
Seperti janji Abra di telepon, Shasa sudah siap menunggunya di depan kamar kos-kosan seraya mengobrol dengan Raven. Gadis itu berdiri menyambut Abra, ketika mobil pria itu datang. Ia segera naik ke dalam mobil.
"Assalamu'alaikum," pamit Abra.
"Waalaikumsalam." ujar Raven.
Mobil pun kembali ke jalan. Abra memperhatikan bungkusan yang dibawa gadis itu. "Kamu bawa apa Yang?"
"Oh, ini. Buat ibumu, sekedar snack ringan buat cemilan selagi menunggu kak Kevin."
Abra menatap Shasa, haru. "Terima kasih, Sayang."
"Ngak papa. Sekedar makanan ringan takut ia lupa makan."
"Ibu suka sekali ngemil padahal makannya gak banyak. Mungkin itu yang menyebabkan ia sedikit gemuk." Abra mengingat kebiasaan ibu.
"Dan kurang olahraga."
"Nah ... mungkin."
"Kamu ngeledekin ibu kamu sendiri lho!" ingat Shasa.
Abra tertawa.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah sakit. Ibu sedang duduk sendirian menunggui Kevin ketika mereka datang. Ia terkejut Abra dan Shasa datang menengok Kevin. Terlihat rasa haru dari kedua matanya yang hampir berlinang. Di dalam keadaannya yang sedang sulit itu, keduanya mau datang menengok.
"Ibu sudah makan siang?" tanya Shasa.
Ibu menggeleng dan langsung memeluk gadis itu saat gadis itu datang mendekat. Ia menangis di pelukan Shasa.
"Ibu ...." Shasa terkejut dan melirik ke arah Abra yang hanya bisa diam terpaku.
"Ibu, Ibu makan ya?"
Wanita bertubuh gempal itu mengangguk. Abra kemudian pergi ke kantin membeli makanan untuk ibu.
-----------+++----------
"Kamu mau ke mana, Ka?"
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Rika yang sedang mengendap-endap ke pintu depan. Ia segera membalikkan tubuhnya dan mendapati Papa sedang mendatanginya dari arah ruang tengah.
"Mmh ... mau main Pa." Wajah Rika terlihat kaku saat mengucapkannya.
"Mmh." Adam menatap wajah anaknya.
"He he he he, bosen di rumah Pa." Tertawa palsunya tercetak jelas di wajah paniknya.
Papa mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang merah dan menyerahkannya pada Rika. "Kelas 1 ruang nomor 15. Belikan saja parcel buah untuknya."
"A-aku—"
"Papa tidak ingin kamu berbohong jadi tidak usah membuat alasan. Kamu tahu rumah sakitnya kan?"
Rika mengangguk.
"Ya sudah. Hati-hati."
Dengan ragu-ragu Rika keluar dari pintu utama. ia pamit pada Adam. Taksi membawanya sampai ke rumah sakit. Setelah belanja di toko buah di dekat rumah sakit, ia mencari nomor ruangannya dan ketika bertemu ia malah tak berani masuk. Alasan apa yang harus dikatakannya sebab ia tiba-tiba saja ingin menjenguk. Ia mengikuti suara hati yang begitu gelisah mendengar pria itu kecelakaan dan masuk rumah sakit. Bagaimana keadaannya?
Ia tak sengaja mendengar obrolan Papa pada Mama tentang keadaan pria itu yang terdengar buruk hingga ia berniat menjenguk.
Pintu dibukanya pelan, tapi sia-sia. Pria itu sedang menatap ke arah pintu. Tentu saja ia terkejut.
Rika langsung salah tingkah. "Eh ... aku, eh ...."
__ADS_1
"Masuk saja Ka," sahut Bima pada gadis berambut panjang itu.
Rika tak bisa mengelak. Ia masuk dengan menunduk. Diletakkannya keranjang buah di atas meja nakas, pelan. "Papa titip ini."
"Mmh."
Mereka terdiam sesaat.
"Eh ... aku lupa menawarkanmu duduk. Duduklah di kursi itu." Bima menunjuk kursi di samping tempat tidurnya.
Rika menarik kursi itu lebih dekat ke Bima dan duduk di sana. Ia memindai tubuh pria itu yang terlihat tidak ada masalah.
Pria itu sedang dalam posisi duduk bersandar di atas tempat tidur.
"Kak Bima sehat?" Untuk pertama kalinya Rika memanggil pria itu "Kak". Sesuatu yang sulit keluar dari mulutnya yang angkuh.
" Eh, alhamdulillah." Cukup terkejut Bima, gadis itu berbicara sopan. "Bagaimana denganmu?"
"Mmh? Baik."
Kembali mereka terdiam dan terhanyut dalam sepi.
"Kamu agak gemukan sekarang ya?" Bima terlanjur salah bicara. Dilihatnya Rika sedikit cemberut padahal ia hanya ingin sekedar mencari obrolan tapi sulit. Aduhh ... kenapa aku ngomong begitu. Sial, salah lagi. "Aku tak bermaksud begitu. Aku hanya ...."
Dilihatnya mata Rika kini malah membulat sempurna. Apa yang akan dikatakan pria itu kemudian tetap akan jadi masalah dan Bima faham benar akan hal itu.
"A-aku tak bermaksud meledekmu. Sungguh!A-aku tahu kau hamil tapi tak bermaksud ...."
Kembali Bima salah bicara sehingga kini mata Rika melotot ke arahnya. "Rika, Rika ... maaf. Aku tak bermaksud ...."
Namun terlambat. Rika yang kesal, segera berdiri dan meninggalkan Bima.
"Rika, Rika ... maafkan aku. Rika, aku ini lumpuh. Aku tak bisa mengejarmu."
Seketika langkah gadis itu terhenti karena terkejut mendengar pengakuan Bima. Dia lumpuh? Jadi benar yang aku dengar waktu itu bahwa Kak Bima akan lumpuh. Aku pikir Papa mengarang cerita agar aku iba dengan Bima dan mendatanginya, tapi ... Rika membalikkan tubuhnya menatap laki-laki itu yang kini sedang menunduk.
"Kamu sudah kembali."
"Apa?"
"Bima yang lembut hatinya itu sudah kembali."
Bima menatap nanar Rika. Takdir apa yang sekarang bermain di belakang mereka? Seketika saja amarahnya runtuh mendengar ucapan Rika barusan. Hatinya seperti mendapat pencerahan baru. Ada perasaan yang kini tersisa di sana yang kini menjadi pertanyaan. Akankah ia berani mencobanya? "Rika ...."
"Ya?"
"Tolong buka laci nakas itu untukku."
Rika membuka laci nakas yang ditunjuk Bima dan ia hanya melihat sebuah kotak kecil berwarna hitam di dalam laci itu. "Kakak butuh ini?" Ia menyerahkan kotak itu pada pria itu.
"Iya." Bima menatap Rika. "Kalau ... kamu tidak ingin menikah dengan ayah bayimu, maukah kau menikah denganku?" Pria itu membuka kotak cincin itu dan terlihat sepasang cincin emas yang berkilau.
Rika menutup mulutnya tak percaya. Bima melamarnya. Kedua netranya berkaca-kaca dan tiba-tiba ia kehilangan kata-kata untuk bicara.
"Apa itu artinya iya?" Bima mencari tahu.
Rika mengangguk dan langsung memeluknya. Bima tak menyangka gadis itu langsung menyetujuinya sedang Rika, ia merindukan pria itu sejak lama tapi ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Ia mulai menyadari ia menyukai Bima. Ia membutuhkan pria itu saat hidupnya mulai runtuh dan di saat-saat yang lainnya, tapi nasi sudah menjadi bubur. Karena ketamakannya Bima malah sudah merencanakan pernikahan dengan Shasa di saat ia menyesal telah meninggalkannya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Walau Raven adalah ayah bayinya, Rika tak mau mengemis. Mengetahui pria itu tak menyukainya ia memilih membesarkannya sendiri. Ia bertekad mencari orang yang bisa menerima dirinya dan bayinya.
Rika melepas pelukan. "Tapi kau masih mencintai Shasa?" tanya gadis itu ragu-ragu.
"Sebenarnya aneh juga. Shasa adalah wanita yang sempurna." Bima kini menatap kedua mata Rika yang masih berkaca-kaca. Gadis itu masih tetap cantik walau berat badannya terus bertambah. Masih tetap membuat dirinya terpesona seperti pertama kali ia menemukan gadis itu. "Tapi yang kucinta hanya kamu."
__ADS_1
"Tapi aku tidak sesempurna Shasa yang baik pada semua orang dan aku ... mengandung anak dari pria lain." Rika kembali menangis.
Bima memeluknya. "Jangan takut. Aku mencintaimu apa adanya. Dengan atau tanpa bayi itu aku akan selalu menyayangimu. Aku akan mencintai anakmu juga dengan sepenuh hati karena cinta tak butuh syarat. Aku mencintaimu karena kamu adalah kamu." Pria itu mendekapnya erat.
Gadis itu menangis dalam pelukan pria itu. Pelukan yang sangat ia rindukan.
Beberapa saat kemudian Rika telah berhenti dari tangisnya dengan wajah bahagia. Ia bersandar pada Bima sambil melihat cincin yang telah melingkar di jari manisnya. Entah kenapa cincin itu pas sesuai dengan ukuran jarinya sehingga gadis itu tak mau melepaskan ketika Bima memintanya untuk dimasukkan kembali ke dalam kotak. Ia bersandar manja pada pria itu sambil mengagumi cincin itu.
"Kita kan belum bilang Papamu," terang Bima.
"Kan orang-orang juga ada yang tunangan dulu sebelum bilang ke orang tua."
Bima tertawa. "Alangkah baiknya kalau dia tahu lebih dulu. Mungkin saja kita cepat menikah," canda Bima.
"Iya?" Rika yang lugu malah menganggap serius ucapan Bima. Ia menegakkan punggungnya menatap pria itu.
"Ya enggak lah. Keadaanku kan lumpuh begini. Apa ayahmu mau menerimaku?"
Rika terdiam.
Tiba-tiba pintu terbuka. "Bima ...." Beberapa orang masuk dan melihat ke arah keduanya dengan melongo.
"Waduh, keluargaku ...." Bima panik.
"Apa?" Rika segera merapikan duduknya.
------------+++---------
Abra sudah lelah menunggu. Sedari tadi ibu terus saja mengobrol dengan Shasa tanpa jeda seperti sudah lama tidak bertemu. Ada saja yang diobrolkannya dari keluarga, pakaian, bahkan tentang Kevin. Makan pun juga yang tadinya makan siang yang telat, telah berganti dengan menghabiskan snack dari Shasa yang tengah dikunyahnya, dan semua ditanggapi ramah oleh Shasa.Ya mungkin itu. Mungkin karena Shasa juga ramah padanya.
Sebenarnya, ibu berharap Shasa menjadi menantunya dengan pernikahannya dengan Kevin tapi apa daya, gadis itu malah dekat dengan Abra.
"Eh, maaf Bu."
"Ya?" Ibu melihat Abra telah berdiri di sampingnya.
"Maaf tapi aku sudah janjian mau pergi dengan Shasa Bu," ucap Abra hati-hati.
"Oh ... oh begitu. Maaf ya Ibu jadi keterusan. Maaf ya?"
"Tidak apa-apa Bu," sahut Shasa seraya tersenyum.
Abra hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Tak berapa lama mereka akhirnya masuk ke dalam mobil Abra.
"Kenapa kamu lama sekali sih Sayang?"
"Kan itu ibumu, walaupun itu ibu tiri."
"Iya, tapi jangan terlalu membuatnya nyaman, kita jadi gak punya waktu berdua."
Shasa tersenyum melirik Abra. "Kamu cemburu ya?"
"Bukan cemburu tapi lebih ke membuang-buang waktu yang gak perlu. Kamu kan janjian sama aku, kalau dipotong ngobrol di tempat lain kan sama saja buang-buang waktu. Padahal waktu buat mereka sedikit dan waktu buatku seharusnya yang banyak bukan sebaliknya." Abra terlihat kesal. Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Iya Sayang, iya," ucap Shasa meniru gaya pria itu bicara.
Abra menoleh dan mencubit lembut pipi gadis itu sambil tersenyum. Ia pun menjalankan mobilnya.
Ternyata Abra membawa Shasa jalan-jalan ke Mal seraya sesekali bergandeng tangan.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini Sayang?" ucap Shasa yang mulai membiasakan diri mengucap 'Sayang'.
"Entah kenapa pekerjaanku tidak lancar 2 hari ini menyebabkan pekerjaan yang sudah banyak ini makin menumpuk. Lelah. Aku ingin berjalan-jalan saja di dalam Mal ini tanpa melakukan apa-apa."
__ADS_1
Shasa memeluk tangan Abra tanpa bicara.