Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Awal


__ADS_3

"Eh, bukannya orang tuanya orang berada?"


"Mmh? Ayah tau dari mana?"


"Mmh ...." Pria itu terjebak pertanyaannya sendiri.


"Shasa, kedua orang tuanya sudah meninggal," Raven mengatakannya dengan sorot curiga pada ayahnya.


"Oh, kapan?" Pria itu terkejut.


"Aku gak tau, tapi kenapa ayah seperti mengenal keluarga Shasa?" Raven mengerut kening.


"Pertemukan Ayah dengannya dan Ayah akan mengatakannya."


Di dalam kamar, Shasa menangis sejadi-jadinya. Ia kehilangan harapan. Entah harapan yang bagaimana. Tubuhnya tiba-tiba lemas dan berharap hari cepat berlalu. Ia sudah tak tahan, dan tak punya tempat bersandar. Ia berharap hanya menikah dengan Bima yang menjadi pelabuhan awal dan akhirnya. Tidak ada orang lain lagi. Hanya dia.


----------+++----------


Pagi disambutnya dengan sakit kepala. Shasa bangun dengan hati yang masih kacau. Ia yakin matanya tengah sembab sehingga ia tidak berniat bangun dan hanya menerawang langit-langit kamarnya.


Sebuah ketukan di pintu tak membuatnya ingin keluar kamar. Ia malah menenggelamkan dirinya dalam selimut. Ia tidak ingin bertemu orang hari ini. Beberapa kali ketukan senada ia dengar dan suara Raven juga ikut meramaikan suara ketukan itu tapi tak ia pedulikan. Ia berusaha memejamkan mata dan berusaha tidur. Akhirnya ketukan itu berhenti dengan sendirinya.


Entah berapa lama ia tertidur kembali, gadis itu tidak ingat, hanya saat ia terbangun kepalanya masih pusing. Ia ingin sholat karena terlihat sudah siang dan cahaya matahari telah masuk ke dalam kamarnya dari cela-cela gordennya.


Ia tidak kuat berdiri. Kesedihan telah membuat tubuhnya lemah. Akhirnya ia sholat dengan berbaring. Tak lama ia kembali tertidur. Gadis itu terbangun lagi ketika ia mendengar suara HP-nya berbunyi. Ia mencoba mengangkatnya.


"Sha, kamu gak ke kantor?" terdengar suara Bima. Rupanya sudah lewat jam makan siang.


"Aku kurang sehat Pak, aku minta libur."


"Oh begitu. Kamu tidak apa-apa Sha?"


"Hanya kepala pusing. Butuh tidur sepertinya."


"Ya sudah. Mungkin kamu butuh istirahat saja. Jangan lupa minum obat ya Sha?"


"Iya Pak." Shasa kemudian mematikan HP-nya.


Kembali terdengar ketukan di luar pintu. Shasa terpaksa turun dan mengambil jilbab instannya yang ia letakkan pada sandaran kursi dan memakainya. Ia mencoba melangkah keluar. Karena masih pusing, ia berpegangan pada apapun yang ditemuinya hingga ia mencapai pintu. Ia kemudian membuka pintu.


Sinar mentari yang hangat menerpa kulit wajah dan menyilaukan mata. Segera ia memicingkan matanya.


"Sha? Kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu tidak kerja?"


Hanya itu kalimat yang gadis itu ingat karena seketika tubuh itu ambruk. Untung saja Raven segera menangkapnya. "Sha!"


"Ayo kita bawa masuk ke dalam," ujar pria itu.


Raven segera mengangkat tubuh Shasa dan membaringkan di atas tempat tidur.


Pria itu kemudian memeriksanya. "Ayah gak tau harus bagaimana sebab dia pingsan. Sebaiknya kita bawa saja dia ke rumah sakit."


Shasa pun di bawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa ia siuman. Gadis itu menyadari ia tengah berada di ruang perawatan dengan infus di tangan. Ia memandang lemah pada Raven dan ayah pemuda itu. "Kenapa aku ada di sini?"

__ADS_1


"Kamu pingsan Sha," jawab Raven pelan.


Shasa berusaha duduk.


"Kamu mau apa Sha?" Raven berdiri dari duduknya dan berusaha membantu gadis itu.


"Maaf merepotkan Om." Shasa menganggukkan kepala pada ayah Raven. Tentu saja gadis itu ingat pada pria itu karena ia melihat pria itu bicara pada Raven kemarin malam lewat HP pemuda itu.


Pria itu gusar. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya meluruskan salah paham yang terjadi, tapi kejadian ini sudah lama sekali. Ia ingin mengubur cerita ini tapi sulit karena ini menyangkut anak kembar dan sulit untuk disembunyikan karena salah satunya masih hidup. Mau tak mau ia harus menceritakan yang sebenarnya.


"Tidak apa-apa. Namamu siapa?"


"Mmh? Shanum Om."


"Shanum Prawira ya?"


Shasa terkejut. Ia membulatkan matanya. "Bagaimana Om tau?"


"Ada hal yang Om ingin beritahukan kepadamu. Agar tidak ada kesalahan di antara kita kelak."


Shasa masih bingung mengartikan apa yang diucapkan ayah Raven tapi coba ia selami.


"Begini. Aku ingin kamu jangan emosi dulu. Dengarkan ceritanya sampai selesai, agar kamu mengerti." Pria itu menoleh pada Raven. "Kamu juga perlu tahu."


Raven sedikit tegang.


"Kira-kira 19 tahun yang lalu ada kecelakaan antar 2 mobil di Jakarta ini. Kecelakaan itu melibatkan aku, istriku dan juga kedua orang tuamu. Ibumu dan istriku sama-sama sedang hamil besar dan sedang menunggu saatnya melahirkan, tapi karena kecelakaan itu keduanya terpaksa mempercepat kelahirannya padahal keduanya juga terluka termasuk aku dan ayahmu. Sayangnya, bayi yang dilahirkan istriku meninggal ketika dilahirkan."


"Raven dengar dulu. Adikmu itu laki-laki, tapi orang tua Shanum, dia punya bayi kembar perempuan yang lahir dengan selamat."


Raven melirik tajam pada Shasa dengan mata menyipit membuat gadis itu bergidik.


"Saat itu aku sangat marah. Marah pada kedua orang tuamu Shanum, karena kecelakaan itu mereka semua selamat, sedangkan aku tidak. Saat itu kedua istri kami masih dalam keadaan pingsan sehabis melahirkan terutama istriku yang dari awal kecelakaan sudah pingsan.


Ayahmu dan aku kemudian bertemu untuk menyelesaikan masalah ini. Aku menyalahkan ayahmu karena dia aku kehilangan anakku dan karena itu ia memberikan satu bayinya padaku. Kita berdua berjanji untuk merahasiakan pada istri kami. Ia mengatakan pada istrinya bahwa kembaran anaknya meninggal dan aku memberikan bayi pada istriku seolah tidak terjadi apa-apa. Kita sepakat, aku akan merawat bayi itu baik-baik dan ayahmu sepakat untuk merawat kuburan anakku. Aku kemudian pindah ke Jogja agar istri tidak curiga bahwa bayinya kembar tapi kemudian tetap saja, akhirnya ia mengetahuinya.


Istriku tanpa sengaja pernah ke Jakarta dan melihatmu. Ia kemudian mempertanyakan itu padaku hingga akhirnya ia tes DNA. Walaupun tahu Raline bukan anaknya, tapi ia terlanjur sayang padanya. Padahal waktu itu aku berniat untuk mengembalikan Raline pada orang tuamu tapi istriku malah marah. Ia meminta cerai dan membawa Raline ke rumah orang tuanya di Palembang. Sejak itu aku tidak bisa bertemu Raline lagi, selamanya karena setelah itu mereka ikut dalam musibah kapal tenggelam."


Kemudian semua diam, tak ada yang bicara.


Tiba-tiba Raven mendekati Shasa dengan wajah seram penuh amarah. "Jadi orang tuamu yang membunuh adikku?"


"Eh, apa?" Shasa memundurkan wajahnya karena takut. Ia tak tahu harus menjawab apa. "A-a-aku tidak tahu."


"Kau harus tanggung jawab!" Raven mendekatkan wajahnya beberapa inchi di depan wajah gadis itu membuat gadis itu harus menelan salivanya.


"Raven, jangan begitu. Ia tidak bersalah dan Ayah sudah belajar berdamai dengan masa lalu. Kecelakaan itu juga tidak 100 persen kesalahan orang tuanya."


"Tapi tetap saja adikku meninggal karena kecelakaan itu!" Pemuda itu masih belum beranjak dari menatap gadis itu lekat.


"Raven," bujuk pria itu.


"Kamu harus tanggung jawab! Mengerti?"

__ADS_1


Shasa kembali menelan salivanya. Ia mengangguk karena melihat wajah garang pemuda itu.


Raven tersenyum dan mencolek hidung gadis itu. "Jadilah adikku menggantikan Raline."


"Mmh?" Shasa sadar dibohongi Raven hingga dia menjitak kepala pemuda itu.


"Aduh!" Namun Raven malah tertawa. Setelah itu ia tetap menagih janji. "Kamu sudah janji kan?"


"Gak mau, curang!" Shasa hendak mendorong Raven tapi pemuda itu menghindar sehingga ia mendorong tempat kosong. Hampir saja ia terjatuh dari tempat tidur tapi Raven berhasil menangkap tubuh gadis itu dari samping sehingga ia terselamatkan.


"Op! Kamu mau ke mana Dek? Mmh?" Pemuda itu merebahkan kembali tubuh Shasa ke tempat tidur.


Ayah Raven bisa melihat Raven sangat menyayangi Shasa seperti yang pemuda itu lakukan dulu pada kembaran Shasa, Raline. Sepertinya Raven sangat merindukan saat-saat bersama Raline dulu. Ia mencurahkan segenap perasaan yang sama kini pada Shasa.


"Kamu kayaknya kecapean Sha, harus istirahat dulu di sini," Raven memberitahu.


"Aku gak mau di sini, aku mau pulang. Besok aku harus kerja dan kursus di pagi hari."


"Mmh, kalau gitu kapan istirahatnya? Bisa-bisa kamu lama di sininya." Raven menakut-nakuti.


"Eh, jangan aku mau pulang ...." Wajah Shasa tampak merengut.


"Ya udah nurut makanya kalo Abang bilang."


"Aku kuat kok."


"Mmh. Kamu bisa makan? Kayaknya kamu belum makan ya dari pagi."


Shasa menunduk dan melirik Raven. "Bisa."


"Ya udah, Abang beliin ya? Awas lo kalo gak habis," ancam Raven.


"Iyaa." Shasa masih merengut kesal.


Ayah Raven hanya geleng-geleng kepala. Setelah Raven pergi, ayah Raven mendekati Shasa dan duduk di tepian tempat tidur menghadap gadis itu. "Aku ingin membantumu. Melihat Raven sangat senang padamu, bolehkah aku bantu kamu sekolah atau apapun itu?"


"Jangan Om, aku bisa berdiri sendiri kok Om. Terima kasih. Aku malah melihat kesungguhan Om membesarkan saudara kembar aku hingga dewasa, aku ucapkan terima kasih, walaupun aku tak pernah mengenalnya. Juga kesalahan orang tuaku, aku minta maaf atas nama mereka walaupun aku tidak tahu kejadiannya bagaimana."


"Tak bisakah Om melakukan hal yang sama seperti pada kembaranmu Raline. Om ingin menebus rasa bersalah ini karena kehilangan Raline dengan juga memanjakanmu."


"Maaf Om. Memikul kesalahan masa lalu ini saja sudah cukup membuatku merasa bersalah, apalagi sampai ditolong oleh Om. Aku makin merasa telah menumpuk banyak kesalahan yang tak bisa aku bayar."


"Jangan begitu. Aku sudah memaafkan masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu. Aku ingin menyudahi ini semua dan memulai yang baru."


"Maaf Om aku tidak bisa."


Kehendak seperti membentur dinding. Ayah Raven melihat Shasa dengan keinginan yang sangat. Ia resah. Bodoh! Harusnya aku mendapatkan Shanum bukan Raline. Shanum sangat mirip dengan Tiara dibanding Raline.


Yang tidak diketahui Shasa adalah, ibu Shanum, Tiara, adalah mantan pacar ayah Raven. Setelah putus dari pria itu, Tiara menikah dengan Bram. Ayah Raven ingin kembali pada Tiara tapi ditolaknya sehingga ayah Raven menikah dengan wanita lain.


Saat itu ia tanpa sengaja melihat Tiara yang semobil dengan suaminya Bram di jalan dan ayah Raven kembali cemburu. Terlintas ingin membunuh keduanya melihat kemesraan mereka di dalam mobil, ayah Raven menabrakkan mobilnya pada mobil mereka, padahal ia sedang membawa istrinya yang sedang hamil.


Anaknya sendiri jadi korban tapi ia tetap serakah. Ia meminta pertanggungjawaban Bram dengan meminta salah satu anak kembar mereka. Bram dengan hati yang lapang berusaha bertanggungjawab dengan memberikan salah satu anak kembarnya pada ayah Raven dan mengikuti peraturannya dengan bermain rahasia pada istri mereka, tapi segala sesuatunya tak berjalan mulus. Ibu Raven mengetahui itu bukan anaknya dan membawa lari Raline. Ia minta ayah Raven mengaku pada keluarga Shasa, tapi pria itu menolak. Jadilah ayah Raven kehilangan istri dan Raline pada kecelakaan kapal laut itu.

__ADS_1


__ADS_2