
Raven datang membawa bubur ayam untuk Shasa. Pemuda itu ingin menyuapi gadis itu tapi gadis itu menolak. Shasa lebih suka makan sendiri.
Ayah Raven menarik anaknya menjauh. "Bagaimana perasaanmu padanya?"
"Maksudnya?" Raven tak mengerti arah pembicaraan ayahnya.
"Sepertinya rasa sukamu pada Shanum sedikit berbeda."
"O iya, bikin gemes Yah, karena orangnya susah ditaklukkan, dan dia telah mengambil seluruh perhatianku Yah. Gara-gara dia aku jadi rajin ke kampus, belajar dan males pacaran. Ada Shasa aja sudah cukup. Aku ingin serius dan punya tujuan."
"Sampai-sampai ingin menikahinya?"
"Apa?"
"Kau menyukainya? Mencintainya?"
"Bukan gitu Yah. Raline terlalu pendiam sedang Shasa sedikit pembangkang. Shasa lebih menarik karena, apa ya ... ekspresif. Dia juga enak diajak bicara karena pemikirannya luas. Mengerti banyak hal. Aku jadi berkaca sama dia karena dia cerdas. Aku sekarang lagi fokus belajar biar secerdas dia," ucap pemuda itu bangga.
"Jadi perasaanmu padanya apa?"
"Adik yang membanggakan. Ngak malu bawa dia ke mana-mana."
"Mmh, jaga dia ya untuk Ayah. Dia anak perempuan kebanggaan Ayah juga." Ayah menepuk bahu anaknya dan mengacak-acak rambutnya.
"Iya Yah." Raven tersenyum senang.
Keduanya menatap Shasa yang sedang sibuk makan.
Walaupun Raline dan Shanum seperti pinang di belah dua, tapi Shanum sangat mirip dengan dirimu Tiara.
-----------+++-----------
"Mbak tolong dong, aku mau wawancara Pak Abra tapi dia kayak menghindar gitu Mbak. Alasannya macem-macem. Lagi meeting lah, lagi di studio luar kota lah, lagi flu lah. Ada aja alasannya untuk menghindar," keluh sutradara sekaligus kameramen yang datang ke meja Shasa sambil meletakkan kameranya di atas meja gadis itu.
"Masa sih?" Shasa mengerut kening.
"Iya Mbak. Makanya, Mbak kan deket sama dia tolong jadwalin aku dong ketemu dia. Mungkin kalo Mbak yang ngomong dia langsung mau. Ini udah deket lo Mbak, tinggal 3 hari lagi dan aku masih nyusun gambar yang bagus buat video iklan TVnya."
Shasa menghela napas. Dia enggan karena dia sedang berusaha untuk menjauhi pria itu tapi pekerjaan malah meminta sebaliknya. Ia harus bagaimana? Apa benar Abra menghindar? "Halo?"
Terdengar suara batuk-batuk dari ujung sana. "Iya Halo?"
Benarkah dia berbohong? Jadi dia berakting? "Pak ini ada wawancara yang harus dilakukan untuk melengkapi video iklannya jadi kapan kira-kira bisa dilakukan Pak?" Shasa berusaha untuk tidak mempedulikan batuk-batuk yang diperdengarkan Abra.
"Bagaimana mungkin aku melakukan wawancara karena aku sedang flu. Pengambilan gambar dan suara pasti semuanya jelek," jelas Abra kemudian ia kembali terbatuk-batuk.
Apa dia benar-benar sakit? "Jadi bagusnya bagaimana ini ya Pak?"
"Wawancara Kak Kevin saja. Dia bisa kok menggantikanku untuk wawancara. Kan dia juga salah satu pemilik perusahaan. Dia juga selalu ada di kantor, sebenarnya."
"Kalau Pak Kevin, hari ini sibuk gak ya? Apa harus bikin janji dulu?"
Abra terbatuk beberapa saat. "Sebentar, aku tanyakan dulu." Tak lama pria itu kembali menelepon dengan diiringi batuk yang mengganggu. "Iya, bisa tapi dia minta kamu juga ikut datang."
"Aku Pak?"
"Iya, dia minta begitu." Kembali pria itu terbatuk-batuk.
Sebenarnya Shasa enggan untuk datang tapi batuk pria itu tidak bisa membuat Shasa abai. Rasa khawatirnya yang tumbuh kemudian membuat gadis itu mengiyakan. "Ya sudah, ok."
----------+++---------
Pak Abra benar-benar flu ya?" sesal sutradara itu yang telah salah menilai. Ia melihat sendiri pria itu berada di kantornya mengenakan sweater rajut tanpa lengan di luar kemejanya.
Abra tak henti-hentinya batuk setiap kali bicara hingga Shasa harus menghentikannya untuk terlalu banyak bicara.
"Kenapa sakit begini masuk kantor Pak?" tanya Shasa khawatir.
"Kan tidak ada yang bisa menggantikan posisiku." Abra kembali batuk. Ia menutup mulutnya.
"Pak Kevin?"
__ADS_1
"Bukan bidang dia jadi akan sulit dan menghambat pekerjaan yang sebentar lagi ...." Abra kembali terbatuk-batuk.
"Ya sudah, kami mengerti." Shasa menepuk-nepuk lengan pria itu. Ia menoleh pada sang sutradara. "Mas bisa pergi sendiri kan menemui Pak Kevin?"
"Oh ya, bisa, bisa." Pria itu pun pergi.
Abra mengambil tisu dan membersihkan hidungnya yang kembali mengeluarkan lendir. "Kenapa kau masih di sini?" Kembali ia terbatuk-batuk. Wajahnya terlihat pucat dengan hidung dan mata memerah.
"Sudah berapa hari Kakak begini?" tanya Shasa mengerut kening.
"Dua hari." Kembali pria itu membersihkan hidungnya. Ia membuang tisu itu di tempat sampah yang sengaja diletakkan di sampingnya.
Berarti setelah kita berpisah ya? "Sudah minum obat belum?"
"Sudah tadi pagi."
"Harusnya Kakak tidur."
"Aku gak bisa, aku kan ...."
"Iya, iya. Tau, tau, tau." Shasa mendekat.
Abra bergeser mundur. "Jangan dekat-dekat nanti nular!"
Tiba-tiba tangan Shasa melewati pinggang pria itu merapikan bantal kursi sofa di belakangnya. "Sekarang Kakak tidur biar cepat sembuh." Ia mendorong Abra untuk merebahkan diri di kursi itu.
"Tapi ...."
"Ngak pakai tapi. Orang flu harus segera beristirahat."
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Abra menurut. Ia menggeser tubuhnya hingga bisa menaikan kakinya ke atas sofa. Sayang, ketika meluruskan kakinya yang panjang, ia tidak bisa memasukkan seluruhnya kaki ke atas sofa sehingga kakinya terjulur melewati lengan atas sofa.
"Tidur ya?" Gadis itu menyentuh kening Abra yang masih hangat, kemudian ia mengusap pucuk kepala Abra.
"Bagaimana dengan pekerjaanku?" Abra menunjuk setumpuk berkas di atas mejanya.
"Sh, heh!" Shasa mendelik marah.
"Ya sudah, aku bantu." Gadis itu mendatangi meja kerja Abra dan memeriksa beberapa berkas. "Kalo yang ini aku gak tau." Gadis itu mengangkat selembar kertas.
"Sini, sini, aku ajari." Abra memanggil dengan lambaian tangannya.
Shasa duduk di samping Abra di kursi berbeda. Pria itu mengajarkan bagaimana memeriksa data dari lembar berkas yang dipegang gadis itu kemudian Shasa mengerjakannya sendiri. Sesekali ia masih bertanya pada Abra.
Abra kembali menatap keindahan ciptaan Tuhan yang kini hadir di sampingnya. Betapa ia merindukannya karena sudah dua hari tidak bertemu. Kelinciku, apa kabarmu? Kau terlihat sehat sedang aku sakit flu. Flu rindu. Rindu padamu. Dua hari tidak bertemu kamu saja aku sudah payah begini ditambah kerjaan yang makin menumpuk, rasanya aku tak kuat, tapi mau bagaimana? Aku hanya mampu menggapai bayangmu.
Shasa memeriksa kembali berkas terakhirnya, kemudian menumpuknya menjadi satu dan merapikannya. "Sudah Kak." Ia menoleh. Didapatinya Abra sudah terlelap tidur.
Ia kemudian melihat jam di dinding. Sebentar lagi pukul 12 siang, waktunya makan siang. Shasa segera memesan makanan lewat online. Setelah makanan datang ia membangunkan Abra. "Kak."
Pelan tapi pasti Abra membuka matanya. "Mmh."
Shasa kembali menyentuh kening pria itu. Masih terasa hangat. "Makan ya?"
"Makan apa?"
"Aku sudah beli sup ayam untukmu."
Abra melirik meja di sampingnya. Terlihat beberapa bungkus makanan. Ada beberapa yang telah dibuka.
"Mau?"
"Mau." Abra segera bergeser untuk duduk.
"Aku suapi ya?"
Segala perhatian yang diberikan Shasa untuk pria itu membuat Abra tercengang. Ia sampai-sampai tak bisa menolak saking senangnya.
Shasa menyuapi Abra sup ayam, dan pria itu sangat menikmatinya.
"Aku mau pakai nasi."
__ADS_1
"Ini nasinya." Gadis itu mengambil wadah lain yang berisi nasi dan menyuapkannya pada Abra membuat pria itu ingat kembali saat ibunya mengurusnya dulu ketika sedang sakit. Setelaten Shasa yang penuh perhatian hingga ia tidak menyia-nyiakannya.
"Supnya, ayamnya mana? Kentang terus!" protes Abra. Mulutnya merengut mirip anak kecil.
"Sebentar, aku cariin ya?" Shasa mengaduk-aduk wadah sup ayam itu dan ia tidak menemukannya. "Wah, sudah habis kayaknya Kak."
"Ya sudah, yang ada saja. Aku masih lapar."
"Mau dipesenin lagi?"
"Ngak usah. Yang ada saja."
"Atau mau punyaku?" Shasa menawarkan sup ayam miliknya.
"Jangan. Eh, kamu belum makan ya? Ya udah, kamu makan dulu. Aku bisa makan sendiri kok." Abra meraih wadah makanan yang berada di tangan gadis itu.
Shasa menatap pria itu.
"Ngak papa, aku bisa kok. Kamu makan punyamu."
Akhirnya Shasa mulai makan.
Tiba-tiba seseorang menerobos masuk. Ia melihat Shasa di sofa bersama Abra. "Ah, kamu di sini rupanya, Sha. Kenapa kamu gak ikut tadi mewawancarai aku?"
"Kak Abra sakit, jadi aku bantuin ngerjain pekerjaannya," ucap gadis itu terus terang.
Sedikit iri tapi Kevin coba abaikan. "Kamu sudah makan? Padahal aku mau traktir lho!"
"Ini juga aku di traktir Shasa." Abra menunjuk dengan matanya pada wadah di tangan.
Kevin makin iri pada Abra, tapi ia berusaha menahan diri. "Ada yang mau nambah makan lagi gak? Temani aku makan ya?"
----------+++---------
Setelah makan siang dan sholat Zuhur, Abra berkeliling memeriksa beberapa studio. Kali ini berbeda dari biasanya. Ia dikawal Shasa yang mirip asistennya. Gadis itu memaksa ikut memastikan kebutuhan Abra tersedia.
"Eh, sebentar ya?" ucap Abra pada wanita di hadapannya. "Sha!"
Gadis itu mendekat.
"Tisu."
Shasa mengeluarkan kotak tisu dari tasnya dan mengambilkan beberapa lembar untuk Abra. Pria itu menarik masker mulut dan membersihkan hidungnya. Gadis itu segera mengeluarkan plastik di mana Abra membuang tisunya ke sana.
"Ok." Abra kemudian meneruskan pembicaraan dengan wanita tadi yang menunggunya. Beberapa saat kemudian ia pindah ke tempat lain. Shasa kembali mengekor.
Saat ini tangan kiri Abra sudah mulai bisa digerakkan, walaupun masih memakai perban. Shasa tidak lagi harus memegangi bajunya tapi Abra senang, hari ini Shasa karena khawatir, ia menemaninya.
"Kak, sudah. Ayo istirahat lagi." Shasa mengingatkan.
Abra hanya tersenyum geli. Cerewet gadis itu sepertinya sudah lama tak ia dengar. "Sebentar ya? Satu tempat lagi."
Gadis itu merengut kesal.
Hingga waktu menjelang malam, Abra mengerjakan tugas di ruang kerjanya, gadis itu masih mengikutinya. "Sudah Shasa, aku sudah agak mendingan kok."
"Bohong!"
Abra meletakkan penanya di atas meja ia menatap Shasa yang duduk di sofa. "Sha, kamu gak kerja? Sutradara yang kamu bawa tadi aja udah pulang. Kamu di sini mau apa? Nanti kamu ketularan lho Sha." Ia menasehati.
"Biarin aja!" jawab gadis itu sambil menunduk merengut.
"Sha, sebentar lagi aku ada meeting." Tak lama kemudian Abra terbatuk-batuk.
"Habis kamu gak mau di suruh pulang!"
"Sha."
Gadis itu makin mengerucutkan mulutnya. Ia bertahan tak ingin pulang.
"Terserah!" Abra juga sama. Mendekati hari H perayaan ulang tahun stasiun TVnya, ia tak bisa meninggal tugasnya karena banyak pegawai yang sedang membutuhkannya di tempat kerja dan ia tidak bisa meninggalkan tanggung jawab ini begitu saja. Ia akan berada di tempat itu hingga malam hari.
__ADS_1