Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Sekretaris Dadakan


__ADS_3

"Eh, tadi aku pengambilan foto untuk poster iklan Kak."


"Oh, memangnya tidak bahaya?"


"Kan objek foto gak bergerak, jadi aman."


"Oh, begitu. Jadi, seharian pengambilan fotonya?"


"Untung alhamdulillah cepat selesai, jadi tinggal tunggu syuting iklannya."


"Kamu mau terusin?"


"Lagi dibuat skripnya yang aman."


"Kalau tidak bisa, kamu tunggu sembuh saja dulu."


"Kan cuma retak di bahu, gak masalah kalau dijaga dengan baik. Tadi saja aku pergi main ke pantai dengan Shasa."


"Apa? Ke pantai?" Kenapa aku gak diajak sih? Abra, kamu selalu curi start. Awas saja nanti kalau setelah syuting iklan itu selesai, aku yang akan curi start.


"Iya, aku sudah lama gak liburan jadi refreshing(istirahat) di sana. Pulangnya eh, ketemu klien."


"Oh, kamu ketemu klien di sana?"


"Pak Jarot."


"Kemarin ia mencarimu."


"Iya, dia cerita."


"Lalu?"


"Aku terpaksa melayaninya."


"Iya, karena dia tidak mau bicara denganku kemarin. Ia tetap berharap bertemu denganmu, baru ambil keputusan."


Abra tahu karena itu ia tidak meneruskan dan segera mengalihkan dengan menutup cerita karena ia tidak ingin menyinggung perasaan Kakaknya yang tidak bisa berurusan dengan klien karena terlalu kaku. "Sudah diputuskan jadi tinggal pelaksanaannya saja."


"Oh, ok. Jadi dia siap jadi sponsor. Eh, kalau kamu bisa bekerja, kenapa tidak masuk kantor saja besok?"


"Boleh nih?"


"Ya bolehlah. Memangnya ada yang melarang?"


"Iya, aku udah gak betah diam di apartemen Kak."


"Tapi mungkin hanya di kantor saja, gak bisa keliling-keliling. Mmh, tidak buruk juga sih," gumam Kevin. "Ok, kalau begitu besok aku jemput saja. Kita berangkat bersama. Shasa ikut seperti biasa kan?" Kevin memastikan.


"Oh, iya Kak. Sesuai perjanjian. Ia akan mengikutiku terus."


"Ya sudah, sampai besok."


Abra mematikan HP dan merentangkan satu tangan sehatnya ke atas. "Ah ... besok aku sudah bisa kerja lagi. Jadi semangat, ingin cepat-cepat tidur." Ia kesulitan membuka selimut sehingga ia tidur di atas selimutnya.


-----------+++----------


"Apa? Ke kantor? Kak ...."


"Aku akan baik-baik saja."


"Tapi kan nanti ketemu banyak orang."


Abra menatap gadis itu lekat-lekat dan mencubit pipinya lembut dengan sebelah tangannya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku Sayang, tapi aku akan baik-baik saja. Aku janji aku akan menjaga diriku dengan baik. Bukankah kamu ikut juga denganku hari ini?"


"Eh, iya."


"Ya sudah. Kamu juga bisa bantu ikut jagain aku kan?"


Shasa mengangguk. "Iya."


"Ya sudah, kita siap-siap aja dulu. Soal sarapan, nanti Kak Kevin yang akan bawa sambil jemput kita nanti."

__ADS_1


"Ok."


Setengah jam kemudian, Kevin datang dijemput Shasa di lantai bawah karena ia tak punya kartu akses untuk naik lift.


"Nanti ikut ke kantor kan?"


"Iya Kak."


Jawaban yang sesuai harapan Kevin. Mereka kemudian masuk apartemen Abra.


"Oh, Kak ...."


"Gimana tanganmu?" Kevin meletakkan bungkusan plastik di atas meja makan.


"Gak masalah sejauh ini."


"Ini Kakak bawain nasi goreng. Kita makan sama-sama saja. Aku kebetulan juga belum sarapan."


Shasa menyiapkan piring dan minuman dan mereka makan bersama. Gadis itu duduk diapit oleh kedua kakak beradik itu saat duduk di kursi meja makan.


"Aku boleh tambah minum?" Abra menyodorkan gelasnya pada gadis itu.


Kevin tiba-tiba juga meminum gelasnya hingga setengah seperti Abra. "Aku juga." Ia juga menyodorkan gelasnya mengikuti adiknya.


Shasa melihat kedua gelas itu sambil melirik keduanya. "Eh, iya." Ia beranjak dari kursinya dan mengambil botol kemasan air mineral di dapur, kemudian kembali dan mengisi kedua gelas itu.


"Terima kasih," jawab keduanya serempak. Sempat mereka saling lirik tapi kemudian kembali tenggelam sibuk dengan makanan masing-masing.


Tak lama mereka berangkat. Abra duduk di samping Kevin dan Shasa duduk di belakang. Sambil menyetir sesekali Kevin melirik Shasa dari cermin kecil di atasnya, begitu pula Abra.


Juga pada saat mereka sampai di stasiun TV. Tindakan Shasa membuat Kevin sedikit iri pada Abra karena gadis itu segera berada di samping kiri pria itu untuk melindungi lengannya agar tak bersinggungan dengan orang lain, bahkan gadis itu sampai berpegangan pada baju Abra agar tak terpisahkan jauh saat berjalan menuju kantornya.


Kedua pria itu hanya bisa melihat tingkah gadis itu tanpa mampu berkomentar.


Seisi kantor Abra dibuat heboh. Bukan saja karena bos mereka yang baru kecelakaan itu tiba-tiba masuk tapi karena ada seorang gadis yang menggelayutkan tangannya di pakaian pria itu. Juga diikuti kakaknya yang terkenal galak dan angkuh ikut masuk ke kantor itu.


Antara ingin berkomentar tapi takut, begitulah suasana yang terjadi saat itu.


"Oh, iya Pak."


Kemudian Abra, Shasa dan Kevin masuk ke ruang kerja Abra. Di situlah shasa berhenti berpegangan pada Abra.


Hanya kemudian Abra menyadari kakaknya ikut ke dalam ruangannya. "Kakak mau nungguin aku Kak? Aku udah gak papa kok, ada Shasa di sini yang bantu."


Kevin panik menyadari kebodohannya. Kenapa aku ikut ke sini? Ah, Shasa. Bikin aku bingung saja. "Eh, ngak. Mastiin aja, kamu eh, gak papa."


Abra duduk di kursinya. "Lihat aku gak papa kan? Kakak gak usah khawatir."


"Eh, iya. Ya udah aku kembali ke kantorku saja," ucap Kevin sedikit kebingungan. Aduhh Shasa ... gara-gara kamu ini! Kevin menggaruk-garuk kepalanya kemudian kembali keluar.


Di kantornya, Kevin masih kebingungan. Keberadaan Shasa di stasiun TV itu terus berputar-putar di kepalanya. Ia tak bisa tinggal diam dan ingin bertemu kembali, tapi bagaimana caranya? Gadis itu kan sedang bertugas menjaga Abra? Antara ego dan kemanusiaan saling berebut tahta, dan pemenangnya adalah ... sebuah ide yang dipaksakan. Ia kembali mendatangi kantor Abra.


Saat ia mengetuk dan masuk ke dalam kantor Abra, Sekretaris adiknya sempat ingin menahannya tapi tak berani. Abra sedang berdiskusi dengan Tim Kreatifnya di sofa sedang Shasa ada di kursi meja kerja Abra, sedikit menyingkir karena tidak ingin mengganggu diskusi mereka.


Aku datang pada saat yang tepat. Kevin tersenyum senang karena keputusannya tidak salah. Shasa tidak sedang dibutuhkan di sana.


"Ada apa Pak?" sahut Abra lebih formil pada kakaknya di depan bawahannya.


"Pekerjaanku banyak tapi perlu ada yang membantu. Sekretarisku sudah berhenti jadi boleh pinjam Shasa sebentar?"


"Mmh?" Gadis itu menoleh pada Abra.


"Lagi? Hahh ...." Abra, menghela napas. "Ia menoleh pada Shasa. "Sha, tolong saja."


"Tapi ...."


"Kondisiku tidak apa-apa. Pergilah."


Shasa menurut. Ia mengikuti Kevin keluar. Bukan main senangnya hati Kevin, pucuk di cinta ulam pun tiba. Harapannya terkabul saat itu juga.


"Maaf ya Sha."

__ADS_1


"Ngak papa Kak."


Mereka sampai di kantor Kevin dan banyak yang terheran-heran melihat kedatangan Shasa di sana karena mereka melihat dari awal Shasa pernah digendong ke kantor itu. Semua sepakat, Kevin suka pada gadis itu.


"Ini, kamu duduk di sini ya?" Kevin mempersilahkan Shasa duduk di kursi sekretarisnya.


"Tapi Kak, eh Pak. Aku gak tahu kerja sekretaris itu apa," ujar gadis itu berterus terang. Ia sedikit canggung karena harus kembali formil pada Kevin.


"Ok ... cukup membantuku saja. Seperti mengangkat telepon, kalau perlu bisa menyambungkan ke ruanganku. Lalu, mencatat hasil rapat, tapi sekarang belum ada. Lalu, mengumpulkan berkas-berkas yang perlu tanda tangan ...." Kevin terus menerangkan pada gadis itu sambil menghidupkan laptop. Ia menerangkan hingga gadis itu mengerti. "Bagaimana, ada pertanyaan?"


"Mengerti Pak, tapi kalau ada yang salah tolong kasih tau ya Pak, karena saya masih baru."


"Oh, tidak apa-apa. Lakukan saja sebisamu. Kalau susah atau ada pertanyaan tinggal tanya lagi ke saya, tidak apa-apa."


Kalimat Kevin terakhir benar-benar menohok pegawai-pegawai lainnya yang berada di sana karena Kevin terkenal dengan bos yang sangat perfeksionis. Kesalahan sedikit saja yang ia ketahui dari pegawainya akan berujung pada peringatan hingga pemecatan. Sehingga pegawainya sebisa mungkin menyembunyikan kesalahan, tapi dengan gadis itu semua berubah.


Semua bisa melihat bahwa pria itu pasti tengah tergila-gila pada gadis itu kalau tidak mana mungkin ia seperti menelan ludah sendiri dengan memberi banyak keringanan kepada seorang pegawai muda yang masih hijau akan dunia kerja yang tidak nyaman dan banyak peraturan.


Beberapa pegawai mulai berbisik-bisik.


"Iya Pak. Sekarang saya harus mengerjakan apa dulu ya?"


"Mmh, coba kamu ketik laporan meeting ini di laptop. Sepertinya belum masuk, data terbarunya." Kevin memberikan selembar berkas untuk diketik dan ia juga mencarikan file-nya pada laptop itu. " Ini dia!"


"Terima kasih Pak." Gadis itu kembali canggung karena ia menyadari pegawai di sana mulai memandang iri padanya dan berbisik-bisik. Ia berusaha untuk segera bekerja di banding memperhatikan berpasang-pasang mata yang melihat heran pada mereka.


Saat ia mulai mengetik, Kevin sepertinya malah berusaha mendekat dengan melihat apa yang dikerjakan Shasa. Ini membuat Shasa tidak nyaman. Apa lagi pria itu meletakkan tangannya di atas sandaran kursi dan wajahnya di samping wajah gadis itu, dan pria itu menyadari ketidaknyamanan Shasa.


"A-aku hanya ingin melihat kalau kamu benar-benar mengerti apa yang aku terangkan tadi."


Shasa tak bisa berkata-kata dan hanya bisa membuktikan bahwa ia mengerti dengan mengerjakan tugasnya. Ia tidak ingin Kevin kecewa karena ia bisa mengerjakannya.


"Ok, berarti kamu mengerti ya?" Kevin mengangkat kepala dan menyadari bahwa para pegawai sedang memperhatikan kelakuannya pada Sekretaris baru yang notabene adalah anak kemarin sore. Sebelum ia berdehem, para pegawai serentak kembali pada pekerjaan mereka masing-masing karena ketahuan mengintip bos mereka dan saat ia berdehem, buat Kevin itu hanya sebuah pelarian dari kata 'itu bukan masalah besar'.


Shasa mengerjakan tugasnya tapi Kevin bergeming dari tempatnya. Itu membingungkan Shasa. "Bapak butuh apa?"


"Eh, tidak ada. Kamu?"


"Eh, apa?"


"Mungkin butuh sesuatu."


Shasa berpikir sejenak. "Sepertinya tidak ada Pak."


"Mungkin minum?"


"Apa?"


"Aku akan belikan kamu minuman di kantin. Kamu mau apa?"


"Eh ... Pak ...."


"Aku tidak enak padamu karena seharusnya kamu menjaga Abra tapi kamu dipekerjakan di sini membantuku. Aku minta maaf." Kevin sedikit mengeraskan suaranya agar para pegawai memaklumi kondisi Shasa, bahwa ia diperbantukan di sana.


"Tidak usah seperti itu Pak," Gadis itu sedikit malu karena Kevin sampai harus mengumumkan hal itu secara tidak langsung pada pegawainya padahal itu tak perlu.


Kevin mendekat dan meraih tangan Shasa. "Kau mau jus atau kopi?"


_____________________________________________


Sambil menunggu kelanjutan kisah Shasa, ayo kepoin yang satu ini.



Cinta Sendiri


Blurb :


Mencintai tanpa dicintai... Kedekatannya selama ini dengan sahabat abangnya hanya dianggap sebagai adik, tidak lebih.


Anggita Nur Anggraini, biasa disapa Gita telah jatuh cinta pada sahabat almarhum abangnya. Akan tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan dia sampai merelakan kehormatannya, sayangnya lelaki itu tetap tidak melihatnya.

__ADS_1


Apakah cintanya akan berbalas?


__ADS_2