Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Rekonsiliasi


__ADS_3

"Yang, udah dong Yang ngambeknya," bujuk Abra.


"Yang?" Erik terkejut.


"Apa?" Adam apalagi.


Shasa kini menyorot Abra dengan pandangan kesal. Gadis itu serta merta berdiri dan meninggalkan mereka bertiga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Abra segera menyusul dengan senangnya dan menoleh pada Erik dan berkata, "eh, Yah. Kalau yang ini gak kenalan dulu juga gak papa. Langsung nikah juga aku setuju aja."


"Apa?" Erik tertawa terbahak-bahak.


"Rupanya mereka sudah dekat ya?" Adam tersenyum.


Di koridor, Abra berhasil meraih tangan Shasa. "Sha."


"Apa sih?" Ia memukul dada bidang pria itu dengan marahnya.


"Jangan begitu dong Sayang. Udahan marahnya. Aku kan kesepian kamu marah-marah terus," bujuk Abra pelan.


"Habis kamunya bikin kesel. Kalau udah gak percaya sama aku lagi, ya udah. Kita bubar aja!" seru Shasa.


"Eh, jangan begitu dong Sayang. Aku kan harus fair(adil), aku harus pastiin dulu kebenarannya baru bisa ngomong percaya enggaknya."


"Dan, kalau aku berbohong bagaimana?" Shasa masih kesal dan malah menantang pria itu.


Abra tersenyum manis pada gadis itu.


Shasa masih saja kesal. Ih, apa itu? Mau melumerkan hatiku dengan senyum Casanova-nya. Huh! Gadis itu kembali cemberut.


"Aku tahu, kau sangat mencintaiku jadi tak mungkin kau menerima pinangan pria lain."


Wajah Shasa merah padam. Ia salah tingkah. "Kamu yakin aku gak bohong sama kamu?" sindir gadis itu lagi.


Abra terdiam dengan masih menatap wajah gadis itu. Sangat sulit melunakkan hatinya saat sedang marah tapi karena sayang, ia akan melakukan apapun untuk kembali bersama gadis itu.


Ia mencolek hidung mungil Shasa. "Udah ah, jangan mikirin yang bikin kesel terus. Aku sudah rindu padamu Yang." Kini pria itu menggenggam kedua tangan gadis itu sedikit gemas.


"Iih! Aku tanya, dijawab dong!" Gadis itu menghentakkan kakinya ke lantai, dongkol.


Abra malah ingin tertawa melihat gaya gadis itu saat ngambek. "Ya udah, maaf. Maaf ya?" ucap pria itu dengan lembut. Ia mencium kening Shasa.


Gadis itu sebenarnya ingin meneruskan ngambeknya dengan menghentak-hentakkan kakinya di lantai tapi pelan-pelan ia mulai menyerah. "Mmh ...."


"Maaf ya Sayang. Aku minta maaf." Dengan suara lembut Abra bicara agar bisa membuat gadis itu melupakan masalah yang hampir membuat mereka berpisah. Kembali ia mendekat dan mengecup kening Shasa. Ia mengusap kepala gadis itu pelan. "Udah ngambeknya." Ia menatap wajah gadis itu dengan penuh pengharapan.


Shasa akhirnya mengalah dan mengangguk dengan ikhlas.


Sebenarnya Abra saat kejadian langsung menanyakan Kevin tentang kebenaran ceritanya dan Kevin bersikukuh bahwa ia benar.


"Kak, jangan bohong. Aku bisa minta pihak restoran lho untuk memperlihatkan CCTV-nya. Apa kakak tetap dengan ucapan kakak tadi bahwa kakak melamarnya dan Shasa berbohong begitu?" tanya Abra sekali lagi.


"Bohong. Dia bohong!" Seorang anak kecil yang mejanya bersebelahan dengan mereka, ikut bicara. Anak perempuan berumur 7 tahun itu menunjuk wajah Kevin karena gadis kecil itu menguping semua pembicaraan Shasa dan Kevin di sebelah.


"Tuh ada saksinya," tunjuk Abra.


Kevin sangat geram dengan anak kecil itu.


"Eh, Nada. Kamu kenapa ikut-ikutan ngurusin urusan orang sih?" ujar ibu gadis kecil itu memperingatkan sehingga tubuh gadis itu kembali berbalik ke mejanya karena takut.


"Ngak papa Bu. Terima kasih ya Dek?" ucap Abra pada ibu dan anak itu. "Sekarang Kakak mau bilang apa?" Abra kembali pada Kevin dan melipat tangannya di dada.


"Aku sudah bilang padamu. Berikan saja Shasa padaku, kan gak begini akhirnya."


Abra menghela napas. Ia tak mau berbantah-bantahan dengan kakaknya di depan umum karena percuma. Kakaknya itu sangat keras kepala. Ditambah, itu hanya memamerkan aib keluarga sendiri di depan orang banyak. Lagipula baru kali ini ia bertengkar dengan kakaknya ini karena tidak sejalan. Abra meninggalkan tempat itu tanpa bicara apapun.


flashoff.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan cincin ini?" Shasa memperlihatkan cincin Kevin yang masih menempel di jari manisnya. "Aku tak tahu cara melepasnya."


"Oh, ini. Mungkin kita bisa coba dengan sabun." Abra menarik gadis itu ke toilet. "Kamu sabuni saja tanganmu itu, nanti cincinnya akan mudah ditanggalkan."


Shasa masuk ke toilet wanita dan Abra menunggu di luar. Tak butuh waktu lama, gadis itu keluar dengan cincin yang telah lepas dari tangannya. "Ini Kak." Ia memberikannya pada Abra. Pria itu kemudian mengantunginya.


Mereka kemudian kembali ke kantin. Adam dan Erik masih di sana.


"Jadi kalian ini pacaran?" tanya Erik pada anaknya, Abra yang baru saja duduk bersama Shasa.


"Nggak."


"Nggak?"


"Shasa trauma pacaran katanya."


"Lah, terus hubungan kalian apa?"


"Tanpa status kayaknya." Abra tertawa. "Kan tadi aku udah bilang Yah, minta dicepetin aja nikahnya."


Wajah Shasa memerah.


"Kamu ini ...."


"Ini beneran Yah. Sebentar lagi iklan terbaru kami release (keluar). Kalau udah keluar, gak lama lagi kami akan Roadshow ke beberapa kota di Indonesia. Kami akan sering bersama mengunjungi acara-acara yang dibuat produsen produk di daerah, yang mungkin nantinya kita akan menginap di hotel."


"Lalu?"


Abra tertawa. "Ayah gak peka atau memang sengaja."


Erik tertawa.


"Tampaknya yang pria sudah tak tahan ingin bersama," ledek Adam membuat gadis itu malu dan wajahnya merah padam.


Shasa mencubit pinggang Abra.


"Aduhh, Sayang. Jangan begitu ah! Aku serius ini!"


"Yah, aku serius. Dia kalau ngambek bawaannya kabur. Takut aku!"


Adam dan Erik tertawa. Shasa mau tak mau juga tersenyum walau ia harus menyembunyikan senyum itu dengan menunduk.


"Ok, Ayah tampung dulu ya? Kita masih mengurusi Kevin sampai ada kejelasan. Memangnya kamu mau nikah tanpa pesta?"


"Malam ini nikah pun aku mau Yah."


Adam dan Erik kembali tertawa. Tinggal Shasa yang wajahnya merah padam mendengar jawaban Abra.


"Kalau nanti kamu menikah Sha, Om akan mengembalikan perusahaan ayahmu padamu," terang Adam.


"Tapi Om, aku gak bisa mengelola perusahaan," elak Shasa.


"Karena itu Om dulu membujuk kamu untuk kuliah tapi kamunya gak mau."


"Aku ingin kuliah dari uang hasil kerja kerasku sendiri Om."


"Padahal itu gak perlu. Uang itu berasal dari perusahaan kamu sendiri. Om bisa ajarkan kamu cara mengelola perusahaan sambil menyambi kamu kuliah."


"Kenapa tidak Om saja yang mengelolanya? Om kan adik ayah?"


"Tidak, Om kan ingin kembali mengajar."


Shasa terdiam. Adam memang berniat mengembalikan perusahaan itu pada Shasa dan juga menaikkan derajat gadis itu di mata Erik dan Abra agar orang tidak memandang gadis itu sebelah mata hanya karena ia anak yatim-piatu.


Mereka kemudian ke tempat Kevin dirawat. Shasa dan Adam ikut menjenguk. Saat itu Karen terkejut melihat kedatangan keduanya. Apalagi Shasa terlihat bergandengan dengan Abra. Erik mengenalkan Adam pada istrinya sebagai Omnya Shasa.


Shasa terlihat menangis melihat keadaan Kevin yang terlihat pucat dan tak berdaya. Bahkan gadis itu bersandar pada Abra. Karen dan Diandra melihat keanehan ini tanpa bicara.

__ADS_1


Selepas kepulangan Shasa, Adam dan Abra, Karen mulai bicara. "Yah, apa Shasa sekarang sedang berpacaran dengan Abra?"


"Iya. Malah Abra ingin pernikahannya dipercepat."


Karen syok. Bukankah Kevin sedang dekat dengan Shasa, bahkan menjadikannya Sekretaris, tapi kenapa gadis itu malah berpacaran dengan Abra? Apa yang sebenarnya terjadi sebetulnya? Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena Kevin kini sedang dalam keadaan terlemahnya. Mendapatkan anak lelakinya terbangun dari komanya saja merupakan keajaiban yang ditunggunya hari ini.


"Om, biar aku yang mengantarkan pulang Shasa karena rumah kami berdekatan," usul Abra.


"Ya sudah."


Abra dan Shasa pamit pada Adam di parkiran.


Di dalam mobil ternyata Shasa kembali protes. "Kenapa kamu ngomong begitu sih sama ayahmu? Aku kan malu."


"Ngomong apa Yang? Aku kan berusaha buktiin ke kamu kalau aku serius sama kamu, Sayang."


"Tapi gak usah ngomong ke orang tua dulu. Ngomongnya ke aku aja."


Abra tertawa. "Biasanya perempuan itu maunya kepastian, karena itu aku minta menikahi kamu pada Ayah, tapi kamu kok lucu. Malah ngak mau."


"Iih!! Kamu kayaknya mesum banget deh!" Gadis itu masih protes.


Abra kembali tertawa. "Ya gak papa, Yang. Aku kan berusaha ngehalalin kamu. Jadi mesumnya tersalurkan." Ia tertawa terbahak-bahak.


"Iih!" Gadis itu menghentakkan kakinya karena gemas. "Kesannya kayak aku juga mesum, gitu." Pipinya memerah.


Abra tak dapat menahan tawa. "Cocok dong, kita pasangan yang suka mesum!" Pria itu sudah hampir sakit perut menahan tawa karena gadis itu berkomentar lucu yang tidak disadari oleh gadis itu sendiri.


"Aku kan malu Kak!" teriak Shasa sambil mencubit pinggang pria itu.


"Aduhh, Shasa! Aku kan sedang menyetir ini. Bahaya lho! Nanti bisa kejadian kayak Pak Bima dan Kak Kevin lagi bagaimana?"


Seketika Shasa takut. Ia segera diam tapi malah mengerucutkan mulutnya memandang ke arah jendela.


Abra malah merasa didiamkan. "Sudah. Yang sekarang kita jalani saja, toh kak Kevin masih koma. Yang penting kamu tahu aku serius padamu. Malah dua rius. Aku gak mau kalau kita ada masalah lagi kamu pergi dariku. Kita selesaikan semuanya sama-sama. Aku tak ingin kamu malah lari dari masalah. Ada aku di sampingmu, kita akan menjalaninya bersama-sama."


"Tapi yang tadi itu kamu yang bikin masalah." Shasa dengan kritis mengingatkan tentang masalah tadi bersama Kevin.


"Ya sudah, aku akui aku salah, tapi aku melakukannya karena ingin memastikan siapa yang benar dan yang salah."


"Terus, siapa yang benar?" Shasa kini menoleh ke arah Abra dengan mencibir. Mulutnya sangat lucu saat mengerucutkannya seraya bicara.


Abra gemas hingga mengecup keningnya. "Kamu Sayang, kamu ...."


Pipi gadis itu memerah tapi hatinya senang. Abra akhirnya memenangkannya.


Ya, wanita hanya dengan hal-hal kecil saja dia bisa bahagia, seperti misalnya, bahwa dia benar dan orang lain salah.


Mobil Abra akhirnya sampai juga ke kos-kosan Shasa.


"Yang besok kencan yuk? Besok kamu ngantor gak?" tanya Abra.


"Besok kan Minggu. Memangnya aku harus ke kantor? Eh, Kak Kevin kan gak ada ya?"


"Aku besok masuk. Mau temenin aku bentar Yang, aku masuk agak siang."


"Gak ah, mataku sembab. Aku takut di tanya teman sekantor."


"Makanya jangan nangisin aku dong Sayang," ledek Abra.


"Iih!!" Shasa hampir saja mencubit Abra tapi pria itu dengan cepat menghindar dan tertawa.


"Besok aku jemput ya? Mungkin sore."


"Iya."


"Nanti aku telepon."

__ADS_1


Shasa turun dan melihat Raven menunggu. Ia melambaikan tangan pada Abra ketika mobil lelaki itu bergerak keluar.


"Tadi bagaimana?" cecar Raven dan akhirnya Shasa bercerita.


__ADS_2