
"Eh, iya." Pria itu masuk dengan masih melihat gadis itu. Penampilan gadis itu sedikit lebih dewasa dari sebelumnya. Mungkin karena pengaruh pekerjaan atau make up, tapi itu tak penting. Yang ia pedulikan adalah, gadis itu semakin sempurna di matanya. Mendekati matang, mendekati istimewa, mendekati hatinya yang hampir karam karena rindu, dan kini rindunya kembali berbunga-bunga. "Apa kabarmu?"
"Oh, baik," jawab gadis itu sedikit canggung. Ia takut salah bertindak hingga segera pergi ke dapur demi menyelamatkan perasaan yang tak nyaman itu, tapi itu hanya sebentar. Ia tetap harus kembali ke meja makan menemani keduanya, Abra dan Kevin.
Kemudian mereka makan bersama. Shasa memilih duduk di samping Abra ketimbang berada di tengah-tengah mereka. Apalagi sikap manja Abra yang tiba-tiba padanya sejak memutuskan jadi bintang iklan produk bumbu masak instan itu.
"Yang, ini masaknya terlalu lama ini Yang, jadi sayurnya layu. Aku suka yang sedikit kres-kres kalau digigitnya." Abra memperlihatkan sayur yang berada di atas sendoknya itu.
"Iya, ya udah. Aku gak lama lagi deh masaknya."
"Tapi pastiin mateng ya Yang ya?"
"Iya, iya."
"Nanti habis makan, temenin aku ke toko buku yuk?" Abra mencari wajah gadis itu memastikan.
"Toko buku?"
"Iya Yang. Bacaanku sudah habis. Aku mau cari buku bacaan baru."
"Gak bisa online?"
"Males ah. Sekalian kita jalan-jalan. Nanti aku beliin kamu apa aja. Kamu mau apa? Es krim?"
Shasa tersenyum menahan tawa.
"Eh, ini serius." Abra menggenggam tangan Shasa yang berada di atas meja.
"Ya udah nanti lihat di sana aja ya? "
Kevin uring-uringan melihat kemesraan mereka. Shasa seperti terlarut dengan suasana yang diciptakan Abra sehingga pria itu makin iri pada adiknya yang selalu mendapat kesempatan bisa berdua dengan gadis itu sedang dia sangat sulit. Bukan saja dirinya juga yang sangat kaku pada wanita tapi gadis itu seperti menjaga jarak dengannya semenjak mengetahui ia mencintai gadis itu.
"Aku ingin kapan-kapan kita piknik, yuk?" ajak pria itu lagi.
"Piknik?"
"Iya. Nanti kita belajar bikin sandwich berdua." Abra mendekatkan wajahnya pada wajah mungil gadis itu dan mencolek hidungnya. Senyum gadis itu bermekaran seiring pipinya menjadi kemerahan.
Awalnya Shasa sedikit malu dengan kemesraan yang dihadirkan Abra di depan Kevin, tapi sedikit banyak ia mengikutinya agar Kevin tidak betah berada di sana lama. Abra juga sengaja mengumbar kemesraannya di depan Kevin karena selain sedang serius mengoda gadis itu dan mendalami perannya sebagai suami yang baru menikah, ia secara halus mengusir Kevin karena kehadirannya sangat mengganggunya berduaan dengan gadis itu.
Abra kini mulai melepas rem yang berusaha ia pasang untuk mengendalikan hatinya. Ia ingin mencoba bertaruh, membuat gadis itu menoleh padanya dan memikirkan ulang pilihannya yang sudah terlanjur dipilih oleh gadis itu.
Terdengar dering telepon. Itu bunyi HP Abra membuat pria itu terpaksa mengangkatnya. "Halo ... oh ya ... iya? ... sekarang? Ok ... iya, tahu." Ia menutup teleponnya. "Kak, maaf. Habis makan siang aku mau pergi sama Shasa keluar," katanya pada Kevin.
"Ke mana Kak?" tanya gadis itu ingin tahu karena baru saja telepon Abra sepertinya mengajak mereka ke tempat lain.
"Itu, Sutradaranya ingin bertemu. Mungkin skenarionya telah selesai."
"Oh." Shasa berucap berbarengan dengan Kevin. Mereka saling pandang sebentar sebelum gadis itu menjatuhkan pandangannya.
"Oh, ya sudah. Pergi aja. Aku gak masalah kok." Pria itu tersenyum. Brengsek! Jangan terlalu dekat dengannya Abra, dia milikku. Jangan ganggu hatinya, batin Kevin. Jaga saja dia untukku.
__ADS_1
Tak lama telepon berbunyi lagi. Kali ini dari HP Shasa. "Mmh?" Ia mengangkatnya. "Halo?" Ia mengenali siapa yang meneleponnya. "Oh, iya." Ia berbicara sebentar lalu menutupnya. "Nanti aku selesai bertemu sutradara itu, pamit sebentar ya? Mau ketemu Bima di hotel Bintang. Mau lihat-lihat tempat untuk pesta pernikahan."
"Oh ya ...," jawab Abra pelan.
Abra terlihat lemas tapi Kevin terlihat gemas mendengarnya.
Kevin bahkan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja dengan cepat. "Oh ya, aku ingat ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ia menyudahi makannya dan segera berdiri. Ia pamit. Abra mengantarnya hingga ke lift.
Di tempat lain, Rika baru keluar dari Klinik Bersalin dan melihat mama menerima telepon masuk.
"Halo Pa ... iya?"
Tiba-tiba telepon Rika pun berdering. Dari Kevin. Rika panik dan mencoba menjauh agar pembicaraan tidak terdengar jelas."Halo?"
"Kenapa tidak ada pergerakan sama sekali, hah? Sekarang Shasa bahkan sedang bersama Abra karena mendapat kontrak iklan. Kerjamu bagaimana sih? Lamban sekali!!" kecam Kevin gemas.
"Apa?" Kenapa Shasa selalu beruntung ke mana-mana? Kenapa dia selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, dikelilingi pria kaya dan dapat pekerjaan mudah yang menghasilkan banyak uang? Kenapa dia selalu beruntung? Awas saja Shasa, aku takkan rela kau berdiri di atas penderitaanku! Aku akan buat kau tidak akan mendapatkan satu pun ... satu pun diantara mereka. Lihat saja nanti! Rika kembali geram dengan mengepal tangannya.
"Kau tahu, hari ini Shasa akan melihat-lihat hotel Bintang bersama Bima untuk gedung resepsinya. Sekarang kau di mana? Aku sudah bayar kamu mahal, jadi cepat kerjakan, jangan ditunda-tunda lagi, atau kau yang akan masuk penjara karena berani main-main padaku!" ucap Kevin keras.
"Eh, i-iya," jawab Rika gugup. Telepon ditutup dan ia geram.
"Rika."
Gadis itu menoleh.
"Ayo pulang. Mama mau dijemput Papa pergi ke hotel Bintang, diajak Bima ke sana. Katanya mau lihat gedung resepsi."
"Mmh? Mungkin boleh."
Hati gadis itu bersorak. Ia tidak tahu bagaimana melancarkan aksi balas dendamnya tapi yang penting ia berusaha mencari kesempatan.
Saat tiba di rumah dan Papa menjemput mereka, pria itu sedikit ragu gadis itu ikut bersama. "Apa kau yakin Ka? Melihat mereka mempersiapkan pernikahan sementara kamu ...."
"Pa, aku ikut karena bosen di rumah," sergah Rika memberi tahu.
Terlihat aman-aman saja akhirnya Papa membawa Rika ikut serta.
Mereka kemudian bertemu Bima di lobi sendirian.
"Ke mana Shasa?" tanya Adam.
"Oh, dia sedang dapat pekerjaan baru jadi model iklan lagi. Mungkin sebentar lagi datang menyusul." Bima menerangkan. Sekilas wajahnya sedikit kecewa ketika menemukan sosok Rika ada di antara ke dua orang tuanya.
Gadis itu hanya diam dan hanya mengikuti kedua orang tuanya dengan berdiri paling jauh.
"Memang Shasa rezekinya luar biasa akhir-akhir ini. Jadi bintang iklan." Adam menggeleng-gelengkan kepalanya. "Om juga gak nyangka karirnya di iklan bisa sebagus ini. Mungkin rezeki nikah kalian ya?"
"Amin, Om," sahut Bima sambil masih melirik Rika yang diam menunduk.
Rika, memang sedang pusing mencari cara memisahkan mereka tapi di lain pihak entah kenapa ia juga iba pada Bima. Sejak Shasa dikelilingi para pria kaya, Rika merasa Shasa mulai mengabaikan pacarnya yang tidak begitu kaya ini dengan sibuk dengan pria-pria kaya yang mengelilinginya itu hingga dengan mudahnya mendapat pekerjaan yang tidak berat tapi menghasilkan uang. Padahal ia tidak sadar, ialah yang dulu menjodohkan Bima dengan Shasa. Kini ia malah kasihan pada pria itu.
__ADS_1
Aku bodoh, atau apa? Kenapa sekarang aku malah mengasihaninya?
Ketiganya mengikuti Bima menuju ruangan besar yang diperuntukkan untuk acara besar semisal pesta pernikahan. Kedua orang tua Rika memperhatikan luas ruangan dan keterangan yang disampaikan Bima sedang Rika tiba-tiba memisahkan diri dan menghilang. Mereka baru menyadarinya setelah berkumpul kembali sehabis melihat-lihat ruangan.
"Rika mana?" tanya mama pada Adam, suaminya.
"Aku tidak tahu. Bukannya dia pergi sama kamu?"
"Enggak Pa, tadi kita pisah. Aku pikir ia cari Papa."
"Coba tolong kamu telepon."
Mama mengikuti saran papa. "Rika, kamu di mana?"
"Oh Ma, aku ditelepon teman, janjian pergi. Nih aku sudah ada di dalam taksi!" ucap Rika dari tempat persembunyian.
"Eh, jangan ke mana-mana. Kamu kan sedang ...."
"Sstt!" Adam meletakkan jarinya di depan mulut hingga mama sadar dan menghentikan ucapannya.
Keduanya melirik Bima yang terlihat bingung. Ada apa gerangan hingga tak boleh disebutkan?
Setelah mendengar keterangan Bima dan mantap memilih ruangan itu, keduanya pamit. Bima mengantar orang tua Rika hingga ke depan pintu hotel, setelah itu ia menunggu Shasa di lobi. Ia duduk di salah satu sofa dan mulai memainkan HP-nya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu yang mendatangi tempat ia duduk. Suara langkah sepatu yang sudah sangat ia hapal betul bunyinya tapi bukan langkah sepatu yang ia harapkan datang menghampiri. Ia segera menutup apa yang ia lihat di HP-nya, dan mengangkat wajah dengan raut kesal. "Kamu berbohong pada orang tuamu ya?"
"Kamu masih kesal padaku?"
"Menurutmu?" Suara Bima terdengar ketus.
"Boleh aku duduk di sampingmu?"
Pembicaraan mereka seperti menjaga jarak dan menjaga gengsi. Rika berusaha berbicara sedatar mungkin dan Bima berusaha menahan emosi. Entah kenapa, setiap Bima bertemu Rika, emosinya selalu tidak terkendali. Serasa selama ini ia memendam amarahnya seorang diri dan sudah lama sekali ingin ia tumpahkan pada gadis itu karena sejauh ini amarah itu belum sepenuhnya usai.
"Apa pernah kamu mendengarkan laranganku?" ledek Bima lagi.
Rika segera duduk dengan senyum yang entah, menatap Bima tak berkedip. Seperti senyum yang mengejek atau ... "Kamu akan menikah dengan Shasa?"
"Apa pedulimu? Kamu ingin jadi wanita bebas kan? Wanita yang menggoda banyak pria?"
Senyum Rika hilang dari wajahnya diganti wajah kesal pada pria itu. "Aku tidak begitu. Aku memilih pacarku dan mereka bukan orang sembarangan!" Gadis itu membela diri.
"Begitukah? Jadi karena aku tidak sekaya yang kamu pikirkan dan aku orang sembarangan, begitu?" Bima melipat tangannya di dada. "Apa sekarang kamu bahagia?" Ia mencondongkan wajahnya ke depan mengejek gadis itu kembali.
Saat itu Rika seperti merasakan jatuh yang sejatuh-jatuhnya. Ejekannya sangat mengena dengan nasibnya kini. Kenapa Bima tega bicara begitu padanya padahal yang ia tahu pria itu sangat lembut bicaranya, tak mungkin bersikap kasar tapi sejak ia jodohkan pria itu pada Shasa sepupunya, pria itu selalu ketus bila diajak bicara. Padahal saat ini, ia rindu Bima yang dulu yang sangat lembut padanya. Ke mana perginya pria itu?
Rika mendengar langkah sepatu hak tinggi yang berlari mendatangi. Sekilas ia melihat tubuh Shasa mendekat, tapi ia tak peduli. Segera ia mendekati wajah pria itu dan ... menciumnya.
Bima syok. Netranya membulat sempurna. Ia bahkan tak bergerak, tak tahu harus berbuat apa.
"Kak Bima ...." Suara langkah sepatu itu berhenti di depan mereka. Shasa menutup mulut dengan kedua tangannya melihat apa yang dilakukan keduanya.
__ADS_1