
"Sha Sayang ...." Abra menarik tubuh istrinya dan memeluknya. "Ada hal-hal yang perlu dipikirkan dan ada yang tidak, dan ini adalah hal yang tidak perlu kamu pikirkan karena akan merusak pikiranmu. Kamu harus obyektif dalam bersikap dan tidak terganggu oleh, apakah dia keluarga atau teman tapi pikirkan tindakannya. Dengan itu kamu bisa menegakkan keadilan. Apakah adil kamu diperlakukan seperti ini olehnya terlepas dia adalah keluargamu. Apalagi keluarga, kok tega ... mmh? Keluarga yang harusnya melindungi kok dia tidak." Pria itu berbicara pelan dan mengecup pucuk kepala istrinya.
Gadis itu mulai melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya tanpa suara. Ia hanya bisa diam.
"Sudah, sekarang kamu istirahat ya?" Abra melepas pelukan dan membantu istrinya merebahkan diri. Ia merapikan selimut istrinya.
Abra tidak kembali lagi ke kantor karena menunggui istrinya tapi ia mendapat laporan bahwa Damar telah menyerahkan surat pengunduran dirinya di kantor dan langsung pergi. Bahkan Om Adam pun yang mengetahui pengunduran diri anaknya belakangan, tidak tahu penyebabnya.
Tentu saja Abra kecewa. Ia belum sempat bicara dengan pria itu, tapi mungkin saja saat bertemu dengannya ia takkan sanggup bicara dan tangannya yang akan langsung mengarahkan pukulan pada pria itu, hingga ia antara bersyukur dan tidak, tak bisa bertemu dengan Damar.
Namun dengan pengunduran diri Damar, tak ada yang tahu kenapa pria itu berhenti dari kantor Shasa. Abra pun menyudahi masalah ini karena ketidakadaan pria itu di kantor.
Waktu berlalu. Abra pun kembali ikut Roadshow dengan istrinya ke kota-kota besar lainnya selama sebulan. Kantor dititipkan pada Adam.
------------++++------------
Adam memperhatikan Damar yang tengah sibuk menonton TV di ruang tengah. Ia menoleh pada istrinya di sampingnya. "Ada apa sih sebenarnya dengan Damar? Ia tiba-tiba berhenti bekerja dan kerjanya sehari-hari cuma sibuk keluyurannn ... saja ke mana-mana, macam orang stres. Apa kamu tahu sesuatu?"
Wanita itu menggeleng. "Ia mirip ayahnya. Walaupun kita mengenal dia dari dekat, pasti ada hal rahasia yang disembunyikannya rapat-rapat sampai kita mengetahuinya. Seperti itulah dia."
"Mmh, hal tersembunyi apa yang sedang dirahasiakannya? Kalau itu adalah masalah, apa tidak sebaiknya kita sebagai orang tuanya tahu dan mungkin saja bisa meringankan bebannya dengan bercerita misalnya."
"Apa Papa sudah bertanya padanya?" Wanita itu mengangkat cangkir dan menyeruput teh di tangannya.
"Sudah, dan dia tidak bilang apa-apa." Adam terdiam. "Kau ibunya, paling tidak ia pernah berbicara tentang sesuatu."
Wanita itu kembali menggeleng. "Tidak. Apa Papa mencurigai sesuatu di kantor karena dia resign dari kantor. Pasti ia ada masalah dengan teman sekantornya, aku rasa."
"Mmh." Adam kembali menoleh pada Damar. Pria itu masih terdiam di depan TV. "Seharusnya, tapi orang-orang di kantor itu sebagian besar orang-orang lama dan aku tidak pernah lihat Damar bertengkar dengan seorang pun di kantor ...." Ia menghela napas pelan. "Setahuku yang orang baru hanya Abra di kantor dan dia sangat menyukai Damar. Ia sering memuji Damar di depanku. Kasihan Abra, kini dia harus cari orang kepercayaan baru."
Lama mereka terdiam ketika kemudian Adam kembali bertanya. "Apa masalah wanita? Dulu kayaknya dia pernah semangat sekali setiap habis pulang kerja, lalu pergi lagi, walaupun kejadian itu tidak berlangsung lama. Apa dia patah hati?"
Wanita itu menoleh pada Adam dan tersenyum. "Andai aku ibunya tahu ...."
"Mmh, apa kamu tidak ingin menjodohkannya dengan anak temanmu soalnya dia sudah cukup umur," berkata Adam.
Wanita itu meletakkan kedua sikunya di atas meja makan. "Anak sekarang mana mau begitu, Pa." Ia kembali mengambil cangkirnya. "Apalagi anak sekeras kepala Damar. Papa sendiri kewalahan kan dengan Rika? Aku pernah mencobanya dan ia menentangnya."
"Mmh." Adam mengambil cangkir kopinya. "Kita punya anak-anak keras kepala. Untung saja masalah Rika terselesaikan dengan cara ajaib dan aku tidak berhenti bersyukur dan tercengang bagaimana Allah menyelesaikan masalah ini dengan tuntas." Ia menyeruput kopinya.
"Mmh, semoga saja hal yang sama terjadi pada Damar."
"Mmh, semoga saja."
Tak lama keduanya meninggalkan cangkir minuman mereka di atas meja makan. Mereka berangkat mengajar.
"Damar, Papa pergi ya?"
"Mama juga. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Damar tanpa menoleh. Ia tengah sibuk melihat berita gosip di TV. Saat itu tengah diputar gosip mengenai artis iklan terkenal yang baru-baru ini diketahui sudah menikah dengan pasangan mainnya diiklan itu dan kini diketahui pula sang wanita telah berbadan dua. Ucapan selamat mengalir dari para penggemar dan juga sponsor.
__ADS_1
Ya, siapa lagi kalau bukan Shasa dan Abra. Malah di setiap kunjungan di tempat-tempat promosi, ada saja yang memberi hampers bunga dan hadiah dari para penggemarnya. Keduanya tampak sangat bahagia terlihat di layar kaca.
Ya, nikmati saja kebahagiaan kalian kini karena nanti kalian takkan bisa menikmatinya lagi. Kalian sudah membuatku jadi penjahat, jadi kenapa tidak kita teruskan saja permainan ini, mmh? Shasa akan aku dapatkan atau ... kita akan mati sama-sama. Iya kan Sha? Pria itu mengangkat satu alisnya dengan senyum menyeringai.
------------+++-----------
Shasa membuka pintu dan Abra menarik koper besar ke dalam apartemennya. Gadis itu menghela napas lega. "Akhirnya kita pulang Mas."
"Ya." Pria itu menarik koper itu langsung ke kamar. "Kamu istirahat dulu Sayang, baru habis perjalanan jauh kan ... naik pesawat." pinta Abra.
"Mmh." Gadis itu segera duduk di kursi sofa terdekat dan segera bersandar. Ia mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membesar. "Apa boleh begitu?"
"Apa Sayang?" tanya Abra yang kembali keluar kamar.
"Cuti, kamu minta kita cuti sebulan dari roadshow. Apa bisa begitu, sementara bulan berikutnya aku tetap masih hamil Mas."
Abra mendekat dan duduk di samping istrinya. Ia ikut mengelus perut istrinya yang sedikit menonjol tertutup roknya. "Aku minta cuti agar kamu bisa ikut ujian di kampusmu dengan tenang Sayang, karena jadwal berikutnya aku lihat bentrok dengan jadwal ujianmu." Pria itu saking gemasnya mencium perut buncit istrinya dengan sayang.
Shasa sedikit geli. "Mas ah!"
Abra terlihat senang dengan memeluk istrinya dari samping dan mengecup pipinya. Ia mendekapnya erat."Aku sudah tidak sabar ingin melihat si kecil Sayang."
"Mmh, masih lama. Ini saja sudah bikin Maminya kelabakan cari baju karena sudah mulai sempit."
Abra mencubit dagu gadis itu manja. "Tapi kan kemarin sudah sempat belanja beberapa baju, apa itu masih kurang Sayang?" Pria itu menatap wajah istrinya yang mulai berisi dan terlihat tambah dewasa.
"Segitu dulu kali ya? Takut makin melar lagi nih badan, ntar gak muat lagi."
"Mmh." Gadis itu kembali menatap perutnya yang kembali diusap suaminya.
"Besok bagaimana kalau kita piknik saja?"
"Besok?"
"Iya, kita piknik. Kita kan sudah lama ingin mencoba piknik tapi tak terealisasikan, sekarang mumpung ada waktu kita piknik saja."
"Tapi Mas gak ke kantor? Sudah lama lho Mas ninggalin kantor."
"Kan besok Sabtu Sayang. Kantor libur."
"Oh, iya." Gadis itu melebarkan senyum.
"Kamu mau istirahat di kamar Sayang?"
"Mmh ... aku ingin minum." Gadis itu mencoba berdiri.
"Mau kuambilkan?"
"Ngak papa, aku bisa sendiri. Mas, mau kuambilkan?" Gadis itu melangkah ke dapur.
"Boleh." Abra tahu, walau gadis itu sering ia manjakan tapi tidak lantas gadis itu terima semuanya. Terkadang Shasa berusaha untuk mandiri dan bisa segalanya.
__ADS_1
"Nih Mas."
"Mmh."
Di perparkiran mereka tidak sadar, ada orang yang tengah mengintai kedatangan mereka. Ya, siapa lagi kalau bukan Damar. Pria itu sudah lama menunggu kedatangan keduanya dengan menunggui tempat parkir itu selama beberapa hari. Itu karena ia tidak mengetahui jadwal pasti kapan keduanya datang dan dengan kedatangan keduanya tadi, ia terlihat puas.
Bagus, kalian akhirnya datang. Tinggal tunggu kesempatan itu menyempurnakan rencanaku. Ia menggosok-gosok tangannya tanda tak sabar. Kemudian ia menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir apartemen itu.
---------+++----------
Hari yang dinanti tiba. Abra membantu menyiapkan keperluan piknik.
"Tapi Mas, kita gak punya apa-apa selain Sandwich ini, gak papa? Kok rasanya kurang deh makanannya," ujar Shasa yang memasukkan sandwich buatannya ke dalam kotak makan besar.
"Tunggu sebentar lagi."
"Apa?" Gadis itu melirik penuh tanda tanya.
Terdengar pesan masuk ke HP Abra. "Sebentar," ucapnya setelah membaca pesan. Pria itu keluar apartemen. Beberapa waktu kemudian ia kembali dengan satu bungkusan plastik dan satu kotak pizza kecil di tangan. "Nah kita siap piknik. Ayo!"
Shasa tertawa. "Ih, curang ...."
Beberapa menit kemudian mereka sudah di dalam mobil. Shasa terlihat antusias. Ia nampak senang. Ajakan suami sejak sebelum menikah akhirnya kesampaian. Mereka akan duduk-duduk sambil mengobrol di alam terbuka, betapa menyenangkannya.
Tak jauh, mobil Damar tengah mengikuti. Bahkan sejak pagi ia telah menunggu diparkiran berharap punya kesempatan membuntuti keduanya pergi dan akhirnya kesampaian.
Mereka ternyata mendatangi taman kota. Abra memarkir mobilnya di pinggir taman tempat perparkiran taman itu dan membawa turun keranjang piknik mereka. Bersama istrinya, Shasa, mereka memasuki taman.
Di suatu tempat di taman itu, Abra menemukan tempat yang posisinya baik untuk tempat mereka piknik. Di bawah sebuah pohon besar dan rindang.
Abra membuka kain alas yang dibawanya dan mengalasi rerumputan tempat mereka akan duduk dengan kain itu. Keranjang diletakkan di atasnya dan Shasa mulai menata makanan di samping keranjang. Pria itu mengeluarkan buku yang dibawanya. Ketika Shasa duduk di atas kain, Abra segera mengambil foto gadis itu dengan HP-nya.
"Kok fotoku cuma sendirian?" tanya Shasa heran.
"Gak papa. Aku ingin melihat foto kenangan hamil anak pertama, suatu saat nanti." Pria itu kemudian mendekati istrinya dan duduk di sampingnya. Ia kemudian menidurkan kepalanya di pangkuan Shasa. Lembut ia mengusap perut istrinya. "Temenin Papi ya, baca buku," ujarnya pada perut gadis itu.
Gadis itu tersenyum senang. Selagi Abra membaca buku, Shasa melihat pemandangan sekitar. Udara masih sejuk walaupun sudah mulai siang. Orang-orang mulai ramai berdatangan dan beberapa di antara mereka memperhatikan Shasa dan Abra yang sedang piknik di sana.
Ada yang mengenal mereka sebagai artis iklan dan mengambil foto mereka tapi kini Shasa sudah terbiasa. Ia tidak memperdulikan sambil sesekali makan makanan yang mereka bawa sambil menawari suaminya makan. Abra makan anggur saat membaca disuapi istrinya.
Damar melihat dari kejauhan. Ia menyeringai senyuman jahatnya. Nikmati waktumu, sebab ini takkan lama, batinnya. Ia kembali ke parkiran.
____________________________________________
Halo reader, author di sini masih tetap semangat menulis bab-bab novel ini jadi jangan lupa beri semangat author ya dengan komen, vote, like, dan hadiah2 yang lainnya. Ini visual Shasa piknik di foto suaminya. Salam, ingflora. 💋
Yuk, yuk, kita cek novel yang satu ini. Kelihatan ok nih ceritanya.
__ADS_1