Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Kunjungan


__ADS_3

Gadis itu keluar dan menutup pintu. Tinggal mereka berdua, Kevin dan Abra di dalam ruangan.


Mereka sulit memulai percakapan karena pada dasarnya Kevin pria yang sangat kaku sedang Abra pribadi yang cuek tapi dinamis. Mereka jarang bicara selain masalah pekerjaan.


"Mmh ... Kak, maaf ya? Aku gak bisa ngurusin konser Gania."


"Mmh." Kevin duduk di kursi dekat tempat tidur Abra dan hanya menunduk. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kak, aku tidur dulu. Aku belum tidur dari semalam," Abra mendahului dengan memejamkan mata.


Kevin menoleh. "Hu-bunganmu apa dengan Shasa?" Ia bertanya dengan tidak yakin. Ia merasa, selain menjadi pacar pura-pura, Shasa dan Abra menjalin hubungan lain. Hubungan yang erat lebih dari sekedar pura-pura dan itu terlihat jelas atau memang keduanya sangat pintar bermain peran?


Abra membuka matanya. "Aku menganggapnya adik." Ia hanya berusaha memberi status hubungannya dengan Shasa walaupun ia sendiri tak yakin.


"Oh." Kevin mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi adik ya? Pantas akrab, tapi dengan Diandra dia tidak begitu, seperti ....


Seseorang mengetuk pintu. Ternyata seorang suster membawakan makan siang untuk Abra dan meletakkannya di atas meja nakas karena Abra tidak bisa mengambilnya dan Kevin baru saja mengangkat telepon masuk. "Halo, Ayah. Tumben telepon jam segini. Ini kan sudah tengah malam di Amerika?"


"Ayah mencoba menelepon adikmu Abra, tapi susah sekali. Sudah beberapa jam yang lalu Ayah coba, apa teleponnya lagi di-silent(tanpa dering)? Sedang banyak kerjaan ya, Abra?"


"Pagi kan sibuk Yah, kebetulan ada projek konser, tapi kebetulan juga ada kecelakaan."


"Kecelakaan? Kecelakaan apa? Adikmu kecelakaan?"


"Iya, tadi tertimpa besi yang untungnya tidak berat tapi bahunya retak."


"Abra?"


"Iya, Yah."


Terdengar helaan napas panjang dari suara barito di ujung sana.


"Maafkan aku Yah."


"Bagaimana keadaannya sekarang?"


Kevin melirik Abra yang kembali membuka mata karena mendengar Ayah mereka menelepon. "Ayah mau lihat?" Ia langsung memindahkan teleponnya ke mode video.


Abra tersenyum saat HP Kevin menyorot padanya. "Ayah."


Di dalam video, Ayahnya mendekatkan wajahnya pada handphone untuk melihat dengan seksama keadaan Abra. "Kamu tidak apa-apa kan Bra, hanya retak di bahu?"


Abra mengangguk lemah.


"Kamu kenapa lemas begitu?" Pria di telepon mengerut kening.


"Belum tidur Yah, dari semalam, " jawab Abra sambil tertawa kecil.


"Ya sudah, kamu tidur saja. Mungkin kecelakaan ini akibat kamu juga tidak disiplin untuk beristirahat. Bekerja itu ada porsinya, ketika tubuh memberi sinyal ngantuk dan lelah, kamu harusnya berhenti."


"Iya Yah."


"Ayah sebenarnya hanya mau memberi tahu Ayah akan pulang besok dengan penerbangan pagi."


Tiba-tiba Shasa datang membawa plastik belanja dan seketika kedua mata pria itu langsung tertuju padanya.


"Iya Yah." Namun mata Abra tertuju pada Shasa yang bergerak mendatangi Kevin.


Ayah Kevin dan Abra merasa aneh karena diabaikan. Siapa orang yang telah menarik perhatian Abra?


Saat itu juga Kevin juga tidak fokus dengan HP-nya karena disodori makanan pesanannya oleh Shasa. "Makasih, Sha."


"Iya, ngak papa Kak."


Suara gadis itu terdengar oleh Ayah mereka membuat ia penasaran. "Kevin!"


"Eh, oh Ayah. Aku lupa." HP Kevin sudah tidak menyoroti Abra lagi karena Kevin fokus melihat gadis itu dan pria itu baru menyadarinya. "Maaf Yah."


"Oh, maaf Kak. Mengganggu ya?" Shasa melihat kehadirannya mengganggu Kevin yang sedang menelepon.

__ADS_1


"Eh, tidak apa-apa." Kevin bahkan memaklumi membuat pria paruh baya itu penasaran dengan wajah gadis itu. Masalahnya wajah gadis itu tidak tersorot kamera.


Shasa kemudian berpindah ke sisi lain tempat tidur Abra untuk melihat makan siang pria itu yang baru dilihatnya. "Ini Kak, kok gak di makan?"


"Nanti saja aku mau tidur."


"Tapi kenapa tadi menelepon?"


"Itu Ayahku."


"Oh." Shasa duduk di tepian tempat tidur dan mengeluarkan makanannya. Ia membeli lasagna dalam wadah alumunium dan memberinya sedikit sambal sachet. Ia memakannya.


"Kelihatannya enak, " lirik Abra.


"Iya, enak. Mau?"


Abra membuka mulutnya.


"Jangan pakai sendokku, sendok makan kamu saja ya?" Shasa mengambil sendok dari makanan Abra di atas meja nakas.


Di tempat lain, "ada seorang wanita ya?" tanya pria paruh baya itu pada Kevin.


"Oh, itu teman Abra," sahut Kevin singkat.


Wanita yang mampu mengalihkan perhatian kedua anakku? Wanita macam apa yang bisa melakukan? Cantikkah? "Mana coba Ayah mau lihat."


Kevin menyorot Shasa yang sedang menyuapi Abra.


Gadis itukah? Masih sangat muda.


"Itu Yah." Kevin kembali menyorot dirinya.


"Masih terlihat anak-anak. Mereka kenalan di mana?"


"Oh, memang badannya kecil, juga wajahnya tapi ia teman kerja dari pihak iklan. Kabarnya dia baru lulus SMA dan baru bekerja di sana."


"Ok." Kevin mematikan HP-nya. Dilihatnya Shasa sibuk makan sambil sesekali menyuapi Abra dan kembali ia harus iri melihat adiknya bersama gadis itu sibuk makan berdua dengan kebisingan yang mereka ciptakan bersama.


"Kak, Kakak makan makanan Kakak, jangan minta makananku Kak," keluh Shasa dongkol. Abra hanya makan sedikit makanan rumah sakit, tapi meminta banyak makanannya.


"Habis kelihatan lebih enak."


"Tapi tadi aku coba, makanan kakak juga enak kok!"


"Ya aku kan gak sakit, aku kecelakaan," ucap Abra setengah tersenyum.


"Mmmmmh ...." Mata gadis itu menyipit miring dengan mulut mengerucut.


"Kan belinya juga pake uangku."


"Iya, iya ... kita tukeran saja." Shasa mengalah dengan menukar kotak makanannya.


"Lagipula, aku bisa menyendok makanan sendiri kalau makan lasagna. Kalau makanan dari rumah sakit susah. Ada ayam, sayur, nasi ...."


"Iya, iya. Sudah, makan sendiri saja." Shasa meletakkan lasagna itu di pangkuan pria itu sedang dirinya mulai makan makanan rumah sakit.


Abra mencoba makan sendiri. Agak sulit memang, makan dengan satu tangan karena makanan itu diletakkan di pangkuannya yang letaknya tidak rata. Pria itupun menggenggam sendok dengan cara yang aneh karena ia hanya bisa menyendok tanpa bisa memegangi wadahnya.


Shasa berusaha tidak peduli dan mengunyah makanannya tapi melihat serpihan makanan Abra jatuh ke kemeja pria itu, gadis itu terpaksa turun tangan. "Ih, Kakak ... makannya berantakan!"


"Mana?" Abra baru menyadarinya. "Iya, sedikit."


Shasa mengambil tisu dan membersihkan serpihan makanan dan noda pada pakaian pria itu. "Ya sudah, sini aku suapin aja."


"Nggak, ngak aku bisa sendiri." Abra menolak dan ingin mengambil sendoknya lagi tapi Shasa telah mengambilnya lebih dulu.


"Ngak, nanti kotor bajunya ...."


"Tapi kan gak ikhlas." Abra tersenyum nakal.

__ADS_1


"Ikhlas kok."


"Bener?"


"Bener!" Gadis itu berusaha meyakinkan.


Abra tersenyum senang. Ia kembali mengunyah dengan hati gembira.


Kevin hanya bisa makan sendirian, merasa tak terlihat keberadaannya. Ia harus maklum, Abra sekarang adalah pasien, jadi ia harus bersyukur keberadaan Shasa meringankan bebannya di sana, walaupun sebenarnya hatinya berteriak tidak. Ia bangkit, "eh, aku ke kantin dulu ya, aku mau ngopi," ujarnya sambil membawa makan siangnya.


Shasa segera berdiri. "Mau aku beliin Kak?"


"Eh, gak usah. Aku mau telepon kantor juga," ucap pria itu berusaha menghindari.


"Oh, iya Kak." Shasa menundukkan kepalanya pada Kevin dan kembali menyuapi Abra.


Kevin keluar dengan menghela napas.


Sejam kemudian, Bima datang bersama Vera. Mereka membawakan keranjang buah untuk Abra. Abra yang yang sudah hampir tertidur terpaksa menyambutnya karena Shasa pergi ke mushola untuk sholat Zuhur. "Oh, terima kasih Pak, sudah mau mengunjungi saya di sini."


"Tidak apa-apa, maaf saya hanya bisa bawa ini."


Vera meletakkan keranjang buah di atas meja nakas.


"Mengunjungi saya, sudah lebih dari cukup Pak," ucap Abra senang.


"O ya, Shasa ke mana ya?" Bima menggosok-gosok telapak tangannya sambil mengedarkan pandangan mencari gadis itu.


"Oh, sedang ke mushola, tadi dia pamit." Abra merapikan selimutnya.


Kemudian mereka mengobrol sebentar.


Tak lama Shasa datang. "Oh, Pak. Maaf, aku habis dari mushola." Gadis itu mendekat.


"Iya, begini. Pengambilan foto akan terpaksa kami tunda menunggu kondisi Pak Abra kembali pulih," terang Bima.


"Tapi rasanya dalam beberapa hari lagi saya sudah diperbolehkan pulang Pak, dan rasanya untuk pemotretan tidak ada masalah bila dilakukan setelah itu," Abra meyakinkan.


"Benarkah?" Bima menoleh pada Shasa.


Gadis itu mengangkat bahu.


"Pak, pemotretan itu bisa dilakukan pada objek yang tidak bergerak jadi mereka bisa mengambil gambar aku dan Shasa sehingga iklan posternya bisa keluar duluan. Kalau menunggu aku sembuh itu lama, bisa sekitar sebulan Pak. Nanti klien Bapak rugi di waktu," terang Abra.


"Tapi aku tidak bisa memaksa Pak Abra kalau tidak mampu karena berbahaya." Bima memberitahukan faktor resiko karena tidak ingin gegabah.


"Rasanya aman. Nanti akan aku tanyakan ke dokter karena temanku dulu pernah model fotonya kecelakaan tapi masih sanggup melakukan pengambilan foto setelah modelnya keluar dari rumah sakit asalkan nanti posisi pengambilan fotonya gak sulit buat modelnya. Gimana?"


Bima mengangguk-angguk. "Kita lihat saja nanti."


Tepat saat itu, Kevin datang dan ia terkejut bertemu dengan Bima. "Bima? Oh, Bima yang ini. Aku pikir Bima yang mana." Dia hampir tertawa.


"Kevin?" Wajah Bima terlihat tegang seketika.


Abra dan Shasa terlihat kebingungan.


"Kalian saling kenal?" tanya Abra heran.


"Tentu saja. Anak orang kaya yang berasal dari kampung yang berusaha jadi orang kota. Itulah dia Bima Arsetya Rahim di SMA dulu, iya kan? Semua orang kenal padanya!" ucap Kevin dengan nada mengejek. "Aksen Jawanya yang mendok itu yang membuat ia terkenal di sekolah dulu." Ia hampir tertawa.


"Tapi gaya bicaraku tidak seperti dulu lagi Kevin!" Bima menatap tajam pria itu. Mulutnya sedikit merengut menahan kesal.


Kevin bertepuk tangan di dalam ruangan yang terasa dingin oleh ketegangan. Abra dan Shasa hanya mampu menonton.


"Kau benar. Kau hebat, tapi apa kamu bisa jadi orang kota, mmh? Itu PERTANYAAN BESAR!" Kevin semakin menjadi-jadi.


"Eh, cukup Kak, ini terlalu eh ... berlebihan. Dia pacar Shasa, pemilik perusahaan periklanan itu. Tolong hormatilah." Abra merasa kasihan pada Shasa dan Bima, mengingat tingkah kakaknya yang berlebihan. Kevin memang tipe orang yang sering membenci sesuatu tanpa sebab dan untungnya ia mau mendengarkan Abra demi Shasa.


Kevin mengepalkan tangannya menahan amarah. Kenapa Shasa bisa punya pacar Bima? Aku membencinya karena ia hanyalah orang kaya yang kampungan yang berusaha jadi orang kota dan sekarang, ia pacar Shasa. Huh, kau hanya sementara untuknya karena aku akan mengambil apa yang harusnya menjadi milikku. Lihat saja nanti!

__ADS_1


__ADS_2