
Usai makan, Kevin menitipkan Shasa pada Abra. "Aku ada urusan sebentar di luar, jadi antarkan Shasa ke kantor ya?"
"Ok."
Setelah Sholat Zuhur, Shasa kemudian kembali ke ruangannya. Ia termenung di sana. Sepanjang perjalanan tadi, Abra sibuk mengobrol dengan Danisa hingga hampir-hampir melupakannya.
Gadis itu bingung, apakah pria itu pernah benar-benar menyukainya. Perkara cinta, pria itu tidak pernah benar-benar mengutarakan dengan sungguh-sungguh sehingga Shasa bingung akan sikap Abra padanya. Benarkah pria itu menyukainya atau hanya sekedar menggodanya? Namun biar begitu, ia terlanjur tergoda dan berharap lebih. Ia berharap hatinya tidak patah untuk kedua kalinya.
Jujur, Shasa masih gamang akibat penghianatan Bima sehingga ia berusaha melindungi dirinya dengan memastikan dulu perasaan pria yang ditaksirnya. Bisakah ia mempercayai Abra? Sedang tadi saja, Danisa mengikuti Abra ke ruang kerjanya. Betapa sangat irinya Shasa pada Danisa, bisa dengan mudahnya bicara apa saja dengan Abra tanpa terkecuali dan selalu ditemani pria itu di setiap waktu.
Sebuah benda berbentuk tas belanja cantik dengan dihias pita di sampingnya, hadir di atas mejanya. Gadis itu segera sadar dan menoleh. "Pak?"
"Ini hadiah ulang tahunmu," ucap Kevin dengan senyum kecilnya.
"Aduh, Bapak terlalu banyak memberi padaku hari ini bagaimana aku bisa membalasnya?"
Membalasnya? Ah, benar ... Membalasnya. "Ah, tidak apa-apa. Ini hari ulang tahunmu. Aku hanya sekedar ingin ikut berpartisipasi."
"Terima kasih ya Pak," ucap Shasa sambil menyentuh kado itu. Dengan tulus, ia memberi pria itu senyuman terbaiknya.
Kevin sempat salah tingkah, berdehem saat jantungnya mulai berirama keras. Aboi, indah nian senyum itu hingga ia menabrak meja dan hampir menjatuhkan tas milik gadis itu. "Eh, maaf. He he he."
Shasa menahan tawa. "Oh ya, maaf ya Pak, soal yang tadi di ruang meeting. Aku tidak bermaksud eh—"
"Oh, tidak apa-apa. Silahkan saja keluarkan idemu." Rasanya semua kekesalan hilang setelah melihat senyumanmu. Senyum yang terukir di bibir indahmu untukku, laksana matahari pagi yang menyinari hidupku yang terasa membosankan ini. Membagi sinar terangmu dalam ruang mata hatiku yang telah lama tertidur demi menanti keajaiban hari. Kaulah keajaiban itu. "Buka saja kadonya," pintanya.
Shasa membukanya dan isinya ... sebuah kotak parfum mewah. Ia sangat mengenal merek parfum yang merupakan barang terkenal itu.
"Pak ... ini pasti mahal." gadis itu menoleh pada Kevin.
"Aku tidak begitu pintar memilih hadiah, tapi kalau kau suka, aku senang."
"Tapi Pak, ini sangat berlebihan."
"Tidak. Uang tidak penting untukku. Selama kamu senang, itu sudah menjadi kebahagiaan untukku."
"Hah ... Pak ...." Shasa memasukkan kembali kotak parfum itu ke dalam tas itu. Ia hendak mengembalikannya tapi Kevin menahannya.
"Tolong terima pemberianku karena ini untuk pertama kalinya aku memberikan kado untuk seseorang."
Shasa semakin bingung dan pada akhirnya ia menghela napas. "Terima kasih ya Pak?"
"Tidak. Aku yang berterima kasih padamu karena kau mau menerima kado dariku." Pria itu tersenyum lebar. "Ok, aku kembali ke ruangan." Ia kemudian melangkah ke arah ruang kerjanya.
Di dalam ruangan, Kevin duduk di kursi meja kerjanya dan mulai berpikir keras. Shasa, dia tidak tergoda oleh harta. Lalu apa? Apa yang menarik perhatiannya, ah!
Lama ia termenung sampai pada akhirnya ia tiba pada keputusan nekatnya. Ia menelepon seseorang. "Halo ... iya saya Pak. Saya mau menginap hari ini. Tolong bersihkan vila ya? ... Iya, iya. Tolong Pak ya?" Ia menutup teleponnya. Ia sudah membulatkan tekad, sekarang atau ia akan kehilangan kesempatan ini lagi. Segera ia beranjak dari kursi dan melangkah keluar. Ia menghampiri meja Shasa. "Sha, ayo. Kita ada meeting di luar." Pria itu segera melangkah keluar kantornya.
"Baik Pak," Shasa segera meraih tasnya.
Mereka menaiki mobil Kevin. Mobil itu pun kini kembali ke jalan.
Awalnya Shasa banyak diam, tapi ketika mobil lama tak mencapai tujuan dan mulai mengarah keluar kota, ia mulai bingung. "Pak kita ke mana?"
"Puncak."
__ADS_1
"Apa? Meeting-nya di puncak?"
"Iya," jawab Kevin santai. Ia tersenyum bahagia. Akhirnya ia punya kesempatan berdua dengan gadis itu, hanya berdua. Gadis itu sudah tidak bisa menghindar lagi darinya.
"Oh." Shasa sedikit curiga tapi ia percaya kakak Abra tidak akan mencelakainya. Ia berusaha berfikir positif.
Setelah melewati tol, jalan di depan mereka malah macet.
Shasa gusar. "Pak, bagaimana ini? Kita masih sempat meeting gak? Nanti jangan-jangan mereka sudah pulang lagi."
"Ngak papa. Kita kan bisa menginap."
"Ah, Pak. Bukan masalah menginapnya tapi apa mereka masih menunggu kita atau tidak? Kalau tidak kan sebaiknya kita pulang saja, mumpung macet Pak."
Kevin pura-pura melihat jam. "Mungkin sejam lagi masih bisa."
"Apa cukup waktunya Pak?"
"Kita lihat saja ya?" Kevin tersenyum melihat kepanikan Shasa.
Dua puluh menit berlalu, jalan mulai terurai di depan mereka. Perlahan mobil mereka mulai melaju ke arah tujuan. Ketika jalan mulai lancar, tiba-tiba terdengar dering telepon. Itu dari HP Kevin. Pria itu sebenarnya malas mengangkat HP-nya tapi karena berada di sebelah Shasa dan gadis itu menanyakannya, maka mau tak mau Kevin mengangkat telepon yang mengganggunya itu. Ia terkejut dengan nama yang tertera di layar handphone-nya. Segera ia menepi. "Ayah? Ada apa?"
"Kamu di mana? Ayah tidak menemukanmu di kantor."
Astaga ... ayah berkunjung di kantor! Aduhh, aku harus bagaimana? "Aku sedang di luar Yah."
"Segera kembali. Aku ingin laporan mengenai perusahaan hari ini. Aku dengar Abra ingin part-time(kerja paruh waktu) di stasiun TV. Aku ingin tahu mekanismenya seperti apa kalau posisinya berubah begini. Bagaimana kamu mengakali pekerjaan harian kalau Abra tidak ada di tempat?"
Seketika kepalanya berdenyut memikirkannya. Ia tidak tahu jawabannya. Ingin bertahan pergi pun ia tidak mampu karena ayahnya pasti akan menanyakan tujuannya sedangkan pergi meeting ini hanya bualannya semata. Mau tak mau ia harus kembali dan menghadapi pertanyaan ayahnya yang cukup memusingkan itu. "Iya Yah, aku kembali. Tunggu saja, mungkin agak lama."
Telepon ditutup. Kevin menatap Shasa dengan mata nanar. Kenapa sulit sekali mendapatkan gadis ini? Kenapa? Apa aku tak boleh mendapatkannya?
"Ada apa Pak?" tanya Shasa melihat pandangan pria itu yang berbeda dari biasanya.
Kevin meraih tangan gadis itu membuat gadis itu terkejut. "Aku menyukaimu Shasa, aku sangat menyukaimu. Maukah kamu jadi pacarku?"
Perlahan Shasa menurunkan tangannya. "Maaf, tapi aku trauma dengan kata 'pacaran'. Sekarang ini aku sedang menata diri dan fokus dengan pekerjaan."
Kevin menelan salivanya. "Boleh aku menunggu," ucapnya tak mau kalah.
"Aku tidak bisa berjanji. Aku takut Bapak kecewa."
"Kalau begitu, beri aku harapan."
Shasa menunduk. Kali ini ia tak mau salah melangkah. Ia tak mau menyesal. "Mungkin sebaiknya Bapak melupakan saya, maaf."
Namun Kevin tetap tak mau mengalah. "Masih ada hari esok. Mungkin, esok, kamu akan menemukan diriku dan dirimu yang berbeda di mana kita bisa menyatukan perasaan kita."
"Pak."
"Kita lihat besok." Kevin menyalakan mesin mobilnya.
------------+++----------
Sudah setengah jam Kevin, ayah Kevin dan juga direksi yang lain sedang menjalankan rapat di ruang rapat kantor Kevin dan hingga kini belum juga ada tanda-tanda akan selesai. Shasa dan Denisa menunggu di depan ruang rapat sambil mengobrol.
__ADS_1
"Kamu tidak ikut Abra keluar?" tanya Shasa pada Denisa heran.
"Ya enggaklah. Dia kan sedang ketemu klien. Masa aku ikut?"
Gadis itu masih memperhatikan Denisa dengan banyak pertanyaan di dalam kepala.
"Kenapa, kamu ada yang ingin ditanyakan?" Denisa seperti tahu ada yang ragu-ragu ingin gadis itu tanyakan padanya.
"Kenapa kamu ada di sini terus?" tanya gadis itu tanpa pikir panjang.
"Oh itu." Denisa hampir tertawa. "Abra yang mengundangku menemaninya bekerja karena kita udah lama gak ketemu. Rindu katanya."
Shasa merengut, kesal. Menyesal ia pernah menanyakan itu. Ia melengos menatap pintu ruang rapat yang masih tertutup.
Abra kemudian datang dengan tergesa-gesa. "Masih meeting kan?" tanyanya pada Denisa dan Shasa.
"Iya, masih berjalan," jawab Denisa yang kembali membuat Shasa merengut.
"Ok, aku masuk," ujar pria itu yang masih terengah-engah datang dari perparkiran. Ia mengetuk dan segera masuk.
"Kalau Abra masuk, meeting-nya pasti cepet. Abra pasti bisa memberikan solusinya," ucap wanita itu lagi.
Gadis itu menyorot Danisa kesal. Sok tau banget!
Namun benar saja. Tidak sampai lima belas menit, rapat selesai. Semua anggota rapat keluar satu-satu. Shasa menganggukkan kepala dan memberi senyum pada tiap direksi yang keluar dari ruang rapat. Tinggal Abra, Kevin dan ayah mereka.
Erik, ayah Abra dan Kevin terkejut melihat keberadaan Shasa di sana. "Kenapa Shasa ada di sini? Oh, Danisa?"
"Danisa lagi liburan Yah, dan Shasa kini jadi Sekretaris Kevin," jawab Abra.
"Benarkah?"
"Halo Om," sapa Denisa ramah.
"Halo. Om dengar kamu sekarang jadi foto model internasional ya?" Erik mengusap kepala Danisa karena sudah lama tak melihatnya. Ia ingat semasa ibu Abra masih ada, Danisa sering main ke rumah. Bersama Abra keduanya memang sedari dulu tidak terpisahkan. Sangat akrab hingga ia mengira mereka berpacaran. Entah Abra yang terlalu lugu atau Denisa yang terlalu tomboi tapi keduanya memang hanya berteman dekat, tak lebih dan tak kurang.
"Masih iseng Om."
"Kok iseng? Itu kan pekerjaan yang lumayan menghasilkan uang."
"Eh, kebanyakan orang menganggap model itu hanya mahluk cantik yang tak punya otak."
"Tapi industrinya lumayan maju lho. Kalau pensiun kamu bisa bekerja pada industri fashion kan?"
"Mmh, masih belum kepikiran."
Shasa yang tidak diajak bicara sedikit minder. Ia bukan siapa-siapa. Tidak punya orang tua, lulusan SMA dan tidak bisa apa-apa. Apalagi dibanding Danisa yang anak orang kaya, punya pekerjaan yang mudah tapi menghasilkan banyak uang. Ia bukan apa-apa.
"Shasa, apa kabarmu?"
Shasa terkejut Erik menyapanya. "Oh, baik Om."
"Kevin, kau tetap harus mencari lagi Sekretaris baru, karena Shasa dan Abra sudah terikat kontrak. Memang Abra akan coba bantu dari jauh via internet tapi ini masih tentatif. Kalau tidak berhasil, kamu terpaksa harus mencari CEO yang baru untuk stasiun TV ini."
"Eh, mereka cuma setahun kontrak kok. Aku gak masalah kalau Shasa masuknya tidak tiap hari karena aku sudah merasa cocok dengannya. Kan ayah tahu sendiri aku cukup kesulitan mencari Sekretaris yang cocok untukku."
__ADS_1
"Makanya jangan cari yang sempurna, karena itu tak pernah ada. Ya sudah, terserah kamu saja." Mereka berdua, apakah sedang bersaing?