
Perlahan, Shasa menarik tangannya yang baru diraih Kevin.
"Oh, maaf." Kevin melihat ketidaknyamanan gadis itu.
"Nanti saya bisa beli sendiri Pak." Gadis itu tak mau diistimewakan di bawah pandangan begitu banyak mata yang mencuri-curi pandang melihat kegiatan keduanya.
"Oh, tidak. Aku mau ke kantin. Sekalian saja aku belikan. Kan kamu sebagai temannya Abra, masa aku tega gak kasih kamu sekedar minum sementara kamu udah bantu aku di sini. Ya kan?"
Shasa menatap Kevin lalu para pegawai yang sedang mengintip mereka berdua dan akhirnya ia memutuskan untuk menerima. "Ya, sudah."
"Ok, mau apa?"
"Jus."
"Jeruk, alpukat, apel, mangga ...."
"Mangga."
"Ok."
Kevin pun keluar dari ruangan. Saat Shasa menoleh kembali kepada para pegawai, mereka segera kembali pada pekerjaan mereka masing-masing, seakan tidak ada yang pernah mengintip gadis itu sehingga gadis itu kembali meneruskan pekerjaannya.
"Gila ya? Pak Kevin disuruh? Bukannya harusnya dia yang nyuruh sekretarisnya beli?" bisik seorang pegawai wanita pada teman di sampingnya.
"Dunia sudah terbalik kali."
Keduanya tertawa dengan suara yang dikecilkan.
"Lagian cantik juga enggak. Pak Kevin liat apanya sih?"
"Peletnya kenceng kali."
Kembali keduanya tertawa.
"Hus! Ngobrol aja." tegur pegawai pria di samping mereka. "Kalo ketahuan Pak Kevin, berani lo? Kerja, kerja!"
Kedua wanita itu langsung tertib bekerja.
----------+++-----------
"Assalamu'alaikum. Pada ke mana? Kok sepi?" Papa Rika masuk ke dalam rumah beserta istrinya saat pembantunya membukakan pintu. Pembantu itu membantu membawakan koper mereka ke dalam.
Rika yang sedang menonton TV segera berdiri dan berlari menyambut kedua orang tuanya. "Papa ... Mama ...." Ia memeluk mereka satu-satu.
"Mana Damar, Shasa?" lanjut Papa mulai mengabsen.
"Kak Damar, gak tau dari tadi gak keluar kamar paling main games online lagi. Kalo Shasa dia pindah."
"Apa pindah? Pindah bagaimana maksudnya?" Papa Rika syok. Mama juga tak kalah kaget mendengar berita itu.
"Dia gak suka kayaknya tinggal di sini, terus dia pergi," terang Rika enteng.
"Kenapa tidak bilang Papa, Papa kan bisa menghentikannya."
"Ya papa .... kalo Shasa aja dipikirin. Aku enggak?" Rika merajuk. "Padahal dia pergi gitu aja lho, tiba-tiba. Kayak pengen ditahan gitu, tapi aku gak maulah nahan-nahan kalo emang mau pergi. Gak usah pake drama gitu. Pergi ya silahkan aja," ujarnya sewot.
"Bukan karena kalian bertengkar kan?" selidik Papa melirik wajah anak gadisnya. Nada bicara Rika yang terlihat kesal, mengarahkannya pada kecurigaannya itu.
"Pasti itu!" sela Damar yang sedang menuruni tangga.
"Fitnah! Enak aja. Tanya aja sama Shasa!" Rika begitu yakin pertengkaran mereka takkan terbongkar hingga ia melihat papanya mengangkat telepon. Wajahnya seketika pucat.
"Halo, Sha. Kamu di mana?"
"Eh, Om. Aku lagi kerja Om." Shasa menjawab hati-hati. Ia sendiri bingung kenapa Omnya baru meneleponnya sekarang sementara ia sudah lama tidak berada di rumah. Apa Omnya sedang sibuk hingga tidak mengetahui ketidakberadaan dirinya di rumah, tapi rasanya tak mungkin.
"Om pergi mendadak beberapa hari ke Surabaya karena nenek sakit, tapi Om baru dengar dari Rika kalau kamu pindah dari rumah. Apa itu benar begitu?"
Kevin yang berada di ruangannya bersama Shasa, mendekati gadis itu. Ia tadi baru saja meminta gadis itu merapikan meja yang sudah ia buat sedikit berantakan, dan gadis itu belum selesai merapikannya kala telepon dari Omnya itu datang. Ia mencoba menguping.
"Eh, iya Om."
"Kenapa? Apa kamu ada masalah di rumah ini?"
__ADS_1
Kini Damar juga ikut tegang, walaupun raut wajahnya itu berusaha ia sembunyikan.
Shasa bingung harus menjawab apa, tapi kemudian ia berpikir cepat. "Tidak Om, hanya ingin mandiri saja."
Pria paruh baya itu menatap kedua anaknya yang berwajah tegang. "Tapi kan kamu tidak punya uang Shasa, karena kamu baru bekerja. Om kan jadi merasa telah melepas tanggung jawab padahal kamu masih membutuhkannya."
"Tidak apa-apa Om, aku hanya ingin tidak menyusahkan Om yang sudah banyak bantu Shasa. Kalau masalah uang Shasa ada sedikit tabungan jadi bisa untuk menyewa kos-kosan untuk sendiri, jadi Om gak usah khawatir."
"Tapi Shasa, kamu masih tanggung jawab Om. Om gak akan tenang kalau hidupmu berantakan di luar sana. Coba, sekarang Om mau ketemu kamu. Kamu sekarang ada di mana?"
Shasa panik. "Di tempat kerja Om."
"Hari Sabtu kamu masih kerja juga? Di tempat Bima?"
"Eh, bukan Om. Di stasiun TV tempat Rika bekerja." Shasa menutup matanya. Apa reaksi Omnya bila tahu ia bekerja di tempat Rika bekerja?
"Apa?" Papa melirik Rika. "Tolong jelaskan, kenapa Shasa bekerja di stasiun TV tempat kamu bekerja dan kenapa kamu malah tidak kerja?"
Damar dan Mama terkejut mendengar berita itu.
"Shasa bekerja di stasiun TV?" gumam Damar heran. Apa karena itu mereka bertengkar? Ada masalah apa sebenarnya di antara keduanya, ia menatap Rika sinis.
"Aku gak tau Pa ...."
"Kok kamu gak tahu? Kamu kan yang kerja di sana, masa gak tahu?"
"Bener Pa, Rika gak bohong. Setahu Rika, Shasa itu tamu di stasiun TV itu. Mungkin Bima ada kerja sama dengan stasiun TV itu dan Shasa yang disuruh ke sana sama Bima. Kalau aku, aku berhenti karena kerjaannya susah di sana."
"Berhenti?" Papa menyipitkan matanya tapi seperti tidak terkejut.
"Iya." Rika menunjukkan wajah sedihnya sambil menunduk.
Dipecat kali, huahaha ... syukurin, ucap Damar dalam hati. Pria itu menahan tawa.
Shasa yang mendengarkan interogasi Omnya pada Rika hanya mampu mendengarkan. Ia menunggu dengan cemas.
"Shasa, apa kamu masih bekerja pada Bima? Kenapa kamu ada di stasiun TV tempat Rika bekerja?" Kini Papa mulai bertanya pada Shasa kebenaran cerita Rika.
"Ok, kalau begitu." Berarti Rika tidak berbohong. "Tapi Om tetap mau ketemu kamu sekarang. Ok, Om ke sana."
Sebelum Shasa menjawab, hubungan telepon telah terputus.
"Damar, tolong antar Papa ke stasiun TV Indo," perintah Papa pada Damar.
Bukan main senangnya Damar saat itu. Ia bisa bertemu lagi dengan sepupunya yang menghilang tanpa jejak itu dan setidaknya tahu di mana ia tinggal. "Siap Pa." Ia bergegas mengambil kunci mobilnya.
"Eh, kok gak ada yang prihatin sama aku sih?" Rika menghentakkan kakinya.
"Sebentar ya, Papa ngurus Shasa dulu. Penting," ucap Papa singkat.
Rika makin merengut, tapi tangan lembut Mama mencairkan segalanya. Usapan lembut menepikan rambut yang tergerai di samping wajah gadis itu segera membuat Rika bersandar pada hangat tubuh wanita itu. Mama merengkuh tubuh gadis manja itu pelan.
Sementara Shasa baru menyadari Kevin menguping dari belakang punggungnya. Hingga saking kagetnya ia bergerak mundur. "Oh, Pak."
"Ommu mau datang ya?" tebak pria itu karena ia sayup-sayup sempat mendengar sedikit percakapan di HP antara Shasa dan Omnya.
"Eh, iya. Eh ... apa sepupuku berhenti kerja ya?"
"Berhenti kerja?" Oh, jadi dia bilang begitu? Ya gak apa-apa sih. "Mmh, iya."
Pantas aku tidak lihat dia dari tadi, batin Shasa.
"Nanti kalau Ommu datang aku temani ya?"
Tawaran Kevin mengejutkan gadis itu. "Oh, tidak usah Pak, saya bisa sendiri kok."
"Tidak, nanti Ommu pasti membujukmu kembali ke sana. Biar aku bantu." Kevin jelas tidak ingin Shasa kembali ke rumah Omnya itu karena keberadaan Rika di situ.
"Tapi Pak ...."
"Apa kamu bisa menolak bujukan Ommu seandainya ia memaksa? Tidak kan? Biarkan aku membantumu."
Shasa terlihat masih bimbang.
__ADS_1
"Sha ...."
"Tapi biarkan aku bicara dulu dengan Omku ya? Bapak tak perlu ikut bicara kalau tidak mendesak." Wajah gadis itu memohon.
Kevin mengangguk.
Dua puluh menit kemudian, Shasa ditelepon Papa Rika dan mereka bertemu di kantin stasiun TV itu. Shasa terkejut, Omnya datang bersama Damar sedang Damar dan Papa Rika terkejut karena Shasa tidak datang sendirian. Ia datang bersama Kevin.
Shasa mengenalkan Kevin pada Omnya membuat Papa Rika terkejut. "Oh, kamu anak pemilik stasiun TV ini. Apa ayahmu sehat?"
"Oh, Om mengenal Ayah saya?" Kevin pun balik terkejut.
"Oh, tidak dekat sih."
"Mmh, iya Ayah sehat."
"Shasa adalah keponakanku. Karena orang tuanya meninggal, aku yang mengurus semuanya. Apa dia merepotkan di sini?" tanya Papa Rika pada Kevin.
"Oh, tidak sama sekali. Dia sangat kooperatif, apalagi dia kan jadi model untuk iklan kliennya sendiri jadi harus mondar-mandir di sini," terang Kevin.
"Model ... iklan?"
"Oh, Om tidak tahu ya?" Kevin begitu senang bicara pada Papa Rika hingga lupa janjinya pada Shasa untuk membiarkannya bicara pada Omnya membuat Shasa terpaksa memotong pembicaraannya.
"Eh, itu salah satu pekerjaan, Om jadi aku sekarang di sini."
"Sekarang kamu tinggal di mana Sha?"
Semua orang menoleh ke arah Damar.
Shasa malas menjawabnya. Bukan saja karena Damar yang bertanya tapi juga karena ia belum mencari kos-kosan yang ingin ditempatinya. Ini berpeluang untuk Omnya bisa membujuknya kembali. "Aku ...." Kalimatnya menggantung, tapi Kevin menyelamatkannya.
"Tinggal di rumah adikku."
"Adikmu?" Papa Rika menautkan alis.
"Aku punya adik perempuan." Aku kan gak bohong.
"Oh."
Kenapa dia bilang adiknya perempuan? Namun Shasa tak mau bertanya jauh karena kalimat itu sudah cukup menyelamatkannya.
"Tapi apa kamu benar-benar ingin hidup mandiri?" tanya Papa Rika lagi. Ia masih mencemaskan ponakannya itu.
"Aku bisa kok Om. Ngak papa." Shasa memastikan.
"Adikku juga mandiri dengan membeli apartemen dan hidup sendiri."
Shasa menjadi khawatir. Aduh, Kak Kevin gak bisa berhenti bicara ya, kan nanti bisa ketahuan. "Tapi ke depannya, Shasa akan ngekos. Shasa akan kasih tau di mana Shasa tinggal."
Papa Rika mengeluarkan kartu dari dompetnya. Kartu ATM. "Ini peganglah."
"Tidak usah Om, Shasa punya tabungan kok Om, cukup untuk itu."
"Jangan begitu Sha, nanti Om tambah khawatir dengan kamu. Ini pegang saja untuk jaga-jaga."
"Tapi Om ...."
Tangan Kevin bergerak cepat dengan mengambil kartu itu. Ia menyodorkannya pada Shasa. "Sudah Sha, gak baik kamu tolak terus atau nanti dia gak ngijinin kamu pindah dari rumahnya, bagaimana?"
Akhirnya Shasa menerimanya.
Papa Rika masih terlihat bingung melihat pada Kevin. Perasaan dulu setahuku anak Erik ada berapa ya, 2 atau 3 ya? Apa ini yang dijodohkan Erik pada kakakku Bram, tapi umur mereka terpaut jauh, mungkin seumuran Bima. Aneh juga mereka bisa bertemu. Apa mereka berjodoh? Ah, Shasa kan sekarang sedang berpacaran dengan Bima, aku tak bisa merusaknya. Lagipula mereka mungkin juga tak bisa menerima Shasa karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Shasa mungkin juga dianggap gadis miskin. Mmh, ini mungkin sudah jalannya jadi sebaiknya aku tak usah mengungkit-ungkit yang sudah lampau.
_____________________________________________
Kepoin novel satu ini yuk!
Kisah pahit harus dialami gadis berusia 20 tahun yang tak lain gadis itu bernama Putri Varelina. Gadis malang yang lebih memilih persahabatan ketimbang cinta yang nantinya akan menghancurkan ketiga sahabat itu.
Hinga akhirnya hidupnya hancur lebur setelah ia dinodai oleh mantan kekasihnya yang kini berstatus Suami dari sepupunya sendiri. Mampukah ia bertahan mempertahankan janin yang kini menjadi calon anak dari Suami sepupunya sendiri. Dan mampukah ia berjuang bertahan dari hinaan dan siksaan batin yang dilakukan laki-laki itu yang dengan teganya tidak Sudi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut.
__ADS_1