Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Healing(penyembuhan)


__ADS_3

Bima yang kaget akan kedatangan Shasa, menoleh. Ia baru sadari apa yang terjadi. "Sha ...."


"Kenapa ... kenapa ...." Shasa bingung harus bicara apa. Ia hanya tahu, kesetiaannya sia-sia. Ia memang tidak mendengar pembicaraan antara Rika dan Bima tapi ia bisa lihat, Bima tak menampik ciuman sepupunya yang berlangsung cukup lama walaupun hanya dalam hitungan detik seolah yang terjadi adalah perpanjangan tangan dari pembicaraan sebelumnya yang ia tidak tahu apa.


"Sha, ini tak seperti ...."


Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah berbalik dan berlari menjauh. Pria itu menatap nanar kepergian Shasa. Ia menoleh pada Rika dan ....


Plak!


Tamparan keras pada pipi Rika meninggalkan bekas berupa rona merah di sekitar pipi. Ada luka sedikit di sudut bibirnya.


"Kau!" Namun kemudian pria itu sadar, ia belum pernah sekasar itu pada wanita. Ini kali pertama ia mengikuti emosinya, marah, sebab Rika kembali mempermainkannya. Ia sungguh-sungguh pada hubungannya dengan Shasa dan kini karena sebuah ciuman nakal, semua bisa saja berakhir. Ia bingung. "Hahhh!" Ia menjenggut rambutnya dengan kedua tangan karena frustasi. Ia tiba-tiba kasar pada Rika dan ia mengecewakan Shasa. Sempurna sudah masalahnya hari ini.


Segera ia mengejar Shasa tapi terlambat. Gadis itu telah menyetop taksi yang ditemuinya dan segera menaikinya.


Bima hanya bisa berdiri di depan pintu hotel dan melihat kepergian taksi itu.


Sementara Rika, ia merapikan rambutnya yang berantakan. Menahan rasa pilu karena ditampar Bima. Ia harus menerimanya, karena telah sukses membuat hubungan Bima dan Shasa berada di ujung tanduk. Susah payah ia menelan saliva dan menahan air mata agar tak jatuh membuat kepalanya pening.


Ada beberapa pasang mata yang duduk di sekitar lobi hotel meliriknya. Sebagian ada yang berbisik-bisik sambil memandang dirinya. Ia berusaha tak peduli dan angkat kaki dari tempat itu, segera.


Sebaliknya Shasa di dalam taksi duduk termenung dalam diam. Ia tak menangis hanya saja ia sangat kecewa pada Bima. Pria yang menjadi idolanya, idaman hatinya yang kini hendak menjadi calon suaminya kini tinggal kenangan. Ia tak ingin kembali. Biar bagaimana pun Bima nanti akan membujuknya ia tak ingin kembali.


Sejak dari awal pun ia merasa Rika dan Bima punya hubungan yang belum usai sehingga ia merasa hanya sebagai pelarian saja. Perasaan dirinya sebagai seorang pengganggu hilang saat Bima akhirnya mengajaknya ke pelaminan. Saat itulah Shasa yakin Bima mencintainya.


Namun kini, ia harus bagaimana? Apa ia akan terus bekerja dengan Bima sebagai bosnya? Untuk saat ini ia tidak ingin bertemu pria itu dulu. Sulit mengekspresikan apa yang diinginkannya saat ini. Untung saja ia sudah mendapat pekerjaan dengan menjadi bintang iklan, hingga untuk sementara waktu ia tidak perlu pusing mencari pekerjaan.


Eh, kenapa aku tidak menangis? Bukankah aku mencintainya, tapi kenapa setelah putus darinya aku tidak merasa kehilangan? Aku malah merasa lega. Benarkah aku mencintainya?


Pertanyaan itu adalah sebagai jawaban atas kebingungannya selama ini. Mungkin sebenarnya ia hanya kagum pada Bima karena tutur kata pria itu yang sopan terhadap wanita dan selalu menghibur dan memberinya semangat untuk gigih terus maju mengejar cita-cita, tapi soal cinta? Ia tak tahu.


Mungkin ia harus bersyukur atas kejadian ini ia sadar ada yang salah dengan lamaran pernikahan ini. Entah kenapa, beban di pundaknya terasa lebih ringan, tapi untuk sementara ia hanya ingin menyendiri dulu. Meredam gejolak hati yang belum juga reda ini.


Ia pulang ke kos-kosannya dengan kepala tertunduk.


Raven yang baru saja hendak keluar mendapati gadis itu dengan wajah murung masuk ke dalam kamarnya. Ia mengejarnya. "Sha." Ia mengetuk pintu.


Pintu terbuka pelan dengan gadis itu masih menunduk. "Apa?"


"Kamu kenapa?"


"Mmh ...." Gadis itu sepertinya sulit bicara.


"Sha. Bilang sama Abang, ada apa?"


"Mmh ...." Shasa menyentuh pinggiran pintu dengan jarinya. "Aku gak jadi nikah aja," ucapnya pelan.


"Apa? Ada apa? Kalian bertengkar?"


Bulir-bulir air matanya mulai jatuh dan ia menatap Raven. "Aku bukan yang dia mau ...."


Raven segera memeluknya. Mereka pasti bertengkar, pikir Raven. Pemuda itu membawa Shasa ke dalam kamar dan menariknya duduk di tepian tempat tidur.


"Bilang sama Abang, ada apa?"


Shasa masih bersandar di dada bidang pemuda itu sambil mengusap air matanya. "Aku sebenarnya dijodohin sepupuku Rika, sama Bima."


Apa?


"Aku pikir saat itu Rika bercanda, karena Bima setahuku sedang mengejar-ngejar Rika, tapi kemudian Bima bilang serius sama aku."


Kisah cinta macam apa ini? Aku belum pernah dengar ada yang seperti ini. Apa cinta bisa berpindah semudah membalik telapak tangan? "Lo suka sama Bima?"


"Dia orangnya sopan, ramah."


"Lo cinta gak sama Bima?"


"Dia baik, membimbing aku di karir."


Raven menghela napas. "Lo gak cinta sama Bima."

__ADS_1


Shasa mengangkat kepalanya. "Kata siapa, aku kan hampir nikah sama dia," kilahnya.


"Orang sebaik apapun, sesuai agama dan tau adab, belum tentu bisa buat elo jatuh cinta. Mungkin aja elo cuma kagum."


Shasa ingin segera membantahnya tapi tak satupun kata keluar dari mulutnya.


"Sha, kagum dan cinta itu beda. Cinta tak memandang siapa dirinya, setelah kamu jatuh cinta kamu tidak akan peduli sebrengsek apapun orang yang kamu cinta karena cinta hanya butuh kamu mencintai tanpa syarat. Karena itu disebutkan, cinta tak butuh logika. Kamu bicara tentang logika, itu berarti kamu mengaguminya, bukan mencintainya. Apa kamu mengerti sekarang bedanya?"


Shasa terdiam.


"Kamu juga pasti bukan sedih karena kehilangan dia kan?"


Shasa menatap Raven. "Sedihlah."


"Tapi gak sedih-sedih amat. Kamu hanya merasa kehilangan pegangan."


Shasa menatap Raven dengan air muka bertanya-tanya. Pemuda itu menepuk lengannya sambil tersenyum. "Kamu belum patah hati kok. Mau jalan-jalan sama aku keluar?"


Terdengar dering HP Shasa membuat gadis itu mengangkat HP-nya.


Ternyata Abra. "Kamu ke mana Sayang, aku menunggumu."


Shasa menoleh pada Raven yang tahu dengan siapa ia menelepon. Pemuda itu memberi isyarat tangan agar pergi dengan pria itu.


"Eh, aku di rumah."


"Ayo ke sini dong, katanya mau temani aku beli buku sambil jalan-jalan."


Shasa kembali menoleh pada Raven yang kembali memberinya semangat. "Eh, iya." Ia menutup telepon.


"Sudah, kamu pergi saja, sana. Mungkin aja kamu bertemu dengan cinta yang baru," goda Raven.


Shasa merengut, melirik pemuda itu.


"Pak Abra juga baik lho!" ledek Raven lagi sambil tertawa.


Shasa masih bimbang.


Shasa pun terpaksa melangkahkan kaki ke apartemen Abra dengan malas.


"Sayang, kamu lama sekali. Aku rindu padamu."


Shasa kaget ketika ia membuka pintu, Abra menyambut dengan memeluknya. "Kak Abra! Astaghfirullah alazim. Kamu ngagetin aku!" Ia memukul pelan bahu pria itu.


Abra hanya tertawa. "Sayang! Kamu habis lama sih!"


"Jangan peluk-peluk gitu ah! Gak mahram!" Shasa mendorong pria itu menjauh.


Namun Abra tak marah. "Iya, maaf, maaf. Yuk langsung berangkat." Ia langsung menggandeng Shasa keluar apartemen.


Mereka kemudian menaiki mobil Abra. Selama di perjalanan, pria itu memperhatikan, Shasa banyak diam dan menatap ke luar jendela. Demikian pulang saat di toko buku. Gadis itu lebih memilih menjauh sambil melihat-lihat tanpa memilih untuk membacanya. Abra akhirnya berhenti mencari buku dan mendatanginya. "Kamu bosan ya? Ngak suka buku?"


"Ngak ...."


"Lalu apa?"


"Lagi ngak mood." Suara gadis itu merendah. Sambil menunduk ia menggerak-gerakkan kakinya berputar-putar di lantai.


"Kamu ingin bagaimana?"


"Ngak tau." Gadis itu masih menunduk.


"Bagaimana kalau kita pergi ke taman kota?" cetus Abra.


"Kan ini sudah sore."


"Ngak papa. Di sana ramai kalau malam."


"Oh, itu hanya malam minggu saja."


"Oh, begitu. Mmh ...." Abra mencari ide. "Bagaimana kalau kita ke pantai?"

__ADS_1


"Apalagi. Ini kan sudah sore. Sampai sana pasti sudah malam."


"Ngak papa, ayok!" Abra menarik tangan Shasa. Mereka melangkah keluar toko buku.


"Tapi pulangnya?"


"Tak usah pusingkan itu. Yang penting kita sampai dulu."


Mereka kemudian menaiki mobil Abra kembali. Sore mulai bergeser saat malam mulai meredupkan sinar di langit jingga. Perlahan malam menjelang. Saat malam menutupi langit, mereka sudah sampai ke pantai tempat dahulu mereka bermain di tepian.


Keindahan pantai tak juga berkurang dengan gelapnya malam. Apa lagi malam itu bintang penuh bertaburan di langit. Shasa memandang ke langit dengan penuh kekaguman.


Mereka kembali menempati kursi yang sama di meja yang sama di belakang hotel itu. Itu memang tempat favorit mereka. Abra mulai melihat senyum mengembang di bibir gadis itu. Ia pun ikut senang. Mereka melewati malam dengan makan malam di sana. Bahkan Abra memesan candle light dinner(makan malam dengan cahaya lilin) karena kebetulan mereka makan malam di udara terbuka. Shasa menyukai suasana romantis itu. Mereka makan dengan perlahan.


Namun kemudian Shasa panik. "Ini sudah malam Kak. Kita pulang bagaimana?"


"Menginap saja."


"Apa?"


"Hei, jangan panik begitu. Kita bisa sewa single room 2 kamar. Iya kan?"


"Iya," jawab gadis itu pelan.


"Kamu udah pikir mesum ya?" Abra menunjuk wajah Shasa.


"Ih, enggak!" Wajah gadis itu memerah.


"Bohong ...."


"Ih, enggak ih!" Shasa mencubit pinggang Abra.


Hah ... syukurlah, mood-nya sudah kembali. Entah masalah apa yang menderanya, tapi ia sudah kembali ceria. "Aduh sadis ih!" Abra mengusap-usap pinggangnya yang dicubit gadis itu.


"Biarin!"


Mereka kemudian memesan kamar hotel yang berdampingan dan berpisah di depan pintu.


"Malam," sahut Shasa.


"Malam."


Mereka lalu masuk ke kamar masing-masing. Shasa segera merebahkan diri di atas tempat tidur dan menatap ke langit-langit kamar.


Senang rasanya dikelilingi orang-orang yang mendukung dan memperhatikannya saat susah. Walau Abra tak pernah bertanya secara langsung masalahnya, pria itu telah banyak menghiburnya hari ini.


Hah, sayang kamu itu tak pernah serius bicara jadi aku tak tahu apa kamu menyukaiku atau hanya sekedar menggoda. Padahal candle light dinner tadi sungguh menyenangkan, Shasa mengenang.


Ah sudah, sudah. Aku tak ingin lagi terlibat masalah cinta. Aku ingin fokus di pekerjaanku saja.


Beberapa kali ia bergerak-gerak di atas tempat tidur sebelum akhirnya tertidur. Masalah cinta telah melelahkannya.


---------+++---------


Pagi-pagi dibisingkan oleh suara handphone Shasa. Ia terbangun segera. Eh? Raven. "Halo."


"Kamu dari semalam gak pulang ya? Kamu di mana? Sini Abang jemput."


"Aku lagi sama Kak Abra."


"Apa? Di apartemen?"


"Bukan, di hotel."


"Di hotel?" Nada suara Raven makin tinggi. "Apa yang kamu lakukan di sana?!!" Lengkingnya.


____________________________________________


Halo reader, terima kasih masih terus baca novel ku ini. Jangan lupa ya reader, vitamin author karena author lagi gak fit. Like, komen, vote juga hadiah, iklan atau coin. Ini visual Abra sedang mamerin mobil barunya.


__ADS_1


__ADS_2