
"Ck! Ayah, Ibu, aku sudah dewasa. Kalau kalian ingin mendengarkan, silahkan, tapi jangan ganggu kami bicara. Juga saat aku memutuskan."
"Kevin, jawab dulu pertanyaan Ayah. Ada hubungan apa kamu dengan wanita ini?" Erik menunjuk wanita itu yang kini duduk bersebelahan dengan Kevin di tepian tempat tidur. "Apa dia mantan pacarmu?"
"Mantan?" Kevin tertawa. "Namanya saja aku tidak tahu."
"Mmh?" Alis Erik bertaut. "Kamu jangan berbohong pada Ayah, Kevin!"
"Aku belum pernah memanggil namanya." Kevin beralih pada wanita itu. "Iya kan?"
Wanita itu menatap Erik dan mengangguk. "Iya, Pak Kevin tidak pernah memanggil nama Saya karena tidak tahu Pak," terang wanita itu.
"Lalu bagaimana kau tahu nama anakku?" tanya Erik pada wanita itu.
"Dia mantan suster di sini Yah." Kevin mewakili.
"Oh ...." Erik kembali melihat ke arah bayi yang di gendong wanita itu. "Lalu kenapa kau minta tolong anakku untuk mendonorkan tulang sumsumnya? Kalian kan bukan ...." Ia melirik keduanya seraya menunjuk, tapi kemudian ia membulatkan matanya. "Kalian ...."
"Waktu itu aku mabuk Ayah." Kevin melirik wanita itu. "Dan suster ini memanfaatkanku."
Wanita itu memejamkan mata. Sakit rasanya difitnah, karena setiap bertemu dengan pria ini ia selalu merasakan sakit hati. Ya, beginilah jadi orang miskin, selalu mendapatkan ketidakadilan, tapi biar begitu, dari begitu banyak manusia yang menghinanya, hanya pada pria inilah ia bisa berharap walau harus menghadapi mulutnya yang pedas.
"Kalau begitu, untuk apa dia di sini? Usir saja wanita itu," sela Karen sinis.
"Ibu, Ayah, bisakah kalian tidak menggangguku?" ucap Kevin kesal.
"Tapi Kevin, tubuhmu sangat lemah. Aku tak yakin kau cukup kuat untuk melakukan pendonoran itu."
Kevin memutar bola matanya. "Ayah, tolong. Bisa tidak, Ayah duduk diam berdua ibu di sofa."
"Kevin ...."
"Ck! Ya sudah, aku ke kantin saja." Kevin beranjak berdiri. "Ayo!"
Wanita itu segera berdiri dan mengikuti pria itu.
"Kevin!"
Namun Kevin tak menghiraukan ucapan Erik. Pria itu kemudian berjalan sejajar dengan wanita itu yang membuat semua orang melihat ke arahnya. Seorang pria kaya dengan seorang wanita miskin sambil menggendong seorang bayi berjalan ke arah lift. Pandangan mata orang-orang di sekeliling membuat wanita itu canggung.
Di dalam lift, Kevin tidak melirik ke arahnya tapi ke arah bayi yang digendongnya. Bayi itu memang jarang rewel kecuali mendengar bentakkan atau suara keras barulah dia menangis.
Setelah keluar dari lift, mereka menuju ke kantin, tapi sebelum duduk, Kevin menawarinya makan. "Kau mau makan apa, minta saja."
"Eh, tidak usah Pak." Wanita itu menunduk.
"Pembicaraan kita akan lama, jadi pesan saja."
Mereka sudah berdiri di depan etalase.
"Aku belakangan susah makan Pak, maaf. Tidak tertelan bila melihat anakku seperti ini." Air mata wanita itu menetes.
"Kenapa kau datang padaku? Apa kau mau mengatakan ini anakku?"
Wanita itu melirik sekilas pada Kevin dengan masih berurai air mata. "Maafkan aku Pak. Aku sendiri tidak tahu. Selama ini aku berusaha untuk tidak melibatkan Bapak, tapi penyakit ini memaksaku untuk datang padamu karena aku dan suami, tak satu pun yang cocok untuk bisa mendonorkan sumsum pada anak ini. Aku hanya bisa memohon padamu Pak, mungkin sumsum Bapak cocok dengannya, sudikah Bapak memberikan sumsum Bapak pada anak ini?"
Kevin terdiam sejenak. Ia kemudian memesan 2 cangkir teh dan minta diantarkan ke mejanya pada kasir kantin. Lalu ia memilih meja dan duduk di sana. Wanita itu mengikutinya.
"Boleh aku tahu namamu?" Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Nama saya Uliyah, Pak."
"Mmh ... nama anak itu?"
"Safiyah."
"Kalau aku bisa mendonorkan sumsumku, aku dapat apa?"
Wanita itu terlihat bingung. "Apa Bapak ingin mengulang kejadian waktu itu?"
"Tidak. Aku sudah tidak menginginkannya lagi."
"Lalu aku harus apa? Katakan saja, aku akan melakukannya."
Kevin menatap wanita itu sebentar. "Sebenarnya sebagai suster, kamu tahu kan resiko orang yang memberi donor."
Wanita itu mengangguk.
__ADS_1
"Memangnya dia tak punya saudara kandung?"
"Ini anakku satu-satunya Pak." Wanita itu mendekap anaknya.
Pelayan di kantin itu membawakan teh bagi keduanya sehingga mereka terdiam sejenak. Setelah itu ....
"Kau akan melakukan apapun demi anak itu kan?" Kevin memastikan.
"Iya, Pak. Akan aku lakukan."
"Ok. Kalau ternyata aku bisa membantumu, berikan anak itu padaku."
"A-apa?" Wanita itu terkejut.
"Kau dengar kata-kataku kan? Berikan anak itu padaku."
"Tapi, aku tidak tahu apakah ini anakmu atau bukan ...."
"Apa kau tidur dengan banyak orang?" tanya Kevin kesal.
"Bu-bukan itu maksud saya Pak. Mungkin saja ini anak suami Saya hanya saja kebetulan sumsumnya tidak cocok."
Kevin semakin kesal. "Kalau begitu, tes DNA sekalian."
Wanita itu menunduk. "Maaf Pak."
Kevin sangat geram. Padahal ia sudah mulai jatuh hati pada bayi itu. Tiba-tiba bayi itu menangis. Sepertinya baru terbangun dari tidurnya.
"Aduh aku lupa bawa susunya lagi ...." Uliyah kebingungan. Ia segera berdiri.
"Mau ke mana?"
"Mau beli air mineral."
"Air mineral? Kan anakmu butuh susu?"
"Aku mau beli biskuit buat bayi saja Pak. Sudah mulai ada gigi."
Kevin segera berdiri. "Sini aku yang belikan. Anakmu sudah bisa makan?"
Akhirnya wanita itu mengikuti. "Makan yang lunak-lunak Pak."
Wanita itu sedikit kaget dengan perubahan Kevin. Ia tak segalak dulu pada waktu pertama kali bertemu. "Eh, iya Pak."
"Pesan saja. Yang mana?"
Akhirnya mereka membeli bubur kacang hijau dan air mineral. Kemudian mereka kembali ke meja mereka.
Uliyah mendudukkan bayinya di pangkuan dan menyuapinya bubur. Bayi kecil itu makan dengan pelan seraya menatap heran pada Kevin. Mungkin karena bayi itu merasa belum pernah melihatnya.
Kevin tergerak untuk lebih dekat dengannya. "Boleh aku menggendongnya?" Wajahnya terlihat senang.
Sedikit heran, Uliyah mengiyakan. Saat ia menyerahkan Safiyah pada Kevin, bayi itu seperti tahu dan melengoskan kepalanya dari Kevin. Kelihatan sekali ia bingung dan malu.
"Aih, malu ya?" Pria itu memangku dan mendekapnya. Sebentar ia menikmatinya. Bayi itu ternyata dengan cukup berani berpaling menatap Kevin dengan matanya yang bulat lucu.
"Halo ...," sapa pria itu pada bayi kecil itu.
Bayi itu tak menangis.
"Coba sini bubur kacang ijonya, biar aku yang suapi." Kevin meminta bubur yang tersisa.
"Apa?"
Sementara itu di ruang perawatan Kevin, kedua orang tuanya sibuk menduga-duga.
"Kalau memang itu anak Kevin, Kevin harus menikah dengannya."
"Ayah, aku lihat Kevin tak menyukainya. Aku merasa Kevin dijebak wanita itu. Wanita itu pasti mengincar harta kita," ujar Karen sengit.
"Tapi Kevin tetap harus bertanggung jawab."
"Beri saja wanita itu uang yang dimau."
"Tidak boleh begitu Bu, tidak sopan."
"Kan dia maunya uang, jadi berikan sa—"
__ADS_1
Kedua orang itu masuk, Kevin dan Uliyah.
"Namanya Uliyah Yah, dan aku akan tes kecocokan donor," ucap Kevin yang datang sambil menggendong bayi itu.
Kedua orang tuanya terperangah melihat Kevin menggendong bayi itu.
"Dan kalau aku bisa mendonorkannya, aku akan donorkan."
"Kevin ... kenapa kalian tidak menikah saja," pinta ayah.
Kevin tertawa. "Ya tidak bisa Yah, dia kan sudah punya suami."
Erik menggaruk-garukkan kepalanya.
Kevin pun menjalani berbagai macam tes. Juga tes DNA yang kemudian diketahui anak itu adalah anaknya. Sumsumnya pun ternyata cocok dengan Safiyah dan tubuhnya dinyatakan cukup sehat untuk pengambilan sumsum. Pria itu sangat bahagia.
Setiap hari Kevin mengunjungi Safiyah di ruang perawatan khusus bersama Uliyah hingga waktu pendonoran tiba. Kevin mengalami operasi kecil untuk mengambil sumsumnya. Sesudah itu ia harus berbaring di tempat tidur selama 2 minggu, sedang Safiyah juga merasakan hal yang sama tapi hanya 3 hari dan setelah itu kesehatannya berubah membaik. Kevin dan Uliyah sangat bahagia.
"Rawat anakku dulu selama aku masih sakit tapi kau sudah tak boleh membawanya lagi. Dia milikku."
Uliyah menggangguk. Sedih harus berpisah dengan anak satu-satunya tapi terpaksa ia lakukan karena di rumah ia mulai bertengkar dengan suaminya. Pria itu menyadari telah dibohongi istrinya yang baru 3 tahun dinikahinya setelah wanita itu mengatakan bahwa Safiyah bukan anaknya.
Uliyah kerja di rumah sakit kecil, ibunya masih sakit-sakitan sedang suaminya yang kerja serabutan tidak mau mengurus bayinya di rumah, hingga tempat terbaik Safiyah sekarang ini adalah memang bersama Kevin.
Uliyah duduk di kursi di samping Kevin. Ia menyuapi Safiyah, bubur bayi. "Mamam yang banyak ya Nak."
"Ma-mam." Safiyah kecil mulai bicara.
Kevin sangat senang melihat Safiyah makan. Sambil berbaring diusapnya kepala Safiyah yang masih berambut pendek itu. Bayi mungil itu menoleh pelan pada Kevin.
"Itu siapa?" tanya Uliyah pada anaknya sambil menunjuk pada Kevin.
Bayi itu, yang lehernya belum kuat benar, menoleh pada ibunya lalu Kevin.
"Itu Papa."
"Pa-pa," Safiyah menirukan.
Kevin sangat terharu melihatnya. Ia menitikkan air mata.
Uliyah pun melihatnya. Ia kini yakin, Kevin orang yang tepat untuk menitipkan anaknya walaupun nanti ia sudah tak boleh lagi menengok Safiyah. Ia ikhlas, demi masa depan Safiyah.
"Terima kasih ya, sudah membawakan berkas-berkas untuk Safiyah. Rencananya Safiyah aku akan ganti namanya."
"Ganti?"
"Iya. Aku tak ingin ia ingat masa lalunya. Aku juga tak ingin orang lain mengingatkannya akan masa silam."
"Jadi mau diberi nama apa?"
"Kalula. Aku suka nama itu. Kalula Torick Natawijaya. Diambil dari namaku Kevin Torick Natawijaya."
"Ya sudah," Uliyah mengiyakan.
Sementara itu Erik bingung dengan hubungan Kevin dengan Uliyah. Mereka tak bisa disatukan karena Uliyah punya suami tapi bagaimana kalau ada yang menanyakan keberadaan Safiyah yang kini di ruangan Kevin sedang Kevin sendiri belum menikah? Ia harus jawab apa?
Tiba-tiba Abra datang dan terperanjat melihat keberadaan Uliyah dan Safiyah. Apalagi dengan adanya tempat tidur bayi di ruangan itu.
"Ini ... siapa ...?" Abra melirik pada Erik.
Uliyah menoleh pada Abra dan menganggukkan kepala. Pria itu kembali melirik pada Erik. Ayahnya memanggil duduk bersama.
Setelah mendatangi, masih dalam keterkejutan, Erik menceritakan semuanya. Abra tak bisa menutup mulutnya karena tak tahu harus berkomentar apa sebab cukup mengejutkan baginya bahwa Kevin sudah mempunyai anak tanpa sepengetahuannya, bahkan dari wanita yang telah bersuami. Kapan itu terjadinya, ia sendiri bahkan tidak tahu.
"Jadi mereka akan bagaimana?"
Erik mengangkat bahunya.
"Pa-pa."
"Mmh, kamu sudah pintar panggil Papa ya?" Kembali pria itu mengusap kepala bayi itu. "Kalau diperhatikan matanya mirip aku ya?"
Uliyah coba memperhatikan. "Mmh, benar juga."
Melihat keakraban Kevin dan Uliyah membuat Abra bingung.
___________________________________________
__ADS_1
Mau aku tamatin malah jadi panjang 😅. Hiya, pasti tamat kok. Ini visual Safiyah alias Kalula yang masih bayi. Salam, ingflora. 💋