
"Apa putri-putriannya sudah selesai?"
"Apa? Eh, iya belum. Maaf Tuan Putri." Abra menyatukan tangannya di depan wajah. "Tuan Putri mau apa lagi?"
Shasa mengulum senyum. "Apa ya?" Ia meletakkan jari telunjuknya di depan dagu. "Oh, aku mau jalan-jalan di taman kota," jawabnya dengan senyum nakalnya lagi. Abra tidak memperhatikan dan langsung mengiyakan.
"Padahal kemarin Tuan Putri sudah ditawari, tapi tidak mau."
"Sekarang aku ingin ke sana."
Mereka kemudian naik mobil Abra ke taman kota. Lima belas menit kemudian mereka sampai. Udara sore itu terasa sejuk dan tidak terlalu terik, karena itu banyak juga yang datang bersama keluarga.
Baru masuk beberapa langkah memasuki taman, Shasa berhenti.
"Mmh, kamu kenapa Tuan Putri?" Abra menautkan alisnya.
"Aku capek, pengen digendong."
"Apa?"
"Gendong punggung ...," jawab gadis itu manja dengan mulut yang mengerucut.
"Ya, sudah." Abra berbalik dan berjongkok.
Shasa menaikinya sambil melingkarkan lengan di leher pria itu. Senyumnya mengembang. "Katanya suka olahraga."
"Iya, iya. Baik Tuan Putri." Abra berdiri dan melangkah mengitari taman. Kamu ada-ada saja seperti orang ngidam. Oh, aku tak sabar kalau kamu jadi Nyonya Abra dan kamu ngidam. Pasti semua akan kuturuti. Senyum terukir di bibir pria itu.
Shasa sangat senang bisa menjahili CEO TV Indo itu sebab pria itu sering menyusahkan dan membuat khawatir dirinya. Hari ini ia merasa menjadi ratu sehari. "Aku mau lewat situ," gadis itu menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Iya, iya." Abra mengikuti keinginan gadis itu.
"Lari dong ah! Lama jalannya kayak keong!" protes Shasa di tengah keramaian.
"Eh, iya, iya." Dengan susah payah Abra berlari mengikuti keinginan gadis itu dan itu tidaklah sia-sia karena gadis itu memeluk leher pria itu erat. Terpaan angin pada keduanya saat Abra berlari membuat gadis itu senang.
"Yeeee ...!" gadis itu berteriak dengan lantang.
Sedikit bising di telinga tapi Abra membiarkan. Ia ingin gadisnya segera pulih dari keterpurukan dan segera bangkit dan menyongsong masa depan. Kalau bisa, bersamanya.
Hingga Abra kemudian berhenti dan kembali berjongkok karena kelelahan. Ia mengatur napas pelan-pelan.
Shasa turun dan berdiri menghadap Abra. "Cari minum yuk!"
"Sebentar ya Tuan Putri, hamba mengatur napas dulu." Abra menyentuh dadanya dengan napas yang tersengal-sengal.
Beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka karena yang pria menggendong yang wanita dan aksinya menjadi sorotan orang-orang di sana. Juga saat Abra menyebut Shasa 'Tuan Putri' dan memanggil dirinya 'hamba'.
__ADS_1
"Ya udah. Aku beliin ya? Tunggu sebentar." Shasa berlari meninggalkan pria itu. Beberapa menit kemudian ia kembali di antara orang-orang yang sedang berjalan kaki.
Abra telah menepi dan duduk di pinggir jalan.
"Ini." Gadis itu memberikan botol air mineral pada Abra.
Pria itu menyambutnya. "Hah ...." Ia bernapas lega setelah meneguk banyak minuman dingin itu. "Sekarang ke mana lagi Tuan Putri?"
Shasa duduk di samping Abra di antara rerumputan. "Aku ingin melihat senja berakhir," ucap gadis itu sambil menatap langit dengan penuh kesedihan.
Abra tak mampu mengucapkan kata-kata yang bisa menenangkannya selain membiarkan gadis itu melewati masa-masa sulitnya agar ia bisa melangkah ke masa depan.
Tidak mudah menghilangkan segala kenangan Shasa bersama Bima karena pria itu sangat baik dan banyak menolongnya untuk jadi dirinya yang sekarang tapi ia harus menerima kenyataan bahwa mereka tak ditakdirkan bersama. Dari awal memang pria itu bukan untuknya. Hatinya, perasaannya, tercurahkan untuk wanita lain.
Ia pun juga sadar Bima tak sepenuhnya salah. Ia telah diam-diam menghianati kepercayaan Bima dengan jatuh cinta dengan pria lain yaitu Abra. Pria tampan yang sering menggodanya tapi tak tahu hatinya ke mana. Yang ia tahu hatinya juga sangat baik padanya. Ia hanya tidak ingin bermimpi dan ingin menjalani hari dengan sadar diri dan apa adanya. Tidak menyimpan kebohongan dengan siapapun hingga membuat hatinya lega. Siapapun.
"Kepada senja yang bersinar kemerahan
Kutitip kerinduan pada jejak yang tersapu hujan
Pada angin yang bertiup kelelahan
Pada awan yang mendekap mentari."
Ucapan gadis itu mengejutkan Abra. Puisi itu pria itu ingat ada di dalam buku note yang ia temukannya di pesta topeng tempat pertama kali mereka bertemu. Shasa mengingatnya dengan baik. Berarti benar itu adalah puisi buatan gadis itu. Selama ini Abra tak berani mengungkitnya karena takut gadis itu sensitif mengenai puisi itu hingga berani menyangkal kalau ialah pembuatnya.
"Aku yang buat puisi itu untuk kedua orang tuaku." Gadis itu beralih menatap Abra. "Maaf ya, aku berbohong soal puisi itu, tapi itu permintaan sepupuku Rika. Sekarang hutangku sudah lunas. Tidak apa-apa kalau kamu marah dan tidak mau kenal aku lagi. Aku akan cari kerja di tempat lain saja." Shasa berdiri lalu menepuk-nepuk celana panjangnya dari kotoran tanah dan rumput lalu berniat meninggalkan pria itu tapi dengan cepat Abra meraih tangan gadis itu.
"Apa?"
Abra berjalan setengah berlari membuat gadis itu harus berlari-lari mengejar pria dengan langkah lebar itu karena kaki pria itu yang panjang. Gadis itu terpaksa menerima hukumannya dengan ikhlas dan tanpa protes. Ia masih diam saat Abra membawanya masuk ke dalam mobil, bahkan menunduk dalam perjalanan. Abra sempat iba tapi kemudian menguatkan hati. Pria itu membawanya ke apartemen.
Ia meminta Shasa duduk di kursi sofa. "Awas jangan ke mana-mana, aku masih marah. Aku mandi dulu." Pria itu masuk ke kamarnya. Selang beberapa waktu, ia kembali keluar dengan membawa laptopnya. Pria itu sudah selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang sedikit basah.
Shasa paling suka momen itu, saat melihat wajah tampan itu tampak segar dengan rambut sedikit basah di bagian bawahnya membuat pria itu tampak seksi dan jantungnya berdebar setiap kali melihatnya, seperti saat ini.
"Aku ingin kamu masuk dan bekerja di kantorku. Aku tidak mau kau bekerja di tempat lain." Wajah Abra terlihat serius. "Segera buat surat pengunduran diri dan keluar dari perusahaan itu agar kamu bisa aku masukkan besok bekerja di perusahaan TVku."
"Be-besok?"
"Iya, sebagai formalitas dulu. Setelah terdaftar, kamu kembali ikut aku cuti untuk menyelesaikan syuting iklan. Baru setelah itu kita kembali bekerja."
Shasa masih kebingungan. Ia merasa aneh kenapa Abra tiba-tiba malah menginginkannya bekerja di kantornya? Apa itu bentuk hukuman yang diinginkan pria itu?
Abra sebenarnya sedikit ketar-ketir mendengar gadis itu ingin mencari pekerjaan di tempat lain. Ia takut gadis itu kembali jauh dari jangkauan dan jatuh hati pada pria lain. Ia berusaha meminimalisir kemungkinan itu.
Padahal Shasa ingin kerja di tempat lain karena ia merasa tidak punya kualitas yang cukup untuk masuk ke perusahaan besar milik keluarga Abra. Apalagi ada Kevin di sana. "Mmh ... aku tak ingin pakai koneksi karena kenal Kakak."
__ADS_1
"Siapa bilang pakai koneksi? Kamu harus kerja di sana, suka atau tidak suka karena itu adalah salah satu bentuk hukuman dariku untukmu. Nah, sekarang aku buatkan Surat Pengunduran Dirimu dulu ya?" Abra duduk di samping Shasa dan mulai membuka laptopnya. Ia mulai mengetik.
"Tapi ...."
"Apa?" Abra berhenti mengetik dan menoleh pada gadis itu.
"Eh ...."
"Kamu ingin balik dengannya?" ucap Abra sengit. Ia mulai marah.
"Aku belum mendengar sanggahannya." Gadis itu tertunduk.
"Jangan ...." Abra harus menahan diri. Ini bukan tentangnya tapi tentang hubungan Shasa dengan pacarnya dan ia tak bisa berbuat apa-apa kalau mereka nantinya kembali bersama. "Shasa ...," ucapnya lemas.
Gadis itu beranjak berdiri tapi pria itu menahan tangannya.
"Eh ... aku buatkan saja Surat Pengunduran Dirimu dulu. Terserah kamu mau pakai atau tidak, jadi tunggu aku menyelesaikannya untukmu."
Gadis itu kembali duduk dan menunggu. Abra sangat gusar segusar-gusarnya karena saat itu ia ingin berteriak marah dan menahan gadis itu agar tak menemui pria itu, tapi semua itu hanya ada di dalam kepala. Gadis itu harus menuntaskan lagi hubungannya dengan pria itu dan Abra harus ikhlas menerima hasilnya kelak kalau nanti tak sejalan dengan keinginannya karena biar bagaimanapun Shasa adalah pacar Bima. Hanya merekalah yang bisa memutuskan berakhir tidaknya hubungan mereka tanpa paksaan pihak lain.
Abra menyelesaikan Surat itu dan mencetaknya di kertas lewat mesin printer yang berada di kamarnya. Ia memberikannya pada gadis itu dengan melipat rapi kertas itu. "Beritahu aku hasilnya," ucapnya saat sempat menahan kertas di tangannya.
Gadis itu mengangguk. Abra melepas kertas itu dengan berat hati. Ia memperhatikan punggung gadis itu yang kemudian hilang dibalik pintu. Sedikit sesak, ada genangan di sudut mata padahal ia baru saja menerima berita gembira dengan putusnya gadis itu dengan pacarnya tapi kini harapan berbalik duka. Begitulah, mengharapkan pacar orang lain yang mungkin tak bisa ia raih. Ia tak sengaja berdoa buruk agar Shasa tak kembali pada Bima, tapi ... mungkinkah?
Shasa segera pulang ke kos-kosan dan terperanjat. Bima menunggu di depan kamarnya. Pria itu berdiri saat melihat Shasa datang. Pembelaan apa yang akan diberikan pria itu, kini Shasa siap mendengarkan.
"Eh, Sha ... Bisa kita bicara?" ucap pria itu hati-hati.
Gadis itu mengangguk. Tak berapa jauh ada Raven di depan kamarnya juga memperhatikan mereka berdua. Ia sudah melihat pria itu sejak kedatangannya belum lama ini. Melihat ada Raven, Bima mengajak Shasa pergi ke tempat lain. "Bisa kita bicara berdua di restoran mungkin?"
"Tunggu!" Shasa segera masuk ke dalam kamarnya dan keluar lagi dengan membawa kotak cincin. Ia memberikannya pada Bima. "Ini!"
"Sha ...," ucap pria itu sambil terbelalak.
"Aku sudah berpikir ulang tapi kemudian aku berniat untuk menarik diri."
"Sha ...." Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau salah paham."
"Aku tidak salah paham, atau ... Kakak yang tidak mengerti? Aku berada di antara kalian berdua sejak awal. Iya kan?"
"Tidak. Aku serius tentang kamu, tentang pernikahan kita."
Shasa menggeleng. "Kapan Kakak sadar Kakak marah sama Kak Rika makanya Kakak ingin membuktikan kalau Kakak bisa hidup tanpa dia, iya kan?" Air mata gadis itu mulai berlinang.
"Sha, itu tidak benar," lirih Bima. Ia tak tega melihat Shasa menangis. Baru saja ia akan menyentuhnya, gadis itu segera menepisnya.
"Lalu kenapa Kakak diam saja ketika Kak Rika mencium Kakak?"
__ADS_1
"Itu ... itu ...." Bima tak bisa menjawabnya.
"Itu penghianatan!" Raven berdiri di antara keduanya.