dan Mama lah, gak mungkin cari Kakak," ledek Rika.


Damar cemberut menatap Rika dan kembali tersenyum melihat Shasa. "Mau ku anterin? Aku tahu mereka ke mana."


"Alah ... cuma pergi ke supermarket gede aja pake dianterin," ledekan gadis itu kembali pada Damar.


Damar melotot pada Rika. "Naik!"


Dengan cemberut gadis itu menaiki tangga.


Pria itu kembali tersenyum pada Shasa.


"Ya udah, aku nunggu aja di sini." Shasa mulai melirik kursi meja makan di sampingnya.


"Oh, jangan. Eh ... kayaknya kemarin-kemarin mereka mau pergi ke mal jalan-jalan. Kalau itu mungkin lama. Bagaimana kalau kita susul saja mereka?"


Rika yang mendengar kebohongan Damar hanya geleng-geleng kepala.


"Eh, gak papa. Aku akan nunggu di sini aja."


Namun Damar menarik lengan Shasa. "Eh, belakangan mereka sering keluar lama. Takutnya kamu terburu-buru. Lebih baik ikuti saja aku biar masalah cepat selesai. Kamu mau diskusi soal pernikahanmu dengan Bima kan?"


"Tapi ...."


"Percaya aja sama aku Sha." Pria itu menarik Shasa keluar dan membawanya ke dalam mobilnya. Ia mengendarai mobil itu dan membawanya keluar.


Raven melihat pintu gerbang itu dibuka dan mobil Damar keluar. Ia melihat Shasa bersama Damar, pria yang ia ingat betul pernah memaksa Shasa ikut bersamanya. Pemuda itu curiga. Ia yang baru saja keluar dari minimarket segera berhambur ke mobilnya untuk mengikuti mobil Damar. Untung saja pemuda itu tidak kehilangan jejaknya.


Mobil Damar kemudian berbelok ke sebuah perumahan penduduk dan melewati sebuah lapangan yang banyak semak. Tempat itu tempat sepi.


Shasa sudah ribut dari tadi karena mereka memasuki perumahan penduduk dan tidak sesuai tujuan. Apalagi mereka berhenti di tempat bersemak yang sepi. "Kak, kita kenapa berhenti di sini? Ini kan tempat sepi. Kalau ke Mal kan harusnya terus Kak," protes Shasa.


"Enak di sini kita bisa berduaan."


"Apa?"


"Coba pandang aku Sha. Pernahkah kamu memikirkan aku sebagai selain sepupumu?"


"Apa maksudnya?"


"Sebagai laki-laki."


"Kamu kan memang laki-laki Kak." Shasa mengerut kening.


"Sebagai calon suami mungkin."


"A-apa?"

__ADS_1


Pria itu mencondongkan tubuhnya pada Shasa dan menyentuh sesuatu di samping bawah kursi gadis itu. Sebelum Shasa sempat menyadari apa yang terjadi, pria itu menindih tubuhnya hingga sandaran kursinya jatuh ke belakang.


"Kakak!"


__ADS_2