Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Makan Siang Yang Ricuh


__ADS_3

Gadis itu menerima kartu itu dengan masih tersenyum, malu-malu karena ditonton orang banyak. Pipinya kemerahan.


Wow, gadis ini ... Chef itu terpesona melihat cara gadis itu tersenyum malu-malu padanya.


Sha, wah ... Jangan beri senyum seperti itu kepada sembarang pria, nanti bisa salah paham ... Abra mengerut kening. Duh, apa ini bagian dari skenario promosi? Katakan iya agar aku tidak sekhawatir ini. Pria itu mengusap keningnya yang berkeringat karena hawa panas dari kompor.


Tiba-tiba Shasa datang dengan tisu di tangan. Ia mengusap bulir-bulir keringat di wajah suaminya yang kepanasan, dengan penuh perhatian.


Kembali penonton riuh melihat adegan mesra itu. Bahkan ada yang bersuit-suit meramaikan kehebohan penonton.


Pria itu melongo tapi hatinya lega. Ia tidak menyangka gadis itu masih memperhatikannya walaupun seharian ngambek tak mau bicara.


"Eh, lihat masakannya, jangan sampai gosong!" Chef itu memperingatkan membuat Abra segera tersadar dan kembali mengaduknya.


"Udah matang kayaknya Chef." Abra memberi tahu. Chef Alfian segera mengambil alih penggorengan dengan mematikan kompor dan menumpahkan isinya ke atas sebuah piring saji yang sudah diberi hiasan. Ia mempersilahkan Abra maupun Shasa mencoba.


Keduanya mengambil garpu dan mencobanya.


"Enak Chef," sahut Abra. Ia memperlihatkan jempolnya.


"Gimana Sha?" Chef itu menoleh pada Shasa.


"Mmh, enak."


Abra merasa diabaikan karena pria itu sama sekali tidak memperhatikan komentarnya bahkan matanya hanya tertuju pada Shasa.


Acara masak-masak pun selesai. Chef itu menutup acaranya. Tak lama, Shasa dan Abra di panggil lagi ke atas panggung untuk memberikan kado bagi anak-anak dan kelompok lomba masak yang menang lomba menggunakan bumbu masak instan yang diiklankan keduanya.


Chef itu juga mendapat kenang-kenangan dari Mal dan perusahaan produk iklan itu karena telah menggunakan produk mereka untuk demo memasaknya tadi. Dari pihak Mal diwakili oleh manager Mal dan dari produk bumbu dapur diwakili oleh Shasa. Mereka berdua memberikan kenang-kenangan berupa souvenir di atas panggung pada Chef Alfian. Setelah itu mereka foto bersama saat pemberian maupun setelahnya. Alfian bahkan meminta seorang wartawan yang mengambil foto mereka agar memotret sekali lagi dirinya dengan Shasa menggunakan HP-nya.


Abra tampak resah tapi tak lama. Ternyata ia dan Shasa sudah punya penggemar yang meminta foto bersama di tempat itu sehingga kembali Abra dan Shasa disandingkan foto bersama para penggemarnya.


"Ih, kalian cocok banget kalau jadi pasangan, kenapa gak jadian aja," ucap salah seorang gadis penggemar mereka berdua.


Abra hanya tertawa pelan. "Kamu bisa aja."


"Eh, beneran lho! Kalian serasi berdua. Ya kan?" Gadis itu bertanya pada temannya di sebelah.


"Kalo beneran jadian, wah keren." Gadis itu menyatukan tangannya dengan tatapan penuh harap.


Shasa dan Abra saling pandang dan tersenyum.


"Kalau jodoh, gak akan ke mana." Abra memberi jawaban yang mengambang.


Shasa tersenyum kecut.


Kemudian datang lagi rombongan yang hanya mengidolakan Abra. Mereka minta difoto hanya dengan pria itu. Shasa menahan kesal meninggalkan pria itu dengan penggemarnya. Ia melihat dari jarak yang agak jauh, suaminya berfoto-foto dengan para penggemarnya sementara ia harus menunggu dengan sabar karena penggemar pria itu banyak yang mengajak pria itu mengobrol bersama. Bahkan ada yang terang-terangan menggodanya.


Shasa merasa mangkel tapi tak bisa berbuat apa-apa.


"Sha!"


Gadis itu menoleh dan terkejut.

__ADS_1


Chef Alfian mendatanginya. "Kamu sudah makan siang?"


"Oh, nanti saja. Aku masih menunggu Mas Abra." Shasa sengaja menggunakan kata 'Mas' untuk menunjukkan kedekatannya pada Abra tapi tidak semua orang mengerti karena kata 'Mas' juga sering dipakai sebagai pengganti 'Bang' atau 'Kak' yang berarti sama.


"Bagaimana kalau makan siang denganku? Lagi pula sepertinya dia masih lama." Alfian menunjuk Abra dengan mulutnya.


Gadis itu kembali menatap Abra dengan penggemarnya yang sepertinya makin akrab hingga lupa akan keberadaan dirinya. Ia diliputi kecewa.


"Sudah, biarkan saja teman kerjamu itu. Dia kan sedang asyik dengan penggemarnya, mungkin saja mereka juga akan makan bersama. Sedang kamu, mungkin sebaiknya tidak usah ikut mereka karena kadang kalau mereka tidak mengidolakan kamu juga, kamu hanya jadi batu sandungan saja di sana. Mengganggu penglihatan mata mereka." Alfian melirik ke arah wajah Shasa yang masih memperhatikan Abra dari kejauhan. "Maaf, hubunganmu dengannya hanya rekan kerja kan?" Ia menyadari gadis itu menyukai Abra.


"Eh?" Gadis itu menoleh.


"Kita hanya makan di dalam Mal ini saja kok, tidak jauh. Di sana ada restoran seafood yang kelihatannya enak. Bagaimana kalau kita coba makan di sana?" Alfian menunjuk sebuah restoran yang tidak jauh dari situ. "Kita bisa beri tahu tim promosimu bahwa kita makan di sana agar mereka tak kesulitan mencari saat membutuhkanmu," bujuknya dengan sopan.


Shasa bimbang tapi kemudian ia memilih pergi dengan Alfian karena merasa apa yang dikatakan pria itu benar. Ia takut sakit hati menunggu Abra karena pada dasarnya suaminya bersikeras ingin menyembunyikan perkawinan mereka. Jadi tidak mungkin pria itu akan mengakuinya di depan para penggemar.


Mereka kemudian melapor pada anggota tim promosi sebelum pergi ke restoran yang dituju. Shasa nyaman bersama Alfian karena pria itu sangat sopan.


Mereka kemudian memilih meja dekat pintu masuk dan duduk di sana. Setelah melihat menu mereka memesan makanan. Meja diberi alas plastik dan mereka diberi celemek dari plastik juga. Lalu mereka mencuci tangan untuk persiapan makan.


"Kamu sudah pernah makan seperti ini?" tanya Alfian lirih pada gadis itu.


"Belum, tapi pernah lihat di TV. Kayaknya seru!" ucap Shasa bersemangat. Ya, daripada memikirkan suaminya yang tak kunjung mengerti keinginannya, lebih baik ia mencoba hal-hal baru yang menyenangkan hatinya seperti makan seafood dengan tangan ini. Pipinya kemerahan karena senang. Senyumnya kembali terukir indah.


Alfian untuk kesekian kalinya kembali terpesona melihat senyum gadis itu. Senyum dari mulut mungilnya itu.


Makanan kemudian dihidangkan dengan ditumpahkan ke atas meja. Melihat kuah saos yang berwarna merah yang meliputi hidangan itu begitu menggugah seleranya, Shasa mulai mengambil makanan yang diinginkannya.


Shasa menguliti udang dan mencobanya.


"Bagaimana?" tanya pria itu.


"Enak." Mata gadis itu begitu bercahaya saking senangnya.


Alfian semakin mengagumi gadis itu.


"Kok tidak makan?" Shasa memperhatikan Alfian yang terdiam memperhatikannya.


"Oh iya." Pria itu tersadar dan mulai makan. "Mmh ... saosnya kaya bumbu dan pas ini!"


"Iya kan?" Senyum gadis itu melebar.


"Ah, ini ada lobster. Kita makan berdua ya?" Pria itu mengupas kulit lobster. Ia membagi dua daging lobster itu dan menyodorkan pada mulut gadis itu.


"Mmh?"


"Makan saja."


Dengan malu-malu, gadis itu menggigit daging lobster yang disodorkan ke mulutnya.


"Enak?"


"Mmh ...." Gadis itu mengunyah dan mengangkat ibu jari.

__ADS_1


Pria itu senang dan meletakkan sisanya ke hadapan Shasa. Ia makan separuh lobster yang berada di hadapannya. "Kamu sudah lama jadi bintang iklan?"


"Mmh? Belum." Shasa masih mengunyah.


"Maaf ya, aku jarang nonton TV jadi tidak tahu. Eh, tapi acara TV-ku banyak." Pria itu tertawa.


Shasa tersenyum menanggapi.


"Eh, aku mau jagung itu dong!" Alfian menunjuk potongan jagung yang berada di dekat gadis itu.


Shasa memberikannya tapi pria itu menunjuk mulutnya. Ia minta disuapi. Karuan saja wajah gadis itu memerah.


Alfian merasa gadis itu enggan hingga akhirnya mengambilnya sendiri. "Ngak papa." Ketika gadis itu makan kerang kembali ia minta disuapi.


Gadis itu terlihat ragu tapi pria itu membuka mulut dan menunjuk ke arah mulutnya itu. Shasa telah mengeluarkan kerang itu dari cangkangnya sehingga saat gadis itu ragu, Alfian mencondongkan tubuh ke depan dan menggigitnya langsung dari tangan Shasa. Gadis itu terkejut.


"Apa yang telah kau lakukan?!! KAU BERANI MENGGODANYA, HAH!!!" Abra yang baru datang, terkejut melihat Alfian yang berusaha makan dari tangan istrinya. Darahnya mendidih. Kesabarannya sudah di ambang batas. Tanpa pikir panjang, ia segera melayangkan tinju pada wajah pria itu.


Bugh!!


Shasa syok. Suaminya mencengkram lengannya dengan kasar. "Ah!"


"Kamu!!" Wajah pria itu terlihat sangat menyeramkan. Dengan mata yang melotot dan napas yang memburu. Ia menatap istrinya dengan wajah merah karena marah, tapi saat ia melihat wajah istrinya yang ketakutan, amarahnya perlahan reda. Ia mulai sadar apa yang telah dilakukannya.


Seketika ia melihat sekeliling. Ada banyak orang di restoran itu menatap ke arahnya. Tentu saja, karena apa yang dilakukannya menarik perhatian, bukan saja karena restoran sedang ramai karena jam makan siang tapi juga yang membuat masalah adalah orang terkenal dan terjadinya pemukulan itu adalah di tempat umum di mana banyak orang bisa menjadi saksi akan kejadian itu.


Abra berpikir cepat. Alfian yang memegangi pipinya yang sedikit biru itu ingin bicara tapi ia kalah cepat ketika Abra segera membawa Shasa keluar dari tempat itu.


Abra berlarian membawa gadis itu keluar dari Mal. Gadis itu berusaha menyamai gerak langkah suaminya.


"Mas!" Gadis itu bingung karena tangannya masih berlumuran saos sambal sehingga ia tidak tahu harus berbuat apa. Pria itu sepertinya tidak menggubris omongannya.


Abra kalut. Ia belum pernah marah hingga di luar kendali seperti itu tapi saat ia melihat istrinya bermesraan dengan pria lain spontan ia marah. Apalagi sejak tadi ia perhatikan, pria itu mengacuhkannya demi memperhatikan istrinya.


Ia tadi sempat panik melihat Shasa menghilang dari tempat gadis itu menunggunya, padahal saat itu ia berusaha menghindar sebisa mungkin dari penggemarnya demi kembali pada istrinya tapi gadis itu malah menghilang. Untung ia bertanya pada tim promosi yang menunjuk restoran itu sebagai tempat istrinya pergi dengan Alfian. Ia terkejut melihat kemesraan Shasa dan pria itu di depan mata tapi kini ia menyadari istrinya tidak bersalah. Pria itulah yang dengan berani makan dari tangan istrinya bukan Shasa yang mencoba menyuapinya.


Abra menyetop taksi yang kebetulan lewat. Ia memasukkan istrinya terlebih dahulu, kemudian disusul dirinya. Ia menyebutkan nama hotel tempat mereka menginap pada sopir taksi.


Ketika mobil bergerak ia melihat istrinya yang syok mematung di sampingnya dengan tangan masih terangkat karena berlumuran saos. Pria itu kemudian meminta tisu pada sopir taksi untuk membersihkan tangan istrinya.


Perlahan, dibersihkannya tangan dan jemari Shasa yang merah karena saos sambal. Gadis itu tak berani menoleh pada suaminya mengingat ia melihat wajah suaminya tadi yang sangat menakutkan ketika marah.


Abra membersihkan tangan gadis itu dengan teliti walaupun itu membutuhkan banyak tisu. Ia membuang tisu itu ke bawah.


Di tatapannya wajah gadis itu yang netranya mulai berkaca-kaca. Ia seperti takut menatap suaminya hingga menatap lurus ke depan.


Abra pun bingung karena ia telah membuat kekacauan. Kekacauan yang membuat posisinya makin di ujung tanduk ... dan istrinya ketakutan. Didekapnya pelan gadis itu dalam tunduk. Ia tak tahu bagaimana caranya meminta maaf.


____________________________________________


Ada rekomendasi novel lagi nih, cekidot ....


__ADS_1


__ADS_2