Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Hamil


__ADS_3

"Eh, maksudku dokter kandungan ...."


Tangan Abra seketika berhenti mengguncang tubuh wanita itu. "Apa?"


"Eh ... itu maksudku." Dokter itu merapikan kerah bajunya.


"Apa dia ...."


"Hamil. Istri anda hamil. Seharusnya saat baru menikah dulu, istri anda diperiksa kesehatan kandungannya, tapi alhamdulillah sepertinya istri dan calon bayi anda kelihatannya sehat."


Abra melongo, tapi kemudian segera tersungging senyum di bibirnya. "Terima kasih dok, terima kasih!" Ia menyalami dokter itu sambil menundukkan kepalanya berulang kali. Ia benar-benar salah tingkah. "Eh, maaf yang tadi ...." Ia mencoba merapikan kerah baju dokter wanita itu yang wajahnya tanpa ekspresi.


Dokter itu sedikit merengut dan bergerak menjauh. Ia tak suka disentuh Abra seperti itu. Wanita itu kemudian merapikan letak kacamatanya dan berdehem.


"Ma-maaf. Aku tak bermaksud ... A-aku punya pengalaman buruk dengan ... eh maaf." Tak ada gunanya membuat alasan. Pria itu merasa telah menyakiti perasaan dokter itu.


"Tidak apa-apa." Di luar dugaan, dokter itu memaafkannya. "Semua orang pasti pernah punya pengalaman buruk dengan rumah sakit tapi kali ini, ini adalah berita gembira untuk anda," ucapnya sambil membetulkan kembali letak kacamatanya. Sepertinya, setiap dokter itu membuat keputusan baru, ia membetulkan letak kacamatanya.


Abra menganggukkan kepala dengan wajah segan.


"Tapi ada satu kendala."


"Apa dok?" Abra segera mencondongkan tubuhnya ke depan, penasaran.


"Kemungkinan bayinya kembar."


"Apa?" Pria itu tersenyum lebar. "Wah, langsung sekaligus ... eh tapi kenapa menjadi kendala?" Wajah berubah heran.


"Karena ibunya susah makan padahal yang dibutuhkan nutrisi 2 kali lipat dari yang biasa."


"Oh, i-iya benar. Benar sekali dok. Makan untuk tiga orang, iya kan? Eh, benar begitu kan?"


"Eh, sebaiknya ibunya diperiksa oleh dokter kandungan. Sebentar ya?"


Tak lama Shasa dipindah ke ruangan lain. Abra tersenyum bahagia sambil terus menggenggam tangan istrinya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. "Sayang, kita akan punya bayi. Bayi kembar."


"Bayi?" Shasa terlihat panik. "Tapi bagaimana dengan kuliahku? Roadshownya?"


"Jangan khawatirkan itu, pikirkan kesehatanmu."


"Tapi—"


"Maaf Pak. Bapak tolong ketemu dokternya dulu," ujar seorang suster.


"Oh iya, baik." Abra kemudian menemui dokter kandungan.


Selagi menunggu pria itu bicara dengan dokter, suster menyiapkan layar monitor dan mulai memberi jel di perut Shasa. Suster itu memberikan sebuah alat di perut gadis itu yang dijalankan di sekitar perut yang telah diberi jel tadi.


"Maaf Bu, ini gambar bayinya," ujar suster itu membuat gadis itu menatap ke layar monitor.


Sebuah gambar hitam putih terpampang jelas di depan mata.


Suster itu menunjuk ke sesuatu di tengah. "Ini Bu bayinya."


Shasa melihatnya dengan haru. Ada mahluk bernyawa hadir di situ. Ia tidak sendirian, ada satu lagi yang menemaninya di sana. Ya, bayi kembar dua.


Abra dan dokter datang bergabung kemudian. Kembali dokter itu menunjukkan ke arah yang sama. "Kembar dua Pak tapi jenis kelaminnya masih belum tahu."


Kembali pria itu menggenggam tangan istrinya. Ia terlihat sangat bahagia.


------------+++-----------


"Kamu mau apa Sayang, bilang nanti aku beliin."


Shasa menggeleng lemah.


Abra terdiam. Ia berusaha mencari akal agar istrinya mau makan. "Kita jalan-jalan yuk!"


"Ke mana? Aku kan lagi gak enak badan." Shasa merapatkan baju dinginnya dan merapikan duduknya di kursi. Wajah pucatnya menatap suaminya yang duduk di depan stir.


"Kita ke taman kota."


"Aku kan sedang tak enak badan."


"Kita duduk di kursi taman di sana. Udaranya segar lho!"


Gadis itu berpikir sebentar. "Enggak ah!"


"Eh, udara segar bagus untukmu. Sebentar saja Sayang. Sebentaaar ... saja." Abra menyentuh lengan istrinya.

__ADS_1


"Tapi badanku terlalu lemah untuk turun. Aku hanya ingin berbaring."


"Ya nanti di dalam mobil saja."


Gadis itu hanya diam. Abra kemudian menjalankan mobilnya. Dua puluh menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Namun anehnya Abra turun dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Tadi kan aku bilang, aku gak mau turun," rajuk Shasa kesal. Matanya masih sayu terlihat.


"Aku gendong belakang tapi kamu turun dulu."


Ini kan tidak sesuai perjanjian, omelnya dalam hati tapi gadis itu akhirnya turun juga. Setelah menutup pintu Abra berjongkok di depan istrinya. "Ayok!"


Shasa naik dan Abra berdiri menggendongnya. Mereka memasuki taman kota itu dan berjalan berkeliling.


"Kalau capek bersandar aja ya?" ujar pria itu bersemangat.


Gadis itu menurut. Ia menyandarkan tubuh dan kepala pada punggung pria itu sambil memeluk lehernya.


Taman masih cukup sepi karena saat itu adalah hari kerja dan hanya orang-orang yang tidak pergi kerja saja yang bisa pergi ke taman itu.


Setelah 2 kali mengitari taman kota dalam diam, pria itu mulai bicara. "Apa kamu masih mual Sayang?"


"Sedikit."


"Apa kamu lapar?"


Gadis itu hanya diam. Abra tak bisa melihat wajahnya karena gadis itu digendong di belakang. Ia harus bertanya agar tahu keadaannya. "Kamu ingin makan apa Sayang?"


Kembali Shasa tanpa suara. Pria itu tak kehilangan akal. Ia melangkah keluar taman dan mendatangi beberapa penjual di pinggir jalan.


Ia tahu aksinya banyak diperhatikan orang-orang di sekelilingnya tapi ia tak peduli. Ia hanya memikirkan kesehatan istrinya. "Itu ada ayam bakar mau?"


Gadis itu masih diam.


"Eh, ada roti bakar ...."


Shasa mengangkat kepalanya. "Mana?"


Abra mengarahkan kepalanya. "Itu."


"Tapi itu pakai selai coklat sama keju. Aku gak mau." Kembali gadis itu merebahkan kepalanya.


"Eh, kita kan bisa minta sesuai selera."


"Bisa. Kamu mau?"


"Mmh ...."


Abra mendatangi warung roti bakar itu. Ia menurunkan istrinya di dekat sebuah kursi panjang dari kayu. Mereka kemudian duduk di sana. Saat itu masih sepi dan udara tidak terlalu panas.


"Boleh pesan roti bakar gak, tapi hanya pakai mentega, " tanya Abra pada pria di depannya.


Penjual itu yang sedari tadi memperhatikan Abra menggendong istri di punggung, segera tersadar. "Isi mentega? Gak pakai gula?"


Abra menoleh pada istrinya yang langsung menggeleng. "Ngak Bang."


Sambil menunggu, Abra menawarkan yang lain. "Kamu mau apa lagi? Minum susu? Teh hangat, atau jeruk hangat?" Pelan-pelan ia menawarkan makanan pada istrinya. Pada akhirnya Shasa makan roti bakar dengan teh manis hangat sedang pria itu makan bubur ayam juga dengan teh manis hangat. Selagi gadis itu makan roti, ia menawarkan bubur pada istrinya. "Ini enak lho Sha, cobain deh!"


Gadis itu menerima suapan dari sendok suaminya.


"Gimana?"


Gadis itu mengangguk pelan.


"Lagi ya?" Abra kembali menyuap ketika istrinya telah menyelesaikan kunyahannya.


"Tapi rotiku ...."


"Nanti kita bawa pulang."


Gadis itu menurut. Suap demi suap ia makan hingga tak terasa ia telah menghabiskan separuh dari mangkuk itu, tapi kemudian ia teringat suaminya belum makan dari pagi. Pria itu sejak melihat ia muntah, segera membawanya ke rumah sakit.


"Mas belum sarapan kan?"


"Nanti saja setelah kamu makan," jawab pria itu pelan.


"Mas makan ah! Masa aku aja?"


"Iya, tapi kamu habisin ini."

__ADS_1


"Ngak mau, udah kenyang."


"Beneran?"


"Iya. Nanti kalau aku makan lagi aku bisa muntah."


"Ya udah, aku makan." Abra mulai menghabiskan sisa makanan istrinya.


"Mas, kamu gak ke kantor?"


"Lihat kondisi kamu dulu ya?"


"Aku udah gak papa kok."


"Iya nanti." Abra kembali menyuap buburnya.


Shasa menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya dan memeluk lengan kekar itu.


"Kamu ngantuk?"


"Mmh."


"Sebentar Mas makan dulu ya?"


Gadis itu mengangkat lagi kepala dan memperhatikan suaminya menyelesaikan buburnya.


"Mas gak nambah?" Ia menyadari pria itu makan sedikit sekali padahal ia sudah mengitari taman dua kali sambil menggendong dirinya.


"Tapi kamu mau nunggu?"


Gadis itu mengangguk. Ia terkejut saat Abra memesan lagi 1 mangkuk bubur dan 1 piring roti bakar coklat dan kemudian memakannya sendirian. Ia tersenyum sambil menunggui suaminya makan.


Sekembalinya ke apartemen, Shasa kembali muntah. Gadis itu keluar dari kamar mandi seraya mengusap mulutnya. "Mas ...."


"Ngak papa, kamu istirahat saja dulu di tempat tidur ya?" Abra kemudian menarikkan selimut ke tubuh istrinya saat gadis itu naik ke atas tempat tidur dan menemaninya berbaring miring dengan menyanggah kepala menghadapnya.


"Aku jadi menyusahkanmu," sesal gadis itu.


"Dulu kamu kan merawatku, sekarang gantian aku yang melakukannya untukmu."


"Tapi kamu tidak selemah ini."


Abra menepikan rambut Shasa di dahi.


"Kalau begini terus aku bisa gak kuliah."


"Iya."


"Gak bisa roadshow."


"Iya."


Gadis itu mendongak menatap suaminya yang berada di atasnya. "Kamu ngak bingung?"


"Aku bingung kalau kamu sakit atau kamu keguguran. Selebihnya itu bisa kita kompromikan. Misalnya, kuliah. Kamu libur sakit dulu, barangkali beberapa hari lagi kamu sudah sehat. Mengenai roadshow juga sama. Gak perlu khawatir berlebihan."


"Tapi bagaimana kalau lama? Kan aku hamil."


"Ya masuk rumah sakit Sayang." Abra merapikan rambut gadis itu ke samping.


"Bukan itu ... ih! Ngak ngerti ya?" Gadis itu menatap tubuhnya ke bawah. "Bayi ini datang tak tepat waktu."


"Shasa!" Abra terlihat marah. "Tidak ada mahluk Tuhan yang datang terlambat atau terlalu cepat melainkan karena ia sudah ditakdirkan untuk melewatinya. Tinggal kita memaknainya dengan bijak." Ia menggenggam tangan istrinya lembut.


"Ada takdir yang mesti kita jalani. Jangan jadikan itu beban. Apa kamu tidak menginginkan seorang bayi? Aku memang sangat menginginkannya terlepas dari segala kesibukanku. Kalau aku ingin egois, tentu saja aku ingin berkarier tapi bagiku keluarga lebih utama. Aku ingin menatap masa depan dengan apapun yang diberikan Tuhan pada kita. Terkenal, kaya, rumah mewah, dan jabatan tinggi itu semua bisa meninggalkan kita suatu saat nanti, tapi kau dan anak-anakku ... kalian tidak akan meninggalkanku kan?"


Shasa terharu mendengar penuturan suaminya. Ia menarik tangan pria itu dan menciumnya. Matanya berkaca-kaca. "Tentu saja tidak Mas, aku mencintaimu."


Abra bahagia. Untuk pertama kali istrinya menyatakan cinta padanya. Dikecupnya kening gadis itu lembut. Cinta mereka kini telah kokoh saling berpegangan.


"Nah, sekarang tidur ya? Jangan pikirkan hal-hal yang sulit lagi. Segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya jadi jalani saja. Kalau kita bersyukur atas apa yang di berikan Tuhan pada kita, pasti semuanya akan baik-baik saja. Percaya saja padaku, Sha. Karena aku imammu sekarang."


Gadis itu mengangguk-angguk dengan cepat sambil berusaha menahan air matanya, tapi tak ayal lolos juga air mata itu membasahi pipi.


Pria itu kemudian membantu mengusap sisa-sisa air mata yang menetes di pipi gadis itu dan kembali mengecup dahinya. "Kalau kamu kesulitan bilang saja Sha, aku akan membantumu. Kita akan mengurus anak kita bersama-sama." Pria itu menggeser tubuhnya turun dan mendekap istrinya.


Walau tubuh gadis itu sedang tidak dalam kondisi terbaiknya, pelukan hangat dan kata-kata suaminya mampu menghangat tubuh hingga jauh ke lubuk hati. Menenangkan pikiran dan membuainya ke dalam mimpi.


____________________________________________

__ADS_1


Cekidot punya author yang satu ini.



__ADS_2