Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Godaan


__ADS_3

"Shasa, aku menyukaimu." Kedua tangan kokoh pria itu kini sudah mengunci wajah gadis itu di kanan-kirinya.


"Apa? ...." Shasa memandangi wajah Damar dengan nanar.


"Aku mencintaimu." Tangan kanan pria itu bergerak menyentuh jilbab di kepala Shasa.


"Kak ...." Shasa menyadari tubuhnya tak bisa bergerak karena memakai seatbelt. Tangannya juga tertindih tubuh Damar. "kak, tolong. Lepaskan aku, aku ini saudaramu." Ia berusaha menyadarkan pria itu.


"Shasa, jangan menikah dengan Bima atau aku akan nekat."


"Apa? Apa maksudmu?"


"Coba tolong rasakan aku sebagai pria yang mencintaimu." Damar mendekatkan bibirnya hendak mencium Shasa tapi gadis itu dengan sigap melengos. Pria itu tetap mendaratkan kecupan pada pipi gadis itu.


Shasa terperangah. Ia mulai ketakutan.


Berikutnya, pria itu menarik dagu gadis itu mengarah padanya.


"Kak, tolong. Sadarlah," Matanya mulai berkaca-kaca.


"Di sini hanya ada kita berdua Sayang, kau tak perlu takut," bujuk Damar lembut dengan senyum termanisnya. Ia mulai terbawa suasana dan mulai serakah. Kembali ia mencoba mencium bibir merah Shasa.


"Kya! Kakak ...!" Shasa berteriak sambil memejamkan mata karena dagunya terkunci. Tiba-tiba,


Beng!


Keduanya menoleh. Raven berdiri dekat pintu mobil di samping Shasa. "Heh, buka pintunya! Atau mau kupanggilkan warga untuk berkumpul di sini! Mmh?!" teriak Raven marah.


Damar terkejut. Kenapa tetangga Shasa ada disini?


Beng! Beng!


Kali ini mobil bergoyang. Ternyata Raven menendang sambil menggoyangkan mobil Damar saking kesalnya. "Mau kurusak, hah? Kuhancurkan mobilmu?" Ia mengambil kayu yang ditemukannya di dekat situ.


"Brengsek!" Damar kesal dan membuka pintu. Ia keluar menghadang Raven.


Raven memukulnya dengan kayu, tapi pria itu berhasil menghindar. Ia meninju perut Raven dari samping.


"Ah!" Pemuda itu mengerang, tapi ia memukul rahang Damar dengan sikunya.


"Uh!"


Sementara kedua laki-laki itu saling adu jotos, Shasa segera melepaskan seatbelt-nya. Ia keluar dan ikut memukuli Damar dengan tasnya. Pria itu terpojok sehingga Raven dengan mudah mengalahkannya.


"Ah!" Damar tersungkur di tanah.


"Ingat! Jangan berani-berani ganggu dia lagi atau kau akan berhadapan denganku, mengerti?!" Raven menunjuk-nunjuk wajah Damar dengan garang. "Aku juga bisa laporin elo ke polisi!" Kembali ia menendang pria itu saking geramnya.


"Ugh!"


Shasa menarik Raven pergi. "Sudah ...."


"Kamu gak papa kan Sha?" Raven memastikan dengan menatap wajah Shasa. Ada sisa-sisa air mata yang berusaha dihapusnya dengan kedua ibu jari.


Gadis itu menggeleng. Ia melingkarkan tangan di lengan Raven dan menyandarkan kepalanya pada bahu pemuda itu. Mereka melangkah menuju mobil Raven.


----------+++----------


"Kamu udah gak pernah nelepon Shasa lagi?" tanya Kevin yang duduk di atas meja kerja Abra. Ia melirik pada berkas yang sedang diperiksa adiknya itu.


Abra menggeleng. "Enggak."


"Udah sebulan lebih. Pastinya dia sedang mempersiapkan pesta pernikahannya ya?"

__ADS_1


Kedua termenung untuk sesaat.


"Hahhh ... daripada berpangku tangan lebih baik aku ke sana saja untuk mengetahui kabarnya." Kevin turun dari meja Abra dengan sedikit melompat.


"Kakak mau ke mana?" Abra menegakkan kepalanya.


"Ke kantor Bima."


"Kak, jangan ganggu mereka. Ini kan jam kerja."


"Ssh, gimana ya?" Kevin mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu. "Aku udah menahannya, tapi ngak bisa. Aku penasaran aja sama mereka. Lagi pula aku ingin bertemu Shasa. Kangen. Menyenangkan rasanya dunia ini kalo ada dia."


"Ya tapi jangan jam kantor Kak, kecuali kalo ada bisnis kerja sama."


Kevin yang telah mencapai pintu, berbalik menatap Abra. "Begitu ya?" Ia mengantongi kedua tangannya di saku jas. "Ok, aku pikirkan sambil jalan." Kemudian ia pergi.


Abra hanya mengerut kening. Lalu ia meletakkan penanya di atas meja dan bersandar.


Ia bukan tidak pernah memikirkan gadis itu. Gadis itu tak pernah hilang dari benaknya, sudah beberapa kali ia mencoba. Seperti noda di pakaian yang tak bisa hilang setelah beberapa kali membersihkannya, begitu juga kenangan bersama gadis itu. Walau singkat tapi sangat membekas. Semakin ia coba kubur dalam-dalam, semakin sering kenangan itu muncul dalam benaknya. Senyum manisnya, marahnya, cerewetnya, selalu muncul tiba-tiba saat ia sendirian.


Beginikah rasanya tersiksa rindu? Rindu ini tak bertuan karena pemilik rindu mungkin sudah bahagia dengan orang lain.


Terdengar telepon di mejanya berbunyi. Ia mengangkatnya. "Ya?"


"Ada produsen produk ingin menyewa Bapak lagi sebagai model bersama Ibu Shasa. Apa bapak mau menerimanya?" tanya Sekretaris Abra.


Seketika ia ingat gadis itu. Ia dulu pernah mencoba bertanya pada gadis itu setelah ulang tahun stasiun TVnya digelar, bahwa ada beberapa produsen produk yang tertarik menyewa mereka karena nama mereka viral sebagai pasangan paling ideal untuk iklan setelah iklan pasta gigi itu, tapi Shasa menolaknya. Alasannya, karena ia hanya ingin bekerja sebagai pegawai kantoran saja.


Sejak itu Abra selalu menolak tawaran yang masuk, tapi ketika Kevin mengungkit-ungkit tentang kabar Shasa, ia tergelitik untuk bertemu lagi dengan gadis itu. Mengetahui kabarnya, walau ujung-ujungnya ia mungkin akan kecewa.


Bagaimana kalau ia membujuk gadis itu untuk jadi model iklan untuk terakhir kalinya?Setidaknya, rindu ini tidak sia-sia.


"... ok Pak, saya tanyakan dulu dengan pasangan saya, nanti kalau ada kabar saya beritahu. Tinggalkan saja data dan nomor telepon Bapak pada Sekretaris saya." Abra meletakkan teleponnya. Tanpa pikir panjang ia langsung menelepon Shasa.


"Apa kabar Sha?"


"Baik Pak." Abra saat itu tidak tahu kalau jantung Shasa seketika berdetak sangat kencang. Ada apa dia meneleponku?


"Aku ada tawaran kerja sama, bagaimana? Kamu mau gak?"


"Apa?"


"Temui aku di restoran Jepang Cha Seven tempat kita pertama kali makan siang. Sekarang. Aku juga akan menuju ke sana."


"Eh?"


"Aku tunggu ya?"


"Eh, iya."


Abra puas. Ia mematikan handphone-nya. Ia sengaja melakukan itu agar Shasa dan dirinya tidak bertemu Kevin dan Bima. Hanya berdua.


Tidak butuh waktu lama, Shasa dan Abra bertemu di restoran Jepang itu. Abra yang lebih dulu datang, melihat penampilan Shasa yang baru sekarang, yang lebih dewasa dan terlihat seperti orang kantoran yang sangat berdedikasi dengan pekerjaannya, seperti keinginannya dulu.


Sedang Shasa, mengagumi ketampanan pria itu yang membuat pesonanya makin berkilau. "Maaf ya aku telat," ucapnya dengan nada khawatir.


"Oh, enggak kok. Aku juga baru sampai. Silahkan." Abra mempersilahkan gadis itu duduk.


Shasa menempati kursi yang telah ditariknya. Keduanya kini seperti dua orang asing yang sedang melakukan bisnis.


"Mau pesan apa?" Abra menyodorkan daftar menu yang sebetulnya tidak gadis itu butuhkan karena gadis itu pasti tahu apa yang ingin ia pesan tapi Shasa tetap mengambil buku menu itu dan melihat-lihat.


Abra kembali bisa memperhatikan gadis itu dari dekat. Sesuatu yang sudah lama tak ia lakukan. Mengaguminya, melihat setiap inci wajah dan tubuhnya, mengkhayalkannya, dan tak jemu rasanya memandangnya.

__ADS_1


"Aku pesan yang ini saja." Shasa menunjuk pesanannya. Ya, Abra sangat tahu gadis itu suka ikan salmon, karena itu ia pasti akan memesan sushi salmon atau apapun yang berbahan ikan salmon.


"Ok, kita pesan ya?" Abra kemudian memesan makanan.


"Sebenarnya ini belum jam makan siang, tapi tak apa, sebentar lagi juga jam makan siang."


"Iya, gak papa kan, kita makan pelan-pelan."


Shasa menatap Abra dengan sedikit enggan. "Bapak sekarang kurusan ya?" ucapnya melihat tubuh Abra yang mengenakan baju sedikit longgar.


"Mmh, pekerjaanku mulai banyak lagi karena TVku makin banyak pemirsanya." Dan karena tak ada kamu, aku mulai kembali tenggelam dengan kesibukanku. Tak ada lagi yang mengeremku untuk pulang, memarahiku karena kurang tidur malam dan sesuatu yang memanjakan mataku di sela hari-hariku. Sungguh, sia-sia hidup tanpa kamu di sisiku. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Mmh? Alhamdulillah, ada saja klien yang mempercayakan membuat iklan baru di tempat kami dan sebagian betah untuk kembali lagi menggunakan jasa kami."


"Oh, bagus dong. Mungkin karena ada kamu di sana."


Gadis itu tersenyum. "Ikhtiar saja."


Ah, rasanya sudah lama sekali tidak melihat senyum itu. Senyum pembangkit semangatku. Senyum yang selalu menjanjikan keceriaan di sepanjang harinya. Sayang, senyum itu bukan milikku tapi nikmati saja segala yang bisa aku nikmati hari ini sebelum ia tak lagi bisa datang menemuiku.


"Ada pekerjaan apa ya Pak?" Gadis itu langsung bertanya pada intinya. Profesional sekali. Apa Bima telah merubahnya menjadi pengincar uang nomor satu, tapi bekerja memang harus begitu. Efisien, karena tidak membuang-buang waktu.


"Mmh. Ada yang menawari kita untuk jadi model iklan lagi." Abra menyatukan tangannya di atas meja.


"Apa?" Shasa terkejut. Bukannya Pak Abra sudah tahu aku tidak ingin terlibat jadi model iklan lagi karena itu menghancurkan hatiku yang kini mulai bisa aku perbaiki. Lagipula model bukan bidangku. "Bukankah Bapak tahu jawabannya?"


"Aku ingin kau memikirkannya. Anggap saja ini kado pernikahan dariku karena mereka menawarkan uang yang lumayan besar. Itu cukup untuk tambahan kamu untuk acara pesta pernikahan kamu, atau setelah menikah nanti. Bagaimana menurutmu?"


"Tapi ...."


"Jangan takut. Aku akan selalu membimbingmu. Seperti waktu itu dan kamu bisa melewatinya."


Shasa menghela napas dalam. "Tapi ...."


"Apa yang kamu khawatirkan? Kalau kau tanya calon suamimu, pasti ia akan menyetujuinya karena kamu bisa mengumpulkan uang lebih untuk masa depan kalian kelak. Mungkin menyicil rumah atau untuk modal usaha. Iya kan? Kau bisa membantu keuangannya, atau paling tidak, tidak minta tambahan uang untuk kebutuhanmu membeli kosmetik, misalnya. Iya kan?"


Tawa gadis itu berderai.


Ah, indahnya ....


Setelah itu gadis itu kembali menatap Abra. Aku takut padamu. Aku takut jatuh cinta padamu. Aku sudah menata diri dengan komitmenku pada Bima dan aku tidak ingin berpikir ulang tentang itu. Kamu, yang selalu meruntuhkan hati ini berkali-kali dan kamu ... kenapa Tuhan tidak mempertemukan kita lebih dulu? "Aku tidak tahu Pak." Shasa menunduk.


"Hei, ayolah. Untuk terakhir kalinya."


Gadis itu mengangkat kepalanya, bimbang.


"For the sake of the old times.(Demi masa-masa indah kita dulu.)"


"Apa?" Kembali hati Shasa bergetar. Jantung berdegup tak karuan, ia tertegun Abra mengucapkan kata-kata itu. Kenapa ia berani mengatakannya?


"Bukankah dulu kita adalah teman akrab?"


Shasa kembali ingat masa-masa dulu bersama Abra, tertawa, marah, ngambek, bertengkar. Saat susah dan senang bersama tapi apa maksudnya?


Pria itu seperti tahu apa yang dipikirkan Shasa. "Kita mengawalinya dengan baik-baik. Alangkah baiknya kita mengakhirinya dengan baik-baik juga. Bagaimana? Mau?"


Gadis itu mengangguk.


Abra resah. Baru kali ini ia tidak tulus melakukannya. Sebenarnya ada maksud lain di balik semua ini. Kembali menggodanya.


____________________________________________


Makasih reader yang masih nongkrongin novel ini terus. Jangan lupa vitamin author, vote, like, komen, hadiah dan koin. Ini wajah Abra setelah ditinggal Shasa selama sebulan lebih. Ia jadi kurus karena workaholic (gila kerja). Salam. ingflora. 💋

__ADS_1



__ADS_2