
Raven juga pura-pura tidak melihat Rika dan sibuk ngobrol dengan teman-temannya.
"Ayo dong Ven, cepet kasih tau gue, siapa cewek yang berhasil bikin lo alim begini. Beneran dah, gue salut ama tuh cewek yang bisa bikin lo fokus belajar dan gak pernah main cewek lagi. Lo umpetin di mana tuh cewek, asli gue penasaran!" ucap teman di sampingnya.
Raven hanya tertawa. "Bisa aja. Tau dari mana dia cewek?"
"Ya karena lu udah gak pernah lirik cewek lagi, sejak kenal dia kayaknya. Jadi pasti cewek kan, gak mungkin cowok?"
Rika mendengarnya. Ia juga penasaran dengan pacar baru Raven yang tidak diketahui banyak orang.
Raven hanya tersenyum menanggapi. Mereka kemudian memasuki ruang kantin yang cukup luas dan menduduki kursi favorit mereka yaitu di meja yang letaknya dekat pintu masuk. Masing-masing temannya bergantian membeli makanan sedang Raven memilih jadi yang terakhir.
Di saat menunggu giliran, pemuda itu termenung. Ia sebenarnya sedang resah. Betapa tidak, ia baru mengetahui Rika dan Shasa bersaudara. Ia mengetahuinya saat mengantar Shasa kemarin ke rumah Omnya. Ternyata rumah yang didatanginya bersama Shasa waktu itu adalah rumah Rika dan ia ingat benar karena ia pernah membuntuti Rika beberapa bulan yang lalu hingga ke rumah gadis itu. Ia bahkan sempat membawa Rika ke Night Club sebelum akhirnya membawa gadis itu ke kos-kosannya hingga terjadilah malam laknat itu.
Apalagi kakak Rika adalah pria yang hampir melecehkan Shasa di mobil. Hah, kenapa jadi rumit begini? Aku tidak bisa menyalahkan Kakak Rika sepenuhnya karena ia hanya melecehkan Shasa tapi aku, aku tidur dengan adiknya! Siapa yang lebih pantas dipersalahkan, karena aku dan Kakak Rika sepertinya sama saja, sama-sama bajingan!
"Ven, makan lu!" Seorang teman menepuk lengannya untuk segera berdiri.
Raven melakukannya dengan malas.
Sementara itu Rika yang berada di toilet, menelepon Kevin.
"Kenapa kau mematikan teleponku?!" Kevin berucap marah.
"Eh, a-aku tidak tahu kalau Bapak yang menelepon," jawab gadis itu gugup.
"Kan aku sudah mengirim pesan?!" ucap pria itu tak percaya.
Eh, maaf. Aku sedang di kantin Pak, aku tidak mendengar," sahut Rika lagi.
"Kantin? Kamu kerja di mana sekarang?" tanya Kevin cepat.
"Aku kuliah sekarang Pak."
"Oh, kalau begitu temui aku di Restoran Cha Seven sekarang."
Cha Seven? Seketika air liur Rika serasa ingin menetes. Tentu saja, karena itu adalah restoran favoritnya. Tanpa pikir panjang, ia menyanggupinya. "Cha Seven yang di mana ya Pak?"
-------------+++----------
"Sha, kau sudah kembali? Sudah makan siang?" sapa Bima melihat gadis itu kembali pada jam makan siang.
"Sudah Pak."
"Oh, aku baru mau makan siang."
"Cepat Pak, sebentar lagi habis lo Pak, waktunya." Shasa melihat jam di HP-nya.
"Iya, kamu habis bertemu klien?"
"Oh, Pak Abra. Dia ngajakin aku jadi model iklan lagi."
"Mmh ... kamunya?"
__ADS_1
"Tadinya aku menolak, tapi dia minta untuk terakhir kalinya."
Saat itu kantor sepi. Tidak ada orang di sana, hanya mereka berdua. Bima sedang bersandar pada meja Ardan. "Menurutku, kamu boleh-boleh saja ikut iklan itu malah bagiku itu tidak masalah. Kamu jadi punya mata pencaharian lain selain di kantor ini. Kalau kedepannya kamu berniat serius dengan pekerjaan ini pun aku tak akan menghalangi, walaupun kamu di kantor ini hanya bekerja sambilan karena pendapatan menjadi model iklan itu lumayan besar. Kamu punya kesempatan untuk jadi artis pula."
"Aku ingin jadi pekerjaan kantoran saja Pak, karena model iklan bukan bidangku."
Saat itu Haris hampir masuk ke dalam kantor jika saja tidak mendengar mereka berdua bicara. Ia menahan Vera yang sama-sama mau masuk ke dalam kantor dan menguping pembicaraan Shasa dan Bima.
"Kan tidak harus bidangnya untuk menjadi model iklan. Siapa saja bisa asal mau dan punya kesempatan. Tidak semua orang punya kesempatan Shasa, untuk menjadi model dan itu susah sedang kamu terbuka jalan untuk ke sana kenapa tidak diterima? Lagipula, bukankah kamu sedang menabung untuk bisa kuliah? Kuliah sambil jadi model iklan, bukankah itu kehidupan yang sempurna? Kamu bisa menjadwalkan kuliahmu dengan jadwal iklanmu."
Shasa termenung.
"Kenapa?"
"Kakak kok gak pernah cemburu kalau aku dekat dengan Pak Abra?" Pertanyaan itu akhirnya terlontar juga. Ia selalu berusaha menjaga perasaan Bima tapi selama berpacaran, pria itu tidak pernah marah padanya. Bahkan saat ia harus jadi model iklan dengan pria lain. Ia malah mendukung gadis itu untuk menjalankannya, padahal ada adegan-adegan mesra yang mesti ia lakukan dengan pria lain yang mungkin untuk orang lain, mereka cemburu, tapi Bima tidak.
"Aku percaya padamu. Kamu adalah pribadi dengan kualitas yang terpercaya."
Gadis itu tersenyum malu. "Jangan begitu Kak, memuji berlebihan. Aku hanya bertanya saja."
"Oh, aku tidak bohong padamu. Mungkin itulah yang dilihat klien padamu saat pertama kali bertemu. Orang yang bisa dipercaya. Tidak banyak orang yang punya aura seperti dirimu dan aku ikut tenggelam dalam aura itu."
Shasa tersipu-sipu. "Pak ini udah berlebihan memujinya," protesnya.
Bima menyentuh bahu Shasa dan tersenyum. "Makanya percaya diri saja. Kamu pasti bisa melakukannya dan apapun yang kamu pilih aku mendukungnya."
Mata gadis itu bercahaya karena senang.
"Tapi mereka gak cocok berpasangan, tapi kalau teman bisnis, mungkin," komentar Haris.
"Masa sih?"
"Habis, aku lihat Pak Bima gak pernah cemburu. Apa dia memendamnya, aku gak tahu tapi bagiku sebuah hubungan, berarti apabila ada pertengkaran di dalamnya. Jadi sama-sama mengeluarkan isi hati dan jadi makin dekat karena mereka tahu yang pasangan masing-masing inginkan. Ngak kayak mereka sekarang yang menurutku hubungannya sangat kaku dan seperti membentengi diri masing-masing agar tak terluka. Rasanya hubungan pacaran mereka aneh, seperti ada yang masing-masing pihak sembunyikan sehingga keluarnya seperti saling menghormati padahal mereka memakai topeng agar semuanya terlihat aman-aman saja."
"Menurut kamu, selain Shasa juga menyukai pria lain, apa Pak Bima juga?"
"Entahlah, aku gak tau tapi keduanya kayak gak jujur sama pasangan masing-masing. Aku rasa pernikahan mereka terlalu terburu-buru."
"Gimana kalo kita duluan yang nikah, mmh?" Vera gadis bertubuh gemuk itu menyentuh dengan manja dada pria itu.
Haris segera menangkap jari itu dan menurunkannya. "Ssst, jangan sampai orang tau kita pacaran, bisa dipecat kita. Nanti aja kalo udah kekumpul duit, kita nikah."
"Tapi Shasa dan Pak Bima bisa, kenapa kita tidak mengumumkannya saja Sayang?"
"Eh, Shasa pasti berhenti setelah nikah. Nah kamu?"
"Ya udah, tapi janji ya, kamu cepet nikahin aku," pinta Vera manja.
"Iya."
---------+++----------
Rika mengikuti pelayan itu hingga ke sebuah ruangan. Di sana duduk Kevin di depan sebuah meja yang sudah berisi beberapa macam makanan dari restoran itu. Sepertinya ia malas menunggu hingga ia memesankan hampir semua jenis makanan yang ada di restoran itu.
__ADS_1
"Mmh, silahkan duduk," Kevin memerintah untuk duduk di depannya. Ia cukup terkejut melihat tubuh gadis itu sedikit berisi.
Gadis itu menurut dengan patuh, walau wajahnya tampak tegang.
Kevin menunggu hingga pelayan itu pergi dan menutup pintu. "Aku sudah memegang kartumu jadi jangan coba-coba mengakaliku!" ancam Kevin.
"Ta-tapi aku tidak melakukannya demi Tuhan."
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan, aku tidak suka!" ucap pria itu dengan ketus. Ia melihat pada makanan di hadapannya. "Kamu ambil saja makanan yang kamu suka, kita makan bersama." Kevin mengambil bagiannya tapi ia melihat Rika seperti ragu-ragu. "Aku bukan penjahat. Ini jam makan siang karena itu aku mengajakmu makan bersama. Lagipula aku mengajakmu kerja sama."
"Mmh? Kerja sama?" Rika melongo.
"Tapi kerja sama ini tak bisa kau tolak. Nah, sekarang makanlah, kita tak bisa memikirkan kerja sama dalam keadaan lapar."
Kerja sama apa yang Pak Kevin inginkan dariku? Apa jangan-jangan Pak Kevin menyukaiku? Pikiran polos gadis itu membuatnya senang.
Ia meletakkan wasabi di sebuah mangkuk yang telah ia beri saos shoyu. Kemudian ia cocol sedikit sushi yang ia ambil ke dalam saos itu sebelum ia masukkan ke dalam mulutnya. Mmh, nikmat .... Ia bisa melupakan sedikit kesedihannya.
"Kau tau kan, sepupumu Shasa mau menikah?"
Kalimat Kevin membuat gadis itu berhenti mengunyah.
Setelah memotong steak yang ada di piringnya, Kevin menatap Rika. "Aku tidak suka pernikahan itu."
Rika terkejut. Lalu, apa hubungannya dengan diriku?
"Bagaimana denganmu?"
"Bukan urusanku." Rika melanjutkan mengunyah sushi di mulutnya dengan suara yang tidak jelas.
"Aku menyukai sepupumu, Shasa," aku Kevin dengan tersenyum, angker.
Rika terkejut. Mungkin tidak sepenuhnya karena ia bisa melihat pria itu sangat melindungi Shasa dulu, saat ia ketahuan tengah bertengkar dengan gadis itu.
"Shasa tahu aku mencintainya tapi ia tetap menikah dengan pria miskin itu. Bisakah kau gagalkan pernikahannya?"
Di satu sisi Rika iri karena ada pria lain yang kembali menyukai Shasa tapi di sisi lain, ia tak tahu bagaimana cara menggagalkan pernikahan sepupunya itu, ia dilema. "Aku tidak tahu caranya Pak."
"Kau tidak dengar kata-kataku di awal? AKU TIDAK TERIMA PENOLAKAN. Semoga kau mengerti apa maksudku." Kevin tersenyum dengan mata menyorot tajam pada Rika sambil mengunyah potongan daging sapi yang baru saja masuk ke dalam mulut lewat garpu di tangannya. Ia menikmatinya dengan senang.
Kembali kunyahan mulut Rika terhenti. Ia kemudian makan dengan pelan.
"Bagus, makanlah dengan perlahan karena aku pesan semua ini hanya untukmu." Kevin menyorot semua hidangan yang ada di depan mereka. "Dan ini." Pria itu meletakkan sebuah amplop tebal di hadapan Rika. "Kalau kau berhasil, kau bisa nikmati uang 50 juta ini tapi kalau tidak, kau akan kukirim ke penjara. Akan ada orang yang akan mengikuti gerak gerikmu jadi jangan pernah berpikir bisa kabur dariku." Kevin tersenyum licik.
Rika hanya bisa pasrah tanpa bicara. Pria itu juga memaksanya untuk makan siang bersamanya di sana sebelum pulang. Tentu saja Rika dengan nafsu makan yang lumayan bagus bisa menghabiskan hampir sebagian besar makanan Jepang yang terhidang, padahal ia baru saja makan sushi di kantin kampusnya. Hal ini membuat Kevin cukup takjub.
"Gaya makanmu seperti pegawaiku yang sedang hamil."
Komentar Kevin membuat Rika berhenti mengunyah. Karena kesal, gadis itu pamit pulang.
-----------+++-----------
"Ini Mbak." Wanita itu memberikan sebuah kotak kecil pada Rika dan gadis itu membayar sesuai dengan harganya. Kemudian ia keluar dari Apotek itu.
__ADS_1