
"Kamu sering menemaninya olahraga?" tanya Danisa.
"Baru beberapa kali," ucap Shasa lirih.
"Mmh." Danisa menatap Abra yang sedang latihan. "Maafkan dia kalau sedang fokus, lupa yang lain."
"Maksudnya?"
"Pria memang begitu, hanya bisa fokus pada satu hal. Beda dengan wanita, karena itu wanita bisa mengemban banyak peran, ibu, istri, pegawai, orang tua. Bahkan memikirkan orang lain." Danisa menoleh pada Shasa. "Dia sedang sibuk akhir-akhir ini dengan pekerjaannya. Aku saja yang mengikutinya, hampir tak punya waktu bicara. Ia sibuk meeting, mengecek siaran, bertemu klien bahkan mengecek pekerjaan pegawainya. Aku sedang belajar darinya bagaimana cara mengurus sebuah perusahaan dan karena ia gak bisa menerangkan semua, aku ikuti saja keseharian ia bekerja bagaimana." Wanita itu menerangkan apa yang ia lakukan selama ini bersama Abra.
"Apa selama ini kamu mmh ... gak punya rasa suka sama Kak Abra?" Shasa ingin tahu.
Danisa tersenyum menatap Shasa. "Jadi kamu meragukan laki-laki dan perempuan bisa berteman?"
"Kelihatannya gak mungkin."
Danisa yang duduk di samping Shasa, melipat tangannya di dada. "Tergantung komitmen. Ada yang bisa dan ada yang tidak, karena dalam perjalanan persahabatan mereka tumbuh rasa suka yang berbeda."
Shasa kembali cemberut. Bagaimana kalau ternyata tidak bisa? Menyesal ia pernah menanyakannya karena kini ia khawatir.
Setelah latihan, Abra mengajak Shasa pulang.
"Sampai ketemu lagi di kantor ya?" kata Danisa pada Abra.
Lagi? Shasa gemas mendengarnya. Berarti wanita itu akan adalagi di kantor mereka.
Shasa kemudian menemani Abra pulang ke apartemen. Sehabis mandi pria itu mengenakan baju koko untuk pergi Jum'atan. "Kamu tunggu di sini aja ya? Nanti pulang Jum'atan aku beliin makan siang."
Shasa mengangguk. Ia terkejut ketika Abra mengambil tangannya dan mencium punggung tangan gadis itu. "Aku pergi Jum'atan dulu ya Sayang."
"Eh, iya." Wajah gadis itu tersipu-sipu. Tentu saja Abra gemas melihatnya. Sepertinya sudah lama sekali ia tidak melihat wajah gadis itu yang malu-malu, padahal baru beberapa hari saja. Kesibukannya menyita waktu dan pikirannya sehingga ia hampir lupa dengan senyum indah itu.
Abra pun berangkat sementara Shasa menunggu di apartemen. Sekembalinya dari mesjid, pria itu menyempatkan diri untuk membeli makan siang dan membawanya ke apartemen. Setelah makan siang bersama, mereka ke kantor.
Shasa mulai disibukkan dengan pekerjaan kantornya, tapi ia kurang suka dengan pekerjaan sekretaris yang lebih banyak menunggu. Apalagi sesekali ia harus direpotkan oleh Kevin yang bolak-balik minta menyalin data.
Sebenarnya pekerjaan Shasa tidaklah terlalu bermasalah tapi pikirannya selalu ke Abra yang selalu diikuti Danisa. Ia benar-benar cemas setelah mengobrol dengan wanita itu.
Suatu waktu ia telah menyelesaikan tugasnya dan ia begitu ingin tahu apa yang dikerjakan Abra sekarang. Gadis itu menyelinap dari kantor Kevin ke kantor Abra. Pria itu tidak ada di sana. Lalu ia di mana?
Siapapun tidak ada yang bisa memberi tahu karena pria itu selalu berpindah-pindah memeriksa siaran dan juga sering dicari pegawai atau klien sehingga ia susah ditemukan, tapi Shasa akhirnya menemukannya sedang mengobrol dengan Danisa di sebuah studio yang kosong. Mereka baru saja keluar dan bertemu Shasa di depan pintu. Kekesalan Shasa sudah memuncak. Ia sudah tidak bisa mentolerir sikap ramah Abra pada Danisa sebab sudah berlebihan karena itu ia marah. "Kalian pacaran?"
Abra tertawa. "Shasa ...."
"Apa?!!" Shasa merengut.
Danisa yang segera mengenali kemarahan Shasa segera menyingkir. "Eh, aku mau ke toilet dulu."
Kini hanya ada Abra dan Shasa.
"Ada apa sih?"
"Ada apa?!!" Shasa geram tapi kemudian ia tersenyum nakal. Sudah saatnya ia memberi pria itu pelajaran. "Kamu masih ingat ini?" Gadis itu memperlihatkan tiket yang kasat mata.
"Apa?" Tadinya Abra tidak sadar hingga ia mengingatnya. "Eh?"
Gadis itu seolah-olah membuangnya ke udara. "Hari ini kamu jadi kucing aku jadi pemiliknya. Kalau kamu tidak kabulkan, Tuhan akan menghukummu."
Abra terkejut. Ia ingin bicara tapi Shasa sudah menyebutkan mantranya.
Gadis itu menunjuk wajah Abra. " Kucing."
Pria itu ingin protes tapi tak bisa. "Miauw." Ia harus menempati janjinya.
Shasa tertawa senang. "Sekarang, kamu jadi kucingku. Kamu harus mengikuti pemiliknya ke mana dia dibawa."
"Miauw, miauw?(Shasa, kenapa?)"
"Ha ha ha. Sekarang kamu ikut aku."
"Miauw ....(Shasa)" Namun mau tak mau ia mengikuti Shasa dengan menggandeng tangannya.
Mereka bertemu Danisa yang baru keluar dari toilet seusai merapikan rambutnya.
"Oh, Abra mau ke mana?" tanya Danisa yang melihat Abra menggandeng tangan Shasa.
__ADS_1
"Miauw.(gak tau)" Abra menggeleng.
"Hah?"
"Hari ini dia jadi kucing peliharaanku jadi tidak bisa ditanyai," terang Shasa.
"Apa?" Namun kemudian Danisa menahan tawa dengan menutup mulutnya. "Ok, baik-baik ya kucing Abra. Jangan nakal." Wanita itu masih menahan tawa.
"Miauw.(iya)" Abra mengangguk-angguk.
Kembali Shasa melangkah menuju kantor Kevin. Di jalan, mereka kemudian bertemu dengan seorang staf kreatif Abra yang sedang mencarinya.
"Oh, Pak. Ada yang mau ditanyakan. Bapak sudah lihat design baru untuk panggung belum Pak? Tolong diACC biar bisa langsung dibuat."
Abra menggeleng. "Miauw."
"Hah?"
"Pak Abra sekarang sedang memerankan jadi kucing jadi ia tidak bisa bicara," terang Shasa.
"Apa?"
Abra dan Shasa meninggalkan staf itu yang masih melongo tak tahu harus berbuat apa.
Mereka lalu sampai di kantor Kevin. Pegawai Kevin bingung melihat kedatangan mereka berdua karena Shasa mengambilkan satu lagi kursi untuk Abra duduk di samping kursi sekretarisnya. Mereka kemudian duduk di sana.
Shasa sangat senang Abra berperan menjadi kucingnya hingga ia tidak bingung lagi pria itu ada di mana. Yang pasti tidak bersama Denisa.
Abra tidak tahu harus bagaimana. "Miauw?(lalu?)". Namun kemudian ia melipat tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya di sana lalu menoleh ke arah Shasa. Ia menunjuk kepalanya pada gadis itu. "Miauw, miauw.(minta diusap)"
Entah kenapa Shasa mengerti. Ia mengusap kepala pria itu hingga pria itu memejamkan mata.
"Miauw, miauw.(Terima kasih Sayang)" Ada baiknya aku ikuti saja saat ia marah. Sepertinya aku malah punya waktu istirahat karena sebenarnya melelahkan juga setelah olahraga lalu harus langsung bekerja. Aku ngantuk. Abra sebentar kemudian tertidur.
Shasa tersenyum senang. Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sudah ditumpuk Kevin di atas meja.
Beberapa pegawai Kevin terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa seorang gadis bisa membuat 2 orang penting di perusahaan itu tunduk padanya?
Kevin keluar dari ruang kerjanya dan melihat Shasa kembali. "Oh, kamu dari mana?" Namun ia terkejut melihat ada Abra di samping Shasa yang tertidur nyenyak. "Dia kenapa?" tunjuk Kevin pada Abra.
"Apa? Kucing-kucingan?"
"Iya Pak." Gadis itu terlihat senang. Ia mengusap kepala Abra yang sedang tertidur. "Lucu kan Pak, kucingnya."
Kevin hanya tersenyum sekedarnya karena ia tak mengerti. Ia menyangka itu bagian dari kebutuhan iklan yang entah apa. "Kamu tidak harus menyelesaikannya sekarang. Kalau tidak selesai, kamu bisa lanjutkan besok."
"Iya Pak."
Kevin kemudian kembali ke ruangan dengan masih kebingungan melihat Abra yang tertidur di meja Shasa.
Shasa merasa nyaman walaupun sesekali harus mendengarkan dengkuran halus Abra di sela-sela ia mengetik berkas-berkas yang diberikan Kevin padanya. Ia bahagia.
Hingga satu saat Abra terbangun. "Miauw, miauw.(Aku mau ke toilet)"
Shasa tidak mengerti. Abra kemudian mengetikkan ke layar laptop kalau ia ingin ke toilet.
"Oh, ok." Shasa menemani Abra ke toilet. Sedikit segan menunggu di depan toilet pria tapi saat itu toilet itu sepi. Begitu juga toilet wanita.
Setelah selesai, Abra keluar. Shasa melihat pakaian Abra sedikit berantakan terutama di kancing depan tapi tanpa ia ketahui, ada kancingnya yang longgar. Benang kancing itu malah menyangkut di kancing lengan baju Shasa. Karuan saja Shasa kesulitan melepaskan lengannya dari dada pria itu. "Aduh apalagi ini?" jawabnya kesal.
Karena posisi benang tersangkut di belakang kancing, ia harus melihatnya dari dekat agar bisa membukanya. Mau tak mau wajah mereka harus berdekatan agar Shasa bisa melihat jelas benangnya tersangkut bagaimana, tapi wajahnya belum-belum sudah memerah karena Abra melihatnya tanpa berkedip. "Jangan melihatku seperti itu!" ucapnya malu.
Abra malah mendorong gadis itu ke dinding.
"Eh, kamu mau apa?"
"Miauw.(kamu?)"
"Aku ngak ngerti."
Abra tersenyum.
"Ya udah ngomong aja."
"Kamu kenapa?" Akhirnya Abra bisa bicara. Ia berbicara dengan lembut.
__ADS_1
"Apa?"
"Sikapmu aneh akhir-akhir ini."
"Siapa yang aneh! Kamu sudah tidak memperdulikanku lagi belakangan ini." Shasa kesal dan menumpahkan segala kekesalannya di depan Abra.
"Lho, kenapa? Bukankah dulu kamu tidak ingin aku menggodamu?"
Shasa tidak bisa menjawab. Ia masih merengut.
"Apa karena Danisa?"
"Kenapa kamu selalu bersamanya ke mana-mana!" Gadis itu masih kesal.
"Danisa kan temanku. Kenapa? Kamu cemburu?"
Kembali Shasa diam tak bicara.
"Kamu cemburu ya? Kamu menyukaiku?"
Walaupun masih ngambek tapi wajah Shasa memerah. Ia malu tapi tak bisa kabur karena tangan Abra tiba-tiba mengurung wajahnya. Gadis itu hanya bisa menunduk.
"Sha, lihat aku."
Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya.
"Shanum Andina Prawira, aku Abraham Natawijaya mencintaimu. Aku mencintaimu."
Kali ini wajah gadis itu bersemu merah. Ia malu ketahuan cemburu tapi juga senang karena pria yang disukai itu ternyata juga mencintai dirinya. Air matanya mengalir tanpa terasa.
"Kau suka?"
Shasa mengangguk.
"Boleh aku mengecup keningmu?"
Kembali gadis itu mengangguk. Abra mengecup keningnya. Ia membantu Shasa menghapus air matanya yang terlanjur jatuh. "Sebenarnya ini ide Danisa untuk mengetes kamu."
"Apa?"
"Aku sebenarnya ragu apa kau menyukaiku atau tidak tapi kata Danisa wanita itu seperti layangan."
"Layangan?"
"Iya. Jangan terus dikejar tapi harus ditarik ulur agar bisa mendapatkan hatinya."
Shasa memukul dada bidang Abra. "Memangnya aku layangan!" Namun benang kancing baju Abra terputus seketika. Kancing itu akhirnya jatuh ke lantai. "Yaaa ...."
Kedua pasang mata itu melihat jatuhnya kancing baju itu di lantai. Mereka saling berpandangan dan tertawa.
"Danisa, awas ya! Berani-beraninya dia ngerjain aku," Shasa merasa dibohongi. "Jadi selama ini kamu pura-pura nyuekin aku ya?" Gadis itu mencubit pinggang Abra.
"Aduh, maaf Sayang, tapi suka kan?"
"Iih!" Shasa memukul manja bahu pria itu.
"Udah dong Yang. Kamu sih sadis!"
"Mmh, habis kamunya jahil." Gadis itu memperhatikan baju Abra yang tanpa kancing di dada. "Yaaa, bajumu gak ada kancingnya."
"Aku bisa pulang ganti baju."
"Mmh."
"Sha, besok kita kencan yuk?"
"Di mana?"
"Di restoran Cha Seven setelah kerja jam 5 sore."
"Ok."
Mereka kemudian melangkah bersama ke arah kantor masing-masing.
Seorang pria keluar dari toilet pria. Kevin. Ia geram setelah mendengar semuanya. Tak tahan, ia mendatangi kantor Abra.
__ADS_1