Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Tuan Putri


__ADS_3

Shasa yang sedang mengucek-ngucek matanya, harus merasakan pening di kepala akibat teriakan Raven yang tepat di depan gendang telinganya. "Bang, apa sih ... Kita punya kamar sendiri-sendiri tau ...," protesnya. Ia masih belum sepenuhnya membuka mata.


"Oh ...." Raven terdiam sejenak. "Tapi tetap saja, cepat pulang!" cerocosnya cerewet.


"Iya, iya. Ini juga baru bangun Bang." Shasa mematikan HP-nya. Segera ia sholat Subuh di mushola dekat hotel. Ia bertemu Abra di sana. "Kak, ayo pulang."


"Sarapan dulu ya?"


Mereka kemudian sarapan prasmanan di dekat pintu belakang hotel bersama tamu hotel yang lain.


"Kenapa buru-buru? Mau ke tempat kerja?"


"Enggak." Shasa tertunduk. "Mau berhenti." Ia memainkan potongan sosis di atas piring.


"Apa?" Pria itu terkejut. "Mau berhenti?"


Gadis itu masih memainkan garpunya.


Abra menatap gadis itu lekat-lekat. Ada apa ini? "Kamu ... putus dengannya?" Ia coba menebak-nebak.


"Iya," jawab gadis itu pelan. Ia makin mengacaukan isi piring. Marah yang tertahan.


Abra segera menyentuh lengan gadis itu, menenangkan. "Duniamu belum berakhir. Berhenti kerja, cari lagi, putus cinta ... cari lagi."


Gadis itu mengangkat kepalanya dan mencoba tersenyum, walau berat.


"Mau cari pacar? Aku mau dong! Aku daftar antrian nomer satu," ucap pria itu sambil tersenyum.


Gadis itu kini tersenyum lebar. Kenapa sih kamu selalu bercanda kalau ngomongin soal cinta? "Aku capek pacaran. Aku mau kerja dulu."


"Oh, ya udah." Abra sedikit kecewa. Tiba-tiba terlintas ide brilian. "Oh, bagaimana kalau kamu kerja di kantorku saja?"


"Tapi aku belum punya jabatan dan masih bantu di sana sini."


"Pengalamanmu menangani klien menurutku lumayan bagus, tapi nanti mungkin dilihat lagi kemampuanmu. Mungkin di bagian HRD atau marketing. Kita lihat saja peruntunganmu."


"Aku belum mengundurkan diri di kantor yang lama."


"Ya sudah. Nanti kalau urusanmu sudah beres, tinggal kasih tau aku kapan mau masuknya soalnya kamu sudah punya pengalaman. Seminggu masuk, pasti akan dapat penempatan yang jelas."


"Iya. Makasih." Shasa masih memainkan omelet di piringnya.


"Kenapa?"


"Mmh, apa?" Gadis itu mengangkat kepalanya.


"Kenapa putus?" Abra mengangkat cangkir kopi dan diletakkan di depan mulut. Ia menyesapnya pelan-pelan.


"Ituuu ...." Kembali Shasa menunduk dan memainkan omeletnya. Ia membiarkan kalimat itu menggantung. Ia tak ingin membicarakan keburukan Bima walaupun sudah sakit hati karenanya.


"Tak usah cerita kalau kau tak ingin." Pria itu meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. "Cepat saja habiskan sarapanmu agar kita bisa pulang."


Shasa mengangguk. Ia mulai menyuap sarapannya.


Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Abra merasa senang sekaligus gelisah. Pastinya Shasa masih merasa sedih setelah hubungannya kandas dengan Bima. Apa bisa ia segera pulih dari rasa sedihnya itu karena pria itu sudah tak tahan ingin lebih dekat dengan gadis itu. Saat ini, gadis itu masih belum bisa diajak bicara. Emosinya masih labil. Menghiburnya adalah satu-satunya cara untuk selalu bisa dekat dengannya. "Kamu mau pulang dulu atau bagaimana? Aku bisa membuatkanmu surat pengunduran diri."


Gadis itu menatap Abra penuh pengharapan.


"Apa?"


"Boleh aku libur sehari."


"Apa? Oh, boleh." Abra menyadari, gadis itu ingin menyendiri, ia kemudian mengantar Shasa pulang.


-------------+++-----------


Semua orang menatap Rika dengan wajah khawatir.


"Rika, itu tak mungkin akibat jatuh. Kamu pasti habis bertengkar dengan orang ya?" Mama berdiri dari kursinya dan mendatangi gadis itu. "Lagi pula kamu tak boleh jatuh karena berbahaya bagi janinmu." Ia mengangkat dagu Rika, melihat luka di bibirnya. "Sudah diobati?"


"Cuma sedikit kok Ma."

__ADS_1


"Eh, gak boleh gitu. Sebentar Mama ambilkan obat luka dulu." Mama melangkah ke kamar sedang kedua pria itu masih menatap gadis itu, syok.


"Sudah, kamu gak usah keluar-keluar lagi. Bahaya dan jadi bahan omongan tetangga," titah Papa.


"Pa ...." Rika merengek.


Damar tertawa. "Rasain!"


Gadis itu merengut.


---------+++----------


Shasa hanya tidur saja di atas tempat tidur hingga jam makan siang, hingga seseorang membangunkannya dengan suara ketukan. Ia membuka matanya dengan malas dan mencoba turun dari tempat tidur sambil mengambil jilbab instannya di atas kursi. Ia terkejut saat mengintip ke jendela, ada Abra di sana sedang tersenyum dan melambaikan tangan ke jendela. Shasa berbalik bersembunyi di balik pintu.


Untuk apa lagi dia ke sini? Kan Aku udah bilang, minta cuti. Kembali gadis itu mengintip ke jendela. Abra kembali memberi senyuman. Terpaksa gadis itu membuka pintu. "Iya, ada apa Kak?" ucapnya malas.


Abra menyodorkan kedua belah tangannya. "Nih!"


"Mmh?" Shasa tidak mengerti. "Apa?"


"Tiga buah tiket untukmu. Untuk bahagia."


Namun Shasa tidak bisa melihat apapun di atas kedua telapak tangan pria itu. "Mmh? Mana?"


"Ini hanya perjanjian antara kita berdua." Abra meletakkan telapak tangan yang telah di rapatkan dekat mulutnya sambil berbisik. "Magic(sihir)."


"Mmh?"


"Karena itu tidak terlihat dan hanya kita berdua yang tahu. Ambillah!" Abra kembali menyodorkan kedua telapak tangannya yang sudah dirapatkan.


Shasa walaupun tak mengerti tapi mengikuti juga permainan ini. Ia seolah-olah mengambil tiket yang tak kasat mata itu dari telapak tangan pria itu.


"Dengan tiket itu, kamu bisa minta apa saja padaku, aku akan kabulkan. Setelah kamu meminta, kamu ucapkan mantranya di akhir, 'kalau kamu tidak kabulkan, Tuhan akan menghukummu'."


Shasa masih terlihat bingung.


"Kamu hanya punya 3 tiket jadi pikirkan baik-baik, kamu minta aku bagaimana atau jadi apa."


"Jadi apa?"


Shasa mengangkat ke udara tiket tak kasat mata itu dengan memicingkan satu matanya. Kali ini ia tersenyum nakal. "Boleh juga." Ia seakan-akan membuang satu tiketnya ke udara. "Hari ini aku jadi Tuan Putri dan kamu jadi pembantunya. Kalau kamu tidak kabulkan, Tuhan akan menghukummu."


Abra meletakkan lengan kanan di depan dan membungkukkan tubuhnya pada Shasa. "Baik Tuan Putri. Tuan Putri mau apa?"


Shasa hampir tertawa tapi melihat wajah serius Abra, ia memulai perintahnya. "Ok, sekarang bereskan kamarku."


"Baik Tuan Putri." Setelah memberi hormat dengan membungkuk kembali, Abra masuk ke dalam kamar Shasa dan memperhatikan sekitar.


"Itu ada sapu, sapu dulu kamarku." Shasa menunjuk tempat sapu.


Tidak butuh waktu lama, Abra telah menyapu seluruh kamar Shasa yang kecil itu. Gadis itu memperhatikan tiap sudut ruangan dengan baik. "Bagus. Berikutnya, mengepel."


Pria itu kemudian masuk ke kamar mandi dan kemudian mengeluarkan alat pelnya dan mulai mengepel kamar mungil itu. Shasa naik ke atas tempat tidur sambil memperhatikan. Sebentar kemudian pria itu selesai mengepel.


"Sudah Tuan Putri, apa lagi?"


Shasa mengetuk-ngetuk jarinya di pipi. "Aku lapar belum makan."


"Tuan Putri mau makan apa?"


"Ayam goreng di warung Mpok Entun."


"Ok."


"Dengan nasi setengah dan sambel."


"Ok."


"Oiya, beliin rujak yang mangkal di depannya. Pedes ya?"


"Iya."

__ADS_1


"Sama es cappucino cincau yang rasa greentea di sebelah."


"Ok."


"Kamu udah makan belum?" Gadis itu mencondongkan badannya ke arah Abra sambil menunjuk wajah pria itu. Gaya Shasa memerintah itu seperti Nyonya Kecil yang Bossy(suka memerintah) membuat Abra ingin tersenyum melihatnya.


"Belum Nyonya. Eh salah, Tuan Putri." Abra menahan tawa.


Shasa pun demikian tapi kemudian kembali serius. "Ok, kamu juga beli makanan, temani aku makan. Oya, rujaknya nanti bantu habisin ya?"


"Baik Tuan Putri."


"Ini uangnya." Shasa mengambil dari dompetnya.


Abra segera berlalu. Shasa menunggu cukup lama hingga 20 menit terlewati. Pria itu akhirnya datang. "Maaf Tuan Putri, rujaknya ngantri." Ia kemudian membawa semua belanjaannya ke dalam kamar dan mereka makan di lantai.


Terasa nikmat walau tak ada meja dan kursi. Melihat gadis itu mulai ceria lagi, itu sudah cukup bagi Abra. Sepi baginya kehilangan gadis itu walau satu hari saja. Mengetahui gadis itu sedang bersedih saja, hatinya terasa berat untuk meninggalkan. Ia ingin berada bersamanya walaupun tidak bisa membantu apa-apa. Hanya dengan menghiburnya, hati pria itu merasa tentram. "Ini pedes sekali Tuan Putri, rujaknya. Hamba mohon maaf tidak bisa menghabiskan." Ia menyatukan tangan di depan wajah.


Tawa Shasa berderai. "Ya sudah, tapi habiskan buahnya tanpa kuah kacangnya, gak papa."


Abra terpaksa menghabiskan dan dia kekenyangan. "Aduh, Tuan Putri kecil-kecil ternyata makannya banyak juga." Sambil mengusap perutnya Abra membaringkan tubuhnya di lantai.


Gadis itu kembali tertawa. "Hei, jangan tidur di lantai!" Ia menarik tangan Abra.


"Lalu aku tidur di mana dong Tuan Putri?"


Shasa menunjuk tempat tidurnya.


"Mmh? Itu kan tempat tidur Tuan Putri?"


"Iya aku ingin duduk-duduk di luar. Kan dari tadi juga pintunya juga terbuka. Biarin aku yang jagain kamu di luar."


Betapa terharunya Abra mendengar penuturan gadis itu. "Terima kasih Tuan Putri." Ia menggenggam tangan Shasa.


"Iya, gak papa." Gadis itu berdiri dan meninggalkannya.


Abra menaiki tempat tidur gadis itu dan merasa senang. Di sinikah kamu tidur kelinciku? Tempat tidurmu. Sebentar kemudian pria itu tertidur.


Ia terbangun ketika ia mendengar suara gadis itu sedang bicara dengan seorang pria. Ia menajamkan pendengaran.


"Oh, Pak Abra di dalam?"


"Iya."


"Tumben dia main di tempat kamu bukan kamu main di tempat dia."


"Ngak tau, Bang. Dia ngajakin main putri-putrian."


"Putri-putrian? Ha ha ha. Ya udah deh, Abang gak ganggu." Pria itu pun pergi.


Abra yakin itu suara Raven tapi kenapa pria itu di panggil 'Abang' oleh Shasa? Rasanya dulu Shasa memanggilnya 'Kakak'. Apa ia orang yang dituakan di sini? Oh ... bukankah ia punya mobil sedang yang lainnya penghuni kos-kosan paling mampu punya motor? Mobilnya juga baru dan cukup mewah. Siapa Raven sebenarnya? Kenapa dia tinggal di kos-kosan murah ini? Rasanya dia mampu punya apartemen. Pria itu segera duduk dari tidurnya. Apa ia punya maksud tertentu pada Shasa?


Ia segera turun dari tempat tidur dan melangkah ke luar. "Kamu bicara dengan siapa?"


"Oh, kamu sudah bangun. Itu Raven yang waktu itu ikut datang ke apartemenmu."


"Kenapa kamu memanggilnya 'Abang'?"


"Oh, itu. Katanya aku mirip adiknya."


"Terus kamu percaya?"


"Tadinya enggak sampai akhirnya ketemu dengan ayahnya dan dia bicara hal yang sama."


"Bisa saja kan itu orang sewaan."


"Aku juga berpikir begitu sampai aku dengar sendiri ternyata ia kenal orang tuaku dan aku ternyata kembar."


"Maksudmu?"


Shasa kemudian menceritakan apa yang didengarnya.

__ADS_1


Abra terperangah. "Sayang sekali kamu tak pernah mengenal saudara kembarmu."


"Ya begitulah." Shasa sepertinya ikhlas. Tak punya saudara dari awal hingga akhir tapi keberadaan Raven membuat Abra bersyukur. Pemuda itu terlihat akrab dan melindunginya.


__ADS_2