
"Sayang."
Shasa mendongak ke atas dalam keadaan kaget. Kejadiannya begitu cepat sehingga ia tidak bisa menyiapkan apapun untuk mengantisipasinya dan kejadian buruk sebelumnya sempat menghantuinya, tapi ketika melihat wajah tampan yang sedang memelas terhadapnya, ia langsung memukul bahu pria itu. "Ih, bikin panik!"
"Auw, sakit Sha!" Abra menyentuh bahunya.
"Syukurin!"
"Ih, kok gitu sih istriku ... Jahat ...." Abra merengek.
"Lagi, kamu kenapa ke sini malam-malam begini sih Mas? Aku pikir Bang Raven, ternyata kamu. Katanya kita tinggal sendiri-sendiri?" sahut gadis itu gemas.
"Iya Yang, tapi tadi kamu godain aku sampai si Buyung bangun. Aku kan gak bisa tidur kalau dia bangun, biar capek juga." Abra masih mengiba.
"Si Buyung?" Shasa mengangkat satu alisnya.
"Iya Yang, si Buyung. Itu di bawah."
Gadis itu mengikuti arah mata Abra dan ia terkejut melihat ada gundukan di depan celana suaminya itu yang telah berusaha ditutupi oleh kaos longgarnya tetapi tetap saja terlihat membuat Shasa harus menutup mulutnya menahan tawa. "Ya Allah ...."
"Tanggung jawab dong Sayang, aku tersiksa. Celanaku ketat dan tidak nyaman."
Pecah tawa gadis itu mendengar komentar suaminya membuat pria itu langsung merengkuh dan menariknya ke tempat tidur.
"Mau ya Sayang ya?"
"Tapi aku kok gak dengar suara mobilmu?"
"Aku berlari ke sini Shasa, biar orang gak curiga."
Gadis itu masih tertawa. "Tapi bukannya kalau berlari orang malah tambah curiga?"
"Ah, sudah lupakan. Aku tidak sedang bisa berpikir lurus gara-gara kamu." Pria itu mulai mencumbu istrinya dengan menciumi lehernya.
"Ya sudah."
"Gitu dong Sayang." Abra mulai membuka celananya.
"Tapi tempat tidurnya kecil untuk kita berdua."
"Gak papa. Sesulit apapun hidup asal bisa denganmu, akan aku jalani."
Gadis itu tersenyum mendengarnya. Ia mengalungkan tangan ke leher suaminya. Matanya bersinar sangat indah. Abra langsung mengecup bibir kecil yang menawan itu yang telah membuatnya mabuk kepayang setiap habis menciumnya.
Hasrat dan pesona bercampur menjadi satu menyalakan harapan indah untuk lebih melebur dengan sang kekasih. Abra menikmatinya selagi keinginan masih membara dan ia tak ingin berhenti sampai keduanya merasa puas dengan hasilnya. Menyenangkan istri dan membahagiakan dirinya sendiri hingga mereka mencapai titik terbaik dari penyatuan mereka.
Shasa kali ini lebih santai dari sebelumnya walaupun debaran jantung masih berpacu di setiap gerak yang membuatnya merasa malu sekaligus bahagia. Hingga mereka akhirnya takluk pada sesuatu yang bernama lelah.
Abra menjatuhkan dirinya di atas istrinya tertelungkup dan kemudian mencium pipi gadis itu. Dilihatnya wajah letih gadis itu yang dipenuhi keringat di wajah dan dahinya. Tentu saja karena mereka berada di kontrakan kecil yang tak ber-AC.
Deru napas pria itu yang tersengal-sengal berhembus di wajah Shasa. Dilihatnya wajah suaminya yang penuh dengan peluh. Pelan diusapnya wajah itu. "Maaf ya Sayang, kamarku gak ada ACnya."
"Ngak papa asal bersamamu."
Gadis itu menyematkan senyum dibibirnya pada wajah letih sang suami.
"Maaf, penyatuan malam ini kayaknya kurang ok, tapi berhasil menidurkan Buyungku," ucap pria itu terengah-engah yang membuat Shasa tertawa kecil. "Tapi aku akan mengusahakannya besok pagi. Bagaimana kalau kita tidur seperti ini dulu?"
"Gak mau ah, aku gak biasa tidur gak pake baju," protes Shasa.
"Ya udah, tapi kita tidur pelukan ya?" Abra membiarkan Shasa mengenakan kembali pakaiannya sedang ia sendiri memakai celana tanpa baju kaosnya. Mereka kemudian tidur dengan Abra memeluk istrinya di tempat tidur sempit itu dari belakang.
Tentu saja Shasa menyukainya. Tidur dengan orang terkasih hingga ia tidak merasa sendirian.
-----------+++-----------
Pagi yang indah tapi kedisiplinan Shasa membuat Abra menyerah.
"Sudah Subuh, Yang. Aku mandi dulu."
"Sha, kita belum nerusin yang semalam."
__ADS_1
"Subuh Yang, cuma sebentar."
"Ya udah, aku pulang aja."
"Tapi di luar masih gelap."
"Nggak papa, kan aku ngejar Subuh." Abra mengecup kening istrinya. "Ingin jadi suami yang sholeh." Ia tersenyum. "Dah, kamu mandi sana! Ngak usah anter aku, kan kamu belum pakai jilbab." Ia keluar sembari menutup pintu. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Eh, lupa salam tangan." Namun Abra telah pergi. Shasa bergegas ke kamar mandi.
Beberapa jam kemudian Shasa menyusul dengan membawakan sarapan. Abra yang telah mandi, langsung menyambutnya dan mereka makan bersama.
"Nanti siang kamu jadi beli lingerie Yang?"
"Apa?" Shasa kemudian tertawa.
"Eh, serius Yang, aku yang sponsorin."
Gadis itu tergelak.
"Ih, Sayang. Aku serius ini," ucap pria itu bersemangat.
"Aku cuma bercanda."
"Ah, seriusin aja. Aku pengen."
Gadis itu menatap pria di depannya. "Apa aku tidak terlihat seperti wanita ...."
"Itu rahasia berdua, gak perlu diumbar keluar."
Sambil masih memegang sendok, gadis itu menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja. Ia masih memikirkannya. "Tapi rasanya risih."
"Demi aku Yang, suamimu. Pahala kan kalau demi suami."
"Iya sih." Shasa memainkan sendoknya di piring sambil menunduk.
"Biar suami gak melirik yang lain."
"Eh, maksudku ...." Abra tak berani meneruskan karena salah bicara. "Ma-maksudku ...." Tetap tak bisa.
Mata indah itu kini berubah menyeramkan.
Abra menghela napas. "Yang, aku gak mungkin begitu Yang. Maaf aku salah ngomong ...," sesalnya.
"Baik, kita beli nanti siang!" ucap Shasa geram.
"Apa?" Abra terkejut.
"Yang paling hot(panas)!"
"Mmh?"
"Dan terlihat liar!"
Abra segera mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengangkat kedua tangannya ingin menyetop omongan istrinya dengan suara kecil. "Udah, udah, stop Yang. Nanti si Buyung bangun."
Shasa masih memainkan sendoknya kesal. Abra menyentuh lengan istrinya lembut. "Udah Yang, sekarang makan ya?"
Pelan tapi pasti es itu mulai mencair. Gadis itu mulai makan dengan tenang. "Aku ingin beli mesin cuci ya?" Senyumnya mulai mengembang.
"Apa?"
"Aku ingin mencuci bajumu di sini."
Abra melirik istrinya yang mulai memikirkan pekerjaan rumah. "Iya, gak papa."
"Beli setrikaan dan papannya."
"Ayuk, boleh-boleh aja." Abra mulai bernapas lega. Bersyukur istrinya tipe yang mudah panas dan juga mudah dingin.
"Sama belanja bahan makanan."
__ADS_1
"Mmh, ok."
Seusai makan, Shasa merapikan rumah seperti biasa dan bersantai sejenak sebelum akhirnya ia pamit berangkat ke kantor. Sebagai seorang sekretaris ia harus hadir lebih pagi dari bosnya walaupun Kevin tidak ada di tempat.
"Aku gak nganterin kamu, gak papa kan Sayang?"
Walaupun kesal tapi gadis itu mengiyakan. Untungnya kantor dekat dari apartemen itu sehingga ia tak perlu takut datang terlambat. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Shasa mengambil tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati ya Sayang." Abra mengusap pucuk kepala istrinya.
"Mmh."
-----------+++----------
Di kantor Kevin ternyata Shasa dihormati karena keberaniannya yang dengan lantang menyuarakan aspirasi pegawai bawahan pria itu. Bahkan kini banyak yang mencarinya untuk konsultasi pekerjaan padahal di umurnya yang masih belia ia masih minim pengalaman yang hanya berdasarkan pengalaman kerjanya 3 bulan di perusahaan periklanan milik Bima.
Shasa juga rajin belajar. Ia di waktu senggangnya memperhatikan pekerjaan yang dilakukan oleh para pegawai di kantor itu, bahkan tak segan-segan untuk bertanya dan mencoba membantu mengerjakan. Ia kini tak lagi di pandang sebelah mata masuk hanya karena Kevin membawanya masuk ke kantor itu lagi tapi banyak juga yang bersyukur gadis itu masuk dan bekerja di situ karena telah banyak membawa angin perubahan di divisi itu. Namanya pun menjadi buah bibir sampai ke divisi yang lainnya membuat banyak orang di perusahaan itu yang penasaran akan keberadaannya.
Kevin adalah anak pemilik perusahaan yang sudah bekerja lama di perusahaan itu hingga dirinya sudah seperti peraturan berjalan yang tidak terbantahkan sampai seorang gadis yang masih sangat muda merubah segala apa yang ada di sana dengan hanya berani menolak segala sesuatu yang sudah ditetapkan oleh pria itu. Shasa menawarnya, bernegosiasi demi karyawan hingga tak aneh jika ia tiba-tiba begitu terkenal, apalagi kini Kevin sudah tidak ada di kantor itu karena kecelakaan yang menyebabkan pria itu koma. Posisi Shasa kini semakin kuat saja di kantor itu karena begitu banyak pegawai yang begitu menginginkannya.
"Mbak, kita meeting ya?" Seorang pegawai marketing yang waktu itu pernah ikut meeting dengannya, mendatanginya diikuti pegawai yang lainnya."
"Eh?"
"Kan kemarin kita belum meeting, Mbak. Sebenarnya meeting itu tiap Senin untuk memulai pekerjaan baru tapi entah kenapa Pak Kevin waktu itu meeting lagi Kamis."
"Tapi siapa yang akan memimpin meeting-nya sedang Pak Kevin kan gak ada karena sakit."
"Mbak aja gak papa mimpin. Kan tidak perlu terlalu formil, lagipula isinya cuma laporan dan diskusi saja."
"Tapi aku gak berwenang soal ini karena nanti akan aku laporkan semuanya pada CEO, Pak Abra."
"Ya kan tadi aku bilang, isinya cuma laporan."
"Tapi aku gak berani ngadain meeting tanpa persetujuan Pak Abra."
"Ya anggap aja itu istilah, isinya cuma laporan kok," bujuk teman pegawai pria itu.
"Tapi ...."
Pria itu menarik Shasa ke ruang meeting. "Ngak papa Mbak, ngak bakal dimarahin kok."
"Tapi aku belum buat selebaran buat meeting."
"Ngak papa nanti Mbak catet aja."
"Catatanku?"
"Ini Mbak, aku ambilin dari meja Mbak." Seorang wanita membawakan buku notes dan pulpen Shasa di tangannya.
Percuma gadis itu mengelak, mau tak mau Shasa mengikuti keinginan para pegawai itu. Ia menghadiri meeting tanpa Kevin dan Abra. Untuk pertama kalinya ia mencoba membuka meeting mengingat ia pernah kursus PR dan sering memperhatikan bosnya berbicara di depan para karyawannya.
Awalnya ia sedikit gugup tapi kemudian ia lancar berbicara di depan para karyawan yang hadir di sana membuat ia semakin dikagumi para pegawai Kevin.
Ia kemudian mengerjakan tugasnya dengan mencatat perkembangan pekerjaan tiap-tiap pegawai. Gadis itu juga mendengarkan masukkan dari para pegawai dan tanpa terasa juga telah menerima diskusi dari para pegawai itu. Tak lama meeting pun selesai.
"Makasih ya Mbak," para pegawai satu-satu menyalaminya.
"Oh, iya. Gak papa."
Setelah itu ia mendatangi kantor Abra untuk melapor. Pria itu baru saja hendak keluar tapi melihat istrinya datang ia segera mengunci pintu.
"Eh, kenapa pintunya dikunci?" tanya gadis itu heran.
Abra segera merengkuh gadis itu dari belakang. "Oh, ada kabar bagus untukmu." Ia menyilangkan tangan di depan tubuh istrinya.
"Apa?" Shasa berpegangan pada lengan suaminya di depan.
__ADS_1
"Oh, iklan baru kita sudah tayang di TV dari kemarin Sayang."