Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Sebuah Kelanjutan


__ADS_3

Namun mau bilang apa? Rika hanya bisa memandangi kepergian Raven dan Shasa yang asyik bersenda gurau bersama. Seolah dunia mereka hanya berisi kebahagiaan semata.


-----------++++----------


Pintu diketuk, tengah malam. Gadis itu terpaksa bangun, di tengah lelapnya ia tertidur.


Siapa sih, yang bangunin orang tengah malam begini? Shasa terduduk di atas tempat tidur dan memicingkan mata sambil mengambil HP-nya. Masih sekitar jam setengah satu malam. Apa Bang Raven? Ah ...


Shasa terpaksa turun dari tempat tidur dan mengintip lewat jendela. Sesosok tubuh yang diyakini pria karena ia tidak bisa melihatnya dengan jelas sebab lampu depan kamarnya redup dan sosok itu tertutup bayangan pepohonan.


Ia segera memakai jilbab instannya dan membuka pintu. "Bang kenapa malam-malam ...."


Pria itu segera mendorongnya ke dalam dan menutup pintu.


Kini Shasa bisa melihat jelas, siapa pria yang berdiri di hadapannya. "Kak Damar?" Matanya nanar melihat pria itu. Ia bergerak mundur. "Untuk apa kamu ke sini?!" teriaknya.


Damar mengangkat kedua tangannya. "Tolong jangan salah paham. Aku datang ke sini untuk minta maaf. Shasa tolong maafkan aku." Ia menyatukan kedua tangannya.


"Sekarang keluar atau aku akan teriak!" Nada suara gadis itu mulai tinggi sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya ke arah pintu.


"Sha, aku hanya ...."


"Aku tidak mau dengar. Keluar!!!" Shasa kembali mengacungkan jari telunjuknya ke arah pintu. Wajahnya terlihat antara kesal dan marah menjadi satu. Malam yang sunyi membuat suara gadis itu menggelegar terdengar sampai keluar.


Takut terjadi apa-apa, Damar menurutinya dengan buru-buru keluar. "Iya, iya, iya ...." Pria itu kemudian menutup pintu.


Shasa mendekati pintu dan langsung menguncinya. Ia bodoh, tidak memeriksa dulu siapa yang datang, tapi dalam keadaan baru bangun tidur seperti itu pasti wajar jika ia tidak bisa berpikir sampai sedetail itu sehingga ia merasa kecolongan.


Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu dan menyentuh dadanya dengan tungkai kaki serasa hampir lepas. Sebenarnya ia sangat takut saat mengetahui kenyataan ia bertemu lagi dengan sepupunya itu. Jantungnya berdetak cepat. Untung saja ia bisa segera menguasai diri dan mengusir Damar dari kamar itu.


Kembali terdengar ketukan di pintu.


"PERGI, aku bilang PERGI!!" Shasa panik karena mendengar ketukan itu.


"Sha, ini aku Raven."


Gadis itu segera membuka pintu dan memeluk pria itu. "Bang!"


Pria itu menyambut pelukannya. "Ada apa? Aku mendengar suara teriakanmu jadi aku buru-buru bangun dan langsung ke sini," ucap Raven yang mengenali suara gadis itu.


Beberapa penghuni kos-kosan juga ikut terbangun dan keluar. Mereka ingin tahu apa yang baru saja terjadi.


"Kak Damar Bang ...."


"Apa? Dia berani datang mencarimu? Brengsek banget tuh orang! Apa yang telah dilakukannya padamu?"


Shasa mengangkat kepalanya dan menggeleng. "Tidak ada. Tadi langsung aku usir," adunya dengan wajah merengut.


"Lah, kamu buka pintunya?"


"Aku pikir itu Abang."


"Hish, lain kali intip dulu siapa yang datang."


Shasa mengangguk dengan masih merengut.

__ADS_1


Raven menghiburnya dengan mencolek hidungnya. "Dasar, ceroboh!"


Satu-satu penghuni kos-kosan kembali ke kamar mereka masing-masing karena masih mengantuk dan rasa ingin tahu mereka telah terpenuhi. Raven menemani Shasa ke kamarnya hingga naik ke tempat tidur. "Mau kutemani?"


"Ngak usah Bang, aku bisa tidur lagi kok." Shasa menaikkan selimutnya.


"Ngak trauma?"


"Sedikit, tapi karena saudara sendiri rasanya mungkin sebentar lagi hilang."


Raven tersenyum. "Tangguh juga kamu ya?"


"Iya dong Bang. Ya udah, Abang kembali ke kamar aja." Shasa hendak turun dari tempat tidurnya.


"Eh, gak usah, gak usah! Biar kamar kamu Abang kunci dari luar. Kuncinya Abang yang pegang, biar besok pagi Abang bukain. Udah sekarang kamu tidur aja."


"Ngak papa kok Bang, aku udah gak papa," terang Shasa pada pemuda itu sambil menyentuh lengannya.


"Sha." Raven berhenti sejenak dan menatap gadis itu dengan serius. "Bagaimana kalau kamu pindah aja ke apartemen Abang, kita tinggal di sana berdua."


"Abang aja yang pindah, kita kan bukan mahramnya. Lagi pula apartemen Abang udah selesai direnovasi kok, jadi Abang tidak perlu tinggal di kos-kosan yang panas ini lagi."


"Bagaimana Abang mau tinggal di sana kalau kamu masih tinggal di sini sendirian, Abang takut yang seperti tadi terjadi lagi sama kamu."


"Ngak papa kok Bang. Kak Damar tadi datang cuma mau minta maaf aja kok. Cuma akunya masih takut aja inget kejadian kemarin."


"Nah, karena itu Abang khawatir. Kenapa sih ngak mau tinggal sama Abang? Abang kan ngak bakal ngapain-ngapain kamu, Abang kan Kakakmu."


"Tetap aja, kita gak sedarah. Ngak boleh. Kita orang asing."


Raven menatap lekat gadis yang duduk di hadapannya di atas tempat tidur. Kapankah gadis itu bisa mengakuinya sebagai Kakak? Susah sekali mendapat kepercayaan darinya. Ia memeluk Shasa dan mengusap punggungnya. "Abang sayang, sama kamu. Abang khawatir. Bisakah kamu mengerti perasaan Abang ini?"


Raven melepas pelukan. "Ya sudah. Selamat tidur."


Shasa berbaring dan merapikan posisinya. Raven kemudian berdiri dan melangkah ke pintu. Setelah yakin gadis itu nyaman, ia menutup pintu. Setelah itu, Shasa membuka jilbabnya.


------------+++------------


Raven terkejut.


Gadis itu berdiri di samping pintu kantin bersama teman-temannya dan menghadang Raven yang juga datang bersama teman-temannya.


"Ada apa?"


"Aku ingin ngomong sama kamu," ucap Rika dengan lugas.


"Aku ngak tertarik," ujar pria itu singkat. Riuh teman-temannya memanas-manasi mereka berdua sementara teman-temannya Rika terlihat saling pandang. Jeslyn dan Vania sebenarnya tidak tahu untuk apa mereka menemani Rika selain hanya dimintai tolong dan mereka tidak tahu bagaimana harus bereaksi.


"Ini penting!" Gadis itu memberi penekanan.


Raven hanya tersenyum miring. "Kalau aku tidak peduli bagaimana?" ledeknya membuat suasana semakin panas.


"Mau ... gue bilang, siapa pacar lo yang sekarang?" Rika menyeringai dan melihat wajah pria itu berubah panik.


"Oi, sebutin. Gue pengen tau!" sahut salah satu teman Raven dan akhirnya Raven menyerah.

__ADS_1


Brengsek! Tau dari mana nih cewek, kalau sepupunya deket ama gue. Apa Shasa cerita? Tapi Shasa kan gak tau kalau gue satu kampus sama Rika. Trus, dari mana nih cewek tau tentang Shasa? Raven membelalakkan mata. Apa dia memata-mataiku? Brengsek! Sialan ... Jangan sampai Shasa tahu hubunganku dengan Rika. Dia gak boleh tau atau aku akan kehilangan adikku lagi untuk selamanya.


"Ya udah, kita bicara di dalem mobil gue. Gimana?"


Rika setuju. Teman-teman Raven bersiul dan bersorak mendengar keputusan pemuda itu sedang teman-teman Rika terlihat bingung.


Raven pun membawa Rika ke dalam mobilnya. Teman-teman mereka berdua mengikuti mereka dengan menjaga jarak. Mereka mengintip keduanya bicara dan mencoba menebak-nebak pembicaraan mereka dari jauh. Sesekali teman-teman Raven menjahili Jeslyn dan Vania.


"Sebelum lo mulai bicara, sekarang gue perjelas. Gue tahu lo sepupunya Shasa."


Rika terkejut.


"Tapi lo harus tau kalo gue gak suka sama orang yang berusaha misahin gue sama Shasa." Raven menegaskan.


"Apa lo tau Shasa orangnya ...."


"Gue tau semuanya," cibir pemuda itu hampir tertawa.


"Dia udah mau nikah," Rika memberi bukti lain.


"Terus, kenapa? Gue kenal kok sama pacarnya."


Rika syok. "Apa kamu tau, ada ...."


"Ck, gue udah bilang ya, jangan coba-coba misahin gue sama Shasa atau lo akan berhadapan sama GUE! Gue gak takut ngehajar cewek kalau udah keterlaluan!" sahut Raven sedikit keras. Ia tidak main-main dengan ucapannya, padahal Rika tidak datang untuk itu.


Gadis itu ingin mengakui tentang kehamilannya pada pemuda itu tapi belum apa-apa Raven sudah memberinya dinding yang tinggi untuk dilewati. Betapa kecewa hatinya, pemuda itu lebih memilih melindungi Shasa dibanding hubungan yang secara tidak sengaja menghubungkan mereka berdua. Jangankan bertanggung jawab, Raven bahkan seperti tidak mau mendengarkan apapun yang akan gadis itu bicarakan.


"Raven, aku ...."


Pemuda itu menghela napas kasar. Yang pasti ia takut mendengar apapun dari Rika karena merasa gadis itu sedang berusaha memisahkan dirinya dengan Shasa. Kejadian di masa lalunya membuat ia sangat protektif dengan hubungannya dengan Shasa sehingga ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak mendengar pembicaraan apapun yang keluar dari mulut gadis itu.


"Begini." wajahnya terlihat serius. Ia menyatukan tangannya di depan mulut. "Memang dulu gue yang mulai. Ngedeketin lo tapi lo nerima gue. Setelah kejadian itu dan setelah lo nolak gue, gue ingin kita end(selesai). Kalau lo mau ngungkit masa lalu, salahkan diri lo sendiri karena gue udah gak ingin menyambungnya kembali."


Rika tertunduk. Tak ada guna ia berdebat dengan Raven karena pasti pemuda itu juga tak mau tahu tentang apa yang terjadi pada dirinya karena pada kejadian saat itu, ialah yang meminta dan kalau ada yang perlu dipersalahkan adalah dirinyalah yang telah menutup buku pada Raven. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri karena pemuda itu sudah tak ingin ikut campur. Seperti itulah yang gadis itu tangkap dari sikap pemuda itu.


Ia menyembunyikan isak tapi terdengar juga oleh Raven.


"Heh, lo pengen gue tiba-tiba kasihan sama lo?" ledekan halus Raven menyentilnya.


Rika menghapus air matanya.


"Atau lo mau semua orang yang sedang mengintip kita nyalahin gue?" Raven menunjuk ke arah kaca mobil yang mengelilinginya.


"Ngak!" Rika berusaha tegar. Biarlah. Raven tak mau mengakuinya tak apa, tapi ia akan tetap mempertahankan bayi itu. Masih ada 2 orang lagi yang harus dihadapinya. Kedua orang tua angkatnya.


------------+++----------


Rika baru saja pulang ke rumah dengan hati gundah. Ia tak tahu harus bagaimana mengatakan pada kedua orang tuanya tentang masalah ini. Mereka menerimakah atau malah mengusirnya.


Ia memasuki kamar. Betapa terkejutnya Rika melihat kedua orang tua angkatnya itu menunggunya di dalam kamar. Kedua orang tuanya itu kini nampak serius menatapnya. Mama berdiri menghadap Papa yang duduk di tepian tempat tidur. Sepertinya mereka habis mendiskusikan sesuatu.


"Papa kenapa sudah pulang ya?" Rika merasa ada yang janggal mengingat hari masih sore dan Papa sudah ada di rumah. Pikiran buruk sempat terlintas dipikiran tapi coba ia enyahkan.


"Ka, kamu bisa jelaskan ini ke Mama?" Wanita itu menyodorkan alat tes kehamilan yang telah dibuang Rika ke tempat sampah. Ia menemukannya tanpa sengaja saat merapikan kamar Rika dan gadis itu telah ceroboh membuangnya di tempat sampah kamar beserta kotaknya. Gadis itu tidak tahu bahwa selama ini kamarnya sering dirapikan Mama dan bukan oleh pembantunya.

__ADS_1


"I ...." Gadis itu menelan salivanya dan jatuh terduduk di lantai. Ia tak sanggup untuk menceritakannya, hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya kemudian. "Ma-afkan aku Ma," ucapnya setelah tangisnya mereda.


Papa yang sedari tadi diam, hanya mampu menghela napas pelan untuk menghilangkan sesak yang tertahan. Ia segera pulang ketika istrinya menceritakan tentang penemuannya di kamar Rika lewat telepon. "Jadi, siapa laki-laki itu?"


__ADS_2