
"Tidak apa-apa, Ayah mengerti. Siapapun tidak akan tahan kalau pernikahannya dirahasiakan, apalagi kalian sekarang jadi publik figur. Mau tidak mau berita tentang pernikahan kalian cepat atau lambat pasti akan bocor ke media jadi ini hanya masalah waktu saja. Istrimu tidak salah. Kamu tak perlu meminta maaf."
Abra memandang ayahnya dengan rasa iba. "Tapi ayah pasti bertengkar dengan ibu kan gara-gara ini?"
"Tidak apa-apa. Itu masalah ayah. Eh, mana istrimu? Tidak kau bawa?"
"Dia di apartemen Yah, baru beres-beres barangnya karena mau tinggal bersama. Oya, ini Yah, ada oleh-oleh buat ibu dari Shasa."
"Mmh? Ibu lagi sensitif sekarang. Ayah gak yakin dia mau diberi oleh-oleh makanan ini." Erik menatap bungkusan yang dibawa anaknya.
"Tapi biasanya, makanan yang dibawa istriku selalu dimakannya."
"Masa?"
"Iya. Sudah 2 kali Shasa dan aku menjenguk Kevin dan Ibu selalu langsung memakan makanan pemberian istriku. Malah sangat senang mengobrol dengannya sampai-sampai, kalau aku gak diingetin, gak bakal selesai itu ngobrolnya."
Ayah tergelak. "Benarkah? Aku belum pernah lihat Ibu ramah dengan orang lain. Istrimu memang benar-benar luar biasa. Dia menuruni bakat ibunya." Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ibunya? Ayah mengenal ibunya?" Abra penasaran. Ia menarik kursi dan duduk di seberang meja kerja ayahnya.
"Oh, ayah memang kenal dekat dengan ayahnya tapi ibunya sangat dikenal di kalangan pebisnis, bahkan hingga ke luar negeri. Dia wanita yang penuh talenta. Pintar bernegosiasi, ramah dan juga gigih sehingga ia jadi rebutan banyak perusahaan ternama, itu sebabnya ia begitu dihormati. Padahal suaminya punya perusahaan tapi ia lebih suka bekerja pada orang lain."
Abra melongo. "Iya, persis seperti itu Shasa. Aku pikir dia hanya seorang perempuan yang lembut dan lemah tapi diluar dugaan saat dia menginginkan sesuatu dan tidak mendapatkannya, dia bakal tidak bahagia dan akan memperjuangkannya sampai akhir," ucapnya masih dengan keterkejutan.
Erik tertawa. "Kau ternyata terjebak wajah polosnya ya?" Kembali ia tertawa. "Tapi bisa dibilang hampir sebagian besar wanita punya sifat seperti itu, ekspresif dan ingin dihargai pendapatnya karena itu kalau bersama pasangan bukan masalah benar salahnya yang harus di kedepankan tapi masalah kepentingan bersama. Pikirkan itu karena kamu hidup dengannya. Tidak masalah kalau kehidupan rumah tangga kamu berbeda dengan orang lain karena kebutuhan bahagia tiap orang berbeda. Walaupun cara tertentu di rumah tangga orang lain bahagia, tapi belum tentu cocok untuk kebutuhan rumah tanggamu, jadi banyak-banyaklah berkompromi dengan istrimu." Ia memberi nasehat.
Abra mengangguk-anggukkan kepala. "Karena itukah ayah sering mengalah pada Ibu?"
"Tentu saja, demi kalian bertiga." Erik menyentuh kepala anaknya dengan kedua tangannya. "Bagi ayah, kalian semua sama. Sama-sama kesayangan Ayah jadi Ayah akan berusaha bersikap adil bagi kalian bertiga. Ayah sebenarnya ingin kamu menggantikan posisi Kevin untuk sementara waktu, tapi Ibu tidak mendukung putusan ini. Walaupun begitu, kamu jangan takut, Bra. Orang dengan kualifikasi seperti kamu itu pasti banyak yang mau. Nanti Ayah akan coba tanyakan pada teman ayah, pasti kamu akan segera mendapatkan pekerjaan yang baru." Erik menepuk bahu Abra memberi semangat.
Abra memang sedikit kecewa tapi ia tidak ingin Ayahnya kembali bertengkar dengan ibu tirinya. "Tidak usah Yah, biar aku cari sendiri saja."
"Tapi Bra, bagaimana kalau istrimu tahu? Dia pasti kecewa pada Ayah dan kesal padamu karena kamu kehilangan pekerjaanmu. Biarkan Ayah membantumu mencarikan pekerjaan dan bila kamu butuh uang, Ayah juga akan membantu biaya hidupmu berdua istri sampai kau kembali dapat pekerjaan."
"Ayah ... Ayah bagaimana sih! Uang simpanku lebih dari cukup Yah untuk beberapa bulan ke depan, Ayah tak perlu khawatirkan itu! Apalagi aku masih dapat uang dari promosi iklan dan Brand Ambassador itu Yah, aku tidak sedang menganggur," ucap pria itu menghindari bantuan.
Ia harus menahan rasa kecewanya karena sekali lagi ibu tirinya itu telah menguasai ayahnya. Akan sangat sulit baginya meminta-minta pada ayahnya kecuali ayahnya mengirimkan uang langsung padanya seperti waktu ia kuliah dulu.
Ibu tirinya selalu ikut campur bila ia meminta uang lebih untuk keperluan kuliahnya tapi untungnya ia tinggal dekat dengan keluarga ibunya di Amerika dan mereka selalu bersedia membantu Abra materi maupun tenaga tanpa perlu bertanya sehingga ibu tirinya tidak perlu meributkan soal uang tambahan lagi.
"Tapi Bra, uang dari iklan itu tidak banyak."
"Aku baru memulai kehidupan baruku Yah, bersama Shasa. Biarkan kami berjuang bersama."
__ADS_1
Erik nampak terkejut, tapi kemudian menepuk lengan anaknya dengan kedua tangannya dengan bangga. "Yos, laki-laki! Berjuang bersama! Ayah do'akan istrimu makin sayang padamu dan kehidupanmu bahagia."
Abra menarik ujung bibir sejauh mungkin agar ayahnya melihat ia bahagia. Segera ia pamit. Ia pulang dengan hati hampa.
Baru saja ia membuka pintu apartemennya, ia melihat istrinya sedang istirahat di sofa sambil menonton TV. Sepertinya ia telah selesai membereskan barang-barang dan telah merapikan apartemen sehingga ia bisa duduk santai di sofa.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Shasa menoleh ke pintu. "Kamu mau minum Mas?"
Pria itu menggeleng dan menghampirinya di kursi sofa. Ia duduk di samping dan menatap istrinya yang kembali menatap layar TV. Begitu ingin ia memanjakan istrinya tapi tiba-tiba ia kehilangan pekerjaan dan harus memikirkan berhemat.
Apa Shasa akan memarahinya? Ia ingat bagaimana marahnya gadis itu bila sedang tidak senang dan gadis itu akan kembali menghilang saat terluka.
Shasa menoleh ketika merasa ada yang aneh dengan suaminya. Pria itu tiba-tiba jadi seorang pendiam padahal suaminya adalah pria hangat yang penuh cinta. Betah berbicara apa saja dengannya bahkan tentang cinta dan harapan. Pria itu juga akan menghujaninya dengan kata-kata cinta dan pelukan hangat dan kini .... "Kamu kenapa?"
"Eh, tidak." Abra memalingkan wajahnya ke TV guna menyusun kata dan strategi yang tepat untuk bicara dengan istrinya. Ia tidak mau sembarangan lagi bicara.
Shasa melihat kegusaran suaminya. "Tidak ada apa-apa? Bener?"
Abra tak berani melihat istrinya. Ia sedang berpikir.
"Mas ... Masih ingat permintaanku yang terakhir kan? Itu aku minta untuk selamanya lho Mas ... jujur."
Pria itu akhirnya memaksakan diri menatap istrinya walau ragu tuk bicara. Ia masih bimbang.
Abra berusaha tertawa dalam gugupnya. Ia menggaruk-garuk pucuk kepalanya yang tidak gatal. "Eh ... itu, aku lagi mikirin kerjaan karena kan sudah berhenti dari stasiun TV itu." Ia kembali tertawa canggung.
"Oh ...." Shasa kembali memalingkan wajah dan menonton TV.
Abra terkejut dengan reaksi istrinya yang santai. "Kamu gak marah?" tanyanya memastikan.
"Mmh?" Gadis itu menoleh. "Bukannya sebelum kita menikah kantor sudah membicarakan itu? Bukannya kamu tak masalah?"
"Tapi mungkin mulai sekarang kita harus berhemat Sayang, karena aku tidak tahu seberapa cepat aku bisa mendapatkan pekerjaan."
Shasa menatap suaminya seperti memikirkan sesuatu lalu kemudian tersenyum simpul.
"Apa?" ucap pria itu pelan.
"Aku juga lagi pusing karena harus memimpin perusahaan milik orang tuaku. Om Adam baru saja telepon dan meminta aku mulai bekerja besok, tapi aku ragu. Aku tidak punya pengalaman dan kemampuan untuk itu tapi mendengarkan masalahmu aku malah punya ide bagus untuk mengurus perusahaan itu. Bagaimana kalau kamu saja yang memimpin perusahaan itu, kan kamu suamiku. Iya kan?"
Abra malah bingung mendengar tawaran istrinya. "Apa Ommu tidak marah kalau aku yang memimpin perusahaan?"
"Omku bukan pemilik perusahaan tapi aku pemiliknya, Sayang." Gadis itu tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya, lalu mengecup bibirnya. "Dan aku memilihmu ...." Netra gadis itu bercahaya dan senyumnya terukir indah di bibir kecilnya itu. Bibir yang tak lekang oleh waktu untuk mencandunya.
__ADS_1
Senyum mengembang di bibir pria itu hingga mengecup bibir istrinya berkali-kali karena senang.
"Bagaimana kalau sekarang kita ke kantor menemui Omku? Sekalian kita antar oleh-oleh untuknya juga, gimana? Biar kamu bisa bertanya langsung tentang perusahaan itu padanya."
"A-aku akan melaksanakan tugasku dengan baik Nyonya," ucap pria itu sedikit gugup karena saking senangnya. Ia tersenyum lebar.
"Tentu saja, aku percaya padamu suamiku," ledek gadis itu dengan gaya drama telenovela.
Keduanya tertawa.
-------------+++------------
Adam mengangguk-angguk dengan senyum lebar. Ia senang masalahnya terpecahkan. Shasa dengan pendidikannya yang masih minim tentu akan sulit diminta untuk menjalankan perusahaan tapi suaminya tentunya tidak. Pria itu, melihat dari pendidikan dan pengalaman kerjanya walaupun tidak sama, masih bisa dibentuk. Bahkan pria itu punya banyak ide-ide brilian untuk pengembangan perusahaan ke depan.
Adam merasa sangat terbantu dengan keberadaan suami Shasa di sana, karena ia bisa lebih cepat mengundurkan diri dari perusahaan itu dan kembali menikmati pekerjaan lamanya mengajar bersama istrinya. "Bagaimana? Kamu bisa mulai bekerja besok?"
"Aku maaf, mungkin masih minim dengan ilmu dan pengalaman, jadi kalau Om merasa ada yang salah dengan kepemimpinan saya, saya minta tolong agar ditegur, karena sebenarnya terus terang saya pun belum pernah mencoba posisi tinggi seperti yang ditawarkan istri saya ini pada saya sekarang ini." Abra merendah.
Damar saat itu ingin muntah karena merasa muak dengan omongan Abra sebab ia merasa pria itu hanya berpura-pura, tapi ia hanya bisa diam saja sambil sesekali melirik Shasa. Ia merasa makin hari, gadis itu makin cantik dan menarik saja sejak gadis itu menikah. Tubuhnya tidak sekurus dulu tapi wajahnya makin bersinar.
Kenapa dia bahagia sih, sama pria sok ganteng ini? Padahal modalnya cuma ganteng doang, tapi gak punya apa-apa. Aku tahu sekarang, dia cuma anak tiri jadi dia gak punya harta apa-apa setelah menikah. Pasti kini dia didepak keluarganya dan sekarang ia bergantung sama harta istrinya yang memiliki perusahaan ini, huh! Damar melihat sinis pada Abra.
Setelah makan siang di restoran itu, Abra pun pamit dengan membawa istrinya pulang. Setelah sampai di parkiran apartemen, Abra memeluk istrinya.
"Ih, Mas ... jangan di sini malu," ingat Shasa.
"Ngak papa, kan halal. Kamu istriku, kamu milikku, kamu cintaku." Pria itu memeluknya dengan segenap cinta.
"Iya, tapi kalau ada yang lewat lihat bagaimana?" Shasa masih sedikit segan.
"Salahkan matanya, kenapa lihat!" ucap pria itu asal.
Shasa tertawa. "Udah ah!" Gadis itu melepas pelukan Abra.
Pria itu kini menatapnya. "Aku pikir kalau menjadi suami, aku harus siap dengan segala solusi untuk keluargaku tapi setelah bertemu denganmu pandangku berubah. Kamu itu istri cerdasku. Kamu malah yang selalu memberiku banyak solusi di setiap masalahku, gimana aku gak tergila-gila padamu, Sayang. Aku makin takut kehilangan dirimu." Pria itu kembali manja dan memeluknya.
"Aduhh, kamu genit gak tau tempat ...." Shasa mendorongnya agar berlepas diri dari pelukan.
Abra tertawa.
____________________________________________
Yang suka novel mafia, cuss langsung kepoin!
__ADS_1