Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Berani


__ADS_3

Rika pulang ke rumah. Ia segera masuk ke kamar. Dengan cepat ia mengeluarkan kotak itu dari dalam tas. Dibacanya cara pakai benda itu di sisi yang satunya setelah itu ia mengeluarkan isinya. Ia membawa benda itu ke dalam kamar mandi. Tidak butuh waktu lama, ia mendapatkan hasilnya. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan tangan gemetar. Dilihatnya lagi hasil yang berada di tangannya. Benda itu memperlihatkan dua garis di tengah.


Gadis itu menjatuhkan dirinya lemas duduk di tepian tempat tidur. Angan serasa berlarian tak tentu rimbanya. Melayang di langit dan tak tahu harus mendarat di mana. Serasa ia kehilangan tempat di manapun. Ia tidak punya tempat kembali, tempat bersandar dan tempat berteduh.


Bagaimana kalau papa dan mama tahu soal ini? Aku kan bukan anak mereka dan sekarang aku malah bikin masalah besar. Apa mereka masih peduli padaku, setelah mereka tahu apa yang telah aku lakukan? Aku udah janji jadi anak baik-baik tapi apa? Apa kini? Aku telah mencoreng nama baik mereka dan aku ... apa mereka akan mengembalikanku pada kedua orang tuaku yang miskin itu? Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau! Jadi ... aku harus bagaimana?


Tak terasa air mata menetes di pipi. Pilu. Kenapa hidupnya makin tak tentu arah. Salah apa aku hingga hidupku harus hancur begini? Aku adalah gadis yang ceria dan ratu yang tangguh yang telah dihancurkan oleh nasib. Kenapa nasibku sejelek ini? Kenapa tidak Shasa saja gadis berwajah malaikat dan berhati iblis itu yang menerima semua kemalangan ini? Kenapa harus aku? Aku gadis baik-baik yang dianugerahi wajah cantik, kenapa nasibnya begitu buruk? Kenapa Tuhan tidak menciptakan aku sempurna?


Ia menghempaskan diri terbaring di atas tempat tidur dan mengatur napas yang mulai sesak. Sesak karena himpitan kemalangan yang bertubi-tubi menghampirinya. Kalau gue gak bisa bertahan apa gue ngilang aja kali ya?


-----------+++-----------


'Mereka mengajak bertemu.'


'Kapan?'


'Sekarang. Aku jemput ya?'


'Ya udah.'


'Aku udah di depan kantor kamu.'


Shasa mengenyit dahi. Antara kesal dan senang, ia memasukkan HP-nya ke dalam tas dan melangkah keluar kantor.


Benar saja, sudah ada mobil Abra terparkir tak jauh dari tempat ia berdiri. Pria itu melambaikan tangan dengan senyum mengembang.


Shasa melangkah sedikit cepat mendatanginya dan membuka pintu mobil. "Kenapa gak bilang dari tadi sih, kalau sudah datang." Ia cemberut.


"Lho, aku baru datang. Tadi kan aku kirim pesan."


"Iya, tapi kenapa mendadak begini."


"Bukan mendadak, tapi kliennya yang mendesak untuk bertemu. Aku kebetulan punya waktu jadi aku 'iya'in aja." Abra menyalahkan mesin mobilnya. Tak lama, mobil pun bergerak ke jalan.


Abra begitu senang, hidupnya bergairah lagi. Tak pernah terpikirkan, hanya sekali bertemu Shasa, rasanya dunianya kembali indah. Seperti ungkapan, kemarau setahun dihapus oleh hujan sehari itu sangat cocok untuknya saat ini. Hari-harinya dipenuhi oleh kehausan akan sosok gadis itu yang ia niatkan untuk dilupakan tapi berkali-kali pula ia gagal.


Pria itu sesekali mengintip gadis itu lewat cermin kecil di atasnya. Senyumnya terlalu manis untuk dilupakan. Mmh ... tidak, tidak. Mungkin karena wajahnya juga manis. Mmh, bukan juga. Apa ya?


Shasa melihat wajah Abra yang tersenyum-senyum sendiri. "Kenapa?"


"Mmh, apa?"


"Kenapa senyum-senyum sendiri. Apanya yang lucu?"


"Oh, tidak. Aku hanya sedikit pangling dengan penampilanmu sekarang. Sedikit lebih dewasa."


"Benarkah?" Shasa menyentuh wajahnya.


Abra tentu saja tertawa melihat tingkah polos gadis itu yang belum juga berubah, membuat ia semakin rindu melihat ekspresi lainnya dari gadis itu seperti apa. Padahal baru sebulan lebih tidak bertemu, tapi rasanya sudah bertahun-tahun ditinggal oleh wajah mungil itu.


"Iih, bohong ya!" Shasa menepuk keras bahu pria itu.


"Aduh!" Namun Abra masih tertawa. "Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya? Nanti kamu suka lagi sama aku."

__ADS_1


Wajah Shasa merah padam menduga-duga yang membuat diri sendiri tersipu-sipu. "Apaan sih!" Ia memalingkan wajah ke jendela kaca. Ia bisa melihat bayangan pria itu yang tertawa bahagia. Ia tersenyum. Senyuman yang pria itu tidak ketahui, karena gadis itu ikut bahagia. Kamu ternyata baik-baik saja ya, Kak Abra ....


Mobil akhirnya sampai ke sebuah hotel bintang 4 yang cukup terkenal.


Itu membingungkan gadis itu. "Eh, kita ke sini ...."


Abra membuka seatbelt-nya. "Mmh? Oh, kamu pikir aku akan berbuat sesuatu padamu." Pria itu tersenyum nakal.


"Eh, enggak. Aku pernah juga kok ketemu klien di restoran yang berada di dalam hotel." Wajah gadis itu memerah. Padahal ia hanya memastikan kenapa ia jadi malu sendiri?


Abra memperhatikan gadis itu yang masih sering bersikap malu-malu padanya padahal mereka sudah saling kenal.


Mereka kemudian memasuki hotel. Di salah satu restorannya yang terbuka, klien mereka menunggu mereka di sana.


Setelah berbasa-basi, kedua wanita itu kemudian memperkenalkan produk dan image yang harus dibuat. Shasa dan Abra terkejut karena produk yang diiklankan adalah bumbu masak instan dan iklannya menceritakan tentang pasangan suami istri yang baru menikah.


"Tapi kami masih single Bu, jadi tidak punya pengalaman itu," terang Shasa gusar. Ia yakin Abra juga punya pendapat yang sama.


"Oh, tapi kami lihat kalian sangat cocok berpasangan seperti benar-benar pacaran. Kenapa tidak diteruskan saja kemesraan kalian dengan akting 'baru menikah'. Pasti produk kami best seller(terjual banyak) dengan adanya kalian menjadi Brand Ambassador(duta merek) produk kami."


"Brand Ambassador?"


"Iya, karena itu kami akan membayar kalian mahal."


Shasa menoleh pada Abra. Pria itu hanya mengangkat bahu karena ia sama sekali tidak tahu dan ia membebaskan gadis itu untuk memilih.


"Apa kau bisa?"


"Aku tidak tahu."


"Dan aku rasa bisa," jawab wanita itu.


"Kenapa Ibu begitu yakin?" tanya Shasa lagi.


"Kenapa tidak dicoba? Kalian sudah membuat image yang bagus di mata masyarakat. Tinggal mengarahkannya. Yang penting dalam sebuah iklan bukan seberapa bagusnya akting kalian tapi pengaruh yang kalian buat. Beda dengan akting sinetron. Jadi dampak dari terkenalnya kalian berdualah yang bisa membuat produk kami jadi terkenal luas di masyarakat, jadi istilahnya kami mendompleng popularitas kalian."


Shasa tersipu-sipu. "Kami bukan siapa-siapa Bu."


"Tapi sejak kalian mengiklankan produk pasta gigi itu, kalian terkenal begitu juga produknya karena itu kami mencari kalian. Suatu kehormatan besar bagi kami bisa mendapatkan kalian menjadi produk image kami."


"Ibu terlampau berlebihan." Shasa kembali melirik Abra.


---------------++++-------------


Pintu diketuk dan asisten Kevin masuk.


"Oh, ya. Bagaimana? Kamu sudah tempatkan orang untuk memata-matai Bima dan Rika?"


"Sudah Pak."


"Jangan sampai salah bertindak lagi. Aku tidak mau sampai seperti kejadian lampu jatuh waktu itu yang harusnya aku yang menolong Shasa, bukan Abra, tidak terjadi lagi. Mengerti?"


"Mengerti Pak," ucap pria itu sambil mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah sana ...." Kevin menggerakkan tangannya pelan dari kursi duduknya. Asistennya itu pun pergi. Dengan seringai lebar ia bersandar pada kursi membayangkan hasilnya. Hasil yang akan membuat ia bahagia.


--------------+++-------------


Rika termenung sendirian. Ia memegang nomor antrian. Ia bingung, ia harus bagaimana dengan calon bayi yang ada di perutnya ini. Apa keputusannya sudah benar?


Ia mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan yang tidak besar itu. Ada 2 pasang muda mudi di depannya.


Rika mendesah pelan. Bahkan untuk datang ke tempat itu saja mereka punya pendamping, sedang ia tidak. Ia sendirian.


"Anrika Prawira!"


Gadis itu terkejut, juga bingung.


"Nona Anrika Prawira!"


Kedua pasangan itu saling menoleh dan kemudian menatap Rika karena mereka yakin, Rika lah yang sedang di panggil itu.


Gadis itu kesal, dan kembali bimbang. Ia kemudian berdiri dan meninggalkan klinik itu tanpa berucap apa-apa.


Aku tak bisa, aku tak punya keberanian. Ia bersandar pada dinding luar klinik itu lemas. Ia mengusap perutnya dan memperhatikan kembali perut itu yang masih rata. Aku sudah cukup banyak dosa dengan menghadirkanmu ke dunia Sayang. Setidaknya aku tidak sendirian. Ada kamu disamping Ibu. Rika kembali meneteskan air mata yang kemudian diusapnya segera. Ibu akan memperjuangkanmu.


------------+++------------


Lelah Rika menunggu sedari tadi dari tempatnya duduk. Sebuah warung yang berseberangan dengan kos-kosan itu. Sudah 2 gelas es jeruk, ia habiskan dalam menunggu tapi kemudian yang di nanti tiba. Sudah gerah rasanya duduk di kursi kayu jelek itu dengan kipas angin yang bergerak sekedarnya tanpa terasa anginnya.


Mobil itu datang dan memasuki halaman kos-kosan yang kebetulan terbuka. Raven kemudian turun dari mobil hendak menutup pagar. Kesempatan itu dipakai Rika untuk keluar dari warung itu. Tak dinyana seseorang datang dan disambut pemuda itu dengan gembira. "Eh, udah pulang?"


"Udah Bang."


Raven segera meraih tangan gadis itu. "Temenin Abang dong ... Abang belum makan," bujuknya.


"Ih, telat terus makan malamnya. Ntar sakit lo!"


"Makanya mumpung ketemu kamu, aku inget makan." Raven mengusap pucuk kepala jilbab gadis itu. Gadis itu hanya tersenyum senang.


Rika terperangah. Kenapa Shasa mengambil semua pria yang ia kenal? Apakah ini yang digosipkan orang-orang, pacar Raven yang sekarang? Bukankah dia mau menikah dengan Bima? Aku pikir ia tulus dengan Bima hingga mau menikah dengannya tapi ternyata tidak. Dia menebar pesona ke mana-mana. Shasa, kamu brengsek. Kamu benar-benar brengsek!


Rika bergegas dengan langkah lebar mendekati Shasa dan Raven, tapi sebelum ia sampai, sebuah tangan kokoh membekap mulutnya dan menyeret tubuhnya ke belakang.


Shasa dan Raven melangkah ke arah jalan raya tanpa tahu ada Rika di dekat situ.


Rika berusaha berontak melepaskan diri tapi sia-sia. Tangan pria itu sangat kuat dan telah meringkusnya hingga ia tidak bisa bergerak. Setelah Raven dan Shasa menjauh, pria itu baru melepaskannya.


"Hei, kamu siapa?" Sedikit takut juga Rika setelah mengetahui pria yang meringkusnya seorang pria bertubuh tinggi tegap berkulit gelap. Ia benar-benar tidak kenal pria itu.


"Bos bilang, tidak boleh mencelakai Shasa."


"Apa?" Gadis itu coba berpikir, siapa yang dimaksud bos. "Pak Kevin?"


Beberapa orang pejalan kali di sekitar itu yang tadinya hendak menolong Rika, mengurungkan niatnya setelah sepertinya antara Rika dan orang itu terlihat hanya salah paham.


"Ingat, tugasmu adalah memisahkan Nona tadi dengan pacarnya, tapi anda tak boleh menyakiti Nona itu."

__ADS_1


Rika terlihat kesal dan ingin menangis, kenapa semua orang membela Shasa?


__ADS_2