Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Kelinciku


__ADS_3

Abra akhirnya setuju bergabung makan malam bersama orang tuanya di sebuah restoran Cina. Makanan dihidangkan di meja bundar dan semua orang duduk mengelilingi meja itu.


"Bagaimana Bra, persiapan ulang tahun TV Indo? Sudah berapa persen berjalan?"


"Baru sekitar empat puluh persennya saja. Ada beberapa artis penyanyi untuk panggung pesta ulang tahun, belum bisa memberikan konfirmasi jadi aku harus menyiapkan artis lain sebagai penggantinya karena bisa saja tiba-tiba mereka bilang tidak bisa di saat waktunya sudah mepet."


"Kalau persiapan lain?"


"Ayo dicoba makanannya. Ikan ini enak lho!"


Semua orang menoleh ke arah ibu yang sedang menawarkan makanan pada Shasa.


"Ini sudah Bu. Sudah aku ambil," jawab Shasa sopan. Ia mengarahkan pada piringnya.


"Kamu pacar Abra ya?"


Seketika Shasa terbatuk-batuk karena salah menelan saking kagetnya.


"Kata siapa dia pacar Abra? Dia itu teman kerjanya," terang ayah.


Abra mengambilkan Shasa minum dan gadis itu meminumnya.


"Apa? Tapi kemarin itu Abra panggil dia 'Sayang'." ibu memberi tahu.


Keduanya menoleh ke arah Abra sedang Diandra hanya mengikuti apa yang terjadi.


"Oh, waktu itu aku dan Shasa ditawari untuk jadi model iklan sebuah pasta gigi. Jadi aku dan dia melakukan pendekatan agar bisa terlihat seperti orang pacaran."


"Iklan?" ulang Ayah memastikan.


"Iya, Yah. Sebentar lagi juga tayang di TV karena proses syutingnya sudah selesai," terang Abra.


"Oh, begitu."


"Jadi kamu belum punya pacar?" Kembali ibu bertanya pada Shasa.


"Oh, dia sudah punya pacar," beritahu ayah.


"Oh, benarkah?" Ibu terlihat kecewa.


"Iya Bu." Kini Shasa sendiri yang menjawab. Ia sedikit bingung, kenapa kedua orang tua Abra meributkan dirinya. Ia hanya tamu, bukan siapa-siapa.


"Apa kamu sering ketemu Kevin?"


Mendengar obrolan kedua wanita itu terdengar biasa-biasa saja, ayah kembali mengobrol dengan Abra.


"Iya. Kak Kevin sering ke apartemen Kak Abra membawa sarapan."


"Membawa sarapan?" Ibu melirik Diandra yang sama-sama bingung.


Di rumah, Kevin biasanya sarapan pagi dengan mereka tapi belakangan ia mengaku sibuk dengan pekerjaan kantor jadi pagi-pagi sudah pergi dari rumah tanpa sarapan pagi dan kini Shasa memberitahu bahwa Kevin ke apartemen Abra dengan membawa sarapan? Ada apa dengannya? Walau Kevin dan Abra tidak pernah bertengkar tapi keduanya jarak bicara kecuali ada hal penting yang harus dibicarakan seperti menyangkut pekerjaan. Adakah sesuatu yang membuat keduanya jadi akrab?


"Iya."


"Kenapa kau ada di apartemen Abra? Kau tinggal dengannya?"


Kembali percakapan keduanya mengusik kedua pria itu.


"Aku harus pasang dan lepas perban setiap hari tapi harus ada yang bantu jadi Shasa ke rumahku setiap hari," ungkap Abra.


"Oh. Rumahnya dekat?" tanya ibu penasaran dan untuk pertama kalinya ia bicara baik-baik pada Abra. Ini cukup mencengangkan semua orang yang ada di sana selain Shasa, karena betapa ia berubah menjadi orang yang berbeda.


"Dia kebetulan kos dekat apartemenku karena setelah itu ia harus pergi kerja," ucap Abra lagi.


"Oh, tidak tinggal dengan orang tua?" Ibu melirik gadis itu.

__ADS_1


"Oh, orang tuanya sudah tiada." Kembali pria itu menjawabnya.


"Apa?" Sudah tidak punya orang tua? Yatim piatu?Oh ... Ibu terdiam sejenak kemudian mengangguk-angguk sambil meneruskan makannya. Yang lain juga ikut makan sambil mengobrol lagi. Ibu kembali melirik Shasa. "Kamu sering ngobrol dengan Kevin?"


"Oh, jarang."


"Apa karena dia galak?"


"Galak?" Shasa yang hampir menyuap makanannya terhenti. "Mmh, tidak juga. Dia sangat ramah."


Ramah katanya? Aneh! Kevin belum pernah ramah pada yang namanya perempuan selain aku dan adiknya Diandra, sedari kecil. Karena itu sulit baginya punya pacar. Apalagi Kevin adalah orang yang kaku. Susah menjodohkannya dengan siapapun. Aku sudah coba berkali-kali tapi ia selalu menolak sampai-sampai aku takut sesuatu yang tak beres terjadi padanya, tapi pada gadis ini ia berubah.


Aku sudah melihat gadis ini dari awal aku bertemu dengannya di rumah sakit waktu menjenguk Abra, Kevin bisa mengobrol dengan gadis ini tanpa hambatan. Sayang dia sudah punya pacar. Kevin pasti menyukainya sampai-sampai membawakan sarapan setiap hari hanya untuk bertemu dengannya. Pasti itu, bukan karena ingin bertemu Abra.


"Pacarmu kerja di mana?"


"Dia yang punya perusahaan iklan. Aku hanya pegawainya."


"Oh, betapa beruntungnya," komentar Ibu.


"Iya," jawab Shasa sambil tersenyum.


Gadis yang sederhana. Tak punya orang tua. Apa aku bisa mendapatkannya untuk Kevin?


Seusai makan malam, Abra dan Shasa pamit untuk pulang.


"Kenapa tidak sama-sama. Biar Ayah antar."


"Ayah kan baru datang. Pasti ada yang mau dibeli di sini. Kita berdua sudah dari siang di sini, jadi sudah lelah."


"Ya sudah. Hati-hati ya?" Ayah mengacak-acak poni Abra.


Pria itu tersenyum. Ayahnya masih saja terus menganggapnya anak kecil.


Abra dan Shasa naik taksi pulang ke apartemen Abra. Di sana Shasa beristirahat. Gadis itu merebahkan dirinya di sofa.


Saat Abra keluar dari kamarnya, ia terkejut Shasa tertidur di sofa. Barang belanjaannya masih tergeletak di lantai.


Pria itu pun kembali ke kamar dan keluar lagi membawa selimut. Ia menutup tubuh gadis itu dengan selimut tebal. Wajah gadis itu sangat manis saat tertidur. Ia tertarik hingga duduk di lantai demi bisa melihat wajah itu dari dekat. Kelinci kecilnya sedang tertidur dengan damai.


Disentuhnya wajah itu lembut dengan jemari tangannya. Di susuri alis, pelipis, rahang hingga dagu dengan telunjuknya. Kenapa Tuhan tidak membuatnya jatuh cinta padaku? Kenapa gadis ini harus jatuh cinta padanya? Aku cukup tampan, kenapa ia tidak bisa menyukaiku setelah kugoda berkali-kali? Apa kekuranganku? Hahh ... Abra menghela napas pelan.


Rahasia Allah hanya Ia yang tahu kenapa. Setelah aku dibuat tunduk oleh sesuatu yang bernama cinta pada salah satu mahluk indahnya, secara bersamaan aku juga dibuat patah hati sepatah-patahnya oleh karena rahasia-Nya.


Aku tidak tahu kenapa aku dibuat patah seperti ini. Apa aku kurang menghamba padamu ya Allah hingga kamu menerbitkan luka ini? Terima kasih ya Allah dengan patahku yang berkali-kali. Seharusnya itu yang harus aku katakan saat ini, tapi aku masih berat. Maafkan aku ya Allah. Maafkan jika jiwaku masih belum suci, masih belum berbenah diri hingga masih belum bisa melihat letak cahayamu saat ini.


Yang kutahu, gadis inilah yang memberi cahaya dalam hidupku saat aku kehilangan harapan, akan keluarga yang menyejukkan setelah bunda pergi dari sisiku. Apa ia harus pergi juga saat aku sudah nyaman dengannya? Apa ia hanya salah satu mahluk Tuhan yang singgah dalam hidupku? Tidak bisakah ia menetap?


Abra mengusap kening gadis itu, tapi tindakannya itu membuat gadis itu tersadar. Shasa mulai membuka matanya.


Pertama melihat gadis itu bingung, kenapa pria itu ada di hadapannya, tapi setelah mengedarkan pandangan, barulah ia sadar ia masih berada di apartemen Abra. "Oh, Kak." Ia buru-buru duduk dan mengucek-ngucek matanya.


Abra tersenyum. "Kamu kenapa gak pulang, ini udah malem lho Sha." Abra beranjak berdiri.


"Iya aku ketiduran, aduhh ...." Shasa masih mengumpulkan kesadarannya.


"Aku tadi kaget, kamu tidur di sofa. Aku pikir kamu sudah pulang dari tadi."


"Mmh." Shasa menatap Abra sedikit linglung.


"Mau kutemani pulang?"


"Ngak, bisa sendiri kok Kak. Kan Kakak mana bisa anterin aku pulang."


Abra tertawa ringan karena Shasa termakan candaannya. Ia kemudian duduk di sofa.

__ADS_1


"Tapi ... Kakak belum mandi ya?"


"Tapi kamu sudah lelah, sebaiknya pulang saja."


"Ngak papa Kakak, belum malam benar. Sini Kak, aku bukain bajunya. Nanti kalo gak dilepas sebentar perbannya, tangan Kakak bisa kram lagi lho pas lagi tidur." Shasa menakut-nakuti. Gadis itu bergerak mendekat.


Pria itu kembali menyungging senyum. Terserah kamu aja Sha, kalau kamu peduli padaku. Aku hanya kangen lihat cerewetnya kamu.


Shasa kemudian mulai membuka kancing baju pria itu.


--------------+++-----------


Shasa mengetuk pintu dan segera membukanya. "Iya Pak, Bapak cari saya?" Adalah sangat sulit punya bos yang ternyata pacar sendiri. Saat di kantor dan kehidupan sehari-hari, ia harus merubah-rubah panggilan.


"Iya Sha, silahkan duduk."


Setelah menutup pintu, gadis itu masuk dan menarik kursi di hadapan Bima. Ia kemudian duduk dan merapatkan kursi itu ke meja.


"Alhamdulillah, kamu sepertinya sedang disinari bintang terang." Bima semangat tersenyum. "Setelah iklanmu tadi pagi mulai tayang, klien yang tadi siang bertemu denganmu, ia setuju menggunakan jasa kita untuk produknya. Ia minta langsung dibuatkan kontak kerja samanya yang sekarang sedang dikerjakan Vera." Bima menghela napas lega. "Jadi sekarang kamu sudah bisa ikut khursus PR seperti yang aku janjikan."


"Alhamdulillah, terima kasih Pak." Shasa meletakkan kedua tangannya di atas meja.


Bima segera meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Tidak. Akulah yang berterima kasih padamu. Sejak kamu datang, banyak klien yang tertarik untuk memakai jasa kita berkat kamu."


"Ah, Bapak terlalu berlebihan. Saya hanya mengupayakan semampu saya Pak." Gadis itu tersipu-sipu.


"Dan kamu melakukannya dengan sangat baik."


Shasa tersenyum simpul. Kemudian mereka mendiskusikan tentang kursus yang akan diikuti gadis itu.


--------------+++------------


Kevin mendatangi salah satu studio di stasiun TV itu dan akhirnya ia bisa menemukan Abra. Ia melihat adiknya sedang bicara dengan 2 orang pria dengan serius.


"Bra, katanya orang dari iklan datang ya?" Kevin bergegas mendekat.


"Ini!" Abra menunjuk ke dua orang pria yang sedang diajaknya ngobrol. Haris dan satu orang lagi yang memegang kamera.


"Oh!" ujar Kevin terkejut. "Hanya berdua?" Ia sudah terenggah-enggah berlari hingga sampai ke studio itu demi mendengar orang dari pihak iklan datang, tapi ia tidak menemukan Shasa.


"Maksudmu Shasa?" Abra sudah tahu intinya. "Ini yang datang hanya orang bagian pembuatan videonya saja. Shasa sedang ada tugas lain dari kantornya."


"Oh." Kevin kecewa. Ia berhenti sebentar untuk mengatur napasnya yang masih terengah-engah.


"Kalau butuh, kenapa tidak telepon saja?" usul Abra.


"Oh, ok." Benar juga. Kenapa aku ngak telepon dia, kan aku tahu nomornya. Bodoh! Pria itu kembali tersenyum. Ia melangkah ke luar studio sambil menyambung teleponnya. " Halo Sha, kamu di mana?"


"Oh, ini Kak Kevin ya?" Gadis itu mengenali suara Kevin. "Di kantor Kak, ada apa?"


"Oh, kamu sibuk gak?"


"Kalau di kantor ada saja pekerjaan Kak. Ada apa ya Kak?"


"Kamu bisa keluar makan siang denganku? Ada yang aku ingin bicarakan."


"Mengenai apa Kak?" Shasa menoleh ke arah Bima.


"Kita bicara dulu baru kita putuskan."


"Mmh?"


____________________________________________


Lagi bete disuruh nunggu malah jadi satu bab? Ya udah langsung. Author kadang suka bingung, lagi sibuk malah bisa nulis banyak. Hahaha. Salam, ingflora 💋

__ADS_1


__ADS_2