
"Boleh aku tahu nama aslimu sebenarnya?"
"Mmh, namaku Shanum Andina ...."
"Ayah, kau sudah sampai?" Ternyata dari arah pintu, masuk Kevin dengan bergegas.
"Baru saja. Jadi adikmu ini bagaimana?"
"Sudah boleh pulang Yah, tadi dokternya ke sini," seru Abra membuat ayahnya menoleh.
"Benarkah? Sudah selesai administrasinya?"
"Belum."
"Ya sudah, Ayah selesaikan dulu." Pria itu kemudian berdiri. "Tolong bawakan barang-barangnya ke mobil, Kevin."
"Ok."
Karena mengurus administrasi, 20 menit kemudian mereka baru bisa berada di mobil Kevin semua. Kevin kemudian mengantarkan mereka ke apartemen Abra.
"Kevin, kita ke mana?" tanya ayah karena mengenali arah pulang yang berbeda.
"Mmh ... Abra. Dia tinggal di apartemen sekarang."
Ayah melirik Abra yang duduk dengan Shasa di belakang lewat cermin di depannya. "Kamu tinggal di apartemen?"
"Mmh, Ayah. Aku sudah dewasa dan terbiasa hidup sendiri sejak di Amerika, jadi aku beli apartemen. Tempatnya juga tidak jauh dari stasiun TV kita jadi aku tidak perlu capek bolak-balik ke tempat kerja." Abra memberi alasan.
Dilihatnya sungguh-sungguh Abra dari cermin itu. Apa bukan karena ingin dekat dengan gadis itu? Kedua anakku terlibat dengan gadis ini, feeling-ku. Benar kan?
Tak lama mobil mendatangi sebuah gedung apartemen yang baru di bangun tak jauh dari stasiun TV milik ayah mereka. Kevin memarkirkan mobil mereka di depan gedung.
Shasa diminta membawa Abra sedang Ayah dan Kevin membawa tas Abra, keranjang buah dan makanan yang bisa mereka bawa. Pria paruh baya itu melihat Shasa memiliki kartu akses Abra untuk keluar masuk apartemen, bahkan yang menyimpan kunci apartemennya. Ia tidak bicara dan membiarkan semua orang masuk ke dalam apartemen itu.
Abra duduk di sofa bersama ayah sementara Kevin memasukkan barang-barang Abra ke kamar.
"Maaf, Om mau minum apa?"
Pandangan mata pria paruh baya itu teralihkan karena Shasa menawarinya minum. Apa dia juga tahu letak gelas dan isi kulkas Abra? "Air putih saja." Dan benar saja matanya terkejut melihat Shasa tahu letak tempat gelas dan mengambilnya. Konsentrasi untuk menanyai Abra, buyar seketika. "Temanmu itu ...."
"Iya, Yah?"
Belum hilang keterkejutan, pria itu melihat Kevin mendekati Shasa ikut-ikutan mengambil gelas dan meminta gadis itu mengisinya. Kembali ia memperhatikannya dengan seksama. Abra dengan wanita, itu biasa karena teman wanitanya juga banyak tapi Kevin? Ia baru kali ini melihat Kevin mau berdekatan dengan seorang wanita. Apalagi ia seorang gadis. Ia tahu anak-anaknya seperti apa karena itu ia terkejut. "Hubunganmu dengan Shasa itu apa? Apa dia pacarmu?"
"Pacar pura-pura, Yah." Abra menjawabnya sambil tertawa.
"Maksudnya?"
Abra bercerita tentang iklan itu.
"Jadi dia sudah punya pacar?"
"Iya." Abra mengangguk.
__ADS_1
Pria itu terdiam.
Tak lama, Shasa datang dengan membawa gelas berisi air mineral. "Silahkan Om."
Pria itu kemudian meminum air yang telah di suguhkan, kemudian ia melihat-lihat apartemen itu dengan berkeliling. Saat ia hendak melihat kamar, buru-buru Shasa mendekat, tapi terlanjur. Pria itu telah membuka kamar itu dengan mengerutkan kening. Seseorang telah tinggal di sana tapi ada barang kosmetik wanita di atas meja. "Ini ...."
"Kamar saya Om," sahut Shasa. Abra dan Kevin telat menyelamatkannya.
"Kamu tinggal di sini?" selidik pria itu lagi.
"Eh, Shasa sedang mencari kos-kosan untuk tempat tinggal tapi terlanjur Abra kecelakaan," terang Kevin dengan cepat.
"Oh, begitu." Pantas ia tahu letak barang-barang yang berada di sini. "Kamu memangnya tinggal di mana?" Ia kembali pada Shasa.
"Dia numpang di rumah Tantenya tapi sekarang ingin mandiri." Kembali Kevin menjawab.
"Tinggal di luar kota?" Pria itu kini bingung bertanya pada siapa.
"Udah gak punya orang tua, Yah." Kevin kembali menerangkan.
"Oh, maaf."
"Ngak apa-apa Om," sahut Shasa. Kini ia bicara atas nama dirinya.
"Mmh ... kalau begitu tinggal saja di sini."
Abra dan Kevin terkejut mendengar penawaran ayahnya pada Shasa karena gadis itu bukan mahramnya untuk tinggal bersama Abra.
Shasa juga ikut terkejut dan menggeleng. "Eh? Ah, tak mungkin Om."
Gadis itu melongo.
"Abra mungkin sebulan baru akan sembuh, tapi kamu tak perlu ada di apartemen ini selama itu karena ia hanya butuh orang untuk membantunya melakukan kegiatan di dalam rumah." Kembali pria itu menyodorkan uang itu pada gadis itu. "Ini mungkin sekitar sepuluh juta."
Netra Shasa membulat sempurna. "Itu terlalu banyak Om."
"Berarti kamu mau kan? Well, mungkin kamu bisa merapikan apartemen ini dan memasak."
"Aku tidak begitu pintar memasak ...." Gadis itu terlihat ragu.
"Apa kamu pernah makan masakannya Abra?" Ayah menoleh pada Abra.
"Pernah kok, walau cuma omelette dan sosis goreng." Abra tersenyum lebar.
Pipi gadis itu memerah malu. "... kan, Om." Ia tertunduk.
"Tapi enak kok. Setidaknya tidak gosong." Abra kini tertawa. Ia hanya bercanda tapi gadis itu sudah gemas ingin mencubit pinggang pria muda itu karena kesal.
Ayah pun juga berusaha menahan tawa. Ia menarik tangan Shasa dan meletakkan uang dolar itu pada telapak tangan gadis itu. "Terserah saja kalau tidak mau masak juga tidak apa-apa," terangnya. "Ya sudah, Ayah pulang dulu, Ayah masih capek. Ayo, Kevin," Ia menyentuh bahu anak tertuanya.
"Tapi Ayah ...." Kevin sepertinya ingin protes karena ia ingin tinggal lebih lama di sana. Ia enggan meninggalkan Shasa pada Abra berdua saja di apartemen itu. Enak sekali Abra, selalu dapat prioritas. Apalagi dengan Shasa, hah!
"Ayah, apa tidak makan malam dulu denganku di sini Yah?" ajak Abra.
__ADS_1
"Mmh? Lain kali saja. Ayah belum setor muka sama Ibu di rumah, nanti dia marah. Repot Ayah," canda Ayah pada Abra. Ia memberi pengertian Abra bahwa ia berusaha adil pada seluruh anggota keluarganya.
Abra akhirnya melepas ayahnya pergi bersama Kevin. Mereka menutup pintu.
Keadaan menjadi canggung setelah mereka pergi.
"Kak Abra mau istirahat di kamar atau bagaimana?"
"Mmh? Aku mau nonton TV saja." Pria itu kemudian menyalakan TVnya dengan remote yang ada di atas meja.
"Aku ke kamar sebentar Kak, kalau ada apa-apa panggil saja ya?"
"Iya," jawab Abra tanpa menoleh. Ketika Shasa menutup pintu kamarnya, pria itu menoleh sebentar dan kemudian kembali lagi menatap TV. Ia mengusap wajahnya dengan gusar. Salahku sendiri make a wish kayak gitu, sekarang aku sendiri yang bingung melihat kamu ada di sekelilingku karena aku hanya bisa melihat tapi tak bisa memilikimu. Ini lebih buruk daripada hanya sekedar berkhayal karena melihatmu tiap hari dekat di sekitarku membuatku semakin terikat padamu. Apa aku harus menjauh saja darimu?
Abra mengetuk-ngetuk keningnya. Aduh Abra ... fokus. Kamu juga takkan sanggup berpisah darinya. Terima saja siksaan ini dan pasrahkan. Kau sebenarnya tidak benar-benar tersiksa kan?
Pria itu tertunduk, merenung. Sebaiknya aku memikirkan pekerjaan saja. Ya, slogan TV yang baru kan belum berhasil didapatkan? Itu saja dulu yang aku pikirkan.
Sementara itu ayah dan Kevin masih berada di dalam mobil. Pria paruh baya itu sedang memikirkan sesuatu hingga ia hanya diam selama perjalanan pulang.
Ah, gadis itu sangat dekat dengan Abra tapi Kevin sepertinya menyukainya. Kalau aku jodohkan ia dengan Kevin apa tidak apa-apa ya? Sebab entah kenapa feelingku menyatakan bahwa Abra juga menyukai gadis itu. Kalau tidak, kenapa belakangan Abra tidak lagi meneleponku untuk meminta kembali ke Amerika? Pasti ada sebabnya dan pasti seorang wanita. Abra memang tidak menunjukkannya tapi memang dari dulu dia paling pintar menyembunyikan kesedihannya sendirian.
Karen juga, sebagai ibu tidak bisa merangkulnya tapi malah mengajaknya bertengkar setiap hari. Padahal sebenarnya Abra anak yang penurut dan tidak pernah bermasalah dengan orang lain tapi Karen sepertinya susah menerimanya sebagai anak. Kalau mengikuti emosiku aku bisa saja menceraikan Karen tapi ada Kevin dan Diandra dan aku juga menyayangi mereka.
Ah, andai saja keluarga itu masih hidup aku bisa melanjutkan perjodohan Abra dengan anak keluarga itu sehingga aku bisa menjodohkan Kevin dengan Shasa. Gadis itu juga terlihat seperti anak yang baik. Kevin anak yang sulit bergaul, tentu saja aku ingin ia segera menikah karena ia sudah cukup umur sedang Abra sebaiknya berkarir dulu karena karirnya sedang bagus-bagusnya tapi ... mereka anak-anakku aku tidak bisa mengatur takdir mereka apalagi bila nanti gadis itu memilih pacarnya yang sekarang. Ke mana angin bertiup saja, aku hanya manusia. Beriktiar tapi Tuhan yang menentukan.
Mobil memasuki halaman rumahnya. Ia kemudian turun dan Kevin membawakan koper ayahnya.
----------+++-----------
Shasa keluar kamar. Ia masih melihat Abra menonton TV. "Kak."
Pria itu tak menoleh.
Shasa mendekatinya. "Kak!"
Abra terkejut dan menoleh. "Eh, apa?"
"Ih, bengong ya?" Shasa menunjuk wajah Abra yang kebingungan dengan hampir tertawa.
"Oh, aku sedang memikirkan slogan."
"Oh, pantes. Lagi nonton film porno gak tau."
"Eh, apa?" Abra panik dan segera menggantikan siaran tanpa mengeceknya. Ia kemudian sadar saat Shasa tertawa. "Eh, bukan ya?"
Tawa gadis itu semakin keras membuat pria itu gemas dan menarik tangan Shasa sehingga gadis itu jatuh duduk menyamping di pangkuan Abra. Kesempatan itu tidak disia-siakannya dengan menggelitik pinggang gadis itu hingga gadis itu tak bisa menahan tawa.
Tangan kanan Abra yang hanya satu itu cukup kuat menahan tubuh Shasa agar tidak lari dan terus menggelitikinya sehingga Shasa harus menahan geli sambil berpegangan pada bahu kekar pria itu.
"Ampuuun ... ampun ampun ...." Shasa tak bisa melepaskan diri dan harus menahan geli di pinggangnya. "Kak ... ampuun."
Abra akhirnya berhenti menggelitiki gadis itu hingga Shasa bisa bersandar pada tubuh pria itu. "Haaa ...."
__ADS_1
Shasa mengatur napas tapi kini jantungnya berdegup kencang. Gadis itu kemudian sadar ia sedang beristirahat di dada bidang pria itu. Ia tak berani mengangkat kepalanya karena bingung, demikian pula Abra.
Gadis itu kini dalam dekapan Abra. Antara ingin melepas atau memeluknya erat. Pria itu tidak tahu dan ia, tidak mau tahu.