Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Memulai Dari Nol


__ADS_3

"Apa sih?"


"Kakiku Rika, kakiku. Aku bisa merasakan sakit saat kau cubit."


"Apa?" Gadis itu baru menyadarinya. "Eh ... jadi aku harus bagaimana?" jawabnya gugup.


"Tolong tekan bel di dinding itu. Bilang, pasien kakinya sakit."


Rika menurut. Tak lama dokter datang beserta suster untuk memeriksa. "Nanti kami coba datangkan ahli terapis dulu untuk memastikan kemungkinannya."


Rika dan Bima saling pandang. Rika terlihat antusias dan Bima terlihat sangat senang, akhirnya kesempatan untuk sembuh terbentang di depan mata. keduanya berpegang erat menunggu dengan harap.


---------+++----------


Esoknya Shasa, Abra dan Alfian kembali meramaikan acara di Mal itu, tapi kali ini Mal penuh sesak karena berita viral itu membuat bukan saja Abra, Shasa dan Alfian makin terkenal tapi acara yang akan di gelar 3 hari di Mal itu juga menjadi perhatian publik. Pihak Mal sangat senang karena dengan keberadaan mereka, pengunjung di Mal itu meningkatkan tajam, bahkan mereka harus menempatkan sekuriti di beberapa tempat demi mengantisipasi keamanan dan kenyamanan di dalam Mal.


Alfian kembali melakukan demo masak dengan bintang tamu, Shasa dan Abra. Keduanya membantu memasak dan mencicipi masakan Chef itu.


Kali ini pria itu memasak bahan makanan yang berbeda dan mereka terlihat semakin kompak saja bertiga.


Apalagi Abra yang kini dengan bebasnya bisa memanggil Shasa dengan sebutan 'Sayang'. Penggemar Abra dan Shasa juga semakin banyak. Bukan saja dari kalangan anak muda tapi juga dari kalangan ibu rumah tangga yang kini mengidolakan mereka karena dianggap sebagai pasangan yang serasi di layar TV.


"Mmh, enak Chef." Shasa mengangkat ibu jarinya sedang Abra hanya mengangkat ibu jari tanpa berkomentar.


Chef Alfian tersenyum. Tak lama ia menutup acara masak-memasaknya.


Abra seperti menikmati hari-hari bebas dari penjara karena ia bisa berkeliaran di sekitar tempat acara sambil menggandeng istrinya. Tentu saja pengunjung banyak yang menjadikan mereka tontonan tapi pria itu tidak peduli. Ia bahkan meminta istrinya untuk belanja di sana.


"Sepreinya bagus Sayang. Kamu gak mau beli buat kamar kita?"


"Mmh?" Shasa pun mencoba memperhatikan. Ia menikmati perhatian suaminya padanya. Banyak penggemarnya yang hanya berani melihat dari jauh dan mengambil foto mereka.


Shasa sebenarnya sedikit risih melihat banyak orang menonton mereka berdua tapi melihat suaminya yang tak peduli, ia mencoba membiasakan diri.


"Ini Mbak, kalau ambil dua, yang satu gratis Mbak," jawab penjualnya. Tentu saja penjualnya adalah pemiliknya karena gadis itu sedang berbelanja di sebuah stan di sana.


"Tapi, ini kan tidak ada tulisan diskonnya di sini?" Shasa mencari-cari tulisan diskon di tempat itu.


"Memang tidak ada tapi khusus untuk Mbak Shanum aku kasih diskon tapi ... minta foto bareng kalian berdua boleh ya?"


"Oh ...." Gadis itu tersenyum dan melirik suaminya. "Boleh."


Abra dan Shasa sangat menikmati hari-harinya menjadi Brand Ambassador ini, karena mereka harus berkeliling ke beberapa kota di Indonesia. Terkadang, karena mulai akrab dengan Alfian, Abra sering menitipkan istrinya pada pria itu saat penggemar Abra datang minta foto bersama.


"Aku mau minum teh di kafe itu, kamu mau ikut?" ajak Alfian pada Shasa.


"Oh, boleh."


Mereka kemudian memperhatikan Abra dengan penggemarnya dari kafe itu karena jaraknya yang tak begitu jauh, dan kafe itu terbuka di bagian depan sehingga mereka bisa leluasa menatap ke arah panggung tempat Abra dan penggemarnya foto bersama.

__ADS_1


"Kau bahagia dengannya?" tanya Alfian lirih sambil melirik Shasa di sampingnya.


"Mmh, iya," ujar gadis itu seraya tersenyum dan menyeruput teh dari cangkir yang dipegangnya.


Keduanya melirik ke arah panggung. Tak lama Abra menyudahi foto bersama penggemarnya dan mendatangi kafe tempat Shasa dan Alfian berada. Tentu saja mudah ia mengetahuinya karena terlihat jelas dari arah panggung tempat kafe terbuka itu dan ia bisa melihat Alfian sedang bersama istrinya di sana.


"Ah, asyik nih ... Aku mau dong! Kopi."


Shasa memesankan untuk suaminya, dan mereka kemudian mengobrol bersama.


------------+++-------------


Karen menatap Kevin yang terbaring di tempat tidur dengan wajah cemas. Ia menggenggam tangan anaknya dalam diam. Sudah hampir sebulan tidak ada perubahan pada tubuh Kevin. Ia kini tak tahu harus berharap pada siapa.


Pintu tiba-tiba terbuka, dan Erik masuk. Melihat istrinya ada di ruangan, ia segera datang mendekat. "Abra mungkin dalam beberapa hari ini akan pulang. Posisinya sebagai CEO telah aku ganti karena sulit untuknya bekerja di posisi itu sekarang. Ia mungkin masih akan sering berpergian keluar kota dalam setahun ini. Aku sudah mendapatkan CEO yang baru tapi aku juga sedang memikirkan keadaan Kevin."


Ia menatap istrinya lekat. "Aku sudah konsultasi ke dokter mengenai keadaan Kevin dan katanya sulit. Kita hanya menunggu ia siuman dan itu kita tidak tahu kapan. Ini sudah sebulan. Mungkin 2 bulan, setahun, 2 tahun ... dan aku memutuskan untuk sementara waktu, Abra menggantikan posisi Kevin di stasiun TV Indo."


"Apa??!" Karen menatap nanar suaminya. Yang ditakutkannya kini terjadi. Abra akan mengambil alih perusahaan TV itu, dan anaknya Kevin tidak akan mendapat apa-apa.


"Bahkan bila Kevin bangun sekali pun, ia butuh perawatan dalam jangka waktu yang panjang Bu, ia tidak bisa langsung bekerja." Erik berusaha membuat istrinya mengerti kenapa ia memutuskan demikian.


"Apa?!! Apa katamu?!!" Karen berdiri dengan wajah penuh kebencian pada suaminya. "Kau kembali memenangkannya?! Memenangkan ANAK BRENGSEK itu?!! Kau keterlaluan Yah, kau benar-benar keterlaluan!! Lantas bagaimana dengan nasib anakku Kevin, hah? Bagaimana denganya, BAGAIMANA DENGANNYA!!" Karen mengambil barang-barang yang ada di dekatnya dan melemparkan pada suaminya. Botol minuman, kotak tisu, bahkan tasnya pada pria itu.


"Karen!!!" Erik mencoba menghindar tapi kemudian ia menyerah dengan pergi dari ruangan itu. Tak ada untungnya kalau istrinya sedang marah dan ia bertahan di situ.


Karen yang dipenuhi amarah kemudian menangis lemas setelah melihat kepergian suaminya. Ia tak berdaya dan jatuh terduduk di atas tempat tidur putranya seraya menatap pria itu dan kembali menggenggam tangannya. "Kevin bangunlah Nak ... jangan buat Ibu menunggu lama," isaknya. "Ibu akan melakukan apapun untukmu, Ibu janji tapi cepatlah kau bangun, sebelum semuanya terlambat. Jangan sampai Abra mengambil posisimu setelah ia mengambil wanita pujaanmu. Bangunlah Kevin, bangun ... Ibu akan membantumu merebut kembali posisimu dan juga wanita itu. Ibu janji Nak, ibu janji." Wanita itu menggenggam tangan anaknya erat dengan linangan air mata. Ia berharap keajaiban datang, secepat angin yang berlalu.


Abra terbangun tengah malam. Istrinya yang biasanya berada dalam pelukan kini tak ada di tempatnya. Ia meraba-raba dan kemudian terduduk. Dilihatnya gadis itu sedang duduk di kursi dan menikmati minumannya pada cangkir dalam genggaman. "Sayang, kamu gak tidur?" Ia mengucek-ngucek matanya.


"Oh, Mas. Aku lagi menyusun isi koper. Ini lagi mengisi sebisa mungkin belanjaan kita ke dalam koper tapi belanjaan kita terlalu banyak, bagaimana ini?" Gadis itu menatap ke arah koper yang terbuka di depannya. Ia sedang beristirahat sambil minum teh dan memikirkan bagaimana cara membawa semua barang yang telah dibelinya.


"Itu tidak susah Sayang. Besok kita bisa minta pihak hotel untuk mengirimkan barang-barang itu lebih dulu ke apartemen sehingga kita tidak usah repot-repot membawanya pulang."


"Benarkah? Kok gak bilang-bilang sih, aku jadi ngak perlu bongkar belanjaanku seperti ini ...," rengek gadis itu kesal. Ia menatap barang belanjaannya yang telah ia bongkar dan berantakan di lantai.


Abra mendatangi dan merengkuh bahu istrinya dari belakang. "Kamu kan gak nanya Sayang, aku kan gak tau masalahmu."


"Mmh." Gadis itu menggantung tangannya pada lengan kokoh suaminya yang melingkar di depan leher. Ia menoleh ke samping menatap wajah suaminya. "Ya sudah, aku bereskan dulu."


"Tidak usah, besok pagi saja." Abra menggandeng istrinya ke tempat tidur. "Aku ingin tidur tapi tak bisa nyenyak kalau gak ada kamu."


Gadis itu tersenyum dikulum. Mereka menyusup ke dalam selimut dan berbaring dengan saling berhadapan. "Aku tidak bisa tidur tanpamu, satu-satunya keluarga yang bisa aku miliki. Aku punya ayah pun tak bisa selalu bersama. Ia milik ibu tiriku. Makanya, janji padaku ya, jangan pernah tinggalkan aku. Sesusah apapun hidup kita nanti aku akan carikan jalan untuk memenuhi permintaanmu." Abra mengambil satu tangan istrinya dan menggenggam jemarinya.


Shasa mengambil tangan itu dan meletakkannya di depan dada. "Apapun yang terjadi, kita harus mengusahakannya bersama. Bukankah suami istri seharusnya begitu? Mas, tidak akan bisa melakukannya sendirian. Iya kan?"


Abra terkejut tapi kemudian tersenyum lebar. "Istri cerdasku ...." Abra meraih tubuh istrinya dan mencium keningnya. "Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu karena hanya kamu yang bisa membuatku merasa kuat jadi diri sendiri."


"Mudah-mudahan kita telah menemukan pasangan surga kita ya Mas?"

__ADS_1


"Amin." Abra mendekap tubuh ramping istrinya itu dan mulai merapikan selimut. Tak lama mereka berdua tertidur.


------------+++-----------


Raven melihat Abra masuk dan menemani istrinya ke dalam kamar kos-kosannya. Ia pun ikut masuk ke dalamnya. "Wah, jadi nih pindah?"


"Oh, Raven. Terima kasih ya, sudah bayarin kos-kosan istriku kemarin. Mau dibayar sekarang atau—"


"Ah, tidak usah. Dia sudah kuanggap adik sendiri, bahkan Ayahku sangat senang mendengar kalian sudah menikah. Kapan-kapan Ayah ingin bertemu dengan kalian," potong Raven senang.


"Oh, ya. Silahkan saja. Aku akan menyediakan waktu untuk bertemu Beliau."


Shasa masih sibuk membongkar barang-barangnya.


"Eh, apa ada apartemen yang kosong di lantai kalian, aku ingin bertetangga dengan kalian, boleh kan?" tanya pemuda itu dengan mimik serius.


"Sepertinya ada yang pindah keluar di lantaiku, tapi nanti kucek dulu masih ada atau tidak apartemen itu karena aku lihat itu sebulan yang lalu."


"Tolong ya? Aku ingin sekali bertetangga dengan kalian."


"Aku juga senang kalau bisa bertetangga denganmu karena aku bisa menitipkan Shasa padamu."


"Tapi bukannya Shasa kerja?"


"Dia sudah mengundurkan diri dari kantor kakakku."


"Oh, berarti kita sepakat ya?" Raven menyodorkan tangannya pada pria itu dan Abra menyambutnya.


"Semoga ...."


"Semoga."


Shasa hanya melihat sekilas pada keduanya. Ia kemudian kembali menyibukkan diri dengan merapikan barang-barangnya.


----------+++-----------


Pintu diketuk dan kemudian Abra masuk. "Ayah, apa kabar?" Ia menyambangi meja kerja ayahnya.


Pria paruh baya itu terkejut, langsung berdiri dan memeluk anaknya. "Bagaimana bulan madumu?" Pria itu melepas pelukan sambil menepuk bahu anaknya.


"Bulan madu? Ayah, ada-ada saja."


"Lho, bukankah itu bulan madu? Yang kau lakukan hanya mempromosikan produk dan jalan-jalan keliling Indonesia."


"Ahh ... kalau itu bisa dibilang begitu sih ...." Pria itu tersenyum senang. "Maaf ya Yah, sekali lagi aku minta maaf, tidak bisa memenuhi permintaan Ayah untuk merahasiakan perkawinanku dengan Shasa."


____________________________________________


coba intip karya yang satu ini. Ok lho!

__ADS_1



__ADS_2