
"Oh, gitu."
Abra memutar tubuh gadis itu dan mencium bibirnya. Shasa yang terkejut, mendorong suaminya menjauh. "Pak, ini kantor ...."
"Eh ... Sayang." Pria itu juga terkejut dengan reaksi gadis itu padahal ia hanya ingin memberi kejutan saja. Ia bingung harus berbuat apa. "Eh, aku tahu ...."
"Pak, konsisten! Kalau enggak, ambil cuti dan biarkan aku resign sebab aku merasa tidak seharusnya aku ada di sini. Aku kan sudah resign," ucap gadis itu dengan suara pelan.
Abra mendekat. "Jangan begitu Sha. Kita baru menikah. Seharusnya kita selalu bersama dan menikmati bulan madu berdua, walaupun belum bisa pergi ke mana-mana. Maaf ya?"
"Kamu saja bingung, apalagi aku Pak. Tempat ini membuatku bingung," keluh Shasa. Ia duduk di sofa dan menopang dahinya.
Abra mencoba duduk di sampingnya. "Aku ingin dekat denganmu, Sayang. Kamu jangan resign dulu ya? Apa karena kantormu mengingatkanmu pada Kak Kevin?"
"Salah satunya." Gadis itu menatap Abra. "Kenapa kita harus menyembunyikan pernikahan kita sih, aku bingung. Kita kan nikah baik-baik atas persetujuan kedua orang tua kita tapi kenapa aku kok jadi merasa bersalah setelah menikah denganmu?"
Abra buru-buru menyentuh lengan Shasa, khawatir gadis itu berubah pikiran. "Sayang, jangan bilang begitu, aku sangat mencintaimu. Kita tak mungkin mengumumkannya sekarang karena keluargaku sedang mengkhawatirkan keadaan Kak Kevin. Aku tidak berani meminta lebih selain menikah denganmu. Maaf, aku tidak bisa memberimu sebuah pesta yang meriah untuk pernikahan kita tapi aku janji aku akan memberikan bulan madu yang paling indah yang kamu inginkan, tapi aku minta kamu bersabar ya? Kondisi keluargaku masih kacau sejak Kak Kevin koma."
"Tapi ...." Shasa tak bisa berkata apa-apa saat melihat kedua bola mata suaminya yang penuh pengharapan. Ia bukan tidak mengerti tapi ia juga tidak merasa salah dengan menuntut kejelasan, tapi kemudian ia akhirnya memutuskan untuk berusaha bertahan dan bersabar untuk sementara waktu. "Ya sudah." Ia tertunduk.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku." Abra memeluk gadis itu berusaha menenangkannya. "Lagi pula nanti kita mau belanja bersama kan?" bujuk Abra melepas pelukan.
"Bukannya aku nanti belanja sendiri?" tanya gadis itu bingung.
"Oh, ngak. Nanti aku temenin kok."
"Tapi nanti orang-orang akan melihat kita berdua—"
"Pacaran," potong Abra. "Yang gak boleh, kelihatan menikah kan?"
Gadis itu mengangguk.
"Sekarang kita fokus kerja aja dulu ya? Kamu tadi ke sini mau apa?"
"Oh, mau laporan." Gadis itu mengeluarkan buku notesnya dan memberikan laporan tentang hasil kerja tim marketing minggu kemarin dan rencana minggu ini.
"Kok ada rencana minggu ini? Memangnya ada meeting?"
Gadis itu terlihat malu karena telah lancang melakukan meeting tanpa adanya pimpinan. "Maaf, tapi mereka memaksaku ikut meeting tadi Pak."
"Memaksamu?" Abra mengerut kening.
"Eh, maaf, tapi mereka bilang tidak apa-apa. Jadi aku menghadirinya."
"Tapi siapa yang memimpin rapat?"
Wajah gadis itu pias. "Eh ... a-ku," katanya pelan.
"Kamu?" Abra menatapnya tak percaya.
Gadis itu memelintir ujung bajunya, merasa bersalah. Ia memamerkan giginya dengan berusaha tersenyum. "Eh, maaf. Lancang."
Pria itu tersenyum. "Kamu bisa?" tanyanya lembut.
"Sepertinya ...." Dengan senyum kekanakannya.
Abra menatap gadis itu lembut. Ia menarik dagu istrinya dan mengecup keningnya. "Kamu itu memang penuh dengan kejutan."
"Mmh?" Bola mata gadis itu membulat sempurna.
"Kadang aku berpikir, kamu masih sangat muda tapi di waktu-waktu tertentu aku merasa kau lebih dewasa dariku. Itu yang kadang mencengangkanku."
"Mmh ... masa?" tanya gadis itu bingung.
"Seperti ada dua orang yang tinggal di tubuh yang sama."
Gadis itu tersenyum hampir tertawa. "Jangan gitu ah, mengada-ngada."
__ADS_1
Abra tersenyum senang. "Aku bangga padamu."
"Bangga tentang apa?" Gadis itu masih tak mengerti.
"Berarti mereka percaya padamu Sha. Mereka percaya kamu bisa mewakili Kak Kevin untuk sementara waktu."
"Eh, itu gak mungkin kan?"
Abra menatap istrinya dengan tersenyum lebar. "Tidak mudah lho Sha, mendapat kepercayaan dari orang lain dan kamu mendapatkannya."
"Eh." Gadis itu mengangguk walau tak mengerti.
Abra tertawa. "Ya, sudah. Aku mau keliling dulu. Mau ikut?"
"Ngak. Aku kembali ke kantor aja."
Mereka berdua berdiri.
"Nanti aku jemput ya?"
"Mmh."
---------+++--------
Abra dan Shasa keluar dari toko elektronik dan bersiap pindah ke tempat lain. Ke tempat toko pakai wanita.
Baru saja Abra hendak masuk ke area pakaian dalam wanita, ia tiba-tiba berhenti saat melihat sebuah patung yang dipasangkan lingerie seksi, tengah dipajang di sana. Ia ragu untuk meneruskan. "Eh, Sha. Kamu bisa belanja sendiri kan?"
"Mmh? Katanya sama-sama ...."
Abra mendekatkan mulutnya ke telinga istrinya. "Aku takut si Buyung tiba-tiba bangun," bisiknya pelan.
Shasa hanya dapat mengumpulkan senyum di bibirnya.
"Beri saja aku kejutan saat aku di kamar bersamamu."
Gadis itu mengangguk seraya tersenyum lebar.
Shasa mulai mendatangi tempat itu. Matanya terbelalak melihat model-model yang ada. Ia pun tersenyum sambil membayangkan suaminya melihat pakaian minim dan transparan yang tersedia di sana. Ia dipandu oleh seorang pramuniaga akhirnya membeli sebuah lingerie berwarna pink(merah muda). Ia kemudian menyusul suaminya di sebuah restoran cepat saji.
"Sudah?" tanya pria tampan itu sambil menyilangkan kaki dan menggerak-gerakkan kaki atasnya karena senang.
"Mau lihat?" Shasa mencondongkan tubuhnya ke depan, menggoda pria itu.
"Eh ... nanti saja." Abra tak yakin ingin melihatnya segera, takut sesuatu perubahan terjadi pada tubuhnya walaupun ia begitu penasaran. "Kita makan saja dulu. Ini burger-nya sudah aku pesankan." Ia menunjuk dengan dagunya, makanan kesukaan Shasa di atas meja.
Gadis itu segera duduk dan meletakkan tas belanjaan itu di samping. Ia segera menghadap piring saji dan menyantap burger dan kentang goreng yang berada di depan mata.
Mata Abra tertuju pada tas belanja itu. Tentu saja ia sangat penasaran tapi ia coba menahan hasratnya.
"Beneran gak penasaran?" ucapan gadis itu mengejutkannya.
Mata Abra langsung fokus pada istrinya dan tertawa pelan. "Nanti saja."
Shasa tersenyum nakal.
Seusai makan, mereka mendatangi apartemen Abra, karena mesin cuci beserta setrikaan dan papannya akan datang ke apartemen itu. Pria itu membawakan barang belanjaan Shasa yang lain bersama gadis itu.
"Banyak juga belanjaanmu ya?" sahut Abra yang meletakkan barang belanjaan itu di atas meja.
"Iya. Aku ingin masak nanti malam menunggumu pulang. Apa kamu lembur lagi malam ini?"
"Mmh ...." Pria itu tak bisa memberi kepastian.
"Kalau kamu tak bisa pulang cepat, aku akan memasukkannya ke dalam lemari es."
"Kamu tak perlu repot begini. Jadwal ku tidak jelas tapi sepertinya akan lembur lagi."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Makanan kan bisa disimpan di lemari es dan bisa dihangatkan lagi untuk sarapan pagi."
"Ya sudah." Hampir saja pria itu membalikkan tubuhnya ketika gadis itu memanggilnya kembali.
"Eh, ini kartu dan lingerie-nya." Shasa mengembalikan kartu ATM suaminya.
"Oh, kamu pegang saja kartu itu dan lingerie ini aku yang simpan?" tanya pria itu memastikan.
"Iya, kan gak tahu kapan mau dipakainya, jadi simpan saja dulu sama Mas." Gadis itu menyimpan kartu ATM suaminya di dalam dompet.
"Ok." Pria itu membawa tas belanja itu ke kamarnya ketika HP-nya berbunyi. "Iya, halo ... Oh, sudah ada di bawah ya, ok." Ia menutup teleponnya. "Sha, mesin cucinya sudah datang di bawah."
"Oh ya." Gadis itu bergegas keluar membawa kartu akses pintu lift bersamanya.
Pria itu meneruskan langkahnya ke kamar. Ia meletakkan begitu saja tas belanja itu di atas tempat tidur dan ia duduk di tepian. Tak sadar, geraknya yang sembarang saat duduk membuat gelombang pada kasur busa itu menyebabkan tas belanja dari kertas karton itu terguling dan menumpahkan isinya.
Abra tanpa sengaja melihatnya. "Apa ini?" Ia menyentuh benda itu dan terbelalak tapi kemudian tersenyum. Ia memasukkan benda itu kembali ke dalam tas belanja dan meletakkannya di atas meja nakas. Ia, menunggu istrinya.
Shasa menunggui orang-orang itu memasang mesin cuci itu dan mengajarinya cara menggunakannya di beranda. Ia sangat senang punya mesin cuci karena ia tidak perlu lagi mendatangi laundry sebab ia bisa mencuci pakaiannya di rumah. Apalagi mereka juga mengantarkan setrikaan dan papannya bersama mesin cuci itu. Setelah mengantar kedua pria itu hingga lift, ia kembali ke dalam apartemen.
"Mas, kamu di mana?" Gadis itu baru sadar bahwa suaminya sejak masuk ke dalam kamar, belum sekali pun keluar. Ia masuk ke kamar itu mencarinya.
Pria itu tertidur di atas tempat tidur membuat gadis itu heran. Padahal sejak tadi tidak ada tanda-tanda ia mengantuk ingin tidur, apalagi ia hanya meninggalkan pria itu sebentar saja, bagaimana bisa kini pria itu tertidur dengan cepat tanpa ia sadari?
"Mas?" Shasa menyentuh lengan suaminya.
Pria itu cepat terbangun. "Oh, sudah selesai Sha?"
"Mas kenapa, ngantuk? Kalau ngantuk ngak usah ke kantor saja, atau mau masuk malam? Kalau gitu Mas bisa makan malam di rumah dong ya?" Gadis itu tersenyum senang.
Pria itu segera duduk dan menyentuh lengan istrinya. "Mas tadi udah lihat lingerie-mu Sayang."
"Iya, lalu?" Shasa menyelidik. Matanya penasaran. "Gak suka ya? Jelek?" tanya gadis itu sedikit kecewa.
"Coba kamu pakai."
"Apa? Sekarang?"
"Iya."
Matanya masih menyelidik. "Aneh ya?" Matanya menyipit.
"Aku penasaran," bisiknya sambil tersenyum.
"Mmh? Bukannya sebentar lagi kerja?" Gadis itu masih menyelidik tak percaya.
"Aku kan CEO. Mau datang kapan saja terserah, yang penting kerjaan beres. Kamu pun juga Sekretaris tanpa bos jadi kita berdua sebenarnya bisa mengatur waktu kapan ingin bekerja, iya kan?" Abra memberikan tas belanja yang di ambilnya dari atas meja nakas dan memberikannya pada Shasa. Gadis itu membawanya ke kamar mandi.
Tak lama gadis itu keluar dengan ... pakaian yang sama.
"Lho gak dipakai bajunya? Kenapa? Tidak nyaman?" tanya Abra yang segera duduk di tepian tempat tidur.
Shasa tak menjawab. Gadis itu yang sudah tanpa jilbab kini memasangkan bando di kepala berbentuk telinga kelinci.
Abra tersenyum melihatnya. Istrinya mulai melepas satu-satu kancing bajunya hingga memunculkan baju longgar transparan berwarna pink hingga pinggul yang memperlihatkan behanya yang berwarna hitam.
Gadis itu juga melucuti baju dan celana panjangnya hingga terlihat ****** ******** yang juga berwarna hitam. Ia memutar tubuhnya ke belakang dan terlihatlah buntut pendek berwarna pink. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya agar buntut itu bergerak-gerak.
Abra tertawa pelan. Ia menikmati pertunjukan itu dari istrinya.
"Bagaimana?" Gadis itu mendatanginya. "Aku gak begitu pintar jadi cewek seksi," ujarnya khawatir karena terlihat suaminya merespon santai pertunjukan pendek tadi.
Di luar dugaan, Abra mengangkat dan merebahkannya di atas tempat tidur. Ia mulai naik dan mencondongkan tubuh pada gadis itu. "Justru aku mengharapkan banyak anak darimu, kelinciku." Ia mulai mengecup bibir merah Nyonya Abra.
_____________________________________________
Sambil menunggu update terbaru Puisi Cinta Topeng Cinderella, baca novel online yang satu ini yuk!
__ADS_1