Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Aku Tanpamu


__ADS_3

Seusai makan malam, Diandra mengajak Damar main ice skating lagi. Karena hanya berdua, mereka hanya berjalan berputar-putar saja.


Yang mengherankan wanita itu, wajah Damar tampak tak biasa. Pria itu memasang wajah datar dan bicara seperlunya. Sudah berulang kali dibujuk untuk bicara tapi pria itu menjawab sekedarnya.


Andra bukan bertindak tanpa alasan, ia memang menyukai Damar tapi pria itu seperti memasang dinding yang tebal di antara mereka. Wanita itu meyakini itu karena netra Damar berbicara sebaliknya.


Kadang saat bicara atau sedang makan pria itu sering meliriknya tapi saat ketahuan ia melengos melihat tempat lain. Apa yang membuat Damar tak berani terus terang dan menghindarinya?


Pada satu kesempatan, Andra mencoba menggandeng tangan pria itu. Sepertinya Damar terkejut. "Eh, Ndra ...."


"Ya ...."


"Apa ...."


Wanita itu tersenyum manis pada Damar. Pria itu berdehem sebentar. "Mmh, kau su-sudah sembuh?"


"Sudah, alhamdulillah."


"Alhamdulillah."


Mereka tetap berjalan beriringan berdua dengan Diandra yang menggenggam tangan pria itu. Sesekali wanita itu mulai berani menyandarkan kepalanya pada lengan kokoh Damar.


Pria itu sedikit canggung dengan tingkah Diandra. "Eh, sebaiknya kita pulang saja. Ini sudah larut malam."


Diandra mengangguk walau sedikit kecewa. Mereka kemudian melepas sepatu untuk ice skating-nya dan mengembalikannya ke meja kasir di pinggir arena. Mereka kemudian keluar.


Diandra mencoba melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Damar.


Pria itu berhenti dan menatapnya. "Ndra, sebaiknya kamu menjauhiku saja," ucapnya terus terang. Diandra lega, akhirnya pria itu mau bicara.


"Kenapa?"


"Aku bukan pria baik-baik, Ndra."


"Itu kan dulu."


"Orang tuamu pasti tak menyukaiku."


Wanita itu makin mendekat. "Kenapa orang tuaku harus menyukaimu?"


"Eh?" Ditanya begitu Damar kebingungan menjawabnya.


"Kamu menyukaiku ya?"


"Eh, a-aku ...."


Ternyata Diandra memberikan pertanyaan jebakan akibat kalimat ceroboh Damar yang membuat pria itu malu sendiri. "Kenapa kamu begitu yakin orang tuaku tidak menyukaimu? Kenapa kamu tidak berusaha?" Ia makin mendekatkan tubuhnya pada pria itu sambil menggenggam tangannya. "Kalau menyukaiku, berusahalah!" Tiba-tiba Diandra berjinjit dan mengecup bibir pria itu. "Aku juga menyukaimu."


Wajah pria itu memerah. Ia kaget. Saat wanita itu melonggarkan genggaman tangannya, Damar malah mengeratkan. Dalam keterkejutan, pria itu membalas ciumannya ... intens. Mereka menikmatinya sesaat hingga lupa ... mereka dalam keramaian.


Ada yang tidak peduli dan ada yang menjadikannya tontonan bahkan gosip sesaat hingga sadar mereka tengah diperhatikan banyak orang. Buru-buru keduanya bergegas keluar dari tempat itu dalam keadaan wajah merah padam. Hingga mereka sampai masuk lift yang kebetulan terbuka.


Setelah menekan tombol angka, keduanya bersandar berdampingan di dalam lift yang juga ramai. Sempat mereka saling pandang di dalam lift dengan wajah malu campur senang karena ulah mereka tadi.


Keduanya akhirnya sampai di lantai paling bawah dan melangkah keluar.


Damar berdehem. "Aku akan mengantarmu pulang."


"Iya."


Keduanya melirik dengan malu-malu dan terus melangkah ke arah mobil Damar yang terparkir di depan.


---------------+++-----------


"Mas, kemarin ada yang nawarin untuk iklan susu formula," terang Shasa. Ia tengah mencubitkan roti untuk sarapan Leone yang duduk di pangkuannya. Leone memakannya dengan lahap.


"Mereka telepon kamu?" tanya Abra bingung, sebab setahunya, orang-orang yang menawari iklan selalu menghubunginya bukan isterinya.


"Orangnya datang ke kampus Kak, cari Shasa," sela Raven. Ia pun juga sedang menyuapi Lina roti.


"Oya?" Abra kembali terkejut.


"Tapi iklannya cuma aku aja, kamu ngak Mas."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Yang lain diperankan oleh orang lain, seperti misalnya, suamiku dan anaknya. Yang jadi suamiku bule terkenal itu lho! Siapa namanya?" Shasa bertanya pada Raven.


"James. James Ravioli, orang Itali tapi keren. Bahasa Indonesia jago." Raven mengangkat ibu jari.


"Mmh." Shasa mengangguk-angguk.


Abra panas mendengarnya. "Ngak boleh! Istriku gak boleh ikut iklan apapun tanpa aku, titik!" Ia melipat tangannya di depan dada dengan wajah merengut.


"Yah ... posesif Sha," gumam Raven pada Shasa.


Gadis itu diam karena terkejut.


"Biarin! Dia istriku, berapapun honor yang ditawarkan aku gak akan kasih izin!" tegas Abra.


"Waduh, ada yang ngamuk nih ...." Raven melirik Shasa.


Gadis itu mengkode Raven agar jangan bikin masalah.


"Raven! Kamu jangan ngajarin istriku yang enggak-enggak ya? Awas lho!" Abra menunjuk wajah Raven dengan kesal.


"Iyaa ... ah, gitu aja marah," jawab Raven santai.


Abra yang berada di tengah-tengah menggebrak meja saking kesalnya.


Brag!


"Enak aja! Jangan sampai keutuhan rumah tanggaku jadi runyam gara-gara kamu ya!" Saking kesalnya pria itu berdiri. Ia tak sadar anak kembarnya terkejut hingga keduanya menangis. Kedua anak kembarnya dari awal pria itu marah juga sudah kaget dan menggebrak meja menjadi awal syoknya mereka melihat sosok ayahnya yang lemah lembut menjadi kasar.


Shasa memeluk Lione menenangkannya.


Raven yang takut salah bicara dengan santainya menyerahkan Lina pada Abra. "Ya udah nih ... aku gak ikutan." Pemuda itu segera pergi.


Abra yang masih kesal menggedong dan memeluk Lina untuk mendiamkan tangisnya. Lama kelamaan amarahnya mereda seiring melihat wajah gadis kecilnya yang ketakutan. "Maafin Papi ya Sayang." Ia mencium kening Lina.


"Papito, hu hu hu ...."


Pria itu mengusap air mata Lina. Ia melirik istrinya dan merapatkan kursi dengannya sambil duduk di sana.


"Kok kamu belain dia sih, bukan belain Mas," tanya Abra.


Shasa melirik Abra dengan heran. "Lho, bukannya dulu Mas yang selalu mengedepankan kebenaran dibanding emosi? Kok sekarang terbalik? Kan tadi yang cerita soal iklan itu aku, bukan Bang Raven Mas."


"Mungkin karena aku takut kehilanganmu, Sayang," bujuk Abra mengiba. Ia mendekatkan wajahnya pada istrinya agar diampuni. Sesekali ia melirik Lina yang masih menangis dan mengusap-usap punggungnya. "Pokoknya jangan tanda tangani apa-apa tanpa persetujuanku ya Sayang ...."


"Iya, iya ...." Shasa mencium pipi suaminya. "Udah, jangan marah lagi. Bikin anak-anak kaget aja."


"Aku maunya di sini." Abra menunjuk bibirnya dengan manja.


Seketika Shasa mengecup bibir suaminya.


Pria itu terlihat senang. Ia melihat Lione yang menempel memeluk tubuh istrinya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengusap kening Lione. "Duh, anak Papi nangis. Maafin Papi ya Sayang."


"Apito," sahut Lione.


Lina yang paling lama menangis membuat pria itu harus mendekapnya lama.


---------------+++-----------


2 bulan kemudian, Damar menikah dengan Diandra. Semua menyambutnya dengan suka cita.


"Aku tidak pernah menyangka, ternyata kita benar-benar bisa besanan ya Pak ya?" sahut Erik pada Adam. Pria itu hanya tersenyum senang. "Kadang kita tidak tahu bagaimana tangan Tuhan ikut andil di sini."


"Kita hanya bisa melihat tapi tidak bisa memaksakan kehendak. Biarkan anak-anak kita memilih jalannya."


Ijab kabul diadakan di kamar perawatan Kevin karena Karen, ibu Diandra ingin menghadiri pernikahan Diandra tapi tak ingin meninggalkan Kevin. Jadilah kamar perawatan itu ramai oleh tamu.


Shasa dan Abra membawa si kembar Lione dan Lina sedang Rika dan Bima membawa Erlangga.


Lione diletakkan Shasa di atas tempat tidur di samping Kevin. Saat gadis itu sedang mengobrol dengan suaminya, Lione menyentuh tangan Kevin. Jari kelingking pria itu bergerak.


Bocah itu kaget hingga dan memanggil ibunya. "Amito!"

__ADS_1


"Apa Sayang?" Shasa menoleh sambil mengusap kepalanya.


"Uh, uh!" Lione menunjuk ke arah Kevin.


"Itu Om ya? Om Kevin," terang Shasa. Abra pun melirik Lione sekilas lalu kembali mengobrol dengan istrinya, sedang Lina dipangku Karen yang sedang mengobrol dengan pasangan Rika dan Bima yang bergantian mengurus si kecil Erlangga.


Kembali Lione menyentuh lengan Kevin. Jari kelingking kanan pria itu kembali bergerak. "Amito!"


"Iya, Sayang." Shasa menggendong Lione sambil masih mengobrol dengan suaminya. Ia tidak mendengarkan panggilan Lione.


"Uh, uh, Amito!" Lione memanggil-manggil ibunya sambil kembali menunjuk ke arah Kevin.


"Iya Sayang, itu Om," tanpa memperdulikan maksud Lione karena masih sibuk mengobrol dengan suaminya.


Akhirnya Lione hanya bisa melihat saja, jari yang bergerak itu berhenti. "Uh, uh ...."


----------+++-----------


5 tahun kemudian di sebuah pesawat di landasan bandara New York.


"Ah!"


"Oh, I'm sorry. I'm sorry Mam.(Oh, maaf. Maaf ya Bu)" Pria itu menjatuhkan barang belanjaannya yang akan ia taruh di atas, pada wanita yang duduk di sebelah kursinya.


"Mam? Do I look old to you?!!(Bu? Memangnya aku terlihat tua ya?)" Wanita itu menunjuk wajahnya pada pria itu, tapi seketika ia terkejut.


Pria itu sangat tampan. Ia memungut tas belanjanya yang jatuh sambil menatap wanita itu. Pria itu juga terkejut melihat wajah wanita itu. "Area you Indonesian?(Apa kamu orang Indonesia?)"


"Ya ...," jawab wanita itu bingung.


"Oh, saya orang Indonesia juga. Maaf ya Mbak, tadi menjatuhkan barang di kepala Mbak. Saya benar-benar gak sengaja. Maaf ya?"


Senyum pria itu terlihat tulus. Ya udah aku maafin deh! Untung tampan!


Pria itu kemudian duduk di samping wanita itu. Ia merapikan jasnya. "Oh, ya. Karena kita duduk bersebelahan selama perjalanan ke Jakarta, alangkah baiknya kita berkenalan. Kenalkan namaku Raven." Pria itu menyodorkan tangannya.


"Danisa." Wanita itu menjabat tangan pria itu.


Sempurna. Wanita hanya perlu dikasih senyum wajah tampan ini, dan masalah selesai. Ya, kan? Sensitif sekali di panggil 'Mam' aja langsung marah-marah. Raven melonggarkan dasinya.


Keduanya duduk.


Danisa melirik pria disampingnya itu yang terkesan acuh tapi pandangan pertamanya malah membuatnya jatuh hati. "Eh, sedang business trip(perjalanan bisnis) ya?"


"Oh, tidak. Aku pulang ke Indonesia. Tadinya aku kerja di New York."


"Wow keren."


"Mbak sendiri?"


"Business trip."


Raven tersenyum lebar. "Bukannya Mbak yang lebih hebat dari saya?"


"Cuma skala kecil. Hanya meneruskan usaha orang tua dan coba-coba mengembangkannya ke New York."


"Itu sudah hebat Mbak. Mbak Danisa bisa sampai membawa produk Mbak ke New York itu sudah luar biasa. Konsumen New Yorker(orang New York) sangat selektif memilih produk dan kalau produk Mbak lolos berarti produk Mbak kualitasnya bagus."


"Mmh, saya pernah tinggal lama juga di New York ini jadi sedikit banyaknya tahu produk seperti apa yang mereka butuhkan ditambah teman-teman di sini juga membantu memberi saran, jadi ya ... gitu deh!"


"Wow, ternyata kamu pebisnis tangguh ya?"


"Ah, tidak juga. Hanya berusaha." Danisa tersipu dipuji Raven.


Tak lama, pesawat tinggal landas menuju Jakarta. Selama perjalanan pria itu malah tidak banyak bicara sehingga Danisa hanya melihat ke arah jendela.


Masa perempuan cantik seperti aku ini, ia tidak tertarik sih? Ada masalah apa dengan matanya, Danisa merengut kesal.


"Apa kamu akan mencari pekerjaan di Jakarta nanti? Mungkin kamu bisa melamar kerja di perusahaanku." tawar Danisa.


"Oh, ayahku punya perusahaan di Jogja. Mungkin aku akan meneruskan usahanya."


____________________________________________

__ADS_1


Reader, author masih semangat di sini menjelang habisnya novel ini. Tenang. Masih banyak yang akan diceritakan. Jangan lupa vitamin author ya? Like, vote, komen, dan hadiah iklan mungkin. Ini, visual wajah Raven setelah 5 tahun kemudian. Salam, ingflora💋



__ADS_2