
"Ok ya?" Sutradara itu kemudian melangkah meninggalkan mereka.
Shasa mencuri-curi pandang sedang Abra melihatnya dengan wajah serius.
Kembali pria itu mengambil buket bunganya. "Sha."
"Ya?" Tubuh Shasa panas dingin tak karuan. Ia tak berani melihat mata pria itu langsung, padahal bisa saja yang ditawarkan pria itu barusan adalah untuk kepentingan iklan tapi entah kenapa ia membayangkan kalau itu benar-benar terjadi dan hatinya seketika ingin melonjak kegirangan. Ah, Shasa. Kenapa kau begitu naif.
"Bagaimana kalau kamu berkhayal lagi."
"Mmh?"
"Anggap aku pacarmu."
"Kan udah."
"Pria yang kamu harapkan memberimu bunga."
Saat itu gadis itu terdiam.
"Dia memberikan bunga padamu dan kamu senang."
Dalam kebingungan Shasa masih melirik Abra yang membalikkan tubuhnya untuk memulai lagi proses syutingnya. Jadi aku harus pilih yang mana? Yang manakah di antara kedua pria ini yang sangat aku inginkan memberiku bunga? Kak Abra kah atau Kak Bima? Sudah lama aku tidak memikirkan Kak Bima, pacarku yang sesungguhnya tapi kini ... kepalaku penuh dengan Kak Abra. Bolehkah aku memikirkan tentang Kak Abra hanya sekali ini saja? Boleh kan? Sekaliiii saja ....
"Action!"
Abra dengan langkah pasti mendatangi meja Shasa. Ia memberi gadis itu buket bunga. "Shasa, I love you."
Gadis itu terlihat begitu senang. Matanya berbinar ceria. Ia tak menyangka pria itu memberinya bunga dan menyatakan cinta. Ia menghirup bau bunga yang diterimanya dan menatap Abra dengan mata yang berkaca-kaca. Ya Allah, dengan siapa hatiku sebenarnya berlabuh? Kenapa kapal ini tak kunjung menetap. Aku sudah menghianati pacarku, apa aku masih pantas untuk kembali padamu Kak Bima?
Abra tidak tahu apa yang terjadi. Tak tega melihat gadis itu mulai menitikkan air mata, segera ia mendekat dan mengusap air mata gadis itu yang terlanjur jatuh ke pipi, walaupun ... hanya dengan satu tangan. "Hei, ada apa denganmu?" ucapnya setengah berbisik. "Apa kamu senang?"
Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
Abra merasa lega walaupun ia sudah merasa kalah. Harusnya aku tahu dari awal kan, hatinya bukan untukku. Sudah tak berguna lagi harapanku karena hatinya sudah milik Bima.
Shasa menyentuh tangan Abra yang sedang mengusap air matanya dengan genggaman hangat. Ia begitu menyukainya sedang Abra hampir menangis karena ia mengira gadis itu berkhayal sedang berhadapan dengan Bima.
"Duduk Kak," ucap gadis itu dengan mata bercahaya. Ia begitu mengagumi bunga yang diterimanya dengan menghirup bau bunga itu sekali lagi. Seikat mawar merah yang mulai mekar.
Abra menarik kursi di hadapan gadis itu dan mulai duduk.
"Terima kasih ya Kak."
Abra berusaha tersenyum, tapi hatinya getir. Ia bingung bagaimana memulai percakapan saat itu karena hatinya sedang mogok tak ingin bicara. Ya Allah, kuatkan hatiku. Luaskanlah perasaan ikhlasku. Aku tak ingin orang yang kucintai melihatku menangis dihadapannya.
"Cut!"
Alhamdulillah ya Allah. Buru-buru Abra berdiri. "Sebentar, aku ke toilet dulu."
"Eh?" Shasa memburu menyusulnya. Ia tak ingin tubuh pria itu menyenggol orang lain karena akan fatal akibatnya pada retak di bahunya. Gadis itu akhirnya bisa menggapai baju Abra dari samping dan menyamakan langkah. Ia berusaha melindunginya dari sisi kiri sambil memegang buket bunga itu.
Abra berjalan menunduk. Ia tak berani mengangkat kepalanya hingga ia membiarkan saja gadis itu setengah berlari berjalan di sampingnya karena langkahnya yang lebar.
Ketika mencapai toilet di dalam hotel, gadis itu melepas Abra. Shasa menunggu pria itu dengan memeluk buket bunga di tangan. Tiap kali ia menghirup bau bunga itu gadis itu tersenyum.
Abra yang masuk ke dalam ruang toilet, segera mengunci pintu dan duduk di atas toilet yang sudah ditutup. Pikirannya sangat kacau dan matanya memerah. Sempat ia menendang pintu karena kesal.
Shasa, aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana?
Sudah setelah jam Abra di dalam toilet dan belum keluar juga. Shasa memberi tahu orang-orang yang ingin menggunakan toilet agar mencari tempat lain sementara ia sendiri cemas pria itu belum juga muncul.
Abra keluar dari toilet.
"Kak, kenapa lama? Kakak nggak kenapa-kenapa kan?" sambut Shasa. Ia memperhatikan tubuh Abra.
"Nggak ada. Mmh ...." Kalimat Abra menggantung.
"Apa Kak?"
"Hubungan kita sudah tidak ada apa-apa lagi kan?"
__ADS_1
"Mmh?" Gadis itu terlihat bingung.
"Kita tidak lagi pacaran." Sedetik itu juga Abra meninggalkannya.
Shasa tersadar. Pekerjaan ini telah selesai. Pekerjaan bermain hati dan untuk itu, harusnya tidak ada yang terluka karena ini hanya sekedar pekerjaan. Saat sebuah pekerjaan selesai ia sudah harus pindah ke pekerjaan yang lain dengan tantangan yang lain tapi kenapa itu sulit. Kenapa membekas ... di hati.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, mobil kembali sunyi. Gadis itu yang duduk di belakang sibuk mengagumi bunga yang dimintanya dari Sutradara sedang Abra yang duduk di depan hanya diam sambil memandang keluar lewat jendela di sampingnya. Sekalipun mereka tidak saling bertegur sapa.
Haris bingung melihat perubahan drastis dari keduanya. Yang tadi mereka terlihat akrab tapi sedetik kemudian mereka terlihat seperti orang asing. Ada apa dengan keduanya? Haris tidak melihat mereka bertengkar atau apapun yang mengundang tanya, tapi apa kini mereka telah berubah pikiran? Padahal saat adegan romantis tadi Haris sempat berpikir Abra menyatakan cintanya pada teman sejawatnya dan ia melihat Shasa menerimanya tapi setelah kembali dari hotel, semuanya berubah. Ada apa sebenarnya? Apa mereka telah bertengkar?
Haris mengantar Abra ke apartemen pria itu tapi kemudian Shasa turun.
"Eh, Sha ...."
Belum selesai Haris bicara, Abra ikut bicara. "Makasih Ris." Dengan wajah datar pria itu segera masuk ke gedung apartemen itu.
"Makasih Kak Ris," beo Shasa mengikuti Abra dan mengejar pria itu lalu berpegangan pada bajunya.
"Eh, mereka ... tinggal bersama?" Haris benar-benar syok melihatnya. "Sejak kapan?" Ia masih termangu. "Ah, jangan suudzon. Mungkin mereka beda apartemen. Iya kan? Ah, seandainya aku sakit mata hari ini ya Allah ...." Haris menghela napas dan menjalankan mobilnya.
-----------+++-----------
Keduanya masuk ke dalam apartemen. Abra mendekati meja makan dan menarik kursi. Ia duduk di sana. "Bisa kita bicara?"
Shasa mengangguk dan duduk di seberangnya.
"Kalau kamu mau pergi ...."
"Aku menunggu kamu sembuh," potong Shasa. Gadis itu menunduk dan melihat pria itu sekilas.
Kalau mengikuti emosi, ingin saat itu ia mengusir gadis itu dari apartemennya agar urusan hati ini selesai, tapi dunia sangat kejam di luar sana, ia takkan tega. Lagipula ia sendiri juga butuh orang yang bisa menolongnya, dan tak ada yang bisa melakukan itu kecuali Shasa. Kenapa mereka harus saling bergantung kini, bukankah sebaiknya mereka hidup sendiri-sendiri karena pada akhirnya memang itu yang akan terjadi nanti, iya kan? "Tapi mulai besok kan kamu kerja?"
"Aku sudah bilang Haris, aku minta cuti sehari."
"Untuk apa?" Abra menautkan alisnya.
"Aku mau lihat kos-kosan."
Shasa menggeleng. "Gak papa, aku akan mencari kos-kosan dekat sini biar bisa tetep bantu kamu."
Abra menjadi serba salah. "Aku tidak mau menyulitkanmu. Kalau kamu mau pergi ...."
"Tidak. Kan aku bilang tidak." Gadis itu segera berdiri. Ia membawa buket bunga itu ke dapur dan mencari wadah untuk bunganya.
Abra menghela napas. Sebelum ia berdiri, hp-nya berbunyi. Ia segera mengangkatnya setelah melihat nama yang tertera di layar. "Halo Kak ... mau datang?"
Sejam kemudian Kevin datang dengan membawa makan malam mereka.
"Tumben Kak, mau makan di sini."
Kevin berdehem sebentar. "Aku hanya ingin tahu keadaanmu setelah syuting, apa tidak ada masalah?"
"Eh, tidak ada hanya capek saja karena pindah-pindah lokasi."
Shasa membawa piring dan gelas ke atas meja.
"Aku bawa steak ayam kesukaanmu."
"Wah, kakak ingat kesukaanku?"
"Bukankah Bunda sering membuat ini untukmu. Aku sering melihat kamu makan ini di rumah dulu."
Netra Abra berkaca-kaca. Ia kemudian menatap salah satu bungkusan yang dibuka Shasa.
Gadis itu terenyuh melihat pria itu kembali mengingat memorinya yang telah lama berlalu dan itu masih membuatnya berkaca-kaca.
Mereka makan bersama.
"Jadi sudah selesai syutingnya?" tanya Kevin ingin tahu.
"Sudah Kak. Alhamdulillah syuting iklannya selesai dalam sehari."
__ADS_1
"Wah, berarti yang main, aktingnya ok-ok semua ya?" puji Kevin.
"Ah, gak juga Kak. Ini dibantu Kak Abra," ucap Shasa merendah.
Keduanya menatap ke arah Abra. Pria itu tak menjawab dan hanya meneruskan makannya.
"Eh, berarti kalian bukan pacar pura-pura lagi dong?" Kevin sedikit salah tingkah saat mengucapkannya.
Abra dan Shasa saling melirik.
"Shasa, kamu besok ke ... mana?" Kevin masih salah tingkah.
"Oh, dia harusnya kerja tapi minta cuti sehari untuk mencari kos-kosan." Abra mewakili Shasa.
"Kos-kosan? Kenapa tidak tinggal di sini saja?"
"Apa?" Abra dan Shasa berucap bersamaan.
"Kan Abra belum sembuh." Suara pria itu mengecil menandakan ia tak yakin ide yang dilontarkan disukai keduanya.
"Agak sulit Kak, kalau kami tinggal bersama karena bukan mahramnya." Shasa menjawab sendiri pertanyaan Kevin.
"Eh, oh, begitu ya? Bagaimana kalau mendiami salah satu apartemen di sini juga. Di sebelahnya mungkin?"
Abra dan Shasa menatap heran pada Kevin.
"Eh, mungkin ke depannya aku ingin investasi dengan membeli salah satu apartemen di sini dan kamu bisa menunggui apartemen aku ketika aku tidak menempati."
Keduanya masih menatap Kevin dengan tanda tanya besar di kepala.
"Eh, maksudku, aku ingin beli beberapa dan menyewakannya, begitu. Jadi kamu yang mengurus apartemen-apartemen itu." Kevin mencari-cari alasan agar Shasa tidak pindah keluar karena akan sulit baginya bertemu dengan gadis itu kembali sebab ia tahu keuangan gadis itu yang tidak mendukung untuk punya tempat tinggal yang bagus seperti apartemen.
"Maaf Kak, aku akan cari di luar saja sesuai kemampuanku. Itu lebih nyaman rasanya," ucap Shasa dengan sopan.
"Oh, begitu." Kevin sedikit kecewa. "Mau kutemani?"
Shasa yang sudah mulai mengunyah lagi makanannya menggeleng. "Makasih Kak."
Mereka kemudian menyelesaikan makan malam mereka dengan obrolan ringan.
------------+++------------
"Kakak mau tuker baju?" Shasa menghampiri.
Abra menghela napas. "Maaf merepotkanmu."
Shasa kemudian datang dengan membawa wadah berisi air dan waslap. Ia melihat Abra berusaha membuka sendiri kancing bajunya dan membuka ikatan perban. Saat hendak menarik turun perban instan itu dari lengannya, gadis itu segera datang menolong.
"Tunggu sabar Kak."
Namun Abra memaksakan diri. "Aghh!"
"Kak!"
Abra menahan ngilu dibahu. Biar bagaimanapun ia masih membutuhkan Shasa. Ia masih bergantung padanya.
_____________________________________________
Ok, cek author keren ini sambil nunggu lanjutan Shasa dan Abra.
Blurb :
Apa jadinya seorang pria dengan julukan duda casanova terjerat cinta pada seorang gadis bar-bar dengan potongan rambut ala mulet mampu menggetarkan hatinya yang membeku.
Tak lupa Rolando sang putra yang selama ini begitu merindukan kasih sayang tiba-tiba tersenyum ketika di dekat gadis tersebut.
Banyak misteri yang mulai terungkap tentang jadi diri dari gadis bar-bar yang berhasil menjerat seorang duda casanova.
Dapatkah duda casanova itu mampu menaklukkan gadi itu? Misteri apa yang disembunyikan olehnya?
__ADS_1
Ikuti kisah perjalanan mereka ....