Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Terbalik


__ADS_3

Shasa masih memperhatikan para pegawai yang sedang berdiskusi di kursi sofa saat meeting di ruang kerja Abra. Gadis itu memperhatikannya dari kursi meja kerja pria itu.


Sebagian ada yang merasa kurang nyaman karena diperhatikan Shasa sehingga Abra ikut bicara.


"Eh, tolong fokus meetingnya ya, anggap aja dia penonton setia kita." Kalimat Abra membuat tertawa para pegawainya. Sebaliknya Shasa terlihat cemberut.


Setelah setengah jam berlalu, meeting selesai. Para pegawai membubarkan diri dan keluar lewat pintu satu-satu. Setelah itu, Abra ternyata ikut keluar. Karuan, Shasa juga ikut keluar tanpa diminta.


Abra dengan senyum nakalnya berhenti di depan toilet dan masuk. Tentu saja Shasa tidak bisa masuk ke dalam toilet pria. Ia menunggu di luar.


Ternyata pria itu lama tak kunjung keluar. Shasa khawatir tapi juga risih untuk masuk toilet pria. Ia mencoba mengintip ke dalam. Sepertinya sepi karena kebetulan tidak ada yang masuk dan keluar toilet itu.


Tiba-tiba sebuah tangan menariknya ke dalam.


"Ah!" Tubuhnya disandarkan ke salah satu dinding toilet dan dikunci dengan dua tangan kokoh pria di samping wajahnya. Wajah mereka saling berhadapan.


"Kak Abra?" Bola mata indah itu terkejut dengan apa yang pria itu lakukan.


"Kenapa kamu mengikutiku? Apa maksud dan tujuanmu?"


"A-a-apa?" Gadis itu menatapnya heran.


"Kau mau aku berpikir apa tentang dirimu? Teman? Pacar rahasia? Selingkuhan? Sedang menggodamu pun aku tidak boleh."


Netra Shasa membulat sempurna. Ia tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Abra yang datang bertubi-tubi. Apalagi, pria itu makin mendekatkan wajahnya.


"Katakan padaku kenapa aku tidak boleh suka padamu sedang kamu terus datang dan menggangguku?"


"Karena aku akan menikah!" Shasa mendorong Abra tapi pria itu bergeming. "Kak!"


Abra menatap Shasa lekat. "Lalu untuk apa kamu datang dan perhatian padaku, kamu kan punya pacar yang bisa kau urus. Kamu itu dekat-dekat aku bisa ketularan flu tau gak, dan sepertinya kamu tidak peduli. Apa kau punya penjelasan untuk itu?" Kali ini Abra menatap tajam gadis itu, karena butuh kejelasan.


Shasa sebenarnya panik karena Abra tiba-tiba memberi pertanyaan yang menyerang, tatapan pria itu pun juga seolah mengulitinya, padahal ia sendiri masih ragu dengan apa yang sebenarnya ia inginkan karena semua serba ambigu. "Ini berhubungan dengan pekerjaan. Menjaga hubungan baik dengan klien itu penting. Kadang, aku juga harus dekat dengan mereka agar hubungan baik terjalin." Beruntung, gadis itu ikut khusus PR yang membuatkan ia bisa menerangkan dengan baik tentang arti penting menjalin hubungan baik dengan klien dan ia bisa menjawabnya dengan diplomatis selain juga kabur dari pertanyaan yang ia tidak tahu jawabannya.


"Begitu?" Abra tersenyum miring. Ia kemudian menggenggam tangan gadis itu erat. "Kalau begitu, aku boleh pinjam kamu untuk makan malam denganku malam ini. Iya kan?"


"Eh?"


"Aku klienmu dan kamu harus menghormatiku." Abra segera menarik gadis itu keluar dari toilet.


Mulut gadis itu terkunci. Abra kembali menggandengnya keluar dari stasiun TV itu. Sepanjang jalan gadis itu ingin protes tapi ada rasa lain yang membuatnya setengah enggan, tapi ada juga rasa ikhlas yang melegakan. Bingung dengan rasa itu, Shasa memilih bungkam.


Mereka naik taksi dan pergi ke sebuah kafe. Suasana kafe sedikit temaram dengan live musik di salah satu sisinya, tapi Abra memilih meja yang jauh dari panggung itu di salah satu sudut yang sedikit gelap.


Musik mengalun santai dan tidak berisik karena jauh dari panggung menyebabkan keduanya bisa menikmati musik dengan nyaman. Mereka memesan makanan.


Setelah pelayan pergi, kini Abra menatap Shasa. Gadis itu sedikit bingung harus berbuat apa. Jantungnya mulai berdetak cepat.


Pria itu kembali terbatuk-batuk.


"Jadi kamu mau apa? Mau balas dendam padaku?" Shasa terlihat sewot, tapi kemudian ia menyesal pernah mengatakannya.


Namun Abra kembali tersenyum miring. "Bukankah aku pernah bertanya, 'bolehkah aku mencintaimu', tapi kenapa jawaban kamu malah marah-marah? Aku minta izin saja kamu marah, apalagi kalau aku bilang 'aku mencintaimu'? Apa yang akan kau lakukan padaku?"


Kalimat itu sukses membuat jantung Shasa makin berdetak hebat. Seolah ingin meledak. Seolah tidak ada yang penting lagi di dunia ini selain mendengar kata itu. Mimpi jadi nyata, tapi ... benarkah? Pria itu barusan menyatakan cinta padanya atau ... hanya berandai-andai? "Ma-maksudmu apa?" Shasa mengatakannya dengan suara pelan, takut ia berekspektasi terlalu tinggi, dan Abra ... sedang bermain kata-kata.

__ADS_1


Abra menggeser tubuhnya mendekat dan duduk di samping Shasa. Ia tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu membuat Shasa terkejut. "Bagaimana kalau ada klien seperti ini. Dia mengambil kesempatan dengan kelemahan kamu yang berdiri di balik profesionalisme. Maukah kau tidur dengannya?" Abra mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga wajah mereka kembali berdekatan.


Entah setan apa yang sedang bertebaran di sekeliling mereka. Shasa terhanyut dengan pesona Abra yang memabukkan. Wajah tampannya, tatapan lembutnya serta bibir tebalnya yang seperti siap melahapnya. Ia menelan salivanya dengan susah payah.


Sedang Abra ia tak sampai hati sebenarnya melakukan itu tapi ia harus melakukannya, memberi tahu gadis itu mana yang patut diikuti dan mana yang tidak karena ia ... peduli.


Kenapa dia tak bergerak, apa yang sedang dipikirkannya? Apa jangan-jangan ... ia akan melakukannya? Abra membulatkan matanya.


Terdengar bunyi suara langkah kaki mendekat. Abra buru-buru melepas pelukan.


"Eh, maaf. Mas yang iklan pasta gigi Whitea itu ya? Eh, yang perempuannya juga. Aih, aku penggemar kalian lho!" Dua orang remaja datang menghampiri mereka dan bersorak.


Shasa melongo. Ia mendapat penggemar.


Abra melirik Shasa. "Eh, iya benar." Abra membenarkan perkataan kedua gadis yang datang itu.


"Boleh foto bareng gak?" tanya salah satu dari mereka dengan mengeratkan tangan di depan dada, gemas, berharap Abra dan Shasa bersedia.


"Mmh ...." Abra melirik Shasa yang sedang tersenyum senang. "Boleh," ucapnya pada kedua gadis itu.


Jadilah mereka berfoto-foto dengan kedua remaja itu. Beberapa pose telah dilakukan.


"Apa kalian pacaran?" tanya gadis yang berambut panjang.


"Oh, enggak," jawab Abra cepat.


"Ya ... sayang sekali padahal kalian terlihat cocok satu sama lain."


"Mmh, kalau dia sudah mau menikah," terang Abra lagi.


Shasa menyentuh wajahnya, bingung.


"Iya Mas, jangan biarkan dia jadi milik orang lain. Aku gak rela." Gadis penggemar mereka berdua itu mulai memberikan pendapat.


Abra mulai merasa tidak nyaman karena mengganggu privasinya dan ia tidak boleh merusak image(gambaran) iklan yang sudah terbentuk sehingga ia memilih mengalah.


"Maaf ya?" Dengan senyum lebar, Abra meraih tangan Shasa dan menariknya dengan tergesa-gesa keluar dari kafe itu.


Kedua penggemar itu malah kegirangan. "Semangat Mas, dapetin ceweknya jangan sampai ke pelaminan."


"Iya, benar. Kami mendukungmu!" teriak temannya yang satu lagi.


Di luar Abra menyetop taksi dan menaikinya bersama Shasa. Gadis itu terlihat bingung dengan sikap Abra.


"Kenapa Kakak tidak menjelaskan kepada mereka?"


"Tentu saja tidak bisa, Shasa, karena ini menyangkut image yang dibentuk di publik. Kita tak boleh mengacaukan dengan kehidupan pribadi kita."


"Tadi ngajarin, bersikap profesional tidak baik," ledek Shasa.


Abra termakan omongannya sendiri. "Maksudku, tidak selalu baik! Kita harus memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak baik! Jangan semua diaminkan!" ucap Abra berapi-api.


Shasa terkejut melihat pria itu terlihat emosional. Ada apa dengannya? "Mmh ...."


"Intinya, jangan dekati aku kalau kamu tak ingin!" geram pria itu. Teringat perkataannya tadi yang tak juga membuat Shasa mengerti membuat hatinya panas. Entah kenapa ia bisa seemosinal itu.

__ADS_1


Ia menghadapkan wajahnya pada kaca jendela mobil di mana ia melihat bayangan wajah gadis itu di belakangnya yang terlihat tidak bahagia. Apa perkataannya kini kembali menyakitinya? Ah, Abra. Padahal aku tidak bermaksud begitu.


Taksi akhirnya sampai ke kos-kosan Shasa. Gadis itu turun dalam diam yang sejak tadi tercipta. Wajahnya murung. "Makasih Pak."


"Sha." Pria itu tiba-tiba turun.


Gadis itu terkejut.


"Temani aku makan, aku belum makan." Abra segera membayar taksinya.


"Tapi Bapak gak pake masker nanti aku ketularan."


"Pasti sudah ketularan dari tadi Sha, makanya aku gak pakai masker."


"Terus?"


"Aku ingin makan, laper."


Wajah Abra tidak sepucat tadi. Hidungnya pun sudah tidak mengeluarkan lendir. Batuknya juga jarang.


"Sha."


"Jalan kaki cari warung makan?"


"Iya, gak papa."


"Ya udah."


Mereka melangkah bersama.


Memang hubungan mereka sangat membingungkan tapi Abra pasrah, ia tidak ingin memaksa Shasa atas apa yang dipilihnya. Walaupun mereka sering bertengkar tapi selalu saja ada cara untuk berbaikan kembali tanpa harus ada yang menghakimi dan kembali dengan hubungan yang tak pasti.


Raven melihat Shasa yang sudah turun dari taksi berdua Abra tapi kembali berjalan kaki keluar. Ia tersenyum dan mendoakan yang terbaik untuk keduanya.


------------+++----------


Hari yang di nanti tiba. Hari di mana TV Indo merayakan hari ulang tahunnya. Shasa dan Bima diundang untuk datang ke acara ulang tahun TV tersebut di malam hari. Sehari sebelumnya Shasa dan Bima sudah membeli baju pesta untuk acara itu, dan kini mereka tengah mendatangi studio tempat acara itu berlangsung live.


Shasa dan Bima mendapatkan kursi di depan di antara para sponsor. Shasa yang berdandan cantik mendapat sorotan dari beberapa orang, selain Bima dan Abra, ada ayah Abra dan Kevin.


Erik, ayah Kevin dan Abra bisa melihat kedua putranya memandangi Shasa hampir tak berkedip karena melihat dandanannya yang cantik malam itu. Ia hanya geleng-geleng kepala.


Sehari sebelumnya, iklan tentang ulang tahun TV Indo dari perusahaan kantor Shasa telah beredar di berbagai TV dan media sosial sehingga di hari yang di nantikan, sudah banyak yang tahu akan acara tersebut.


Acara ulang tahun TV itu pun juga banyak memberikan acara spesial sejak pagi hari di setiap acara TV-nya seperti adanya kuis interaktif online yang memberikan banyak hadiah bagi para pemirsanya hingga malam menjelang. Di malam itulah puncak acaranya.


Acara di mulai dengan pidato dari pemilik perusahaan, Erik kemudian dilanjut dengan pemotongan tumpeng. Pria itu di dampingi kedua anaknya Abra dan Kevin. Setelah itu acara hiburan yang diisi oleh artis-artis penyanyi terkenal dan para pelawak yang sedang naik daun.


Tak lupa disebutkan beberapa perusahaan yang menjadi sponsor dan ternyata salah satunya adalah pasta gigi Whitea yang menyewa Abra dan Shasa menjadi model mereka sehingga keduanya terpaksa harus maju memperkenalkan diri di atas panggung karena salah satu modelnya adalah CEO stasiun TV Indo.


_____________________________________________


Halo reader. Terima kasih masih membaca novel ini sampai di sini. Jangan lupa memberi author semangat dengan komen dan like kalian. Apa lagi ditambah hadiah, vote atau koin. Ini visual Shasa dengan baju pestanya. Salam, ingflora 💋


__ADS_1


__ADS_2