Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Berdua


__ADS_3

Pria itu mengedarkan pandangan melihat apartemen yang telah dibeli adiknya sebentar sebelum akhirnya ia masuk ke kamar Abra. Ia mengambil beberapa barang yang kira-kira dibutuhkan dan memasukkan ke dalam sebuah tas yang ditemukannya di sana. Ia kemudian keluar.


Kevin dikagetkan oleh sekelebat orang lewat di depan hidungnya. Ternyata Shasa yang baru saja selesai mandi dan karena kamar mandinya di luar, ia harus melewati kamar Abra agar bisa sampai ke kamarnya. Bau wangi dari sabun mandi gadis itu menguar ke udara dan terhirup oleh Kevin saat gadis itu lewat di depan mata. Bau yang sangat segar dan lembut. Gadis itu akhirnya kembali lagi dan berhenti di depan Kevin.


"Oh, maaf Kak. Aku belum selesai. Apa Kakak mau minum dulu atau makan sesuatu?"


Terlihat wajah Shasa yang tanpa make up. Remaja dan tampak polos. Lebih muda dari saat ia memakai make up membuat Kevin terpana. Sangat manis.


"Kak?"


"Oh." Kevin tersadar. "Aku akan mengambil sendiri minumannya."


"Maaf ya Kak." Gadis itu segera berlalu dan menghilang di balik pintu kamar di samping.


Aku apa sudah gila? Dia masih sangat muda tapi aku benar-benar menyukainya. Apa memang seleraku seperti ini? Kevin melangkah mendekati lemari es dan menuangkan ke gelas, jus kemasan yang ditemuinya. Kemudian ia meneguknya. Hah, aku waras kan?


Lima belas menit kemudian, Shasa keluar dari kamar. Mereka kemudian kembali ke mobil. Kevin lalu membawa mobil itu keluar ke jalan raya.


Sesekali ia mengintip gadis itu dari cermin di atasnya. Sebelumnya ia tidak pernah sebingung ini bicara dengan wanita. Biasanya ia akan main perintah, dan setidaknya bicara sopan pada ibu atau adiknya Diandra. Biasa saja. Ia bisa mengobrol dengan mereka dengan mudahnya tapi kenapa dengan gadis ini sulit? Ini menyadarkannya bahwa mungkin karena ia tidak pernah punya teman wanita sehingga komunikasinya buruk dengan mahluk yang bernama wanita dan mungkin itulah yang menyebabkan ia sulit bicara dengan Shasa.


Tidak seperti Abra yang sangat luwes dalam bergaul. Kaya, miskin, anak kecil, orang tua, pria, wanita dan orang dari berbagai profesi bisa berteman dengannya karena ia tidak pernah membeda-bedakan lawan bicara.


Akhirnya ia hanya bisa diam dan memperhatikan gadis itu saja yang sesekali memandang keluar jendela. Aku apa memang mahluk yang semembosankan itu ya?


Sekitar setengah jam kemudian, mobil masuk ke sebuah Mal.


"Kak, bukannya Kakak ingin makan? Kenapa pergi ke Mal?"


"Ada restoran yang aku ingin singgahi. Sudah lama aku gak makan di sana."


Mereka kemudian mendatangi sebuah restoran Itali yang cukup mewah.


"Kak, Kak Kevin memang sering makan di restoran begini?" tanya gadis itu sedikit melongo.


Kevin hanya memberi seulas senyum dan mengajaknya ke dalam.


"Kamu mau makan apa?" ajak pria itu setelah mereka duduk.


"Eh enggak Kak, masih kenyang."


"Makanlah sesuatu. Mungkin Bruschetta(Roti keras dengan sedikit isian di atasnya), salad atau tiramisu. Atau mungkin gelato(es krim buah)?"


Shasa menggeleng.


Kevin yang duduk berhadapan dengan Shasa langsung menggenggam tangan gadis itu yang berada di atas meja. "Kamu makan dong temani aku, masa aku makan sendirian?" bujuk Kevin.


Shasa melirik genggaman tangan pria itu pada tangannya. Rasanya sedikit enggan dan serba salah. Ia ingin menarik tangannya tapi takut Kevin tersinggung. Ia benar-benar tak nyaman digenggam orang yang terasa asing olehnya. "Eh, iya."


"Apa? Kamu mau apa?" Kevin akhirnya melepas genggamannya dan menyodorkan buku menu pada gadis itu.


Shasa terpaksa memilih menu sambil sesekali melirik pria itu. Ia takut salah bicara karena kevin adalah kakak Abra. "Kalau begitu ... salad saja."

__ADS_1


Kevin kemudian memesan makanan. Setelah itu mereka diam tanpa bicara. Gadis itu menengok ke samping melihat interior ruangan dan orang-orang yang makan di sana. Banyak orang asing yang makan di sana bersama pasangannya atau sendirian.


"Mmh ... boleh gak aku jadi temanmu?" Bagus Kevin, awal yang bagus. Semangat Kevin! Pria itu berusaha menyemangati dirinya sendiri.


"Mmh? Teman?" Bola mata gadis itu terlihat lucu saat menari-nari kebingungan mendengar pernyataan Kevin. "Boleh ...," jawabnya pelan sedikit menunduk.


Kevin sangat suka cara gadis itu terlihat malu-malu padanya. "Berarti kita teman?"


"Mmh, iya," jawab gadis itu dengan nada suara sedikit mengambang.


Dan mulailah Kevin bicara tentang apa saja pada gadis itu agar gadis itu mendengarkannya. Sesekali Shasa menjawab singkat atau hanya mendengar saja ucapan pria itu bahkan saat makanan mereka datang. Pria itu berusaha mendominasi percakapan agar gadis itu terus melihat padanya. Ia dengan senangnya berbicara hingga tak sadar makanannya sudah habis.


Kevin mengusap sedikit mulutnya dengan serbet memastikan sisa makanan tak menempel di mulut dan meletakkan di samping piring makannya. Ia meletakkan kedua tangan di pinggir meja dan menatap gadis itu dengan wajah gembira. Belum pernah ia segembira ini sebelumnya. Yang ia tahu, Shasa seperti menerima semua ucapannya saat berbicara dengan gadis itu.


Yang di tatap tentu saja malu karena Kevin menatapnya secara frontal.


"Seandainya saja kamu kerja di stasiun TVku, pasti menyenangkan. Kita bisa ngobrol tiap hari."


"Eh, iya." Shasa berusaha menghindari tatap pria itu yang tak berkedip melihatnya. Sungguh tak nyaman tapi mengingat jasanya pernah membelanya dari Rika, ia berusaha menahan diri dan berusaha menerima Kevin yang tengah bersusah-payah ingin berteman dengannya.


Kevin tiba-tiba meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sambil saling menggenggam erat. Ia ingin mencoba sesuatu. "Bagaimana kalau kamu pindah kerja di kantorku?"


"Eh, apa?" pertanyaan yang tak terduga itu membuat Shasa terkejut. "Ehe ... tidak bisa Kak, kan aku baru kerja." Shasa mencoba tersenyum. "Lagipula aku kerja dengan pacarku Kak, Kak Bima."


Kevin menurunkan tangan dan menyembunyikan di bawah meja. Ia mencoba sedikit tertawa. "Gak bisa ya? Padahal kamu kan gak perlu putus darinya. Hanya pindah kerja saja. Masa ... pacarmu gak mau dukung kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi?" Ia masih menawar.


Mana mungkin Kak Bima mau membiarkan aku kerja padamu setelah apa yang sudah kau ucapkan untuknya? Itu bodoh, namanya. Shasa tertawa pelan dalam sungkan. "Iya, maaf ya Kak."


"Yaaa, ya ... sudah. Tidak apa-apa kok, cuma bertanya saja. Andaikan mau, aku bisa memberikan penawaran gaji yang bagus untukmu."


Setelah makan, kembali Kevin membawa gadis itu ke suatu tempat.


"Ke mana Kak?"


"Kita beli roti ya? Mungkin bisa untuk sarapan dan dan untuk ngemil malam," terang Kevin.


"Tapi Kak, kita sudah terlalu lama meninggalkan Kak Abra sendirian. Mungkin dia butuh sesuatu, aku tidak ada."


Kenapa pikiranmu selalu tertuju pada Abra sih? Hei, aku ada di sini, kenapa kau tidak pikirkan aku juga? "Sebentar saja kok." Kevin membawa Shasa ke sebuah toko roti tak jauh dari sana. Shasa membawa baki sedang Kevin mengambilkan beberapa macam roti dan meletakkannya di baki yang dibawa Shasa. Sebentar kemudian, seperti janji Kevin, mereka sudah berada di jalan menuju rumah sakit.


Sementara itu, Abra cukup beristirahat selama di rumah sakit. Ternyata kecelakaan itu membuat ia sadar ia kurang punya banyak waktu untuk dirinya sendiri karena sibuk dengan pekerjaan.


Ia sempat bertemu dokter yang memberi tahu kemungkinan ia pulang cepat tergantung kondisinya besok, dan itu cukup melegakan. Ia juga mendiskusikan masalah pemotretan itu juga pada dokter yang ternyata diperbolehkan asal berhati-hati dan dikerjakan setelah pulang dari rumah sakit.


Tak lama setelah dokter keluar ruangan, Shasa dan Kevin datang.


"Oh, Kak. Dari mana saja?"


Kevin meletakkan tas Abra di samping tempat tidur. "Tidak ada. Hanya saja, aku makan di Mal."


"Maaf Kak," imbuh Shasa pada Abra. "Tapi tadi Kak Kevin beliin roti dulu sebelum ke sini." Ia menunjuk tas plastik besar berisi roti.

__ADS_1


"Oh, makasih Kak," ucap Abra pada kakaknya.


"Iya, tidak apa-apa."


Setelah mengobrol sebentar, Kevin pamit. Ia segera pulang ke rumah.


-----------++++---------


Tak sengaja Kevin bertemu dengan ibunya di dekat tangga.


"Oh, kau sudah pulang?"


"Ibu, Abra kecelakaan."


"Lantas?"


"Ibu, jangan begitu. Dia kan anak Ayah juga. Ibu orang tuanya Bu," Kevin menasehati.


"Jangan ajari ibu hal-hal yang gak penting!" ucap Ibu sewot.


"Ibu ... Ayah pulang besok. Apa Ibu mau bilang, Ibu belum nengok Abra?"


Kalimat pamungkas Kevin benar-benar mengunci mulut ibunya.


Pria itu segera menaiki tangga. Setelah masuk ke dalam kamar, ia menghempas tubuhnya ke atas tempat tidur dan membebaskan tangannya untuk bergerak ke atas. Ia sangat bahagia.


Cantik, jangan tinggalkan aku yang sedang kasmaran denganmu. Aku sudah meluapkan segala perasaanku dengan berbicara denganmu dan aku betul-betul tidak ingin kehilanganmu. Apa yang harus aku lalui agar aku bisa mendapatkanmu? Jangan berhenti memandangku Cantik, karena aku sedang berusaha membuatmu terkesan padaku, menyadariku lalu melabuhkan hatimu padaku. Jangan bersandar pada dermaga yang tidak sekokoh cintaku. Kelak kau akan tahu aku tidak hanya sekedar bicara tapi benar-benar menginginkanmu.


------------+++-----------


Shasa memberi odol pada sikat gigi yang dipegang Abra. Ia juga mengisi air, gelas yang ada di hadapan Abra sehingga pria itu tinggal menyikat giginya saja.


"Makasih."


"Ngak papa Kak." Gadis itu kemudian segera keluar dari kamar mandi.


Setelah menyikat gigi, Abra keluar dari kamar mandi. Dilihatnya gadis itu tengah duduk di sofa.


"Mau di bantu apa lagi Kak?"


"Tidak ada, kamu tidur saja." Pria itu berusaha melakukan segala sesuatunya sendiri. Ia takut bergantung pada Shasa. Ia takut ... tak bisa melepaskannya.


Gadis itu melirik Abra yang berusaha naik ke tempat tidur dengan hati-hati. Terlihat cukup sulit tapi pria itu sedang berusaha. Shasa tak tega lalu segera membantunya.


"Tidak apa-apa, Sha. Aku bisa sendiri."


"Tidak bisa begitu Kak. Kalau ada yang bisa menolong kenapa tidak minta tolong." Gadis itu membantunya hingga naik ke atas tempat tidur dan kemudian menyelimutinya.


"Terima kasih."


"Harusnya aku yang terima kasih karena Kakak udah menyelamatkan aku. Kalau bukan karena Kakak mungkin aku ...." Shasa tertunduk.

__ADS_1


Abra meraih tangan gadis itu. "Hei, memang laki-laki harusnya begitu kan? Menyelamatkan wanita yang ada di sampingnya."


Shasa mengangkat wajahnya. Kalimat Abra tadi membuat seolah-olah waktu berhenti. Berhenti di titik di mana denyut kehidupan seharusnya tidak berjalan. Ia ingin meraba perasaan pria itu seperti ia juga ingin mengetahui perasaan dirinya, tapi waktu sangat kejam dengan tak memberinya jeda untuk bernafas. Padahal ia hanya ingin tahu apakah ia pernah salah menilai hatinya?


__ADS_2