
Shasa membuka matanya perlahan. Kejadiannya terjadi begitu cepat hingga otaknya tidak bisa mencerna dengan baik apa yang baru saja terjadi. Yang ia ingat, seseorang mendorongnya sebelum lampu itu jatuh menimpanya.
Terdengar suara orang ramai mulai datang mengelilinginya, dan seorang pria yang tertelungkup terbaring tak jauh dari sisinya. Ternyata lampu itu menimpa pria itu. Tepatnya, besi tempat lampu itu jatuh menimpa tubuhnya, sedang lampu itu sendiri pecah di sampingnya.
Pria itu, Shasa mengenali dari pakaiannya. "Kak Abra!!!" Gadis itu berteriak histeris. Ia segera berdiri walau tubuhnya sedikit terhuyung. Seseorang menahan tubuhnya sebelum Shasa bisa mendekati tubuh Abra yang sudah terkapar di lantai tak bergerak.
Shasa menengadah. Kevinlah yang menahannya untuk mendekat.
"Kak, Kak Abra Kak ...," ucap gadis itu mulai menangis. Butiran air matanya berlomba jatuh membasahi pipi.
"Sebentar ya, dilihat dulu," sahut Kevin menenangkan.
"Tapi Kak, Kak Abra ...." Shasa menangis tersedu-sedu. Demi menolongnya, pria itu merelakan tubuhnya menggantikan dirinya untuk jadi tameng besi yang jatuh itu.
Kevin tak tega dan segera merangkul gadis itu dalam pelukan. Ia bisa merasakan bajunya mulai basah oleh air mata gadis itu. Ia tak masalah. Selama pelukannya bisa menenangkan gadis itu. Ia bahkan mengecup pucuk kepala Shasa dan mengusap punggungnya tanda peduli.
Beberapa pegawai berusaha memindahkan besi yang menindih tubuh CEO muda itu. Ada salah seorang pegawai yang mencoba memeriksa tubuh pria itu dan melarang seorang pun untuk memindahkannya. "Sudah panggil ambulan belum?"
"Sudah Pak!" jawab yang lain.
"Bagaimana?!" teriak Kevin.
"Belum tau Pak, mesti dibawa ke rumah sakit dulu. Soalnya, Pak Abra pingsan."
"Tolong cari tahu, siapa yang LALAI atau dengan SENGAJA melakukan itu. Aku ingin informasinya, SEGERA!!!" Kevin menegaskan.
"Baik Pak."
"Kak," bisik gadis itu menengadah. Ia terlihat cemas.
"Jangan takut Shasa, pasti dia tidak apa-apa," Kesempatan ini langka dan Kevin tidak menyia-nyiakan kerapuhan Shasa yang menyerahkan diri padanya saat itu. Ia semakin mengeratkan rangkulannya pada gadis itu.
Abra yang pingsan segera dibawa ke rumah sakit dengan ambulan dan Shasa mendampinginya. Kevin kemudian menyusul dengan mobil sendiri.
Sepanjang perjalanan Shasa terisak menatap wajah pria itu yang telah diberi masker oksigen di dalam mobil. Abra terlihat lemah. Ia terus menggenggam tangan Abra yang masih tak sadarkan diri di atas tempat tidur. Seorang petugas yang menemani berusaha menenangkan gadis itu.
"Yang sabar ya Mbak. Mudah-mudahan Masnya gak kenapa-kenapa."
Gadis itu mengangguk.
Mobil ambulan pun sampai ke rumah sakit. Abra segera dilarikan ke IGD. Shasa selalu mengikuti ke mana pria itu dibawa, ke ruang rontgen hingga pindah kamar.
Kevin pun juga mengikuti walaupun hanya pada Shasa. Mengenai Abra ia tidak begitu khawatir pada saudaranya sendiri. Bila tak ada gadis itu mungkin ia hanya menunggu di satu tempat hingga selesai pemeriksaan.
"Shasa kamu jangan terus menangis. Kan belum ada konfirmasi yang jelas dari dokternya tentang masalah sakitnya," Kevin mencoba menenangkan.
"Bagaimana aku gak nangis, dia telah mengganti nyawaku dengan nyawanya. Bagaimana aku bisa tidak merasa bersalah?" Air mata gadis itu masih berlinang.
Kevin menarik dagu Shasa ke atas dan mencoba menghapus air matanya. "Kamu pikir adikku akan senang, kamu menangisinya? Dia pasti akan sedih. Cobalah berhenti untuk berpikir yang tidak-tidak, mmh?"
Pintu diketuk. Seorang dokter dan 2 orang perawat datang memeriksa.
"Selamat siang Pak," sapa dokter itu pada Shasa dan Kevin.
"Siang." Kevin mewakili.
"Boleh saya lihat hasil rontgennya?"
Kevin menyodorkan amplop besar yang diterima dari ruang rontgen.
Dokter pria itu segera memeriksanya. "Mmh. Sepertinya bahunya saja yang bermasalah. Bahunya retak."
__ADS_1
"Apa?" Shasa terlihat khawatir.
"Tapi kenapa dia pingsan dok?" Kevin penasaran.
"Saya dengar dia tertimpa sesuatu?"
"Iya betul dok," Kevin membenarkan.
"Saya hanya bisa mengira-ngira karena pasiennya pingsan, tapi sejauh ini saya hanya bisa mendiagnosis melalui rontgen ini, selain itu kita harus menunggu sampai pasien siuman agar bisa ditanyain lebih lanjut."
"Oh, begitu dok."
"Iya, tapi untuk sementara bahunya harus di gips dulu."
"Ok." Kevin kemudian mengajak Shasa ke sofa di samping untuk menunggu sementara dokter menutup gorden dan mulai melakukan pemasangan perban pada bahu adiknya.
"Aargh!"
Suara teriakan itu mengagetkan Kevin dan Shasa. Abra telah siuman? Keduanya saling berpandangan.
"Kak Abra ...."
"Kedengarannya sudah tidak apa-apa kan?" Kevin meyakinkan gadis itu sambil berusaha menyentuh kepalanya tapi kali ini Shasa menghindar. Ah, sial! Ia tak lagi ingin kusentuh.
Shasa berusaha menghapus sisa-sisa air matanya. Tak lama, gorden dibuka. Masih terlihat dokter berbicara pada Abra yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Pria itu sudah tak lagi memakai masker oksigennya.
Shasa dan Kevin mendekat. Abra menyadari kemudian kehadiran mereka berdua. "Ka-li-an ...."
Dokter dan suster pamit. Shasa mendatangi tempat tidur Abra dan menatap pria itu dengan hati serasa teriris. Pria itu terlihat tak berdaya terbaring di atas tempat tidur. Karena aku kamu ... Kembali air mata gadis itu tergenang di sudut matanya.
"Shasa, kenapa kamu menangis?" Abra terkejut melihat netra Shasa yang berkaca-kaca.
"Kenapa kamu mendorongku tadi?" Air mata gadis itu sudah tak terbendung lagi. Butiran air mata itu mulai berjatuhan.
"Bohong!"
Pandangan mata mereka berdua tak teralihkan membuat Kevin benci melihat melodrama ini. Kenapa Abra selalu mendapat perhatiannya, bukankah dia cuma pacar pura-pura?
"Seandainya benar aku berbohong, kau mau aku bagaimana?"
Netra mereka masih beradu tapi Shasa tak tahu harus bicara apa. Yang ia tahu, sebelumnya ia merasa sangat takut kehilangan Abra. Kepercayaannya runtuh ... terhadap pacarnya. Kenapa kini pikirannya terbelah? Apa kini ia menyukai 2 pria sekaligus? Tidak, tidak boleh. Tidak akan. Kenapa aku jadi wanita yang tidak setia?
Tiba-tiba terdengar bunyi telepon berdering. Shasa hapal akan ponselnya. Bima? Shasa segera mengangkatnya. "Eh, Pak."
Pak? Dia menyebut pacarnya Pak? Kevin hampir tak percaya mendengarnya. Bukannya gadis itu tidak sedang bekerja? Kenapa tidak santai saja sih?
"Sha, penjadwalan pemotretan yang akan didahulukan. Rencananya besok pagi."
"Pak, maaf. Kak Abra kecelakaan. Eh, Pak Abra maksudku. " Shasa menyentuh bibirnya karena salah bicara. Cara gadis itu menyentuh bibirnya sangat manis membuat kedua pria itu menatap nya intens.
"Yang benar? MashaAllah. Kecelakaan di mana?" Bima sepertinya syok.
"Di tempat kerja Pak, di studio TV. Tertimpa lampu gantung."
Kevin seketika ingat, ia sedang mencari kambing hitam dari acara tadi yang dengan sengaja atau tidak telah menjatuhkan lampu di studio TV tadi pagi. Ia segera menghubungi seseorang.
"Astaghfirullah alazim. Bagaimana keadaannya, parah nggak?" tanya Bima penasaran.
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu bahunya retak." Shasa bisa mengintip dari kerah kemeja pria itu, ada perban yang menyilang dekat lehernya.
"Shasa, rasanya aku bi ... argh!" Abra berusaha duduk tapi kepalanya masih pusing dan tanpa sengaja menggerakkan bahunya yang retak sehingga mengerang kesakitan.
__ADS_1
Kevin yang sedang menelepon hanya melihat saja karena Shasa yang berdiri paling dekat yang menolong Abra.
"Kak!" Shasa meletakkan hp-nya di atas tempat tidur dan mencondongkan tubuhnya pada Abra. "Yang mana yang sakit Kak?"
Abra terkejut dengan perhatian Shasa. "Di sini." Ia menunjuk bahunya yang sakit sambil menyeringai kesakitan. Netranya masih menatap gadis itu tak berkedip karena jaraknya yang dekat.
Gadis itu membantu Abra duduk dengan menarik tubuh pria itu mendekat. Ia kemudian merapikan bantal Abra di belakang.
Jantung Abra berdegup kencang. Shasa, apa kau tidak sadar, kau sedang memelukku? Pria itu gelisah.
Apalagi, Kevin sedang menatapnya dengan wajah serius ketika sedang menelepon hingga berhenti bicara. Andai saja aku di posisi itu. Hah, enak sekali Abra, dengan hanya jadi pacar pura-pura ia bisa menikmati segalanya.
"Pak ...." Suara di telepon, membuyarkan lamunannya.
"Oh, ya ...." Kevin meneruskan pembicaraan di HP-nya.
Shasa segera melepas pegangannya pada tubuh pria itu dan langsung berjongkok di bawah tempat tidur. Ia tahu tempat tidur itu bisa di naik turunkan di bagian kepala dan kaki tempat tidur.
Ia menekan semacam remote dan tempat tidur bagian kepala naik ke atas. Ia beberapa kali bolak balik untuk membetulkan letak bantal dan tinggi sandaran agar Abra nyaman bersandar. "Segini Kak?"
"Iya sudah." Abra yang sudah bersandar mengiyakan.
Gadis itu kembali berdiri. Ia melihat HP-nya yang berada di atas tempat tidur. "Eh ... aku belum selesai bicara ...." Ia segera menyambar HP dan kembali menelepon. "Maaf Pak."
Rupanya Bima meminta data rumah sakitnya karena ia ingin datang dan Shasa memberikannya.
Abra memandangi gadis itu. Jantungnya sudah mulai tenang, tapi ia kadung suka dengan adegan tadi. Jarang-jarang ada gadis berjilbab dengan wajah manis, khilaf tanpa sadar.
Kevin berdehem melihat Abra memperhatikan Shasa, membuat adiknya itu menoleh. "Sebentar lagi jam makan siang. Biar sebentar kami makan siang ke luar dulu ya?" Ia mengantongi HP-nya.
"Oh, ya udah."
"Sha, kita makan siang dulu yuk?" ajak Kevin.
Shasa malah melirik Abra dan kembali ke Kevin. "Gak bisa Kak, kan aku perjanjiannya ngikutin dia?" ucap gadis itu menunjuk Abra.
"Ini hanya makan siang Sha. Kamu pergi aja sama Kak Kevin ya?" bujuk Abra. Ia sendiri sedikit bingung bila hanya berdua dengan gadis itu tanpa kegiatan yang jelas. Pikirannya sedang dalam kontrol yang tidak aman.
"Bagaimana kalau aku belikan saja makanannya dan dibawa kemari?" tawar Shasa.
Kevin dan Abra saling berpandangan.
Kenapa gadis ini sangat patuh dengan permintaan bosnya itu? Apa karena ia pacarnya, tapi apa yang diminta pacarnya itu sangat bodoh. Menyuruh pacarnya sendiri membuntuti pria lain. Kevin membatin kesal.
"Kamu makan diluar saja, karena makananku mungkin sebentar lagi datang." Abra kembali membujuk. Saat itu ia ingin mencoba tidur karena ia belum cukup beristirahat. Ia baru ingat akan ada konser Gania sehingga ia belum sempat tidur dan datang ke studio dalam keadaan setengah mengantuk. Untung saja ia masih bisa menyelamatkan Shasa yang hampir kejatuhan besi tadi, tapi akibat kurang tidur ia malah tak bisa menghindari besi itu sehingga ialah yang tertimpa besi tempat lampu gantung itu hingga bahunya retak.
"Kakak bisa makan sendiri?"
"Mungkin bisa, eh nanti dicoba," elak Abra.
"Duduk aja gak bisa, bagaimana makan?"
"Shasa. Yang retak bahu kiriku .... "
"Eh, ya sudah, sudah." Kevin menengahi. "Kamu mau membelikan makanku?" Ia mengeluarkan dompetnya.
"Tidak usah Kak, aku pegang kartu Kak Abra."
Apa? Kenapa dia bisa pegang kartu Abra, memangnya dia istrinya?
___________________________________________
__ADS_1
Terima kasih reader masih membaca novel ini. Author lagi sakit gigi nih jadi agak gak konsentrasi nulisnya tapi jangan lupa dukung terus author ya dengan komen, like, vote, hadiah dan juga koin biar authornya semangat. Salam, ingflora. 💋