
"Sudah Pak, maaf." Suara di ujung sana terdengar antara takut dan menyesal.
"Mmh." Abra tak bisa berbuat apa-apa. Kini ia harus menunggu berita dari kepolisian tapi siapa kira-kira yang berniat jahat padanya atau pada istrinya? Ia mencoba menelusuri orang-orang di kantor atau klien-klien yang berpotensi sambil berpikir hal apa yang membuat orang lain sakit hati pada mereka, tapi sejauh itu ia tak bisa menemukan apa-apa.
Kenapa ia bisa kecolongan lagi seperti dulu, saat kasus Damar mencengangkan dirinya? Ada orang lain yang menyukai Shasa dan itu orang dekat istrinya sendiri. Akankah kasus ini akan sama, orang yang dekat dengan istrinya lagi? Heh, kalau benar begitu, kau berarti sangat istimewa. Abra menggeleng-geleng kepalanya dalam resah.
Abra kembali melihat HP-nya di tangan. Kalau mereka minta tembusan, ia bersedia memberi, tapi mereka belum menelepon. Bagaimana kalau ia mencoba menelepon mereka lebih dulu lewat HP istrinya? Ya, benar. Kenapa tidak?
Abra segera menyambungkan telepon ke HP istrinya. Ia menunggu.
Sementara di mobil yang membawa istrinya, Shasa mendengar HP-nya berbunyi. Ia sudah curiga itu suaminya.
"Berikan HP itu." Pegawai TV yang duduk di sampingnya, meminta HP Shasa dengan menyodorkan tangan. Wanita itu kenal dengan pria itu karena pria itu adalah asisten Kevin di kantor.
"Kita mau ke mana? Mau bertemu siapa?"
"Berikan dulu, nanti kuberi tahu Bu," terang pria itu dengan sopan.
Dengan ragu-ragu, wanita itu mengambil HP dalam tasnya dan memberikannya pada pria itu.
Seketika, pria itu mematikan HP Shasa. "Kita akan ke puncak Bu."
"Puncak?" Shasa menautkan alis.
"Pak Kevin sudah siuman. Dia ingin bertemu Ibu."
"Apa?" Shasa terkejut luar biasa. Selintas ia sempat memikirkan hal itu tapi tak yakin. " Kak Ke-vin ...," ucapnya mengeja.
"Iya Bu. Dia sedang beristirahat di sana."
Shasa masih menatap pria itu untuk memastikan tapi pria itu malah tersenyum. "Jangan takut Bu, Saya gak bermaksud jahat. Pak Kevin benar-benar ingin bertemu Ibu."
"Kenapa dia ada di Puncak? Kenapa tidak di rumah sakit? Kamu tidak bohong kan?"
"Oh tidak. Biar nanti Ibu lihat sendiri saja."
Shasa kembali meluruskan pandangan ke depan. Tiba-tiba ia kembali menoleh. "Kenapa dia tidak di rumah sakit? Apa dia sudah sehat? Kenapa tidak ada yang memberi tahu kami saat ia siuman, suamiku pasti ingin ikut."
Pria itu kembali tersenyum. "Sebaiknya Ibu tanyakan langsung saja padanya saat bertemu karena kami hanya bertugas mengantar."
Wanita itu cemberut. Sia-sia saja mencari tahu dari pegawai itu karena mungkin memang benar pria itu tak tahu apa-apa.
Di sisi lain, Abra yang berada di rumah gelisah sejak HP Shasa yang coba dihubunginya dimatikan. Apa motif penculik itu? Ah ....
Abra menatap anak-anaknya yang sedang duduk mengelilingi. Lina duduk di samping dan bersandar pada lengannya sedang Lione duduk di lantai dan bersandar pada kaki. Keduanya sedang asyik menonton TV. Ya Allah, jangan sampai terjadi apa-apa dengan istriku ya Allah. Bagaimana dengan anak-anakku kelak? Netranya mulai berkaca-kaca.
Tiba-tiba terdengar suara dering di HP-nya dari nomor tak dikenal. Abra segera mengangkatnya. "Halo ... Apa? Dari rumah sakit?"
Lina meliriknya sehingga pria itu memiringkan wajahnya menjauh. "Iya, ada apa?" Berita pertama yang didengarnya membuat matanya membulat sempurna. "Apa ... Jadi?" Ia mendengarkan dengan seksama. "Iya, baik." Ia menutup teleponnya. Pria itu tahu apa yang terjadi dan ke mana istrinya pergi. Hanya tempat itu satu-satunya tempat yang terpikir olehnya.
Tidak mungkin tidak, pasti mereka pergi ke sana, tapi masalahnya, siapa yang akan menjaga anak-anakku sementara aku menjemput istriku sedang Raven tadi pulang untuk mandi dan belum kembali. Apa dia malah tertidur? Aduhhh, di saat seperti ini Ravennn ... keluhnya kesal.
Baru saja Abra hendak menelepon Raven, Danisa datang. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam. Ah, pas banget!" Pria itu segera berdiri.
"Apa?"
"Aku mau jemput istriku di Puncak."
"Puncak?"
"Iya, aku tidak bisa membawa anak-anak."
__ADS_1
"Kan bukannya ada sopirnya?"
"Justru dia pergi numpang dengan orang lain." Abra tidak berani bercerita karena takut anak-anaknya mendengar dan ingin ikut, padahal ia takut ada insiden yang akan membahayakan anak-anaknya. Ia mempercayakan anak-anak pada Danisa.
Wanita itu mengerut dahi. "Kok bisa?"
"Iya, itu yang aku ingin tanyakan padanya juga."
"Tapi apakah mereka mau?" Danisa menunjuk anak-anak dengan dagunya.
Abra menghadap anak-anaknya. "Papi mau pergi jemput Mami ya? Kalian di rumah baik-baik sama Tante ini."
"Papi, Papi mau ke mana?" tanya Lina.
Kedua anak Abra langsung memegang erat tangan ayahnya karena mereka belum pernah ditinggal tanpa bersama salah satu orang tuanya. Apalagi mereka tak begitu mengenal Danisa.
Abra kebingungan. Bagaimana cara meninggalkan mereka karena ia tak mungkin membawa anak-anaknya ikut serta. "Eh, nanti Papi belikan oleh-oleh dari sana ya?"
Anak-anak makin mengeratkan genggaman.
"Ngak mau. Nanti Papi pasti lama."
Terprovokasi Lina, Lione memeluk lengan ayahnya makin erat.
"Kita bikin rumah-rumahan yuk!" Kalimat Danisa sukses membuat kedua anak kembar pria itu menoleh.
"Rumah-rumahan? Dari apa?" tanya Lina heran.
"Dari kursi yang dibalik."
"Hah?"
"Nah, pasti belum pernah. Ya kan?"
Danisa mengambil alih dengan menggandeng keduanya menuju ruang makan. Mereka mulai memindahkan kursi-kursi di meja makan.
Abra segera naik ke lantai atas dan mengambil kunci mobil serta sebuah benda yang ia simpan di laci nakas tempat tidur. Benda itu harus dikembalikan kepada pemiliknya. Segera ia menyalakan HP dan menyambung ke nomor yang tadi menelepon. "Halo, rumah sakit ...."
----------+++----------
Shasa melewati ruang tengah yang cukup luas hingga akhirnya sampai ke pintu belakang rumah itu. Di ujungnya ia melihat pintu belakang yang berjendela besar di kiri kanannya hingga terlihat sebuah kolam renang di belakang rumah itu.
Di situ di sebuah kursi di samping kolam, seorang pria tengah bersandar memandang ke arah kolam. Posisi kursi menyebabkan pria itu hanya terlihat dari belakangnya saja.
Suara langkah sepatu Shasa menyebabkan pria itu menoleh. Saat itulah Shasa tahu pegawai stasiun TV itu tidak berbohong padanya. "Kak Kevin?"
"Shasa." Suara Kevin sedikit serak. Wajah pucat pria itu seperti sedang diliputi carut marut dunianya, kerinduan yang dalam serta kekhawatiran yang tak berujung. Entah apa yang sedang berada di pikirannya.
"Kak, Kak Kevin sudah sadar? Kak Kevin sudah sehat?" Shasa menghampiri pria itu dengan wajah lega. "Kapan Kakak sadar? Kenapa tidak cerita?" Wanita itu berdiri samping kursi pria itu dan mulai berjongkok.
"Eh, jangan jongkok di situ." Kevin melirik asistennya. "Tolong bawakan dia kursi."
Asisten itu membawakan kursi ke samping kursi Kevin. Tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh. Shasa kemudian duduk di sana.
"Kak, Kakak sudah sehat? Tapi Kakak masih terlihat pucat. Apa Kakak beneran sudah sehat?"
"Entahlah." Pria itu tertunduk.
"Kak, kalau belum sehat kenapa ke sini? Kenapa tidak di rumah sakit saja?" Shasa terlihat khawatir. "Kenapa Kakak membawaku kemari?"
Pria itu mengangkat kepalanya. "Aku rindu padamu."
"Kak ...." Wanita itu kehabisan kata-kata. Bagaimana menerangkan tentang pernikahannya?
__ADS_1
"Aku tahu kau akhirnya menikah dengan Abra."
Shasa tersenyum kecil.
"Dan punya anak dua."
Kembali wanita itu tersenyum.
"Tapi kenapa belakangan kau tak menjengukku lagi?"
Tahulah Shasa bahwa selama ini Kevin tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Saat dijenguk dan apa yang mereka katakan di sana. "Kak Kevin, maaf. Aku sibuk dengan urusan kantor dan anak." Shasa menunduk.
"Sha." Kevin meraih tangan wanita itu membuat Shasa terkejut. Wanita itu berusaha menarik tangannya. "Aku tahu kau telah menikah, tapi aku masih mencintaimu. Aku masih merindukanmu."
Shasa menarik tangannya pelan, dengan wajah sedikit merasa bersalah. Ia menghela napas pelan.
"Kenapa Tuhan membuatku harus jatuh cinta padamu kalau pada akhirnya aku tak memilikimu."
Kembali rasa bersalah merayap di dalam dinding hati wanita itu, tapi ia berusaha tegaskan pada hatinya bahwa itu bukan kesalahannya. "Cinta yang sesungguhnya itu tanpa syarat." Ia memutar kepala ke depan dan menatap beningnya air kolam renang itu. "Ia berjalan pada satu arah, mencintai. Maka cintailah dengan tulus. Ia akan bahagia bila orang yang dicintai itu bahagia, walaupun bukan bersama dengan dirinya."
"Tapi kamu tak tahu bagaimana sakitnya melihat orang yang dicinta mencintai orang lain."
"Cinta adalah pemberian Allah. Itu pastinya tidak dibuat dengan sia-sia. Ada kebaikkan dan ujian di dalamnya. Kita sebagai mahluk hanya bisa menjalaninya, karena apa yang diberikan Allah itu pasti yang terbaik. Jangan berprasangka buruk dulu padaNya."
"Iya, tapi aku tidak mengerti kenapa mesti kamu? Kenapa bukan orang lain sehingga aku tidak harus berebut dengan Abra."
Shasa tersenyum. Ia menoleh pada Kevin. "Sayang aku tak tahu jawabannya."
"Sha ...." Pria itu menatap kolam renang kembali. "Aku sudah tua ya?"
Shasa menoleh dan kembali tersenyum.
"Saat aku menatap wajahku di cermin, aku menemukan beberapa lembar rambutku memutih dan wajahku menua."
"Kau bisa merawat wajahmu dan menyemir rambutmu." Wanita itu diam sejenak. "Tapi, bukankah wajahmu jadi terlihat matang? Lebih berwibawa?"
"Benarkah?" Pria itu menyentuh wajahnya.
Shasa hampir tertawa.
Pria itu kembali menatap wanita di sampingnya. "Maafkan apa yang aku lakukan dulu padamu Sha."
"Tidak apa-apa."
"Dulu, saat setelah kejadian itu aku merasa ingin mati saja. Terlalu berat untukku menghadapi kenyataan bahwa kau tak bisa bersamaku dan lebih memilih bersama Abra. Terlalu menyakitkan, tapi takdir berkata lain. Aku harus belajar menerimanya."
Shasa hanya mendengarkan seraya menatap dalam wajah pria di depannya seakan ia tahu penderitaan pria itu tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Pria itu tiba-tiba meraih tangan wanita itu kembali. "Tapi kalau benar aku akan mati, aku takut Sha, aku takut."
"Apa? Kak Kevin ...." Shasa terkejut dengan pernyataan Kevin.
Pria itu menangis. Bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan.
"Kak ... Kakak kenapa? Kakak masih sakit?" Shasa mulai panik.
"Aku membutuhkanmu di sampingku Sha. Aku takut menghadapi ini sendirian," tangisnya.
"Kakak ...." Shasa syok.
Tiba-tiba dengan langkah cepat Abra datang dari arah belakang menghampiri. Asisten Kevin yang berjaga sedikit menjauh, hendak mencegahnya tapi Abra langsung mengancam. "Berani menghalangiku, kau kupecat!" Ia menunjuk dengan tangannya. Kemudian ia beralih pada Kevin dan bergegas mendekat. "Kak, kau harus kembali ke rumah sakit. Kau harus dirawat," ucapnya tegas.
Kevin menoleh dan di saat itulah ia kembali mimisan.
__ADS_1
"Kak!"