
Abra membuka pintu ruang kerjanya.
"Gimana?" tanya Danisa.
Pria itu mengangkat dua ibu jarinya. "Sukses!"
"Wah, alhamdulillah. Aku bisa pulang besok dong ya?"
"Yaaa cepet banget pulangnya." Abra duduk di sofa. Ia mengangkat satu kakinya dan disilangkan.
"Ini aja udah diundur sehari. Pekerjaanku udah nunggu di New York."
"Ok deh. Makasih banyak ya?"
"Wow, perjuanganmu belum selesai. Malah, mungkin mulai hari ini."
Pria itu tertawa. "Ya sudah, aku ambil alih."
"Aku pamit sekarang aja. Besok aku ambil penerbangan paling pagi ke New York." Danisa mengambil tasnya dan melambaikan tangan pada pria itu. "Bye."
"Assalamu'alaikum dong."
Danisa tertawa. "Waalaikumsalam." Pintu dibuka dan ada Kevin di sana. "Kak Kevin, aku pamit."
"Oh ya."
Wanita itu pun pergi. Kevin segera masuk dan menutup pintu. Ia menguncinya.
Abra ingin mengatakan sesuatu tapi tak jadi melihat Kevin mengunci pintu. Biasanya pasti ada sesuatu yang penting. "Ada apa Kak?" Ia menegakkan punggungnya.
"Aku tadi ada di toilet pria. Aku mendengar semuanya."
"Apa?" Awalnya Abra terkejut lalu tersenyum senang. "Aku pertama kali melihatnya sudah suka padanya Kak, tapi karena sudah punya pacar, aku tak berani mendekatinya, tapi entah kenapa kami selalu dipertemukan sampai akhirnya dia putus sama pacarnya."
"Kamu mencintainya?"
"Iya Kak."
"Berikan saja ia padaku."
"Apa?" Abra menatap Kevin dengan mimik terkejut.
"Kamu kan tahu, aku susah sekali berteman. Punya pacar apalagi, tapi aku menyukai Shasa. Aku sangat mencintainya. Kau berikan saja dia padaku, lalu kau cari yang lain."
"Tidak bisa Kak, aku menyukainya dan dia juga suka padaku. Maaf tapi cinta bukan barang yang bisa ditukar dan dia tidak akan aku tukar dengan apapun."
"Bagaimana kalau kita bersaing?" Kevin masih menawar.
"Bersaing apa, aku sudah memenangkan hatinya."
"Shasa sedang menunggu lamaranku," ucap Kevin berbohong. "Dia tidak mungkin bersamamu."
"Bohong. Aku tadi bilang cinta dan dia menerimanya."
"Dia mungkin menyukaimu tapi lihat saja. Dia akan menerima lamaranku."
Abra termenung sesaat. Tidak mungkin kan? Ia kemudian bangkit dari kursinya. "Biar aku tanya padanya." Ia hendak keluar tapi Kevin menghalangi.
"Ini jam kerja, kau tak bisa mengurus masalah pribadi di jam kerja."
"Tapi masalah ini kan gampang. Tinggal ditanya iya enggaknya."
"Jangan ganggu dia, dia sekretarisku!" Kevin tetap pasang badan menghalangi.
"Kak!"
"Dengarkan kata-kataku!" Kevin menunjuk dada Abra dengan wajah serius.
Abra terdiam. Kevin membuka pintu dan keluar. Tentu saja Abra kesal. Kenapa ia baru tahu kakaknya juga menyukai Shasa, padahal seharusnya dari dulu ia curiga karena Kevin selalu ada setiap ia sedang bersama Shasa. Ia pikir dulu kakaknya telah berubah dan mulai belajar bersosialisasi sejak berkenalan gadis itu. Memang itu benar adanya tapi ia tak pernah berpikir kalau itu karena cinta. Ah, sial! Betapa bodohnya aku.
Kevin mendatangi meja Shasa. Gadis itu sedang mengerjakan tugasnya di laptop.
"Sha, ikut aku," ajak kevin pada Shasa.
__ADS_1
Shasa menoleh. "Ke mana Pak?"
"Kita meeting di luar."
"Mmh? Di luar kota lagi Pak?"
"Oh, bukan. Ayo ikut. Jangan lupa buku catatannya."
shasa membawa buku kecil dan pulpen. Mereka kemudian ke parkiran dan menaiki mobil Kevin. Pria itu memarkirkan mobilnya di perparkiran mobil direksi yang berada di depan stasiun TV itu. Karena banyaknya mobil yang parkir di sana, mereka tak menyadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari sebuah mobil yang terparkir di sana.
Pria itu mengerut kening, tak percaya dengan pandangan matanya. Secepat itu Shasa mendapat pekerjaan dan kini ia pergi bersama Kevin. Kevin ada di posisi tinggi dan untuk menjadi sekretarisnya pasti tidak mudah karena Kevin punya perusahaan besar tentunya ia butuh sekretaris yang berpengalaman pula.
Shasa, ia tahu kemampuannya cukup baik tapi untuk bisa masuk ke perusahaan Kevin, ijazah dan pengalamanlah yang penting dan Shasa tidak mungkin lolos kecuali ada orang dalam yang membantunya untuk masuk ke perusahaan itu, dan orang itu pasti Kevin atau Abra.
Abra tak mungkin karena Shasa sekarang bersama Kevin, jadi pastilah Kevin yang memasukkannya di sana.
Bima merapatkan geraham, geram. Untuk memastikannya, ia mengikuti mobil Kevin. Mobil itu kemudian berhenti di sebuah Kafe kawasan elit dan masuk ke sana.
Kafe itu seperti rumah yang terdapat banyak kaca di dindingnya sehingga dengan menunggu di perparkiran saja ia bisa mengintip ke dalam, dengan siapa saja mereka bertemu dan apa saja yang mereka sedang kerjakan. Bima memilih mengintip di perparkiran.
"Kita ketemu siapa Pak, sekarang ini?" tanya Shasa setelah menemukan tempat untuk mereka duduk.
"Tidak ada."
"Apa? Jadi untuk apa kita di sini?"
Kevin bersandar dengan santai. "Kan aku sudah bilang tadi, kita meeting."
"Berdua?"
"Iya. Memangnya ada orang lain lagi di sini yang ingin ikut bergabung?" Kevin merapikan jasnya dengan duduk miring. Ia memangku kaki satunya dengan kakinya yang lain.
"Tapi kalau cuma berdua, kenapa harus jauh-jauh ke sini?"
"Memangnya tidak boleh? Aku GM. Aku mau meeting di manapun tidak masalah."
Sebenarnya Shasa risih dengan meeting berdua, tapi mau bagaimana, ia bekerja pada pria itu. Selama tidak mengganggunya ia tak masalah. "Jadi kita meeting-nya tentang apa ya Pak?"
"Sekarang aku mau rileks dulu. Aku ingin pesan minuman dan roti. Kamu bagaimana?"
Mereka kemudian memesan minuman dan makanan, setelah itu gadis itu mengulang pertanyaannya.
Pertama-tama Kevin memandangi Shasa.
Yang dipandangi merasa tak nyaman. "Apa Pak?"
"Tidak ada. Hanya semakin hari aku semakin kagum padamu. Ide-idemu sangat bagus, wajahmu semakin cantik dan dewasa dan aku semakin menyukaimu."
Wajah Shasa memerah, tapi ia makin merasa tidak nyaman. Ia bertahan karena Kevin kakak Abra. "Pak tolong fokus, kalau tidak sebaiknya kita kembali saja." Ia beranjak berdiri tapi Kevin segera meraih tangannya.
"Sha, jangan begitu. Aku berusaha jujur padamu."
Perlahan tapi pasti gadis itu menarik tangannya.
"Maaf."
"Kalau sudah berlebihan, aku mungkin akan berhenti saja."
Kepala Kevin berdenyut. Apa yang harus dilakukannya untuk memisahkan Abra dengan Shasa? Ia sudah membawa Shasa jauh dari kantor agar Abra tidak bolak-balik menemui gadis itu dan menanyakan kebohongan Kevin tadi. Ia tidak ingin rahasianya terbongkar, tapi yang lebih penting lagi Abra tak boleh mendapatkan gadis itu karena ia sudah susah payah merancang segala sesuatunya agar Shasa bisa menjadi miliknya tapi di luar dugaan Abra dan Shasa malah saling jatuh cinta. Ia benar-benar pusing menghadapi kenyataan ini. "Aku serius kok dengan meeting ini. Aku ingin mendengar masukkanmu tentang divisi marketing."
"Aku bukan yang ahli dalam bidang ini. Aku cuma lulusan SMA."
Sementara itu diluar, Bima berusaha melihat hubungan Kevin dan Shasa dari bahasa tubuh mereka. Terlihat sekali, Shasa seperti mencoba menghindar dari kontak fisik dengan Kevin sedang pria itu terlihat senang memandangi sekretarisnya itu.
Di situlah Bima tahu, bahwa kemungkinan besar Kevinlah yang merancang semua keruwetan ini, tapi kenapa Shasa mau bekerja pada Kevin bila ia tidak menyukainya? Apa karena Abra yang membawanya? Kepingan puzzle(teka teki) di kepalanya mulai menemui titik terang.
Kenapa Kevin dan Abra sifatnya sangat bertolak belakang ya? Padahal mereka bersaudara. Hah!
------------+++----------
Abra mencari Shasa di kantor Kevin tapi tak menemukannya, bahkan keduanya. Kevin pasti sedang membawa Shasa, pikirnya. Sebenarnya ia bisa saja menelepon Shasa, tapi ia takut Shasa panik setelah diberi tahu Kevin juga menyukainya, padahal Shasa sudah mengetahuinya.
Ia lebih memilih berbicara dengan Shasa setelah gadis itu kembali.
__ADS_1
Namun yang Abra tidak tahu, Kevin berniat menahan Shasa hingga malam agar mereka tidak saling bertemu dulu hingga ia menemukan rencana selanjutnya.
------------+++--------
Bima memandangi kotak cincin itu. Ia masih memikirkan Shasa. Hanya itu yang dipikirannya saat ini. Kembali pada gadis itu. Bisakah?
Air matanya menetes. Ia tahu kesalahannya tidak bisa dimaafkan tapi ia ingin kembali pada Shasa. Hanya bersama gadis itu, hidupnya merasa lebih baik, hatinya teduh, dan pikirannya hidup. Gadis itu juga sumber inspirasinya dan telaga kebahagiaannya tapi apa dirinya masih bisa kembali bersama gadis itu? Toh, Shasa memberinya kesempatan jadi kenapa tidak?
------------+++---------
"Kita ke mana Pak?" Shasa bingung dengan arah mobil Kevin yang berbeda.
"Oh, ini ke rumahku."
"Rumah Bapak?"
"Iya. Malam ini aku dapat undangan pernikahan dari klien jadi tolong temani ya?"
"Oh."
Mobil memasuki halaman rumah besar itu. Kevin membawa gadis itu masuk ke dalam rumah dan bertemu ibunya.
Tentu saja ibu Kevin sangat senang bisa bertemu Shasa. Ia menyambutnya dengan antusias. "Ada apa ini ke rumah?" ucapnya seraya tersenyum manis pada gadis itu.
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Ada undangan pesta pernikahan klien jadi aku pulang untuk ganti baju Ibu," terang Kevin.
"Oh, begitu?" Ibu Kevin memperhatikan pakaian shasa yang masih pakaian kantor. "Dengan pakaian ini?"
"Eh, nanti kita ke Mal saja beli." Pria itu juga menatap pakaian yang dipakai gadis itu.
"Eh, tidak usah Pak, aku juga punya pakaian pesta di rumah," elak Shasa enggan.
"Begitu? Ya sudah. Tunggu aku ya?" Kevin kemudian menaiki tangga.
Ibu Kevin pun bersemangat mengajak ngobrol Shasa yang duduk di kursi sofa. "Kalian habis dari mana ya?"
"Oh, Kafe Bu. Meeting," jawab gadis itu sopan.
"Oh ... jadi kalian bertemu di Kafe."
"Oh, bukan. Kami sama-sama dari kantor."
"Kantor kevin?"
"Oh, sekarang saya kerja sama Pak Kevin Bu." Sepertinya ibu Kevin tidak tahu kalau kini Shasa bekerja pada Kevin.
"Oh ... begitu." Karen terkejut sekaligus senang. Berarti ia bisa sering-sering ke kantor Kevin untuk melihat Shasa di sana walaupun ia juga akan bertemu Abra.
Tak lama Kevin turun dengan pakaian jas lengkap berwarna abu-abu dan dasi yang makin mempertegas kesan angkuh dan kakunya dari raut wajahnya. Bedanya kini dia bisa mengukir senyum di mulutnya karena ada Shasa di sana.
Ibu Kevin bahagia bisa melihat Kevin mulai tersenyum. "Mau berangkat sekarang?"
"Iya Bu, berangkat dulu."
"Permisi Tante, assalamu'alaikum," pamit Shasa.
"Waalaikum salam," jawab Ibu Kevin.
Mereka kemudian ke kos-kosan Shasa. Raven melihat aneh pada Kevin yang berada di dalam mobil menunggu Shasa. Ia ingat, Shasa pertama kali diantar ke kos-kosan itu oleh pria ini, tapi siapa dia? Ia tidak suka melihat wajah pria itu yang terlihat angkuh dan tanpa senyum.
Shasa keluar.
"Mau ke mana Sha?" sapa Raven pada gadis itu.
Kevin melirik Raven yang dari tadi memperhatikannya. Siapa pria ini? Dia kenal Shasa?
"Pesta nikahan Bang."
Bang? Kevin menatap Raven.
___________________________________________
__ADS_1
Halo reader jangan lupa vitamin author agar lebih semangat nulis kisah cinta Abra dan Shasa. Like, vote, komen dan hadiah. Ini visual Kevin, kakak Abra yang keras kepala. Salam, ingflora💋