
"Tapi ini tidak adil. Aku tidak melakukan kejahatan apapun, kenapa aku harus dipecat?" ujar gadis itu tidak terima dengan keputusan pria itu.
"Tanyakan pada dirimu sendiri kenapa nasibmu bisa semalang ini dan lagipula, itu bukan urusanku lagi jadi pergilah! Aku sudah selesai denganmu!" Kevin mengusir dengan gerakan jemarinya pelan.
Staf HRD itu menarik Rika keluar ruangan itu. Gadis itu menepis tangan staf itu dengan kasar sesampainya di luar. Pria itu menunjukkan arah keluar dan Rika mengikuti arah itu dengan wajah kesal dan derap kaki yang dihentakkan.
Kevin, di dalam ruangan mulai memeriksa file yang diberikan stafnya itu. Dengan beberapa kali pemeriksaan cepat ia kemudian menutupnya. Ia kemudian memasukkannya ke dalam laci meja. "Mungkin bisa berguna suatu saat nanti," ujarnya dengan bersandar pada sandaran kursi dan menyatukan ujung jemarinya. Ia kembali mendengarkan laporan asistennya tentang konser Gania yang sedang berlangsung live saat itu dari studio. Ia mulai bernapas lega dan fokus dengan pekerjaan lainnya..
-----------+++---------
Abra terbangun dan mendapati gadis itu sedang tidur dengan duduk bersandar di samping tempat tidurnya. Shasa tidur dilipatan tangannya dengan damai.
Abra ingin menyentuh wajah gadis itu tapi takut ia tiba-tiba terbangun, karena itu ia menikmati saja wajah Shasa yang tengah nyenyak tertidur. Namun kemudian ia ingin mencoba menggenggam tangannya yang berada di samping, tapi itu malah membangunkan gadis itu. Shasa membuka matanya.
"Sayang, kenapa kamu gak tidur di sofa aja?"
Setengah mengantuk gadis itu mengangkat kepalanya. "Aku takut kamu membutuhkanku saat aku tidur dan aku tidak mendengarnya."
Abra kembali terharu mendengar penuturan gadis itu tapi sekaligus membuatnya resah. Aku maunya kamu di sini dipelukanku, tapi itu tidak mungkin kan? Jangan buat kalimat konyol seperti itu lagi atau aku akan mati berdiri karena mengharapkanmu. Ia mendesah pelan.
Gadis itu terlihat heran dengan perubahan wajah Abra yang kelihatan resah. "Ada apa Kak?"
"Mmh? Tidak ada. Boleh kan aku menggenggam tanganmu saja?"
"Mmh? Mmmmh." Gadis itu mengangguk.
Terdengar suara ketukan pada pintu. Kemudian pintu terbuka perlahan. Seorang pria muncul dengan buket bunga yang cukup besar dan indah. Shasa segera berdiri menyambutnya.
"Untuk Pak Abraham Natawijaya dari Indo TV," tanya pria itu yang tenyata kurir bunga.
"Iya, Mas," jawab gadis itu sambil mengangguk. Ia menerima kertas yang disodorkan dan memberi paraf sebelum menerima buket bunga itu. Pria itu kemudian pergi.
"Dari siapa?" tanya Abra ingin tahu.
"Mmh?" Shasa meletakkannya di atas meja nakas dan memeriksa kartunya. "Dari artis Gania Kak. Ucapannya 'semoga lekas sembuh'."
"Oh."
Tentu saja. Artis itu melihat langsung bagaimana besi lampu sorot menimpa pria itu sehingga mencoba mencari tahu keberadaan rumah sakit tempat Abra dirawat.
Ia tak sempat mendekat karena melihat dari kejauhan setelah Abra bertemu dengannya.
Ia melihat pria itu berlari ke arah seorang gadis yang sedang berjalan sendirian setelah pria itu mencurigai sebuah lampu yang menyorot acak seolah lampu itu bergerak dari tempatnya dan benar saja, lampu itu jatuh beberapa detik setelah pria itu mendorong gadis itu menjauh. Namun akibatnya, pria itu yang kejatuhan besi lampu yang lepas dari ketinggian beberapa meter di atasnya.
Tak lama terdengar lagi suara ketukan di pintu. Kembali Abra kedatangan buket bunga yang kemudian diterima Shasa.
"Siapa Sha?"
"Artis Ivan Ramelan."
"Oh, yang bawain acara gosip sore."
Kemudian satu persatu buket bunga dan keranjang buah berdatangan ke ruangan itu dari beberapa artis yang pernah ditanganinya juga beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan TV itu. Dari staf TVnya pun ada yang mengiriminya buket bunga. Dalam waktu sejam, ruangan itu mulai penuh dengan kiriman dari berbagai kalangan. Artis, sponsor, staf, bahkan ada beberapa artis yang belum pernah ditemui mengiriminya bunga. Sepertinya itu teman-teman dari artis Gania.
"Banyak sekali Kak," seru Shasa yang memandangi ruangan yang mulai penuh sesak dengan kiriman yang mereka dapatkan. Gadis itu sampai-sampai harus meletakkan sebagian besar kiriman itu di lantai karena sudah tidak ada lagi tempat yang tersedia di atas meja.
Namun Abra seperti tak peduli. "Aku mau buah jeruk itu saja. Aku ingin makan apel tapi kamu gak bawa pisau kan?" Pria itu menunjuk ke salah satu keranjang buah.
__ADS_1
"Iya Kak." Shasa merobek plastik kemasannya dan mengambilkan buah yang dimaksud.
Terdengar azan Ashar.
"Kak, aku sholat dulu," Shasa melangkah ke arah pintu.
"Iya. Aku juga sholat, sambil bersandar saja." Abra meletakkan jeruk itu di sampingnya. Karena sandaran tempat tidurnya telah ditinggikan, Abra bisa sholat dalam keadaan duduk. Ia sholat saat gadis itu telah meninggalkannya setelah ia bertayamum semampunya.
---------------++++-------------
Rika menghempaskan tas miliknya di atas sofa ruang tamu. Ia pun ikut menghempaskan bokongnya duduk di atas kursi itu sambil melipat tangannya di dada. Gadis berambut panjang itu merengut kesal.
Pembantu yang baru membukakan pintu rumah itu hanya melihat sepintas pada gadis itu lalu meninggalkannya pergi ke dapur. Ia malas berurusan dengan gadis itu, apalagi kalau gadis itu ada masalah. Bertanya, hanya akan menambah masalah saja.
Saat itu ada Damar di ruang tengah sedang main HP sambil tersenyum melihat Rika yang sekilas tampak kesal baru saja melewati hari buruknya kembali hari itu. Ia kembali menatap hp-nya. "Kamu ingin ditanyai kan?" ujarnya dengan tenang.
Rika melirik dongkol, tapi memang egonya menahan untuk mengiyakan.
"Ok ... kenapa lagi?" Damar dengan senyum kemenangan mematikan hp-nya segera. Ia memindahkan fokusnya kini pada Rika.
"Aku ngak ngerti kenapa orang sering salah sangka padaku. Aku tidak melakukan kejahatan, kenapa tidak ada yang percaya padaku?" Gadis itu mengangkat bahu.
Tentu saja Damar harus menahan tawa. Betapa tidak? Siapa yang akan percaya gadis itu melakukan sebaliknya. "Jadi menurutmu bagaimana?"
"Eh, gue ini anak baik-baik ya? Ngak pernah bikin masalah. Orang lain aja yang gak terima dengan perlakuan gue dengan orang lain. Gue sejauh ini juga fair(adil) kok sama orang lain. Yang gak suka sama perlakuan gue cuma orang-orang yang sirik dengan kehidupan pribadi gue!" Gadis itu berusaha membela diri.
"Terus, orang harus percaya gitu?"
"Ya haruslah! Mereka-mereka itu cuma nyusahin hidup gue makanya gue bertindak."
"Mmh!" Damar mendengus kasar.
"Lo ada masalah apa lagi sih sama orang?" Damar mulai berpaling ke hp-nya kembali.
"Ya gue marahlah dituduh nyelakain orang! Gue kan gak pernah ngelakuin kayak gitu ke orang!"
Pria itu menoleh. "Gue malah mulai percaya sama omongannya tuh orang."
"Ah, brengsek lo!!" Rika melempar bantal ke arah Damar yang disambut tawa keras pria itu sambil menghindar.
"Ya udah, lo sekarang bantuin gue kek!"
"Apaan?"
"Alamat Shasa yang baru?" Damar menyodorkan tangannya.
"Ogah!" Rika segera berdiri dan menaiki tangga.
"Ah, lo curang! Gue dengerin elo, lo gak bantuin gue!"
"Emang gue pikirin!" Cibir gadis itu yang sudah menaiki tangga.
Masalahnya, hanya Rika yang mempunyai nomor telepon Shasa dan Bima sedang ia, nomor telepon Shasa saja Damar tidak punya. Bagaimana caranya ia bisa mendapatkan nomor hp mereka itu, ia tidak tahu.
--------------+++------------
Kevin membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Gimana Kak, konser Gania?" cecar Abra saat kakak tirinya itu masuk.
"Aku belum istirahat," elak Kevin saat masuk. Dilihatnya ruangan sudah penuh dengan lautan buket bunga dan keranjang buah di hampir setiap sudut ruangan.
"Maaf Kak."
"Waw, dari mana saja ini? Penggemarmu?"
Kalimat itu disambut tawa Abra. "Hanya klien dan artis saja Kak. Pegawai juga ada yang kirim tadi."
"Mmh." Kevin masih mengedarkan pandangan pada tiap buket dan keranjang yang datang.
Dalam beberapa bulan saja, adiknya sudah sangat dikenal klien, artis dan juga pegawai di kantornya. Pekerjaannya yang mumpuni dan cara kerjanya yang fleksibel pada setiap orang membuat rating TV naik seiring CEO lama diganti oleh adiknya, dan itu membuat Ayah mereka juga puas dengan pekerjaan Abra. Ia sendiri juga bangga dengan prestasi adiknya itu yang bisa menaikkan rating stasiun TV mereka jadi lebih baik lagi. "Kalian sudah makan malam?"
"Sudah Kak, kita berdua sudah makan." Abra bicara mewakili mereka berdua.
Shasa keluar dari kamar mandi. "Oh, Kak Kevin." Ia menganggukkan kepala.
"Kamu mau pulang ke apartemen? Biar aku antar. Kebetulan aku juga mau makan malam." Kevin menawarkan diri.
"Oh, aku gak mau merepotkan Kakak. Aku hanya ingin pulang, mandi, dan bertukar pakaian lalu ke sini lagi."
"Tidak apa-apa aku akan menunggu."
"Tapi kan Kakak belum makan malam?"
"Bisa tolong temani aku?"
Shasa bimbang karena ia tidak begitu kenal dekat dengannya tapi pria itu mau menungguinya.
"Ok?"
"Pergi saja Sha. Aku tidak apa-apa sendiri. Tolong ambilkan saja aku baju ganti yang longgar di kamarku atau minta Kak Kevin ambilkan," pinta Abra.
"Oh, biar aku yang ambilkan, Shasa bisa mengurus urusannya." Kevin menawarkan bantuan.
"Oya, keranjang buahnya terlalu banyak di sini, bawa saja satu ke apartemen."
"Ok." Kevin mengikuti saran Abra.
Shasa mau tak mau mengikuti permintaan Abra. Ia pun pergi dengan Kevin. Memang sedikit canggung untuknya mengikuti pria itu tapi di lain pihak Kevin sangat senang. Pria itu kini punya kesempatan untuk pergi berdua saja dengan Shasa. Ia yang membawa salah satu keranjang buah seperti permintaan Abra.
"Mau kubantu pasang seatbelt-nya?" Kevin sudah mencondongkan tubuhnya.
"Eh, bisa Kak," buru-buru Shasa menarik seatbelt-nya sendiri, membuat pria itu bergerak kembali ke tempatnya.
"Eh, ya ...." Pria itu sedikit kecewa. Ia mulai menghidupkan mobil dan menjalankan keluar area rumah sakit. Aku harus bicara apa ya? Aku belum pernah bicara baik-baik dengan seorang wanita. Ah, bodohnya aku! Ia berdehem sebentar. "A-aku tidak tahu tempat apartemen Abra. Bisa kamu kasih tahu arahnya?" Sedikit gugup Kevin bertanya.
"Oh, dekat stasiun TV Kak." Shasa sedikit mengangguk sopan.
"O-oh, pasti yang kamu maksud apartemen baru itu ya?"
"Iya Kak."
Mmh, pantas saja ia pindah tidak ada yang tahu karena dekat dari stasiun TV rupanya.
Tak lama mereka sampai ke apartemen yang di maksud dan Kevin memarkirkan mobilnya depan halaman gedung itu. Mereka kemudian masuk, naik lift hingga ke lantai yang dituju. Mereka kemudian masuk apartemen Abra.
__ADS_1
"Ini kamar Kak Abra Kak, aku tinggal ke kamar ya Kak?" Shasa setelah menunjuk kamar Abra, ia masuk kamar sebelahnya sementara Kevin meletakkan keranjang buah yang dibawanya dari mobil ke atas meja makan.