
"Suster!"
Tergopoh-gopoh beberapa orang para medis datang membawa dankar. Mereka membantu membersihkan darah yang keluar dari hidung Kevin dan kemudian menaikkannya ke atas dankar.
Shasa melihat itu dengan sedikit takut hingga berpegangan pada suaminya. Abra meraih pinggang istrinya untuk menenangkan.
Dari kejauhan ibu tiri Abra datang dengan tergesa-gesa. Rupanya ia mengintip mereka dari tempat tersembunyi. Ia mendatangi Abra. "Tolong kakakmu Kevin, tolong! Ia bersikeras kemarin hendak keluar dari rumah sakit walaupun aku sudah membujuknya," pinta wanita itu pada Abra. Wajahnya terlihat khawatir.
Abra beralih pada kakaknya, yang sudah berada di atas dankar seraya memegangi sumpalan hidungnya setengah. "Kak, Kakak jangan keras kepala. Kami semua mengkhawatirkanmu. Patuhlah menjalani perawatan. Itu semua demi kesehatanmu."
Dankar kemudian didorong kembali ke dalam rumah. Mereka semua mengikuti.
----------+++-----------
"Mmh. Siapa yang telah menduduki kursiku?" ucap Danisa dengan suara berat. "Jangan-jangan kamu ya, yang telah menduduki kursiku!" Dengan tiba-tiba wanita itu meraih tubuh Lina sehingga gadis kecil itu menjerit dan tertawa.
"Bukan ...," tolak Lina.
"Atau kamu ya, yang mendudukinya tadi!" Masih dengan suara berat Danisa mengagetkan Lione.
Lione tertawa sambil menggeleng.
"Hei, apa yang kalian lakukan di sana." Sebuah kepala muncul miring dan menatap mereka bertiga yang sedang berceloteh di bawah meja. Rupanya si kembar sedang asyik mendengar cerita dongeng dari mulut Danisa.
"Dengerin cerita Goldilocks Om," terang Lina riang pada Raven.
"Cerita apa? Goldilocks?"
Danisa tertawa. "Ternyata mereka belum pernah mendengarnya."
"Goldilocks itu apa?"
"Astaga. Kau juga tidak tahu?" Danisa terkejut.
"Tidak."
"Oh my God(ya ampun), itu kan cerita anak-anak di Eropa. Semua anak-anak umumnya tahu cerita itu."
"Ya tapi, aku kan bukan anak-anak."
"Apa kamu mau ikut mendengarkan?"
"Mmh ...." Ia melirik Lione dan Lina.
"Ayo Om, ke sini kalau mau dengerin," ajak Lina.
Karena Raven juga penasaran, ia ikut masuk ke bawah meja makan.
"Apa kita harus mengulang lagi ceritanya dari awal atau ..." Danisa melirik Lina. "Kamu mau menceritakan kisah awalnya pada Om Raven?"
Gadis kecil itu mengangguk. Ia kemudian menoleh pada Raven dan mulai bercerita. "Goldilocks-nya nyasar ke hutan Om."
"Goldilocks itu siapa?"
"Anak kecil Om, perempuan kayak Lina." Gadis kecil itu menunjuk dirinya sendiri membuat Raven gemas ingin mencubit pipinya.
Pria itu tersenyum lebar. "Iya, terus?"
"Dia ketemu rumah di hutan milik keluarga beruang."
"Oh, terus?"
"Goldilocks capek, terus duduk."
Raven tertawa.
"Ih, Om ketawain Lina!" Lina ngambek dan melipat tangan di dada karena kesal.
"Iya, enggak, iya terus?"
"Beneran, ceritanya Goldilocks-nya capek terus duduk, Om ...," gerutu Lina mengerucutkan mulutnya.
"Eh, iya. Maaf-maaf. Om, gak ngerti." Namun Raven tersenyum lebar, juga Danisa. "Terus?"
"Terus dia duduk di kursi mama bear(beruang)."
"Oh."
----------+++----------
__ADS_1
Abra melirik ke arah istrinya di samping. Wanita itu terlihat khawatir.
"Kamu tak usah mengkhawatirkan Kak Kevin karena dia sudah ada yang menangani. Khawatirkan dirimu saja, kalau lelah kamu harus istirahat."
"Tapi sebenarnya Kak Kevin sakit apa?" Shasa menoleh ke arah suaminya.
Abra terdiam sejenak, ia berusaha fokus menyetir. "Tubuhnya melemah sejak kecelakaan itu karena kepalanya terhantam sesuatu yang meretakkan tengkorak kepala sehingga darah tercampur dengan otak.
Banyak kasus, ada yang jadi gila, koma atau respon tubuhnya mati alias mayat hidup. Kak Kevin koma dan berhasil bangun, tapi tidak ada yang bisa menjamin kelangsungan hidupnya.
Anehnya, masih ada sisa darah di otak yang keluar lewat tulang hidungnya. Diperkirakan, ada retakan dari otak ke hidung yang menyebabkan darah keluar dari hidung. Entah harus bersyukur atau tidak tapi untuk sementara waktu ia harus tinggal di rumah sakit entah untuk berapa lama. Mungkin, seumur hidupnya."
"Ya Allah ...."
"Doakan saja dia umur panjang, secara lahiriah dia terlihat normal. Dia mungkin bisa melakukan kegiatan orang normal lainnya tapi tetap harus dipantau karena itu ia tidak diizinkan keluar dari rumah sakit."
"Ya Allah Kak Kevin. Mudah-mudahan cepat sembuh ya Allah dan umur panjang," doa Shasa.
"Amin."
Rombongan akhirnya sampai di rumah sakit. Kembali Kevin diperiksa secara intensif. Abra mencarikan kamar dan ibu tiri Abra menelepon suaminya. Erik menyudahi perjalanan bisnisnya dan segera kembali.
Kevin akhirnya kembali ke ruangan. Abra menyambutnya. Setelah dipindah ke tempat tidur di ruangan itu, pria itu mendekat dan memberikan sesuatu yang seharusnya sudah lama dia kembalikan tapi karena kejadian waktu itu, semua harus menunggu. "Kak ini."
Sebentuk cincin yang pernah Kevin berikan pada Shasa yang ternyata kekecilan. Kevin menerimanya dalam diam.
"Jangan berkecil hati Kak, mungkin saja kakak berjodoh dengan seseorang lewat cincin ini, coba Kakak simpan dulu saja Kak."
Kevin tak bicara dan hanya mempermainkan cincin itu di tangan.
Abra sebenarnya tak ingin mengganggunya tapi ada banyak hal yang ia ingin Kevin tahu. "Kakak jangan merasa sendirian, Kak, kami semua khawatir padamu. Aku akan sering-sering melihatmu di sini karena kelihatannya Kakak sudah mulai sehat. Mungkin kalau dibolehkan, Kakak bisa bekerja dari sini."
"Terima kasih," ucapnya tanpa menoleh.
Melihat Kevin yang sepertinya ingin sendiri, Abra pun pamit dan membawa Shasa pulang.
Sepeninggal adiknya, Kevin membanting cincin itu ke dinding hingga jatuh terpental ke lantai. Karen yang sedari tadi diam terkejut dengan reaksi Kevin yang berlebihan itu tapi ia tak berani berucap apa-apa karena sejak ia terbangun dari komanya Kevin sangat sensitif. Pria itu memiringkan tubuhnya membelakangi ibunya.
Karen tanpa sengaja melihat cincin itu dan hendak mengambilnya tapi ....
"Jangan diambil Bu. Biarkan saja di situ."
"Eh, ya." Karen kembali ke kursinya.
"Ya ...."
"Jangan menginap."
"Tapi Kevin ...." Karen ingin protes.
"Aku ingin punya kehidupan pribadi, Bu. Jangan takut ... aku tidak apa-apa. Aku tidak akan mati secepat itu. Aku akan baik-baik saja."
Karen mendengar dengan berlinang air mata. Butir-butir air mata bening membasahi pipinya.
"Ibu dengar kan kata Abra, aku bahkan bisa bekerja dari sini. Jadi ... Ibu pulanglah saat malam. Jangan menginap."
"Mmh." Karen menghapus air matanya dengan tisu yang berada di atas meja.
---------+++-----------
Danisa dan Raven menemani anak-anak menonton TV. Lina duduk di antara mereka. "Mmh, laper."
"Iya," sahut Lione.
"Apa mau Tante buatkan sandwich?"
"Mau, mau, mau!" Lina langsung semangat.
Lion yang pendiam langsung berpegangan pada Danisa.
"Eh, tapi ... bukannya pembantu sudah masak makanan buat mereka berdua?"
Ucapan Raven mendapat sorotan tajam dari si kembar membuat Danisa tertawa.
"Ya sudah, Tante lihat dulu di dapur bahannya ya?" Danisa melangkah ke dapur tapi si kembar masih menyoroti Raven, terutama Lina dengan kedua tangan di dada.
"Ok, ok. Om Salah. Maaf." Raven mengangkat tangannya.
Tak lama Danisa selesai membuat sandwich telur dan dihidangkan di atas meja makan. Si kembar datang dan melahapnya dengan senang.
__ADS_1
"Kau mau, makan saja. Aku buat banyak kok," tawar wanita itu.
Raven mengambilnya. "Terima kasih."
Sejurus kemudian, Abra pulang bersama Shasa. Mereka melihat keempat orang itu sedang makan sandwich di ruang tengah.
"Lho kalian makan apa?" sapa Shasa.
"Sandwich Mi, enak!" Lione memperlihatkan sandwich-nya. Lione yang jarang bersuara tiba-tiba memamerkan makanannya yang berarti bocah kecil itu memang benar-benar menyukainya.
"Oya?" Shasa mengusap kepala Lione. "Anak Mami pintar makannya." Ia menoleh pada Danisa. "Kak Nisa yang buat sandwich ya?"
"Oh, iya. Maaf, aku terlanjur menawarkan sandwich padahal ada makanan di dapur tadi."
"Ngak papa. Yang penting anak-anak mau makan. Makasih ya?"
"Mmh ...."
Danisa, Abra dan Shasa menoleh pada Raven.
"Ayah akan datang besok," ujar Raven pelan.
"Oh, bagus dong. Jadi acara pergi ke kebun binatang, kamu bisa ikut kan?" sahut Abra senang.
Raven tak bisa berkutik. Ia tak punya alasan untuk menghindari.
"Nisa juga bisa kan? Oh ya, kamu tadi datang kenapa ya?"
"Oh, aku mau konsultasi soal pekerjaan. Aduh aku lupa lagi!" Danisa menepuk dahinya. "Kantor, sepertinya aku sudah gak bisa balik lagi. Sudah sore. Ya udah, aku di sini saja. Kamu punya waktu kan Bra?"
"Oh, ya ada. Yang penting, ibunya anak-anak ada di rumah."
Raven kemudian pamit.
"Raven, masih seperti itu?" tanya Abra pada Danisa setelah Raven pergi.
"Masih, malah hari ini lebih pendiam."
"Masa?"
Shasa yang mendengar ikut bicara. "Memangnya ada apa dengannya?"
"Aku tidak tahu," jawab Danisa. "Kalau tidak mengobrol dengan anak-anak, dia hanya diam."
"Apa sebelumnya kalian bertengkar?" tanya Shasa lagi.
"Tidak. Malah aku menyatakan cinta padanya kemarin."
Abra tertawa. "Keren Nisa, kamu keren!" Ia menyodorkan ibu jarinya. "Terus, kamu diterima?"
"Nggak. Ditolak!"
Abra terkejut. "Masa? Tapi kan harusnya kamu yang sedih. Kok kamu nggak?"
"Nggak lah! Aku sudah pernah melewati jalan yang lebih susah dari ini jadi kalau soal itu sih, bukan sesuatu hal yang mesti dipikirkan secara berlebihan juga."
"Jadi kalau tidak dengannya, kamu akan cari lagi yang lain, begitu?"
"Ya tidak semudah itu juga lagi, untuk mencari penggantinya."
Abra tertawa. "Ya, ya, ok, ok. Slow down(santai) aja. Kita mendukung kamu di sini. Ok, sekarang kamu mau konsultasi apa?"
-----------+++-----------
Pintu dibuka. Seorang suster masuk dan melihat kevin tengah tertidur. Ia mendatangi pria itu. Dirapikannya selimut yang menutupi tubuh pria itu.
Saat ia hendak melangkah kembali ke arah pintu, ia melihat ada cahaya berkilauan dari arah lantai dekat sofa. Didatanginya tempat itu dan ia menemukan sebuah cincin yang tergeletak di lantai. Ia meraihnya. Sebuah cincin emas bertahtakan berlian.
Wanita itu kemudian mendatangi tempat tidur Kevin dan meletakkannya di atas meja nakas. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam lengannya.
"Siapa kamu?!!" Ternyata Kevin bangun dan menggenggam tangan wanita itu.
"Ah, saya suster Pak, yang bertugas," jawab suster itu terkejut.
"Mau apa kamu PEGANG-PEGANG barang milik saya!!" hardik pria itu.
"Bukan begitu Pak. Saya menemukannya di lantai jadi saya taruh di sini. Mungkin Bapak sedang mencarinya."
Kevin menarik kasar tangan wanita itu sehingga jatuh terjerembab ke atas tempat tidur tepat di depan wajah Kevin. "Ingat baik-baik dan beritahukan pada yang lain bahwa JANGAN PERNAH MENYENTUH BARANG-BARANG MILIKKU kecuali ada izin dariku. Mengerti?" Wajahnya terlihat sangat marah. "Sudah sana!" Ia mendorong dengan kasar wanita itu agar menjauh.
__ADS_1
"I-iya Pak, maaf." Suster itu kemudian keluar dari ruangan itu dengan rasa takut memenuhi dada.
Kevin kini menatap cincin itu yang kini berada di atas meja. Ia kemudian merapikan bantalnya dan berbaring menghadap cincin itu. Ia, memandangi terus cincin itu hingga ia tertidur.