
Setelah makan siang, Abra merapikan kembali perlengkapan piknik bersama istrinya. Setelah itu mereka kembali ke mobil.
Damar yang baru saja selesai makan siang di sebuah warung dan melihat Shasa dan Abra masuk ke mobilnya, bergegas masuk ke dalam mobil. Ia kemudian mengikuti mobil Abra yang keluar dari area parkir taman.
Di tengah jalan, selagi mengikuti mobil Abra, ia mencari kesempatan yang ada dengan melihat keadaan sekeliling.
Abra dan Shasa di lain pihak, sedang asyik mengobrol memikirkan masa depan.
"Yang, apa aku sewa pembantu aja di rumah, bagaimana?" tanya Abra melirik istrinya.
"Kenapa? Kan kita hanya berdua saja, tidak ada yang perlu dibantu kerjakan."
"Yang, kamu sudah mulai sibuk sedang kamu harus banyak beristirahat supaya bayinya gak kekurangan oksigen. Kan bayinya 2, Yang. Sudah, delegasikan saja pada pembantu, biar kamu gak kelelahan. Kamu fokus saja sama kuliahmu. Sekarang kalau pergi ke kampus atau ke mana gitu, perginya sama Raven ya? Aku kok kadang masih takut kejadian waktu itu terulang lagi ...," ucap Abra sedikit bergumam.
Shasa menyentuh tangan suaminya dengan senyum menenangkan. "Pasti enggaklah Yang, pasti dia juga takut ketemu kamu makanya langsung mengundurkan diri Mas. Sudah, jangan khawatirkan itu lagi."
Abra menghela napas. Mobil berbelok ke sebuah jalan sepi karena dilihatnya jalan besar yang mereka lewati mulai macet.
Di jalan itu banyak tanah kosong dan pepohonan. Baru beberapa meter masuk daerah itu tiba-tiba ada sebuah mobil yang datang dengan melesat kencang mengejar ke samping dan kemudian menabrakkan mobilnya dengan keras ke arah mobil Abra.
Bugh!
Kepala Shasa sedikit terbentur ke kaca jendela. "Ah!"
"Shasa!" Abra tentu saja tidak menyangka hal itu akan terjadi sehingga ia berusaha menyeimbangi laju kendaraannya, tapi mobil yang menyerangnya tadi tidak berhenti sampai di situ saja. Mobil itu bertubi-tubi menabrakkan mobilnya sendiri ke mobil Abra seakan-akan pemilik mobil itu ingin mati bersama mobil yang ditabraknya.
Bugh! ... bugh!!
"Ah, Mas!" Shasa berpegangan pada apapun yang bisa dipegangnya. Dasbor, pegangan pintu, pegangan atas, cermin atas. Ia juga berusaha melindungi bayi dalam kandungannya dengan kaki menahan di lantai mobil agar dirinya tidak terguling ke samping.
Abra yang panik kembali menyeimbangkan mobilnya. Ia memikirkan istrinya. Siapa orang gila yang tengah menyerangnya kini? Apa dia ... Ia tidak bisa berpikir panjang. Yang ada saat itu adalah menyelamatkan diri dan istrinya dari orang gila itu, tapi terlambat. Orang itu semakin tergila-gila menghancurkan mobilnya dan mobil orang itu padahal mobil mereka sudah ringsek parah di sana sininya.
Ia sempat melihat seorang pria di dalam mobil itu tapi tidak bisa jelas melihat karena mobilnya tiba-tiba berputar karena tabrakkan berikutnya dan saat mobil itu berputar mobil lawan menabrakkan kembali mobilnya sehingga mobil Abra yang sudah hilang kendali kini melesat ke arah samping di mana sebuah pohon besar berdiri. Di situlah mobil Abra menabrakkan diri dengan keras.
Brakkk!!!
Bemper mobil menabrak pohon sehingga rusak parah. Terlihat keluar asap pelan.
Mobil Damar yang masih bisa dijalankan mendekati mobil itu perlahan. Saat itu dilihatnya jalanan sepi. Ia turun dan mendekati mobil itu.
Di dalam terlihat keduanya terkulai pingsan. Shasa bersandar pada kursi, dan Abra bersandar pada stir hingga tertutup wajahnya.
Pintu di samping rusak sehingga terbuka. Shasa yang pingsan dalam keadaan bersandar, terlihat wajahnya sedikit terluka akibat pecahan kaca.
Damar menyeringai senang. Betapa mudahnya mendapatkan gadis itu kali ini. Ia mulai membuka seatbelt gadis itu.
Tiba-tiba sebuah mobil lewat, dan mendekat. Shasa pun juga terbangun. Ia melihat Damar dan terkejut. "Damar ...?" Ia berteriak, "tolooong, tolooong ...!"
Damar yang panik segera kembali ke mobilnya dan melarikan diri.
__ADS_1
Mobil yang datang segera merapat. Dua orang pria penghuni mobil itu segera keluar dan mendatangi mereka.
Shasa menangis melihat keadaan suaminya yang tak bergerak. "Mas ... Mas ...." Ia sendiri terlampau lemah untuk bisa memeriksa keadaan suaminya.
"Ada apa Mbak?" Dua orang pria muncul di samping kursi Abra.
"Tolong periksa suami saya Pak ... Ada orang gila yang telah menabrak mobil kami seperti orang yang kesetanan. Ia hampir menculik saya Pak," terang Shasa geram dalam lemah tubuhnya. Ia berusaha menguatkan diri untuk bisa menuturkan semuanya.
"Sabar ya Mbak, saya periksa dulu suaminya." Pria itu membuka pintu kaca yang telah pecah. Ia menarik Abra bersandar ke belakang dan memeriksa nadinya. Abra terkulai lemah dengan pelipis berdarah, sepertinya terkena pecahan kaca.
Tentu saja air mata Shasa berlinang melihat keadaan suaminya. Apalagi mendengar hasil pemeriksaan pria itu.
"Kok nadinya pelan ya?"
"Ya Allah ...." Shasa menutup mulutnya. Saat itu juga hatinya hancur berantakan. Begitu banyak kata 'bagaimana' yang berterbangan di kepala membuat linangan air matanya mengucur deras.
"Kebetulan rumah sakit ada dekat sini Mbak, ayo kita segera ke sana saja." Pria itu mengangkat Abra dan pria yang satunya membantu Shasa keluar.
"Mbak hamil?" tanya pria yang membantu gadis itu keluar saat melihat keadaan tubuhnya.
"Iya."
"Ya Allah ...."
Mereka mendudukkan keduanya di kursi belakang dan bergegas ke rumah sakit. Shasa terus saja menangis menatap suaminya di samping yang diam membisu. Digenggamnya tangan hangat pria itu yang sehari-hari mengusap keningnya, memperhatikan dirinya, dan tak pernah berhenti berbicara indah untuk menenangkannya. Akankah pertemuan mereka hanya berakhir sampai di sini? Jangan ... jangan ... "Mas, kamu berjanji akan sama-sama mengurus anak kita ... Pegang janjimu Mas, aku tak bisa sendiri."
"Mbak, jangan nangis terus Mbak. Orang hamil gak boleh stres," ujar pria yang duduk di depannya menoleh ke belakang.
Tak lama mobil masuk ke sebuah rumah sakit yang tidak besar. Abra segera dipindah ke brankar dan dibawa ke IGD. Shasa yang menunggu di sana segera menelepon Raven dengan masih berurai air mata karena dokter masih berusaha menyelamatkan Abra.
Raven segera datang ke rumah sakit menghampiri gadis itu dan gadis itu berhambur menangis memeluknya. "Brengsek! Aku sudah bilang apa Sha, orang seperti itu—" Raven menghentikan ucapannya karena melihat Shasa begitu hancur luluh, dan tak berdaya. "Biarkan aku melaporkan ini pada polisi."
Shasa mengangguk dengan masih memeluk Raven. Pria itu segera melaporkan kejadian itu pada polisi lewat telepon.
Tak berapa lama, dokter keluar dari ruang IGD. Shasa yang begitu takut mendengar hasilnya berpegangan pada lengan Raven agar sanggup mendengar apapun itu hasil yang tercapai.
"Alhamdulillah, suami anda selamat Nyonya."
Lega membuat Shasa hampir jatuh lemas, tapi dengan sigap Raven menahannya hingga bisa tetap berdiri tegak.
"Terima kasih dok!" ucap Raven mewakili Shasa.
"Iya. Dia terkena serangan jantung akibat dadanya tertekan stir mobil sehingga napasnya hampir saja hilang. Untung saja, pasien segera dibawa ke rumah sakit sehingga cepat ditangani, tapi saat ini ia masih pingsan jadi harap bersabar. Tinggal cari saja kamar karena pasien harus dirawat di rumah sakit."
Raven kemudian mengurus semuanya. Ketika mendapat kamar perawatan, polisi datang untuk meminta keterangan.
Di saat bersamaan Damar tengah menghilangkan barang bukti. Setelah sempat mengekor mobil yang menyelamatkan Abra dan Shasa, ia membuang mobil yang telah rusak parah itu ke jurang. Ia menepuk-nepuk tangannya agar debu yang menempel di tangannya bersih, sambil memperhatikan mobil bekas yang dibeli dengan murah itu meluncur menuju dasar jurang.
Ia sempat mengagumi mobil itu yang sudah rusak parah tapi masih bisa ia jalankan. Keningnya yang sedikit mengeluarkan darah karena terkena pecahan kaca, diusapnya pelan. Ia menyeringai puas.
__ADS_1
Hingga malam Shasa menunggui suaminya tapi pria itu tak kunjung bangun. Sebagian wajahnya masih tertutup masker oksigen dan tangannya masih dipasang jarum infus. Gadis itu begitu khawatir menatap dari kursi sofa.
"Sha, kamu istirahatlah. Kamu dengar kan tadi dokter bilang apa? Kamu harus istirahat. Kamu kenapa gak mau dirawat sih?" omel Raven pelan.
"Siapa yang jaga suamiku kalau aku dirawat? Kalau aku dirawat pasti kamu jagain aku bukan Mas Abra," kilah gadis itu dengan suara bergetar.
Raven hanya bisa menghela napas.
Sementara itu Abra mulai sadar. Ia membuka mata tapi kepalanya masih pusing dan tubuhnya lemah. Ia lambat-lambat mendengarkan percakapan istrinya dengan Raven. Tubuhnya tengah tak berdaya hingga ia hanya bisa mempercayakan Shasa pada penjagaan Raven.
Ia kembali memejamkan mata guna meraih kembali tenaganya. Mungkin saja dengan beristirahat sebentar, tubuhnya akan kembali pulih hingga ia bisa memberi kejutan pada istrinya yang tengah bersedih menungguinya. Tunggu aku Sha, tunggu aku. Aku akan segera pulih dan akan membawamu pulang.
"Ayo, cepat istirahat Sha, dan berhenti menangis, agar nanti kalau suamimu bangun kalian bisa cepat pulang," bujuk Raven lagi.
"Tapi dia belum bangun-bangun dari tadi Bang," keluh gadis itu kecewa. "Bagaimana kalau terjadi seperti kakaknya, Kak Kevin?"
"Sha ... kamu dengar sendiri kan apa kata dokter jadi gak usah khawatir berlebihan seperti itu. Ayo kamu tidur supaya besok pagi kamu bangun bisa langsung bertemu suamimu yang telah siuman."
"Tapi—"
"Sha, berpikir yang positif. Kasihan bayimu, ia yang kena dampaknya bila kamu berpikir negatif nanti perutmu kram lagi," nasehat Raven.
Akhirnya Shasa menurut. Ia membaringkan diri di sofa dan pemuda itu menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut dari rumah sakit. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan adik angkatnya.
Mudah-mudahan Damar cepat tertangkap atau aku akan terus khawatir memikirkan keduanya, batin Raven.
Malam itu, Shasa terbangun dan mendapati dirinya sendirian. Dilihatnya Abra masih terbaring di atas tempat tidur. Lalu ke mana Raven? Apa dia sakit perut lagi dan berada di dalam kamar mandi?
Shasa segera berdiri dan beranjak ke kamar mandi tapi ia tak menemukan seorang pun di sana. Ke mana Raven?
Baru saja ia hendak melangkah ke tempat tidur suaminya ia tertegun dengan seseorang yang kini tengah berdiri di hadapannya. "Da-Damar ...?" Wajahnya terlihat syok dan bibirnya bergetar.
Pria itu datang menyusup ke rumah sakit dengan memakai pakaian dokter yang entah dicurinya di mana. Ia menyeringai licik menatap Shasa dan segera meraih tangannya. "Sudah saatnya kau ikut aku Shasa. Aku tak suka penolakan."
"Ah, Damar, hentikan! Aku sudah punya suami Damar," terang Shasa yang berusaha melepaskan diri.
"Oh, suami. Bagaimana kalau aku habisi saja dia sekalian agar aku tak lagi punya penghalang." Damar dengan mata kemerahan karena dendam, menatap ke arah tempat tidur Abra dengan mengeluarkan pisau dari tangannya yang lain.
Shasa membulatkan mata dan berusaha merebut pisau itu dengan cepat, tapi alih-alih mendapatkannya, Damar mendorong Shasa dengan kasar ke dinding hingga jatuh terjerembab ke lantai.
_____________________________________________
Halo reader, masih membaca terus bab-bab ini kan? Jangan lupa beri author vitamin, dengan mengirim vote, komen, like dan hadiah agar author tetap bersemangat menulis. Ini visual penyelamatan Abra. Salam, ingflora💋
Ada novel keren. Yuk kepoin yuk!
__ADS_1